Legenda Sepanjang Masa

Legenda Sepanjang Masa
Chapter 31 - Legenda Sepanjang Masa


__ADS_3

Malam harinya, aku mengumpulkan Javier, Drian, Angel, Viona, Mbak Shelly, Pak Warto, Bang Kris, Bang Deri, Bang Dodi, Hansel, Bang Toyib, Bang Sulaiman, serta Bang Gori di rumahku untuk membahas perihal apa yang kubicarakan dengan Drian dan Angel tadi sore.


Tidak lupa, malam itu aku juga menitipkan Zaltan pada Bibi Nur karena tidak mau dia sampai mendengar pembicaraan kami.


"Ini ada apa lagi? Jangan bilang kalian mau menjalankan misi gila lainnya," tanya Javier sambil berdiri dan memegang segelas kopi panas.


"Jadi, tadi sore aku berbincang dengan Drian. Katanya, dia sudah menemukan petunjuk soal keberadaan orang tua Zaltan."


"Maksudmu elf kecil itu?" tanya Bang Kris.


"Benar. Jadi, maksudku mengumpulkan kalian ke sini karena ingin membahas soal pembebasan orang tua Zaltan. Itung-itung, ini juga akan menjadi misi pertama guild kita."


"Sudah kuduga," gumam Javier sambil menyeruput kopinya.


"Kalau nggak salah, ras elf itu kan terkenal sangat lincah dan cepat. Kelompok yang bisa memburu dan menangkap mereka pasti kelompok yang sangat kuat, kan? Apa kita akan berurusan dengan kelompok semacam itu di misi pertama kita?" tanya Hansel.


"Beruntungnya, kita nggak perlu berurusan dengan kelompok yang sudah menangkap orang tua Zaltan. Dari informasi yang Drian dapat, terakhir, Guild Saber, guild yang sudah menangkap orang tua Zaltan sudah menjualnya pada salah satu bangsawan ternama di Kota Zargon, tapi kami sendiri belum tau siapa bangsawan yang dimaksud," jelasku.


"Setahuku, hanya ada satu bangsawan paling berpengaruh di sana. Mereka adalah Keluarga Don Cile," kata Bang Kris yang sudah sangat berpengalaman dalam berpetualang.


"Aku juga pernah mendengar beberapa rumor yang mengatakan kalau Keluarga Don Cile suka mengkoleksi monster," imbuh Bang Sulaiman.


"Berarti, incaran kita adalah Keluarga Don Cile ...?" tanyaku memastikan.


"Sebaiknya pastikan dulu sebelum menargetkan mereka. Selain memiliki pengaruh besar di Kota Zargon, Keluarga Don Cile juga punya pengaruh besar di seluruh negeri. Jika salah langkah, kita akan menjadi buronan kelas atas," saran Pak Warto.


"Jadi, bagaimana? Apa kita sepakat untuk sama sama menjalankan misi ini?" tanyaku memastikan.


"Aku sih tidak masalah," jawab Bang Kris.


"Kalau soal nyusup menyusup, aku ahlinya," imbuh Hansel.


"Aku juga tidak masalah. Lagi pula, aku juga kasihan pada elf kecil itu," imbuh Bang Sulaiman.


Sama halnya dengan Bang Kris, Hansel, dan Bang Sulaiman, Bang Dodi, Bang Gori, Bang Toyib, serta Bang Deri juga setuju untuk menjalankan misi ini.


Dengan begitu, kami sudah bersepakat untuk menjalankan misi pembebasan orang tua Zaltan.


Awalnya, kukira mereka akan mendebat misi yang kuajukan, mengingat target kami bukan sembarang bangsawan, tapi nyatanya tidak. Mereka malah dengan senang hati menerima misi yang kuajukan tanpa memprotes.


"Jadi, kita berangkat kapan?" tanya Hansel.


"Besok pagi, tapi sebelum itu, kita harus mencari Fenrir lebih dulu," kataku.


"Mencari Fenrir ...? Untuk apa?" tanya Hansel.


"Kalian akan tau besok," balasku, kemudian menambahkan, "Dan juga ... aku lupa menjelaskan. Tidak ada bonus untuk misi ini. Jadi, anggap saja ini sebagai misi amal, ok ...?"


Bang Deri, Bang Kris, Hansel, sampai Bang Sulaiman langsung memasang tampang yang seolah mengatakan, "Sudah kami duga".


Singkat cerita, malam itu kami langsung berpencar menelusuri seluruh penjuru hutan dan gunung untuk mencari keberadaan Fenrir.


....


Keesokan harinya.

__ADS_1


"Yuuuuhuuuuuu!" Aku berteriak girang ketika menunggangi Fenrir yang sedang berlari dengan kecepatan tinggi.


"Hoi, Manusia! Apa-apaan ini ...? Aku tidak pernah setuju untuk menjadi tunggangan kalian."


"Oh, ayolah. Jangan terlalu kaku. Sekali-kali tidak masalah kan?" balasku.


Saat ini, aku, Drian, Angel, Hansel, Bang Kris, Bang Deri, Bang Dodi, Bang Sulaiman, Bang Gori, serta Bang Toyib sedang menunggangi punggung Fenrir yang menggunakan wujud aslinya; serigala berbulu hitam legam setinggi lima puluh meter.


Aku sengaja memintanya untuk menggunakan wujud aslinya agar kami semua muat duduk di punggungnya.


Meski itu agak beresiko, tapi perduli amat soal ketahuan, yang penting nyaman, aman, sampai tujuan.


"Kalau tau akan jadi begini, sejak awal aku tidak akan sudi ikut denganmu!" gerutu Fenrir kesal.


"Hehehehehehe ...." Namun, aku hanya menanggapi amarahnya dengan tawa.


Meski marah dan tidak terima, tapi anehnya Fenrir tetap bersedia menjadi tunggangan kami.


"Ini agak menakutkan." Berbeda dariku yang sangat menikmati menunggangi Fenrir, Angel justru kelihatan takut. Dia bahkan tidak mau melepas pegangannya dariku.


"Vin, ini aman kan? Fenrir kayaknya kelihatan kesal," tanya Drian.


"Aman kok, aman. Nggak usah dipikirin," balasku.


"Aku tidak pernah menduga kalau aku akan bisa menunggangi salah satu dari tujuh Monster Bencana Besar," gumam Hansel.


Sementara itu, Bang Kris, Bang Deri, Bang Dodi, Bang Sulaiman, Bang Gori, serta Bang Toyib hanya terdiam seribu bahasa, seolah belum bisa percaya kalau mereka akan bisa menunggangi salah satu dari tujuh Monster Bencana Besar, mengingat reputasi Monster Bencana Besar terkenal sangat mengerikan.


...


Normalnya, kami membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh jam perjalanan dari desa menuju Kota Zargon, tapi berkat Fenrir yang terus berlari tanpa henti, kami bisa sampai di tempat tujuan lebih cepat dari yang seharusnya.


Sesampainya di kota tersebut, kami langsung berpencar dan membagi setiap orang dalam kelompok dua orang.


Drian bersama Hansel, Bang Dodi bersama Bang Kris, Bang Deri bersama Bang Toyib, Bang Gori bersama Bang Sulaiman, sementara aku bersama Angel dan Fenrir.


Kami sengaja membagi setiap orang dalam kelompok-kelompok kecil agar tidak terlalu menarik perhatian, dan juga, agar lebih efisien dalam mengumpulkan informasi.


...


Saat berkeliling kota bersama Angel dan Fenrir yang kini menggunakan wujud serigala normal, aku melihat banyak wanita cantik yang bisa kutemui dengan mudah di sepanjang jalan.


Beruntungnya, aku bersama Angel, karena kalau tidak ...


"Kalau tidak apa?"


"Hehehehehehe ... pisss, Ngel ...."


Kembali ke cerita.


Saat mengawasi mansion milik Keluarga Don Cile dari cafe seberang jalan, kami melihat banyak sekali pria bersetelan hitam yang berjaga di berbagai macam sisi.


"Penjagaannya ketat banget. Gimana masuknya kalau gitu," gumamku yang kini sedang menyamar menggunakan topi dan kaca mata hitam.


"Iya, kayaknya bakalan susah nyusup ke sana," balas Angel yang juga sedang menyamar menggunakan topi bulat besar dan kacamata hitam.

__ADS_1


Tidak lama berselang, kami melihat ada rombongan mobil mewah yang memasuki gerbang mansion tersebut.


Memang tidak terlalu jelas karena terhalang jeruji pagar, tapi saat mobil tersebut sampai di depan pintu mansion, kami melihat seorang pria berpenampilan bak bangsawan kelas atas yang keluar dari mobil yang diapit lima mobil di depan dan di belakangnya.


"Apa mungkin dia bagian dari Keluarga Don Cile?" tanyaku.


"Mungkin saja," balas Angel.


Fenrir yang kini sedang duduk di dekat kakiku, layaknya hewan peliharaan, tiba-tiba berkata, "Kalian ini rumit sekali. Kenapa nggak langsung terobos aja?"


"Terobos palalu pitak! Lu pikir main terobos bisa menyelesaikan masalah."


"Dasar lemah!" gerutu Fenrir.


Berkat apa yang Fenrir ucapkan, aku jadi terpikir sesuatu.


"Hoi, Rir, gimana kalau lu bikin onar di depan mansion mereka? Lu kan Monster Bencana Besar. Mereka pasti nggak bakalan curiga. Dengan begitu, kami bisa menyusup dengan mulus, semulus paha Angel. Gimana?"


"Eh ...? Pahaku ...?"


"Kenapa harus aku? Ini kan misi kalian!" gerutu Fenrir.


"Yeeee ... misi ini kan demi membebaskan orang tua Zaltan. Lagian, emang lu nggak kasian sama elf kecil itu? Seenggaknya kontribusi dikit kek." Aku terus dan terus berusaha membujuk Fenrir agar dia bersedia menjadi umpan untuk kami.


"Sudah ratusan ribu tahun aku hidup, tapi baru kali ini aku diperlakukan seperti ini."


"Ayolah, sekali-kali nggak papa kan?"


"Sekali aja terus," gerutu Fenrir kesal.


Meski awalnya terus menolak, tapi entah kenapa, pada akhirnya Fenrir tetap bersedia untuk menjadi umpan kami.


Dengan begitu, sudah diputuskan, kami tidak perlu repot-repot menyusun strategi rumit untuk menyusup ke dalam mansion Keluarga Don Cile. Kami tinggal memanfaatkan kerusuhan yang Fenrir buat dan menyusup ke dalam mansion dengan penjagaan ketat tersebut tanpa perlu khawatir menarik perhatian.


...


Malam harinya, sebelum menjalankan rencana, kami berkumpul untuk mematangkan rencana sekaligus membagi tugas masing-masing orang.


Drian dan Hansel yang memiliki kecepatan tinggi akan bertugas menyusup diam-diam ke dalam mansion Keluarga Don Cile.


Bang Kris, Bang Dodi, Bang Toyib, Bang Sulaiman, Bang Deri, serta Bang Gori akan berjaga di berbagai macam sisi untuk bertugas mengamankan jalur pelarian sekaligus mengawasi situasi.


Angel akan berjaga dan mengawasi dari posisi tertentu untuk menangkap kode yang telah ditentukan, kode yang menandakan bahwa misi sudah berhasil.


Fenrir akan membuat kekacauan di depan mansion Keluarga Don Cile sebagai umpan.


Sementara aku? Aku akan berjaga dan mengawasi dari kejauhan.


"Enak bener lu ya ... tinggal ongkang-ongkang kaki pas yang lainnya pertaruhin nyawa," gerutu Drian.


"Yeee ... jangan salah, Yan. Gua emang nggak ngapa-ngapain, tapi kalau bukan karena gua, kita nggak bakalan bisa melakukan rencana ini. Emang siapa lagi yang bisa bujuk Fenrir buat jadi umpan selain gua ...?"


"Iya dah, iya ... serah lu aja," balas Drian.


Pembagian tugas sudah selesai, pembagian kelompok juga sudah selesai. Dengan begitu, sekarang hanya tinggal berharap rencana bisa berjalan sesuai harapan.

__ADS_1


__ADS_2