Legenda Sepanjang Masa

Legenda Sepanjang Masa
Chapter 26 - Legenda Sepanjang Masa


__ADS_3

Pagi ini, aku mulai mempersiapkan perbekalan yang akan kubawa dalam perjalanan menuju Pegunungan Himalaya, mengingat aku akan menempuh perjalanan selama tiga hari tiga malam.


Setelah semuanya siap, aku mulai berjalan menuju salah satu sudut ruangan rumahku.


"Lama tidak jumpa, Mitsurugi," gumamku sambil menatap katana yang kupajang di salah satu sudut dinding rumahku.


Mitsurugi, itu adalah nama yang kuberikan pada katanaku. Aku menamainya seperti itu karena terinspirasi dari kisah dongeng yang sering kudengar, dongeng tentang seorang pengguna katana legendaris yang menamai katananya dengan nama Honggo Masamune.


Memang agak jauh, tapi menurutku penamaannya punya sedikit kemiripan.


Saat aku sedang fokus memandangi katana yang sudah lama tidak pernah kugunakan, tiba-tiba Javier menegurku dari belakang.


"Hoi, apa kau benar-benar yakin ingin menantang Serigala Fenrir?"


Masih sambil menatap katanaku dan tanpa menoleh ke belakang, aku menjawab, "Aku cuma mau berbicara dengannya."


"Akak, apa Akak yatin mau ketemu Uan Fenlil? (Kakak, apa Kakak yakin mau ketemu Tuan Fenrir)," tanya Zaltan yang berdiri di samping Javier dengan nada khawatir.


Aku berbalik dan menatap Zaltan, lalu sambil memegang pundak elf kecil manis itu, aku berkata, "Tenang saja. Kakak nggak bakalan kenapa-napa kok. Kakak kan kuat."


"Api kan (Tapi kan) ...." Zaltan seperti tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya.


Tidak lama berselang, tiba-tiba Drian dan Angel datang.


"Gimana, Vin? Udah siap?" tanya Drian yang datang ke rumahku dengan menggunakan setelan jas hitam mewah, lengkap dengan topi bulat tinggi, khas bangsawan abad ke-19.


"Wedeh ... bos dari mana nih?" kataku, menggoda Drian.


"Berisik. Gua juga nggak bakalan mau pakai yang beginian kalau nggak terpaksa," balas Drian.


"Iya deh ... Bos Baru," kataku dengan nada menggoda.


Seumur-umur, baru kali ini aku melihat Drian tampil sangat rapi dengan setelan jas hitam mewah, lengkap dengan topi bulat tingginya. Maka dari itu, aku sedikit menggodanya.


"Vin, kamu beneran serius mau pergi ke Gunung Himalaya?" tanya Angel dengan raut khawatir.


"Iya," balasku singkat sambil menaruh katana di pinggang kiriku.


"Percuma, Ngel, kayak nggak kenal Alvin aja," kata Drian.


"Tapi kan ...." Sama seperti Zaltan, Angel juga sepertinya sangat khawatir padaku.


"Nggak perlu khawatir. Kan dari awal sudah kubilang, aku nggak niat bertarung habis-habisan dengan serigala itu," kataku.


Meski aku sudah berusaha meyakinkan, tapi sepertinya itu belum cukup untuk membuat Angel tenang.


...


Sebelum berangkat, seperti biasa, para warga desa berkumpul di perbatasan desa untuk melepas keberangkatan kami.

__ADS_1


Bukan hanya warga desa, anak-anak panti juga ikut melepas keberangkatan kami.


"Vin, kamu hati-hati lo, ya ... kalau memang bahaya, jangan sampai memaksakan diri," kata Pak Kepala Desa.


"Tenang saja, Pak. Aman kok, aman," balasku.


"Bang, nih bawa," kata Heri sambil menyodorkan mainan super heronya padaku.


"Buat apa, Her?" tanyaku.


"Kalau ada apa-apa, super heroku akan menolongmu," jawab Heri.


Aku tersenyum mendengar itu.


"Iya deh, iya ... Abang bawa buat pelindung."


Sebenarnya, aku berniat menjalankan misi secara diam-diam.


Aku juga sempat mewanti-wanti Drian dan Angel agar mereka tidak menceritakan tentang misiku pada siapa pun, termasuk orang tua mereka.


Akan tetapi, karena pada dasarnya mereka itu agak bandel, mereka tetap menceritakannya pada orang tua mereka, dan orang tua mereka memberitahu warga desa.


Alhasil, kini semua warga jadi tau kalau aku akan melakukan misi berbahaya.


Puas berpamitan dengan seluruh warga desa, aku dan Drian mulai beranjak meninggalkan desa.


Namun, karena searah, kami memutuskan untuk berangkat bersama, mengingat kami juga punya misi sebelum menjalankan misi masing-masing, yakni kami akan menawari beberapa prajurit bayaran, berserta staf di Guild Fairy cabang Borneo untuk pindah ke guild kami.


Setelah menempuh perjalanan selama lima jam penuh, kami akhirnya sampai di Kota Borneo.


Sesampainya di sana, aku dan Drian langsung pergi menuju guild, kemudian mengumpulkan beberapa orang yang ada di sana untuk menyampaikan maksud kami.


Orang-orang yang kami pilih adalah orang-orang yang sudah kami kenal baik, mulai dari:


Pak Warto; orang yang bertanggung jawab di Guild Fairy cabang Lisbon.


Bang Kris, Bang Dodi, Bang Deri, Bang Toyib, Bang Gori, Bang Sulaiman, dan Hansel; rekan seperjuangan kami.


Lalu ada Viona serta Mbak Shelly; staf administrasi Guild Fairy cabang Borneo.


"Apa? Kalian serius mau mendirikan guild kalian sendiri?" Bang Kris nampak sangat terkejut setelah mendengar penjelasanku.


Bang Kris, dia ini adalah prajurit bayaran rank S. Tahun ini, umurnya memang sudah kepala empat, tapi soal kemampuan, kurasa dia tidak perlu diragukan.


"Iya, Bang. Kami mau membuat guild kami sendiri, tapi kami kekurangan anggota dan staf. Jadi, kami mau menawari kalian untuk pindah dan gabung ke guild kami," balasku.


"Tapi bukannya kalian bilang nggak mau mendirikan guild sendiri dalam waktu dekat?" tanya Pak Warto.


"Memang maunya sih gitu Pak, tapi karena satu dan lain hal, kami jadi terpaksa mempercepat rencana," balasku.

__ADS_1


Semua orang yang ikut dalam pertemuan tersebut seperti ragu untuk menerima tawaran kami.


Maklum saja, tawaran yang kami berikan memang bukan tawaran yang mudah untuk mereka putuskan dalam satu waktu.


Meninggalkan guild yang lama, apalagi yang sudah punya nama besar, ditambah rank mereka juga sudah tinggi, demi bergabung dengan guild baru yang bahkan belum punya reputasi, dan belum tentu juga bisa bertahan, apalagi bersaing dengan guild-guild lain, tentu merupakan sebuah pertaruhan yang sangat besar.


Jika berhasil, itu akan sangat menguntungkan, mengingat kami memberi mereka tawaran menjadi eksekutif guild yang notabenenya memiliki jauh lebih banyak keuntungan daripada sekadar anggota resmi, apalagi prajurit bayaran, tapi jika gagal, itu sama seperti menghancurkan karir yang sudah mereka bangun selama ini.


Maka dari itu, wajar kalau mereka kesulitan untuk memutuskan dalam satu waktu.


"Vin, sebenarnya aku mau-mau saja pindah ke guildmu, tapi kau tau sendiri, kan? Bergabung ke guild baru, apalagi yang belum punya nama itu agak ...."


"Kalau kalian mengkhawatirkan soal pendapatan, kalian tidak perlu khawatir. Karena kami menawari kalian menjadi eksekutif, kami akan menjamin pendapatan kalian selama satu tahun penuh. Masing-masing orang akan mendapat setidaknya lima ratus ribu gale per bulan. Itu juga belum termasuk pendapatan dan bonus yang akan kalian dapat dari menjalankan misi. Dan juga, kalau guild kita nantinya tidak sanggup bertahan, kami akan membayar kompensasi sebesar sepuluh juta gale pada masing-masing orang," jelasku.


Mendengar apa yang baru saja kukatakan, semua orang di sana, kecuali aku dan Drian, mereka seketika tersentak kaget.


Bisa dimaklumi kenapa mereka bisa sampai sekaget itu, mengingat penawaran yang kami berikan setara dengan gaji pokok dan uang pensiun seorang anggota resmi Top 10 Guild Nasional.


"Vin, Yan, kalian yakin berani menjamin pendapatan kami sebesar itu?" tanya Mbak Shelly.


Aku dan Drian pun mengangguk.


"Tapi dari mana kalian dapat uang sebanyak itu?" tanya Viona.


Aku memanggil Viona langsung dengan namanya karena dia masih seumuran denganku, meski dia beberapa tahun lebih tua, tepatnya setahun lebih tua dariku, aku 18 tahun dan dia 19 tahun.


Sementara itu, aku memanggil Mbak Shelly dengan panggilan Mbak karena dia sepuluh tahun lebih tua dariku.


"Kami berani menjamin penghasilan kalian dengan jumlah sebesar itu karena kami yakin guild kami pasti akan berkembang di masa depan," balasku.


Drian kemudian menambahkan, "Kami juga sedang membidik Guild War untuk menaikkan reputasi guild dalam waktu singkat. Maka dari itu, kami buru-buru mencari anggota untuk memenuhi persyaratan pendirian guild."


Mendengar apa yang baru saja kami katakan, lagi-lagi semua orang yang berada di ruangan tempat kami berkumpul seketika tersentak.


"Memang kalian yakin bisa berhasil di Guild War?" tanya Hansel.


"Sel, lu kayak nggak tau gua aja sih," kataku, menanggapi ucapan Hansel.


"Wah ... kalian ini emang gila sih!" celetuk Hansel sambil tersenyum.


"Vin, Yan, kalau kalian berniat merekrut kami untuk mengikuti ajang Guild War, kami jelas tidak akan sanggup. Kami memang merupakan rank S, tapi kalau dibandingkan dengan para top superstar yang bersaing di Guild War, kami bahkan bukan tandingan mereka," kata Bang Toyib.


Sambil tersenyum, aku membalas, "Tenang saja kalau soal itu. Kami tidak meminta kalian untuk ikut bertarung di arena, kalian hanya tinggal mendaftarkan nama kalian sebagai pelengkap dan duduk manis menyaksikan kami memenangkan setiap pertandingan."


Pak Warto, Bang Kris, Bang Dodi, Bang Deri, Bang Toyib, Bang Gori, Bang Sulaiman, Hansel, Viona, serta Mbak Shelly, mereka semua mulai saling pandang.


Meski masih agak ragu, tapi pada akhirnya mereka setuju untuk bergabung dan meninggalkan Guild Fairy, tempat mereka bernaung selama ini.


Dengan begitu, tahap pertama pendirian guild, tahap perekrutan anggota dan staf pun selesai.

__ADS_1


__ADS_2