Legenda Sepanjang Masa

Legenda Sepanjang Masa
Chapter 42 - Legenda Sepanjang Masa


__ADS_3

"Bos ..? Apa maksudnya?" tanyaku keheranan.


"Hehehe ... tidak perlu dipikirkan. Yang pasti, mulai sekarang kami akan selalu datang di pertandingan kalian dan mendukung kalian dengan sepenuh hati," jawab Thoriq; pria yang sebelumnya pernah kuhajar karena mempermainkan anak-anak panti.


"Aku senang sekali kalau kalian mau melakukannya, tapi kenapa kalian sampai melakukan itu?" tanyaku yang masih belum mengerti.


"Soal itu ..." Thoriq nampak ragu untuk menjawab. Dia lalu berkata, "Lupakan saja, Bos! Anggap saja ini sebagai bentuk pertobatan kami."


"Begitu kah ...? Senang mendengarnya," balasku.


Aku lalu menambahkan, "Kalau begitu, kami pergi dulu."


"Hati-hati di jalan, Bos! Kalau ada yang berani mengganggu kalian, bilang saja! Ini adalah wilayah kekuasaan kami!" seru Thoriq.


"Ya, baiklah," balasku, lalu mulai beranjak pergi bersama dengan rekan-rekanku.


...


Saat Alvin dan kelompoknya mulai pergi menjauh, salah satu anak buah Thoriq berkata, "Bos, apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak langsung bilang kalau kita ingin bergabung dengan guild mereka?"


"Iya, Bos! Tadi itu kesempatan yang bagus," imbuh yang lainnya.


Sambil menatap rombongan Alvin yang semakin menjauh, Thoriq membalas, "Dasar bodoh! Apa kalian lupa? Kita pernah membuat masalah dengan mereka. Jika kita ingin bergabung dengan mereka, kita harus menarik hati mereka sedikit demi sedikit. Barulah setelah itu, kita katakan maksud kita yang sesungguhnya."


"Ah, jadi pendekatan dengan cara halus, ya?"


"Tentu saja," balas Thoriq, mengiyakan ucapan bawahannya.


Sebenarnya, kemarin, saat Thoriq dan kelompoknya baru saja kembali setelah menjalankan misi, mereka tidak sengaja mendengar beberapa orang yang membicarakan tentang guild baru yang berhasil memenangkan pertandingan perdana dengan skor telak 3-0 atas Guild Scorpion.


Awalnya, mereka tidak terlalu memperdulikan itu, mengingat itu adalah hal yang sangat wajar, tapi setelah mendengar nama ketiga roaster guild baru yang dimaksud, Thoriq langsung berubah pikiran.


Dia lalu membeli surat kabar yang menerbitkan tentang hasil pertandingan kemarin. Di sana, dia melihat nama Alvin, Drian, dan Angel yang menjadi roaster utama Guild Quantum, guild baru yang dimaksud.


"Jadi, mereka sekarang membuat guild sendiri?" gumam Thoriq dengan perasaan tertarik.


Alasan kenapa Thoriq bisa mengetahui tentang Alvin dan kelompoknya karena mereka sama-sama merupakan prajurit bayaran dari Guild Fairy, sehingga tidak sulit bagi Thoriq untuk mencari tahu tentang Alvin; orang yang hampir merenggut nyawanya.


"Bos, kenapa dengan wajahmu?" Salah satu anak buah Thoriq keheranan sewaktu melihat senyum aneh di wajah bosnya.


"Kalian semua, kita punya misi penting. Mumpung belum terlambat, kita harus segera bergabung dengan Guild Quantum," jawab Thoriq sambil memegang surat kabar di tanganya dengan perasaan antusias.


"Guild Quantum ...? Kenapa?"


"Tidak perlu banyak tanya. Cepat beli peralatan untuk mendukung Guild Quantum. Mulai besok, kita akan menjadi supporter mereka!" seru Thoriq pada para bawahannya.


Para bawahan yang belum mengerti maksud bos mereka pun hanya bisa memasang raut bertanya-tanya.


Setelah mengetahui bahwa Alvin memutuskan untuk mendirikan guildnya sendiri, tanpa pikir panjang, Thoriq langsung memutuskan untuk bergabung dengan guild yang Alvin dirikan, mengingat itu merupakan guild baru yang belum memiliki banyak anggota.


Thoriq berpikir, kalau dia bisa bergabung dengan Guild Quantum, di saat guild tersebut belum punya banyak anggota, dia mungkin akan menjadi anggota resmi, di mana itu merupakan posisi yang hampir mustahil dia dapat di Guild Fairy.


Satu hal yang membuat Thoriq semakin yakin dengan keputusannya, yakni karena dia sudah mengetahui sehebat apa Alvin.


Berdasarkan itu, dia punya keyakinan tinggi bahwa suatu saat nanti Guild Quantum pasti akan menjelma menjadi guild besar. Kalau itu sampai terjadi, bergabung dengan Guild Quantum jelas akan sangat menguntungkan, apalagi kalau dia bisa mendapat posisi anggota resmi.

__ADS_1


...


Sesampainya di lobi hotel, sebelum berpisah ke kamar masing-masing, aku berpesan, "Nanti, kita kumpul di kamarku, ya. Ada yang ingin kubahas."


"Ok," balas yang lainnya.


Setelah itu, kami mulai berpisah dan pergi ke kamar masing-masing.


...


Baru saja aku selesai mandi dan membersihkan diri ...


Tok! Tok! Tok!


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku.


"Iya, sebentar," sahutku yang tengah berjalan menghampiri pintu sambil mengusap rambutku yang masih basah menggunakan handuk.


Setelah membuka pintu dan melihat siapa yang datang, aku terdiam sejenak dengan raut terkejut.


Kupikir, yang datang adalah salah satu dari rekanku, mengingat aku sudah membuat janji dengan mereka, tapi ternyata tidak.


"Selamat. Kudengar, guildmu berhasil memenangkan pertandingan dengan skor telak 3-0."


Rupanya, yang mendatangiku adalah James; sang superstar Guild Andes.


"Oh, iya, terima kasih. Apa kau mau masuk?" tanyaku yang bingung harus berkata apa.


"Tidak, aku ke sini cuma ingin mengatakan itu." Setelah mengatakannya, James langsung pergi begitu saja.


Baru beberapa langkah, dia tiba-tiba berhenti.


Setelah mengatakan itu, James kembali berjalan menjauh. Kali ini, dia benar-benar pergi.


Tidak lama setelah itu, rekan-rekanku datang.


"Woi, liatin apa ...?" tegur Drian.


"Nggak, tadi ... ah, sudahlah. Ayo masuk," kataku.


"Kenapa sih? Jangan bilang lu abis ngeliat hantu ...?" tanya Drian.


"Apaan sih. Gih, buruan masuk," balasku.


...


Setelah semua anggota berkumpul di kamarku, Mbak Shelly langsung membuka obrolan, "Jadi, mau ngomongin soal apa?"


Aku lalu mulai menjelaskan, "Setelah pertandingan tadi, aku jadi berpikir kalau kita harus segera berbenah. Kita membutuhkan orang yang benar-benar ahli dibidangnya, mulai dari scout yang bisa menganalisa kemampuan lawan, sampai kepala manager yang bisa menyusun strategi di setiap pertandingan."


Aku sebenarnya bisa saja mengambil alih peran ahli strategi, tapi itu akan berdampak pada kualitas pengambilan keputusanku saat bertanding, mengingat semakin banyak keputusan yang harus diambil dalam satu waktu, itu akan semakin menurunkan kualitas dari hasil keputusan yang diambil.


Untuk alasan itulah, mau tidak mau, aku harus mencari kepala manager yang bisa merancang dan memikirkan strategi dalam setiap pertandingan agar aku bisa fokus pada setiap set yang kujalani dan meminimalisir keputusan yang harus kuambil demi tetap menjaga kualitas dari setiap keputusan yang kuambil, mengingat setiap detik dalam pertandingan sangat berdampak besar pada hasil pertandingan, sehingga itu memaksaku untuk bisa mengambil keputusan terbaik dalam waktu yang sangat amat singkat.


"Kami juga sadar soal itu, tapi turnamen sudah berjalan. Bagaimana cara kita mencari scout dan kepala manager yang tepat di saat-saat seperti ini?" tanya Bang Dodi.

__ADS_1


"Iya, waktunya terlalu mepet, Vin," imbuh Bang Kris.


"Itu sepenuhnya salahku. Kupikir, hanya dengan kekuatan, kita bisa bersaing dengan guild-guild lain, tapi ternyata itu sama sekali belum cukup. Untuk sementara waktu, aku yang akan mengambil alih posisi sebagai ahli strategi. Viona dan Mbak Shelly akan menjadi scout, dan Pak Warto akan menjadi manager tunggal sampai kita menemukan orang yang tepat. Gimana?" usulku.


"Ya, kami tidak keberatan, tapi kami tidak terlalu mengerti tentang bagaimana cara menganalisa pertandingan dan kemampuan lawan," kata Mbak Shelly.


"Tidak masalah, cukup jelaskan apa yang kalian lihat dan aku akan berusaha memaksimalkan setiap informasi yang kita miliki dengan sebaik mungkin," balasku.


..


Hasil akhir pertandingan kedua babak penyisihan grup 12.


Quantum 3 - 0 Loyer.


Andes 3 - 0 Scorpion.


Borner Junior 3 - 1 Ceres.


Klasemen sementara grup 12.




Andes                    : 2 poin.




Quantum             : 2 poin.




Borner Junior       : 1 poin.




Loyer                    : 1 poin.




Ceres                    : 0 poin.




Scorpion              : 0 poin.

__ADS_1




__ADS_2