Legenda Sepanjang Masa

Legenda Sepanjang Masa
Chapter 34 - Legenda Sepanjang Masa


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Malam ini, aku berserta seluruh warga desa, tidak terkecuali seluruh anggota guild, seperti Bang Kris, Hansel, sampai Mbak Shelly, juga para monster, serta para elf, kami semua berkumpul di tengah-tengah desa untuk menghitung mundur penyalaan listrik perdana di desa kami, mengingat pembangkit listrik bertenaga reaktor fusi hidrogen rancangan Javier sudah selesai dibangun.


"Apa semuanya sudah siap?" teriak Javier yang sedang memegang semacam saklar.


"Yaaaaaa!" Seru kami semua dengan kompak disertai perasaan antusias.


"Ok, hitung sama-sama! Tiga ..."


Kami pun serempak menyahut, "Dua ... satu!"


Pada hitungan ke satu, Javier memencet saklar di tangannya, dan untuk pertama kalinya, desa kami yang sebelumnya hanya diterangi cahaya obor, kini akhirnya bersinar terang benderang diterangi cahaya lampu yang dipasang di seluruh penjuru desa.


"Yeaaaah!" Kami bersuka cita karenanya.


Dalam rangka perayaan pertama kalinya desa kami diterangi cahaya lampu terang benderang, malam itu kami berpesta meriah.


Kami makan bersama, bernyanyi bersama, dan berdansa bersama dalam suka cita.


Manusia, monster, elf, semuanya larut dalam kebahagiaan tanpa memandang perbedaan.


...


Di saat semua orang sedang asik makan, minum, bernyanyi, dan berdansa dalam suka cita di bawah cahaya lampu terang benderang yang kini menerangi desa kami, aku dan Drian hanya duduk-duduk santai cukup jauh dari pusat pesta dan menikmati pesta itu dari kejauhan.


"Akhirnya, desa kita sekarang punya listrik sendiri," gumamku sambil melihat raut kebahagiaan yang terlukis di wajah semua orang malam itu.


"Ya, apalagi Javier bilang kalau pasokan listrik kita tak terbatas," sahut Drian yang duduk di sampingku sambil memegang segelas teh hangat.


"Oh iya, Yan, gimana soal persiapan Guild War?" tanyaku sambil meneguk segelas coklat hangat yang kupegang.


"Pak Warto, Viona, dan Mbak Shelly sudah mengurus semuanya, tapi mereka bilang ada sedikit masalah," balas Drian.


"Masalah ...?"


"Karena guild kita belum punya reputasi, mereka jadi kesulitan mencari sponsor yang mau mendanai guild kita di Guild War nanti. Imbasnya, mereka jadi kekurangan uang untuk mempersiapkan berbagai macam hal yang kita butuhkan, contohnya setelan yang akan kita gunakan dalam pertandingan nanti," balas Drian.


"Ya, mau bagaimana lagi. Asal kita tetap bisa berlaga di Guild War, menurutku itu bukan masalah besar," balasku.


Di saat aku dan Drian asik menikmati pesta malam itu dari kejauhan, Javier tiba-tiba datang menghampiri kami.


"Semua orang asik berpesta, tapi kenapa kalian malah mojok di sini?" tegur Javier yang datang sambil memegang segelas anggur.


"Javi, mumpung ada kau, ada yang ingin kubicarakan denganmu," kataku.


Javier menaikkan kedua alisnya sambil meneguk segelas anggur, seperti mempersilakanku untuk berbicara.


"Apa kau bisa memodifikasi setelan tempur yang akan kami gunakan dalam pertandingan Guild War nanti? Kami terlalu banyak mengeluarkan dana untuk ini dan itu. Kami juga kesulitan mencari sponsor karena kau tau sendiri kan? Guild kita belum punya reputasi sama sekali. Jadi, kami tidak punya cukup dana untuk memesan setelan kelas atas," tanyaku.


Javier tiba-tiba memelototiku.


"Hoi, Guild War tinggal seminggu lagi dan kau memintaku untuk memodifikasi setelan kalian ...? Aku bisa saja melakukannya, tapi apa kau pikir aku ini tidak butuh istirahat, haaa ...! Aku sudah terlalu kelelahan membangun reaktor ini! Jadi, setidaknya beri aku waktu istirahat yang cukup!" gerutu Javier.


"Oh, ayolah ... kumohon ... tiga setelan saja ... setidaknya modifikasi tiga setelan sebelum Guild War dimulai. Kami benar-benar membutuhkannya." Aku berusaha membujuk dengan rayuan mautku.


Javier terus memelototiku.


"Kumohon ... tiga set setelan saja."


Javier hanya diam sambil terus memelototiku, lalu berkata, "Cuma tiga set kan ...?"


"Kalau bisa ... sisanya sambil jalan," balasku.

__ADS_1


Javier kembali memelototiku, namun kali ini dengan sorot mata jengkel bercampur geram, sementara aku hanya menanggapi dengan senyum polos.


...


Satu minggu kemudian.


Besok, kami akan berangkat menuju Kota Lisbon untuk menjalani pertandingan perdana kami di pagelaran turnamen Guild War tahun ini.


Namun, sebelum itu, malam ini, aku, Drian, Angel, Hansel, Bang Kris, Bang Deri, Bang Dodi, Bang Sulaiman, Bang Gori, Bang Toyib, Pak Warto, Viona, serta Mbak Shelly, kami semua berkumpul di rumahku untuk membahas tentang persiapan pertandingan.


Guild War memiliki tiga tahapan, dimulai dari tahap pertama; babak penyisihan grup tahap pertama, di mana ratusan guild yang tersebar di seluruh penjuru negeri akan diacak dan ditempatkan dalam grup-grup berisikan enam guild.


Dilanjutkan dengan tahap kedua; babak penyisihan grup tahap kedua, di mana hanya sang juara dan runner up dari babak penyisihan grup tahap pertama yang akan lolos ke tahapan ini.


Para juara dan runner up dari tahap pertama akan kembali diacak, sebelum akhirnya kembali ditempatkan dalam grup-grup beranggotakan empat guild.


Terakhir adalah babak knock out.


Di tahap ini, tiga puluh dua guild yang merupakan juara grup dari masing-masing grup penyisihan tahap kedua akan saling berhadapan dan saling menyingkirkan satu sama lain. Sampai pada akhirnya, hanya menyisakan satu guild yang bertahan dan menasbihkan diri sebagai juara.


"Di babak penyisihan grup tahap pertama, kita tergabung di grup 12 bersama Guild Scorpion, Guild Ceres, Guild Andes, Guild Borner Junior, dan Guild Loyer. Di antara kelimanya, Guild Andes adalah guild yang harus paling kita antisipasi, mengingat Guild Andes adalah semifinalis tahun lalu. Ditambah lagi, mereka kini bertengger pada posisi Top 4 guild terbaik di seluruh negeri," jelas Mbak Shelly.


"Lalu bagaimana dengan lawan pertama kita?" tanya Drian.


"Lawan perdana kita adalah Guild Scorpion. Mereka bukan guild besar. Track record mereka juga tidak terlalu bagus. Prestasi terbaik mereka hanya berhasil lolos dari babak penyisihan grup tahap pertama dan tahap kedua, tapi langsung tersingkir di babak knock out tiga puluh dua besar, itupun sudah sepuluh tahun yang lalu, waktu guild mereka baru berdiri dan diisi banyak petarung hebat. Seharusnya, kita bisa menang mudah melawan mereka," jelas Mbak Shelly.


Tidak lama berselang, Javier datang dengan kantung mata menghitam akibat kurang tidur.


"Ini ... aku sudah memodifikasinya sesuai permintaanmu!" kata Javier sambil melemparkan tiga set setelan ke meja.


"Terima kasih, Javi! Kau benar-benar sangat membantu," kataku, mengapresiasi kerja keras Javier.


"Terserahlah! Jangan ganggu aku lagi. Aku mau tidur. Sudah tiga hari aku belum tidur sama sekali," kata Javier, lalu beranjak meninggalkan kami sambil terus menggerutu. Dia sepertinya sangat jengkel karena kuminta terus bekerja tanpa henti.


"Ini, silakan diminum," kata Bu Lidya, ibunya Zaltan, sambil menaruh satu per satu gelas di nampan ke meja.


"Silatan (Silakan)." Zaltan meniru ibunya.


"Wah ... kau ini imut sekali, Zaltan," ucap Mbak Shelly sambil mencubit kedua pipi Zaltan.


Sementara itu, Zaltan hanya pasrah sambil mengeluarkan suara aneh kala Mbah Shelly mencubit dan mempermainkan kedua pipinya.


Bu Lidya hanya tersenyum melihat itu.


"Kalau begitu, kami pergi dulu," kata Bu Lidya.


"Terima kasih banyak, Bu Lidya. Anda seharusnya tidak perlu repot-repot," kataku.


"Tidak masalah sama sekali," balas Bu Lidya sambil tersenyum. Senyumnya itu lo ... meski umurnya sudah ribuan tahun, tapi parasnya masih sangat menawan. Pesona elf dewasa memang beda.


"Cepat lepaskan dia, Shelly," ucap Bang Kris sambil menarik tubuh Mbak Shelly, meminta Mbak Shelly melepas cubitannya dari pipi Zaltan.


Dengan terpaksa, Mbah Shelly pun melepas cubitannya.


"Ayo, Sayang," kata Bu Lidya pada anaknya, Zaltan.


"Ya," balas Zaltan dengan suara imutnya. Sejak berkumpul dengan orang tuanya, Zaltan kini jadi jauh lebih ceria dari sebelumnya.


Setelah itu, Mbak Shelly mengambil setelan yang Javier lemparkan ke meja dan mulai memeriksa hasil karya buatan Javier.


"Woaaah ... ini benar-benar luar biasa. Aku tidak menyangka kalau setelan standar bisa berubah jadi sehebat ini," gumam Mbak Shelly kagum.


"Memang apa istimewanya setelan itu, Mbak?" tanya Drian.

__ADS_1


"Aku juga sebenarnya tidak terlalu mengerti, tapi sepertinya setelan ini ditanami fitur stabilizer dan peredam damage," jawab Mbak Shelly.


"Apa itu hebat?" tanyaku yang masih belum paham.


"Tentu saja. Fitur stabilizer, itu adalah fitur yang berguna untuk menjaga dan menstabilkan kondisi fisik sang pengguna. Kau tau kan? Saat seseorang terlibat dalam pertarungan tempo tinggi, suhu tubuhnya akan meningkat, jantungnya akan berdetak lebih cepat, dan nafasnya akan terasa lebih berat, sehingga membuatnya jadi jauh lebih cepat kelelahan. Dengan fitur ini, hal itu bisa diminimalisir," jelas Mbak Shelly.


"Woaaaah ... keren!" Aku kagum akan hal itu.


"Lalu bagaimana dengan fitur peredam damage?" tanya Drian.


"Sesuai namanya, fitur itu berguna untuk meredam damage yang diterima sang pengguna, sehingga membuat durabiliti dan rasa sakit yang diterima sang pengguna berkurang drastis," jelas Mbak Shelly.


Javier yang sudah masuk ke kamarnya, dia tiba-tiba menjulurkan kepalanya keluar sambil berkata, "Aku juga menambahkan fitur energi recovery dan burst energi." Setelah mengatakan itu, Javier kembali masuk ke dalam kamarnya.


Mbak Shelly, Viona, Hansel, berserta semua orang, kecuali aku, Drian, dan Angel, mereka semua nampak sangat terkejut setelah mendengar apa yang baru saja Javier katakan.


Sementara itu, aku, Drian, dan Angel hanya saling pandang satu sama lain karena tidak mengerti tentang fitur yang Javier maksud.


"Apa ada yang salah ...?" tanyaku.


"Fitur energi recovery dan burst energi, itu adalah dua fitur eksklusif yang biasanya hanya dimiliki oleh para top guild global," jawab Mbak Shelly.


Viona lalu menambahkan, "Para Top Guild Global biasanya punya banyak sekali sumber daya, mulai dari uang sampai manusia, sehingga hal itu memungkinkan mereka untuk meneliti dan mengembangkan teknologi mereka. Burst energi dan energi recovery adalah beberapa teknologi paling canggih yang sudah mereka tanamkan dalam setelan tempur mereka."


Aku, Drian, dan Angel semakin kebingungan karena kami masih belum mengerti akan keistimewaan fitur tersebut.


Viona lalu menjelaskan, "Fitur energi recovery berguna untuk membantu sirkulasi energi sang pengguna agar bisa meregen energinya lebih cepat, sedangkan fitur burst energi berguna untuk membantu pembakaran energi sang pengguna agar bisa menggunakan kemampuannya dengan lebih cepat dan efisien."


"Oh, aku mengerti sekarang," kataku.


"Aku tidak menyangka kalau kita akan memiliki setelan dengan fitur segila ini," gumam Hansel.


"Benar. Para Top Guild di negara kita bahkan belum sanggup mengembangkan dan mengaplikasikan fitur semacam ini di setelan mereka," imbuh Bang Deri.


"Terus soal line up-nya gimana?" tanya Bang Kris.


"Soal itu, aku, Drian, dan Angel-lah yang akan turun di pertandingan. Sisanya, tinggal duduk di kursi cadangan. Biar kami yang akan menangani semuanya," jawabku.


"Apa kalian yakin? Babak penyisihan grup tahap pertama dan tahap kedua mungkin masih bisa kalian tangani, tapi bagaimana dengan babak knock out? Guild yang berhasil lolos ke babak knock out adalah guild-guild terbaik dari yang terbaik. Mereka bukan cuma kuat, tapi juga punya kerja sama yang sangat luar biasa. Apa kalian yakin sanggup bersaing dengan para top superstar seperti mereka?" tanya Bang Deri.


"Kami memang belum punya cukup pengalaman soal pertandingan, tapi kalau soal kekuatan, kami yakin tidak akan kalah," balasku.


Pertandingan Guild War memiliki format 3 vs 3 dengan total lima set.


Pada setiap setnya, tiga petarung yang akan mewakili tim masing-masing akan bertarung di dalam arena seluas dua ratus meter persegi.


Tim yang berhasil mengalahkan atau menyingkirkan ketiga petarung lawan dari arena seluas dua ratus meter persegi pada setiap setnya akan mendapat satu poin.


Tim yang berhasil mengumpulkan tiga poin terlebih dahulu akan dinyatakan sebagai pemenang pertandingan.


"Lalu, bagaimana soal desa? Apa tidak masalah kalau kita semua meninggalkan Desa begitu saja? Maksudku, desa ini sekarang punya pembangkit listrik bertenaga reaktor fusi. Itu adalah teknologi paling canggih abad ini. Kalau ada yang sampai tau soal itu, bukankah itu sangat berbahaya?" tanya Hansel.


"Aku sudah meminta Fenrir untuk menjaga desa selagi kita pergi. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lagi pula, memangnya siapa yang bisa mengalahkan serigala itu," balasku.


"Vin, gua masih penasaran tentang gimana cara lu bisa ngalahin Fenrir. Lu emang udah ngasih tau kalau lu berhasil ngalahin dia, tapi kan lu nggak ngejelasin secara detail tentang gimana cara lu bisa ngalahin dia," kata Drian.


Aku terdiam sesaat sambil mengingat momen di detik-detik terakhir, di mana aku dan Fenrir akan saling bertukar serangan.


"Sebenarnya, gua juga nggak tau. Pas detik-detik terakhir, waktu kami mau saling bertukar serangan, Fenrir tiba-tiba menggeser arah serangannya. Berkat itu, gua bisa menang. Kalau aja dia nggak menggeser arah serangannya, gua mungkin udah ..." Aku tidak melanjutkan ucapanku.


"Emang lu nggak tanya kenapa dia tiba-tiba menggeser arah serangannya?" tanya Drian.


"Udah, tapi dianya nggak jawab," balasku.

__ADS_1


__ADS_2