Legenda Sepanjang Masa

Legenda Sepanjang Masa
Chapter 36 - Legenda Sepanjang Masa


__ADS_3

Setelah lima menit jeda pergantian set, pertandingan akan kembali dilanjutkan.


Sebelum set kedua dimulai ...


"Silakan bersiap di posisi masing-masing!"


Wasit yang berada di tengah lapangan meminta kami memasuki lapangan dan bersiap di posisi masing-masing.


Aku, Drian, dan Angel pun mulai berjalan memasuki lapangan, begitu pula dengan ketiga pemain lawan.


Di set kali ini, tidak ada yang berubah. Kami masih turun dengan formasi aku, Drian, dan Angel, sementara lawan juga tetap dengan formasi mereka.


Saat kami sedang bersiap di posisi kami; sudut kiri lapangan, ketiga anggota Guild Scorpion yang sedang bersiap di sudut kanan lapangan terus menatap kami dengan tatapan jengkel.


Entah untuk alasan apa mereka melakukan itu, tapi sepertinya mereka masih kesal dengan yang sebelumnya. Maksudku soal kami yang berhasil membungkam mereka di set pertama dengan cepat.


Saat kami sudah bersiap di posisi masing-masing, wasit yang mengawal pertandingan langsung berteriak, "Play!"


*Ada sedikit pergantian: Mulai ~ Play.*


Tepat setelah set kedua dimulai ...


Frezee ...!


Aku langsung menurunkan suhu udara di sekitar hingga minus seribu derajat celcius dan hal itu menyebabkan segala hal, mulai dari tanah sampai udara seketika mengkristal.


Di saat yang bersamaan, Angel juga langsung menggunakan spesial teknik Perfect Barier-nya untuk melindungi dirinya sendiri, Drian, dan tidak lupa sang wasit yang berada di tengah lapangan dari penurunan suhu yang kusebabkan.


Akibat dari spesial teknikku; Frezee, seluruh area lapangan seluas dua ratus meter persegi seketika membeku dan mengkristal, tidak terkecuali ketiga anggota Guild Scorpion yang baru saja ingin melesat ke depan.


Namun, tidak dengan area tribun penonton dan bangku cadangan. Hal itu bisa terjadi karena area yang memisahkan lapangan dari tribun maupun bangku cadangan dilindungi sebuah barier khusus yang diciptakan oleh empat wasit yang berjaga di pinggir lapangan.


Jadi, setiap pertandingan biasanya dikawal oleh lima wasit, satu di tengah lapangan dan sisanya di pinggir lapangan. Hal itu dilakukan untuk melindungi para penonton dari dampak pertarungan yang terjadi di dalam lapangan.


Para wasit yang dipilih untuk mengawal pertandingan juga bukan orang sembarangan, mereka adalah orang yang dipilih secara khusus lewat seleksi yang sangat amat ketat.


Di tengah suhu dingin ekstrim tersebut, aku menghembuskan nafas dingin yang nampak memutih.


Sementara itu, sambil menggigil kedinginan, Drian menegurku, "Vin ... udah dibilangin juga, jangan berlebihan kalau menggunakan teknikmu."


"I-Iya, Vin," imbuh Angel, juga sambil menggigil kedinginan.


"Set clear!" Karena ketiga anggota Guild Scorpion dirasa tidak mampu melanjutkan pertandingan, sang wasit memutuskan mengakhiri set kedua untuk kemenangan kami.


"Kalau nggak gini, mereka mungkin bisa mengantisipasinya." Aku membalas ucapan Drian dan Angel sebelumnya.


Setelah berhasil menyelesaikan dan mengamankan poin di set kedua, aku, Drian, dan Angel mulai berjalan kembali ke bangku cadangan, sementara para petugas medis yang berjaga di pinggir lapangan langsung berlarian menghampiri ketiga anggota Guild Scorpion yang sedang membeku akibat terdampak spesial teknikku.


...


"Bagaimana, Dok?" tanya sang Manager Guild Scorpion pada salah satu petugas medis yang berusaha mencairkan tubuh ketiga anggota yang masih membeku.


"Pembekuannya sangat ekstrim. Kami mungkin butuh waktu lebih lama untuk mencairkan tubuh mereka. Kalau buru-buru, itu bisa mengancam nyawa mereka," balas sang petugas medis.


"Cih ...," sang Manager Guild itu menggerutu kesal setelah mendengar jawaban sang petugas medis.


Dia lalu menatap ke seberang lapangan, tepatnya pada Alvin yang sedang duduk bersantai sambil menyedot air minumnya.


"Ini gawat sekali. Kami sudah kehilangan dua poin dan sekarang kami juga harus kehilangan roaster andalan kami? Sial! Siapa sebenarnya bocah itu?" pikirnya kesal, sementara Alvin yang sedang duduk di bangku cadangan timnya malah sibuk menyedot air minumnya dengan raut tanpa beban sama sekali.


...


Setelah jeda interval selama lima menit, pertandingan pun kembali dilanjutkan.


Di set kali ini; set ketiga, tim lawan merombak susunan pemain mereka, mengingat tubuh ketiga pemain yang bertanding di set sebelumnya belum selesai dicairkan.


Sama seperti sebelumnya, sebelum memulai pertandingan, wasit meminta kami bersiap di posisi masing-masing, dan saat kami sudah bersiap di posisi masing-masing, sang wasit yang mengawal pertandingan langsung berteriak, "Play!"


Tepat setelah set ketiga dimulai, ketiga pemain Guild Scorpion yang baru saja dimasukkan menggantikan ketiga pemain sebelumnya, mereka langsung menghentakkan kaki mereka kuat ke tanah dan mulai melesat ke depan dengan kecepatan tinggi.


Namun, baru beberapa langkah, pergerakan mereka langsung terhenti akibat terkurung dalam barier bulat yang Angel ciptakan.


"Apa ini! Cepat keluarkan kami!"


"Bertarunglah secara jantan!"


"Jangan jadi pengecut!"

__ADS_1


Mereka terus memberontak dan berusaha menghancurkan barier yang mengurung mereka, tapi sayangnya barier yang Angel ciptakan terlalu kuat untuk bisa mereka hancurkan.


"Aku kan perempuan. Kenapa juga aku harus bertarung secara jantan?" gumam Angel.


Angel lalu menerbangkan ketiga pemain lawan yang terkurung dalam bariernya keluar lapangan.


Barulah setelah itu, Angel menghilangkan bariernya dan membuat ketiga pemain lawan dieliminasi akibat keluar lapangan.


"Game set!" teriak wasit yang menandakan bahwa pertandingan resmi berakhir.


Dengan begitu, kami berhasil mengamankan poin ketiga, sekaligus mengakhiri pertandingan dengan kemenangan telak 3-0 atas Guild Scorpion.


...


Di salah satu sudut tribun stadion, mata sang scout dari Guild Alabama semakin berbinar setelah melihat jalannya pertandingan antara Guild Quantum melawan Guild Scorpion.


Sambil menatap Drian, Alvin, dan Angel yang sedang berjalan kembali ke bangku cadangan mereka, scout itu bergumam, "Jackpot! Pemilik atribut cahaya, es, dan tipe support! Kalau aku bisa merekrut mereka bertiga, aku pasti akan mendapat bonus besar!"


"Yes! Yes! Yesss! Akhirnya! Akhirnyaaa! Haaahahahahaha!" Scout tersebut bersuka cita karena berpikir bahwa Alvin, Drian, dan Angel adalah harta karun yang selama ini dia cari.


...


Sementara itu, di waktu yang bersamaan, di Stadion Gragel, stadion utama Kota Lisbon, tempat digelarnya pertandingan Guild Andes melawan Guild Borner Junior.


"Game set!" teriak wasit yang mengawal pertandingan tersebut.


Sama halnya dengan Guild Quantum, Guild Andes yang merupakan unggulan di grup 12 juga berhasil mengakhiri dan memenangkan pertandingan atas Guild Borner Junior dengan skor telak 3-0.


"Melawan guild lemah seperti mereka hanya membuang buang waktu. Ini sangat membosankan, sampai-sampai membuatku ngantuk," gumam James, roaster andalan Guild Andes, sambil berjalan kembali ke bangku cadangan bersama kedua rekannya setelah berhasil menyelesaikan pertandingan.


"Kenapa kau ini selalu mengeluh ...? Setidaknya ambil sisi positifnya," sahut Lusius yang juga merupakan roaster andalan Guild Andes.


"Memang apa sisi positifnya?" tanya James.


"Mmm ... entahlah."


"Kan ...?"


Di sisi lain, tepatnya di tribun stadion, saat ketiga roaster andalan Guild Andes sedang berjalan kembali ke bangku cadangan ...


"Aku bakalan datang lagi!"


"Tuan James! Kyaaaa!"


Ribuan penonton yang hadir di Stadion Gragel untuk menyaksikan pertandingan tersebut terus berteriak, terutama para gadis yang mengagumi paras tampan pria berumur dua puluh satu tahun, sang superstar baru; James.


Sementara itu, para scout dari guild besar yang hadir untuk menyaksikan pertandingan tersebut mulai menulis dan mencatat segala hal di buku saku mereka.


"Tahun ini, Guild Andes semakin menakutkan saja. Ketiga roaster utama mereka, terutama James, mereka sudah jauh berkembang dibandingkan tahun lalu," gumam salah satu scout dari guild besar yang turut menyaksikan pertandingan tersebut dari tribun stadion.


Pertandingan grup 12 digelar secara bersamaan di tiga stadion berbeda. Di antara ketiganya, hanya pertandingan yang mempertemukan Guild Andes melawan Guild Borner Junior yang berhasil menyedot banyak penonton, hingga membuat Stadion Gragel yang memiliki kapasitas sepuluh ribu penonton nyaris sesak.


...


Setelah pertandingan berakhir ...


"Apa masih ada yang ketinggalan?" teriak Mbak Shelly.


"Nggak, udah semua!" balas Viona.


Kami langsung membereskan perlengkapan yang kami gunakan, lalu beranjak meninggalkan stadion. Tidak lupa, kami juga membereskan sampah yang kami tinggalkan di bangku cadangan sebelum benar-benar meninggalkan stadion.


Setibanya di depan gerbang hotel tempat kami menginap, kami melihat banyak orang sedang berkerumun di sana. Beberapa dari mereka bahkan sampai membawa poster besar bergambar seorang pria tampan bertuliskan Lord James. Ada juga yang membawa poster besar bergambar elang perak bertuliskan Andes.


"Apa-apaan mereka itu? Kenapa mereka semua ngumpul di sini?" gumamku keheranan.


"Sepertinya mereka sedang menunggu kedatangan Guild Andes," balas Bang Gori.


"Kenapa sampai repot-repot begitu?" tanyaku.


"Haaaaa ..." Hansel menghela nafas panjang, lalu merangkulku sambil berkata, "Itu karena mereka mengidolakan Guild Andes, terutama sang superstar mereka, James."


"Aku tau, tapi nggak perlu sampai sebegitunya juga, kan?" balasku.


"Kau ini ... apa kau tidak pernah merasakan jatuh cinta? Demi pujaan hatimu, tai ayam pun pasti rela kau makan. Anggap saja, mereka itu seperti orang yang sedang jatuh cinta," jelas Hansel, masih sambil merangkulku.


Tidak lama berselang ...

__ADS_1


"Lord James!"


"Lusius!"


"Kyaaaaa!"


Kerumunan orang-orang tersebut, terutama para gadis, mereka tiba-tiba berteriak histeris saat melihat kedatangan para anggota Guild Andes.


"Jadi, itukah Guild Andes?" gumamku sambil menatap para anggota Guild Andes yang sedang dikerumuni ratusan orang.


Sementara itu, di tengah kerumunan orang-orang yang terus berteriak histeris, para anggota Guild Andes yang sedang dikawal beberapa orang berseragam hitam terus merangsek memasuki hotel tanpa terlihat terganggu sama sekali, meski ada di antara mereka yang nampak narsis dan terus melambaikan tangan pada kerumunan di sekitarnya.


"Kita akan bertemu mereka di pertandingan kelima, pertandingan terakhir kita di grup dua belas. Kita sudah memenangkan satu pertandingan. Kalau kita bisa memenangkan tiga pertandingan selanjutnya, penentuan siapa yang akan keluar sebagai juara grup dua belas akan ditentukan di partai terakhir, pada partai kita melawan mereka," kata Pak Warto.


"Gimana, Vin? Apa kau yakin bisa mengalahkan mereka?" tanya Bang Toyib.


Sambil tersenyum dan menatap para anggota Guild Andes yang perlahan merangsek memasuki hotel, aku membalas, "Aku tidak tau sehebat apa mereka, tapi kalau soal kekuatan, aku tidak yakin ada dari mereka yang bisa mengalahkanku."


Sambil tertawa, Bang Dodi menepuk pundakku dan berkata, "Aku suka kepercayaan dirimu."


"Ayo masuk. Besok kita punya pertandingan. Jadi, hari ini kita harus istirahat," kata Pak Warto yang berjalan mendahului kami, diikuti yang lainnya, sementara aku masih terdiam sambil tersenyum.


"Bengong mulu! Ayo masuk!" kata Drian sambil menepuk dan mendorong pundakku.


Dengan begitu, kami berhasil menyelesaikan pertandingan perdana kami di turnamen Guild War dengan hasil yang sangat memuaskan.


...


Hasil akhir pertandingan perdana grup 12.


Andes 3 - 0 Borner Junior.


Quantum 3 - 0 Scorpion.


Ceres 2 - 3 Loyer.


Klasemen sementara grup 12.




Andes                   : 1 poin.




Quantum            : 1 poin.




Loyer                   : 1 poin.




Ceres                   : 0 poin.




Scorpion             : 0 poin.




Borner Junior      : 0 poin.



__ADS_1


__ADS_2