
Sambil menodongkan katana kepada sang serigala raksasa di hadapanku, aku berkata, "Majulah!"
Tepat setelah aku mengatakan itu, tiba-tiba Fenrir langsung mengayunkan cakarnya ke arahku dengan kecepatan tinggi, saking cepatnya sampai membuat udara seolah terkoyak.
Meski tidak yakin apakah aku sanggup menahan serangannya, tapi karena tidak sempat dan tidak mungkin juga untuk menghindar, aku mencoba meredam hantamannya dengan katanaku.
Saat ayunan cakar Fenrir menghantam katanaku ...
Boom!
Tubuhku langsung terlempar dengan kecepatan tinggi, menghantam gunung yang berada di sebelah gunung yang kudaki, hingga menyebabkan tempat pendaratanku hancur dan membentuk semacam lubang besar.
"Sial! Itu tadi sakit sekali." Sambil berusaha bangkit, aku meringis menahan sakit.
Aku kemudian mulai menancapkan katanaku untuk membantuku berdiri.
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba ada sebuah lesatan bola energi berwarna merah pijar yang ditembakkan ke arahku dengan kecepatan tinggi.
Aku langsung mengayunkan katanaku untuk memotong bola energi tersebut.
Akan tetapi, karena aku tidak benar-benar menggunakan full powerku, ditambah kepadatan bola energi tersebut sungguh dahsyat, tebasanku tidak cukup tajam untuk memotongnya, sehingga membuatku harus terkena hantaman telak dan terlempar hingga ratusan meter jauhnya.
Sementara itu, puncak gunung kedua yang terkena dampak ledakan dari bola energi tersebut langsung hancur lebur tak tersisa.
Aku terlempar dengan kecepatan tinggi, hingga pada akhirnya mendarat di area hutan yang cukup jauh dari Pegunungan Himalaya.
Baru saja bangkit setelah mendarat keras di tanah, lagi-lagi ada sebuah lesatan bola energi berwarna merah pijar berkecepatan tinggi yang ditembakkan ke arahku.
Tidak mau kejadian yang sama terulang kembali, kali ini aku mengayunkan katanaku dengan sekuat tenaga, dan melesatkan satu tebasan kuat jarak jauh.
Slash!
Aku berhasil memotong bola energi tersebut, dan membuat bola energi tersebut meledak di udara.
Sementara itu, di waktu yang bersamaan, Fenrir sedang berlari ke arahku dengan kecepatan tinggi.
Meski tubuhnya sangat besar, tapi kecepatannya sangatlah menakutkan.
Setiap kakinya menghantam tanah, tanah seakan bergetar dan menimbulkan suara dentuman keras akibat menahan bobot tubuhnya.
Sesampainya di hadapanku, Fenrir langsung mengayunkan cakarnya dengan kecepatan tinggi.
Sama seperti sebelumnya, udara seperti terkoyak karena saking kuat dan cepat dia mengayunkan cakarnya.
Aku langsung menurunkan suhu udara di sekitar hingga minus seribu derajat celcius, berniat membekukan tubuh Fenrir dan menghentikan pergerakannya.
Akan tetapi, meski seluruh area dalam radius seratus meter dariku membeku seketika, Fenrir sama sekali tak terpengaruh, seakan dia kebal dengan suhu ekstrim.
Melihat ayunan cakarnya yang tak melambat sedikit pun, mataku pun langsung melebar.
Tidak mau larut dalam keterkejutan, aku kembali memasang katanaku untuk meredam serangannya.
Lagi-lagi, saat ayunan cakar sang Serigala Fenrir menghantam katanaku ...
Boom!
Tubuhku langsung terlempar dengan kecepatan tinggi, menghantam pepohonan, bebatuan, dan segala yang kulewati.
__ADS_1
Di saat tubuhku sedang melayang menghantam segala yang kulewati, Fenrir berlari mengejarku dengan kecepatan tinggi.
Setiap kakinya menghantam tanah, dentuman demi dentuman keras terus terdengar akibat bobot tubuhnya.
Saat tubuhku mulai berguling pelan, aku akhirnya bisa menyeimbangkan diri.
Namun, baru saja berhasil menancapkan kaki ke tanah, Fenrir sudah bersiap menyerangku dengan ayunan cakarnya.
Aku kembali berusaha melindungi tubuhku dengan menyilangkan katanaku.
Sama seperti sebelumnya, tubuhku kembali terlempar menghantam segala hal, sementara Fenrir terus mengejarku.
Setiap tubuhku mulai berguling pelan, Fenrir menghantamku lagi dan lagi, sehingga membuatku harus terlempar dan berguling ke sana kemari tak ubahnya bola ding-dong.
Bukannya tanpa perlawanan, aku sudah mencoba untuk melawan, tapi karena level kekuatannya jauh di atasku, aku jadi benar-benar kesulitan menahan setiap hantaman cakarnya.
Dampak cakaran yang Fenrir ciptakan sangat gila. Hanya dengan satu ayunan saja, apa pun yang ada dalam area lintasannya langsung terpotong dan terkoyak. Itu setara dengan dampak tebasanku, hanya saja empat kali lipat lebih kuat karena dia punya empat cakar. Dengan kata lain, masing-masing cakarannya setara dengan dampak setiap tebasanku.
Cukup lama dia mempermainkan dan melempar tubuhku ke sana kemari, Fenrir akhirnya berhenti.
"Ada apa denganmu, Manusia? Apa hanya segini kemampuanmu?"
Sambil berusaha menopang tubuhku yang terasa berat sampai membuat kakiku gemetaran, aku membalas, "Itu karena aku ingin membawamu hidup-hidup." Itulah yang kukatakan, meski kenyataannya, aku memang tidak sanggup berkutik di hadapan sang monster yang menyandang gelar salah satu dari tujuh Monster Terkuat di dunia.
Fenrir terlihat sedikit menyeringai, lalu berkata, "Jadi kau ingin bilang kalau kau bisa membunuhku dengan mudah ...? Kuberitahu padamu, Manusia! Bahkan jika kau sanggup memotong kepalaku, itu masih belum cukup untuk membunuhku."
Sambil tersenyum dan berpose sok kuat, aku berkata, "Bagaimana kalau kita sepakati ini, Fenrir. Jika aku berhasil menebas kepalamu, kau akan ikut ke desaku, tapi jika aku gagal, kau bebas melakukan apa pun padaku."
"Kau mengatakannya seolah itu mudah. Baiklah, ayo lihat sekuat apa kau ini," balas Fenrir.
Slash!
Aku melesatkan tebasan kuat jarak jauh yang mengarah tepat ke leher Fenrir dengan sekuat tenaga.
Meski tubuhnya sangat besar, tapi Fenrir punya reflek yang sangat luar biasa, sehingga membuatnya sanggup menghindari efek tebasan jarak jauh yang kulesatkan dengan menarik kepalanya ke bawah.
Karena tidak mengenai leher Fenrir, efek tebasanku terus melesat hingga memotong puncak Pegunungan Himalaya.
Aku berniat melesatkan tebasan kedua, tapi Fenrir sudah lebih dulu menembakkan bola energi dari mulutnya, sehingga hal itu membuatku terpaksa menggunakan tebasan keduaku untuk menangkis lesatan bola energinya.
Dengan satu ayunan kuat ...
Slink!
Aku berhasil menebas dan membuat lesatan bola energi yang Fenrir tembakkan meledak di udara.
Karena bola energi tersebut meledak tidak jauh dariku, aku bisa dengan jelas melihat kilauan cahaya dan merasakan tekanan udara yang tercipta dari ledakannya.
Di tengah efek ledakan tersebut, tiba-tiba ada empat cakar tajam berkecepatan tinggi yang melesat mengincarku.
Karena tidak siap untuk menangkisnya, aku pun memutuskan melompat ke samping, kemudian melesatkan tebasan jarak jauh mengincar leher Fenrir, sebagai bentuk serangan balasan.
Fenrir menundukkan kepalanya untuk menghindari efek tebasan jarak jauhku. Dia menatapku, lalu mulai membuka rahangnya dan kembali menembakkan bola energi kuat berkecepatan tinggi ke arahku.
Aku pun kembali mengayunkan katanaku dengan sekuat tenaga untuk memotong lesatan bola energi tersebut.
Baru saja berhasil memotong bola energi pertama, datang lagi bola energi kedua.
__ADS_1
Reflek, aku langsung melompat menjauh.
Akibat ledakan bola energi yang Fenrir tembakkan, suara dentuman besar yang menggema hebat serta tekanan angin yang menghempas kuat, seketika meluluh lantakan area di sekitar ledakan.
Sewaktu kakiku sudah menginjak tanah, aku langsung berlari di antara pepohonan dengan kecepatan tinggi, melesat cepat bagai peluru torpedo yang meliuk-liuk melewati rintangan.
Sementara itu, Fenrir terus mengejarku dari belakang dengan kecepatan tinggi. Dia juga sesekali menembakkan bola energinya ke arahku, sehingga memaksaku harus menghindar sambil terus berlari menjauh.
Aku sebenarnya ingin sedikit menjeda pertarungan dengan cara melarikan diri, mengingat tidak mungkin bagiku untuk terus meladeni pertarungan tempo tinggi melawan Fenrir yang tidak memiliki batasan stamina. Akan tetapi, karena Fenrir tidak mau melepaskanku, aku jadi mengurungkan niatku.
Aku berhenti berlari, mulai memasang kuda-kuda, kemudian melesatkan satu tebasan jarak jauh ke arah Fenrir yang sedang berlari ke arahku dengan kecepatan tinggi.
Fenrir pun menangkis tebasan jarak jauhku dengan ayunan cakarnya.
Aku menghentakkan kakiku kuat ke tanah, lalu mulai mendorong tubuhku melesat dengan kecepatan tinggi.
Saat melesat dalam kecepatan tinggi, aku mulai menanamkan suhu panas dan dingin ekstrim ke dalam katanaku, hingga membuat katanaku mengepulkan uap asap.
Ini adalah serangan pamungkasku. Kalau serangan ini sampai gagal juga, sudah tidak ada harapan bagiku untuk bisa memenangkan pertarungan ini.
Sementara itu, Fenrir juga mengayunkan cakarnya ke arahku sebagai serangan balasan.
Di detik-detik terakhir, saat kami hendak beradu serangan, entah kenapa Fenrir tiba-tiba sedikit menggeser cakarnya.
Akibatnya ...
Slash!
Tebasanku berhasil memotong leher Fenrir, sementara cakarannya meleset dariku.
Sambil mencoba mengatur nafas yang sedang kacau akibat kelelahan, aku hanya menatap tubuh sang Serigala Fenrir yang sudah terpisah dari kepalanya dengan perasaan heran.
Tidak lama setelah itu, kepala sang Serigala Fenrir yang sudah terpotong tiba-tiba terurai dan menghilang begitu saja, sementara kepala yang baru tumbuh dari leher serigala tersebut.
"Kau cukup luar biasa, Manusia. Kau bahkan bisa mengimbangi kekuatan penuhku," kata Fenrir yang kini berdiri gagah tanpa rasa lelah.
Sementara itu, sambil berusaha menopang tubuh dan mengatur nafas yang terasa sangat berat akibat kelelahan, aku membalas, "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menggeser cakarmu di detik-detik terakhir?"
"Benarkah? Aku tidak merasa melakukannya," balas Fenrir.
Aku menatap Fenrir dengan tatapan curiga, lalu berkata, "Terserah kau saja. Sesuai janji, kau kalah. Jadi, kau harus ikut denganku ke desa."
"Manusia, kenapa kau ingin sekali membawaku ke desamu?" tanya Fenrir.
"Aku ingin semua monster dan ras-ras minoritas di seluruh dunia bisa hidup bebas tanpa perlu takut dengan manusia. Untuk itu, aku berniat mengumpulkan kalian semua dan membangun sebuah wilayah di mana seluruh ras bisa hidup berdampingan," jawabku.
"Membuat kami semua hidup berdampingan kau bilang ...? Aku tidak tau dari mana datangnya ide gilamu itu, tapi aku sangat menghargainya," balas Fenrir.
"Jadi, bagaimana? Apa kau akan ikut ke desaku?" tanyaku.
"Janji adalah janji," balas Fenrir.
Dengan begitu, aku berhasil menarik salah satu dari tujuh Monster Bencana Besar, sang Serigala Fenrir, ke desaku, meski aku bahkan tidak berharap akan berjalan semudah ini.
......................
Saya sedang dalam masa sulit, di mana menulis rasanya sangat berat, terlepas dari waktu, ide, dan lain sebagainya. Jadi, tolong mohon benar-benar bersabar. Saya sedang berjuang agar tetap bertahan di dunia kepenulisan, meski tulisan saya masih jauh dari kata layak untuk dibaca.
__ADS_1