
Malam ini, aku mengadakan pertemuan dengan Drian, Angel, dan Javier di rumahku.
"Maaf udah manggil kalian malem-malem gini," kataku sambil menyuguhkan sejumlah camilan ke meja.
Javier dan Drian langsung mengambil beberapa camilan yang baru saja kutaruh di atas meja.
Sambil memakan camilannya, Drian berkata, "Kenapa tiba-tiba? Jangan bilang lu mau bahas soal yang tadi sore ...?"
"Emang kalian bahas apa tadi sore?" tanya Angel yang duduk di sebelah Drian.
Drian tidak menjawab. Namun, dia malah mengangguk ke arahku, seperti meminta Angel untuk bertanya langsung padaku.
Aku duduk di kursi, di sebelah Javier, lalu berkata, "Sebenarnya, gua ngumpulin kalian ke sini karena mau nanya pendapat kalian, gimana kalau kita secepatnya ngediriin guild?"
"Buru-buru amat. Sekarang kan kita lagi sibuk ngurusin pembangunan reaktor fusi," sahut Drian.
"Iya, Vin. Lagian, kita juga nggak boleh narik banyak perhatian dulu, kan?" imbuh Angel.
"Ya, gua tau ... tapi sekarang ini, kita lagi di kondisi yang sangat rumit. Di satu sisi, kita musti ngerahasiain tentang informasi desa, tapi di sisi lain, kita juga butuh persiapan matang kalau informasi tentang desa kita sampai bocor-"
"Gua cuma mikir aja, cepat atau lambat, informasi tentang desa kita pasti bakalan bocor. Kita nggak mungkin terus-terusan nutupin itu semua juga, kan?"
"Sebelum itu terjadi, gua pingin kita udah siap ngadepin semua yang mungkin terjadi. Salah satu persiapan yang harus segera kita lakuin adalah, kita musti nunjukin pada dunia kalau kita punya kekuatan agar mereka nggak berani macam-macam sama kita."
Setelah mendengar penjelasanku, Angel, Drian, dan Javier tiba-tiba terdiam merenung sejenak.
"Jadi, lu mau kita bangun kekuatan sambil ngebangun desa, gitu?" tanya Drian.
Aku pun mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Drian.
"Tapi Javier gimana? Apa nggak masalah kalau kita malah ngebuka rahasia kita? Kalau kita terkenal, itu kan sama aja kayak narik banyak perhatian ke sini," tanya Angel sambil menatap Javier yang nampak hanya diam merenung, seperti sedang berpikir.
Aku dan Drian juga ikut menatap Javier sambil berharap-harap cemas, takut Javier menolak usulan tersebut, mengingat Javier bahkan sampai mengajukan untuk merekrut tambahan pekerja dari Guild Gorgius agar informasi tentang desa kami tidak bocor.
Cukup lama terdiam, Javier akhirnya mulai angkat bicara.
"Sejak awal ... aku tau kalau mustahil untuk terus menyembunyikan rahasia kita. Alasan kenapa aku berusaha merahasiakannya karena aku takut kalian belum siap mengatasi ancaman yang kutimbulkan. Maka dari itu, aku mengajukan untuk tetap merahasiakan informasi tentang kita agar kalian punya cukup waktu untuk mempersiapkan diri, tapi kalau kalian memang sudah siap menghadapi semuanya, menurutku ... membangun desa sambil membangun reputasi adalah ide terbaik."
"Jadi, apa itu artinya nggak masalah kalau kita membuka diri pada dunia?" tanyaku.
"Ya, terserah kalian, asal kalian yakin bisa mengatasinya," balas Javier.
"Kalau gitu, gimana kalau kita batalin aja permintaan ke Guild Gorgius? Kita pakai tenaga kerja yang biasa aja, biar biayanya lebih murah," usulku.
"Untuk itu, tidak bisa. Tidak masalah kalau semua orang tau kita memiliki reaktor fusi, tapi proses pembangunannya tidak boleh sampai bocor. Aku akan tetap menggunakan jasa pekerja dari Guild Gorgius agar proses pembangunannya tetap terjaga-"
"Lagi pula, menggunakan pekerja biasa juga tidak akan merubah banyak hal. Perlu kau tau, para pekerja dari Guild Gorgius itu sangat hebat. Alasan kenapa mereka bisa menyandang gelar yang terbaik karena mereka bisa mengerjakan projek-projek besar puluhan atau bahkan ratusan kali lipat lebih cepat dan efisien dari pekerja biasa-"
"Pada akhirnya, kalau durasi pengerjaannya jadi melambat, biayanya juga akan ikut membengkak," balas Javier.
"Ya, ya, terserah kau saja kalau begitu," gumamku yang tidak bisa membantah.
"Terus, kapan kita bakalan buat guild kita sendiri?" tanya Drian.
"Secepatnya ... soalnya sebulan lagi Guild War bakalan dimulai," balasku.
"Jadi lu mau langsung ngebidik Guild War?" tanya Drian.
__ADS_1
"Ya, itu adalah cara tercepat agar guild kita bisa langsung punya reputasi," balasku.
Apa itu Guild War? Guild War adalah sebuah pagelaran akbar perang antarguild yang biasa diselenggarakan setiap setahun sekali.
Setiap tahunnya, seluruh guild yang tersebar di seluruh belahan dunia akan berkompetisi dan bertempur satu sama lain dari tingkatan terbawah, tingkat kota, sampai tingkatan tertinggi, tingkat dunia, demi memperebutkan supremasi tertinggi.
Bagi guild kecil maupun guild besar, Guild War adalah ajang yang tidak boleh mereka lewatkan karena ajang tersebut adalah panggung utama untuk menunjukkan kekuatan guild mereka ke mata dunia.
Semakin tinggi tingkatan yang bisa dicapai, maka akan semakin tinggi nilai guild tersebut di mata dunia.
Jika kami ingin mencapai puncak dengan cara instan, Guild War adalah solusinya. Maka dari itu, aku ingin mendirikan guild secepat mungkin agar bisa mengikuti pagelaran tersebut.
"Untuk bisa mendirikan guild kita sendiri, kita harus memiliki minimal sepuluh anggota, belum lagi stafnya, sedangkan kita cuma bertiga," kata Angel.
"Tenang aja ... aku punya rencana," kataku.
Aku pun mulai menjelaskan rencanaku, sementara Drian dan Angel terus menyimak dengan seksama.
"Lu serius mau narik mereka ke sini?" Drian terlihat cukup terkejut setelah mendengar usulanku.
"Apa mereka bakalan mau?" imbuh Angel yang juga nampak cukup terkejut.
"Tenang aja. Gua yakin mereka pasti mau," balasku.
Aku menyarankan untuk menarik semua prajurit bayaran Guild Fairy cabang Borneo, beserta seluruh stafnya, untuk masuk ke dalam guild baru yang akan kami dirikan.
"Terus gimana kalau mereka nggak mau? Jangan bilang lu terlalu percaya diri sampai nggak mikirin rencana cadangan ...?" tanya Drian.
Sambil tertawa, aku menjawab, "Kalau gitu, tinggal daftarin aja nama Bapak lu, Bapaknya Angel, ampek Pak Kepala Desa. Toh, itu juga cuma buat formalitas aja, kan? Hahahahaha!"
"Wah, udah sengklek otak nih bocah!" gerutu Drian.
Setelah menyepakati ide pembangunan guild, kami pun mulai membahas nama yang akan kami gunakan untuk guild kami nantinya.
Drian menyarankan beberapa nama, mulai dari Killian, Sersen, Fioren, sampai Cruzel, sementara Angel menyarankan Switzer, Pinki, sampai Bear. Akan tetapi, aku menolak semua usulan mereka karena merasa nama-nama yang mereka usulkan terlalu aneh.
Alhasil, karena tak kunjung menemukan nama yang tepat, kami pun harus berdebat hampir semalaman.
"Jadi kita namain apa? Lu nolak semua usulan kita. Kalau gini, kapan kelarnya, Su?" gerutu Drian.
"Hoam ... apa kalian belum selesai juga?" tanya Javier sambil menguap.
"Ayolah, kasih nama yang bagus," kataku.
"Itu semua bagus, Su!" balas Drian geram karena semua nama yang dia usulkan langsung kutolak mentah-mentah.
"Bagus apaan ...? Norak iya!" balasku.
"Aku ke kamar dulu. Kabari kalau kalian sudah selesai. Teori Quantumku menunggu untuk diselesaikan," kata Javier sambil mulai beranjak meninggalkan kami dengan bermalas-malasan karena mengantuk. Dia sepertinya benar-benar kelelahan hanya dengan mendengar dan melihat perdebatan kami.
Sewaktu mendengar kalimat terakhir yang Javier katakan, aku jadi terpikir sesuatu.
"Quantum! Gimana kalau kita pakai nama Quantum aja?" usulku.
Javier tiba-tiba berhenti, lalu menoleh ke arahku.
"Hoi, kenapa kau malah menggunakan nama teoriku?" seru Javier sambil memelototiku.
__ADS_1
"Itu kedengarannya bagus. Lagian, pasti belum ada guild yang makek nama itu," kataku.
"Ya udahlah, Quantum ... kita pakek nama itu aja biar cepet. Gua udah ngantuk parah ini," kata Drian.
"Aku setuju aja sih," sahut Angel.
"Oke, kalau gitu fix kita pakek nama Quantum, ya?" kataku.
Drian dan Angel pun mengangguk, tanda setuju, sementara Javier ...
"Hoi ..."
Dia sepertinya belum terima kalau kami seenaknya menggunakan nama teorinya. Walaupun begitu, kami tidak mau ambil pusing.
Dengan begitu, nama yang akan kami gunakan untuk guild kami nantinya pun telah resmi disepakati.
Setelah pembahasan tentang pendirian dan penamaan guild selesai, kami mulai membahas tentang pembagian tugas.
Angel dan Javier akan bertugas mengurusi semua yang dibutuhkan dalam pembangunan mega proyek reaktor fusi, sementara Drian akan mengurusi segala keperluan pengajuan dan pendirian guild.
"Terus lu gimana?" tanya Drian.
"Gua ...? Gua bakalan pergi ke Gunung Himalaya," jawabku.
Mendengar ucapanku, Drian, Angel, dan Javier seketika terhenyak.
"Mau ngapain lu ke sana? Tunggu ... jangan bilang ..."
Belum selesai Drian berbicara, aku langsung memotong.
"Gua mau nyari salah satu dari tujuh Bencana Besar, sang monster Serigala Fenrir."
Mendengar apa yang baru saja kukatakan, Drian, Angel, hingga Javier seketika memelototiku. Mereka sepertinya sangat terkejut akan apa yang baru saja kukatakan.
"Woi, apa kau sudah gila? Mencari Serigala Fenrir ...? Apa kau tidak tau? Dia itu salah satu dari tujuh monster terkuat di dunia, monster yang menyandang gelar Bencana Besar!" seru Javier.
"Vin, kamu nggak lagi mabok, kan?" tanya Angel.
"Kalian ini kenapa dah?" gumamku.
"Vin, jangan bilang ... lu serius mau bikin pasukan monster ...?" tanya Drian.
"Gua serius, Yan. Gua beneran pingin narik dan ngumpulin semua monster dan ras-ras minoritas ke sini, tapi sebelum itu, gua mau mastiin dulu apakah mereka emang bisa bersahabat ama kita atau nggak. Ibarat mau nangkep uler, gua musti nangkep kepalanya duluan. Kalau monster sekelas Serigala Fenrir aja bisa gua taklukkin, itu artinya monster-monster di bawahnya juga pasti bisa gua taklukkin. Makanya, sebelum mulai ngumpulin monster ama ras-ras minoritas, gua mau nyoba naklukkin Serigala Fenrir dulu. Itung-itu uji coba," jelasku.
"Uji coba palalu botak!" gerutu Drian.
"Vin, kayaknya itu bahaya banget deh. Aku nggak masalah kalau kamu memang mau nyoba, tapi nggak harus Serigala Fenrir juga, kan?" kata Angel.
"Kudengar, memang ada beberapa monster yang sangat bersahabat dengan manusia, tapi bukan berarti mereka bisa ditaklukkan semudah itu. Lagi pula, bagaimana caramu menaklukkan mereka? Kau bahkan tidak bisa berbicara dengan mereka," tanya Javier.
"Si Anjing ini bisa," celetuk Drian sambil menunjukku.
"Eh ...?" Javier nampak sangat terkejut.
Aku menghela nafas, lalu mulai angkat bicara, "Kalian tenang aja. Toh, gua juga nggak berniat tarung habis-habisan ama tu serigala. Gua cuma mau nyoba ngomong baik-baik."
"Lu kira Serigala Fenrir itu cewek ngambek yang musti lu ajak ngomong baik-baik? Dia itu monster ganas gila!" celetuk Drian.
__ADS_1
"Gua tau, Yan ... gua tau!" seruku, lalu kembali menghela nafas dan berkata, "Pokoknya, gua bakalan nyoba dulu."
Malam itu, meski masih meninggalkan beberapa perdebatan, kami akhirnya bersepakat untuk menjalankan tugas masing-masing.