Legenda Sepanjang Masa

Legenda Sepanjang Masa
Chapter 29 - Legenda Sepanjang Masa


__ADS_3

Saat aku sedang nyaman berbaring di ranjang penginapan, Fenrir yang kini sedang menggunakan wujud Hybridnya; wujud manusia setengah serigala, dia tiba-tiba melemparkan sepucuk surat kabar padaku.


"Aduh duh duh duh ... kenapa sih?" Aku meringis kesakitan.


Akibat luka-luka yang kuterima dari pertarungan melawan Fenrir semalam, seluruh tubuhku kini terasa sangat sakit, sampai-sampai membuat satu sentuhan kecil saja, rasanya seperti dipukul dengan sangat keras.


"Baca itu," balas Fenrir sambil mengintip ke luar jendela, seperti ingin memastikan situasi.


"Surat kabar ...? Kau dapat dari mana?" tanyaku.


"Aku memungutnya dari jalan," balas Fenrir.


"Jadi dari tadi kau berkeliling kota?" tanyaku.


"Aku hanya terlalu bosan di sini," balas Fenrir yang kini duduk di kursi samping ranjangku.


Fenrir memiliki kemampuan memanipulasi tubuhnya menjadi wujud setengah manusia serigala, sehingga membuatnya bisa berbaur di antara manusia.


Dengan catatan, dia harus menutupi seluruh tubuhnya menggunakan jubah agar wujud setengah manusia serigalanya tidak diketahui.


Dengan kemampuan semacam itu, wajar jika Fenrir sangat sulit ditemukan.


Aku pun mulai membaca surat kabar yang Fenrir berikan.


Dalam surat kabar tersebut memberitakan tentang hancurnya seluruh hutan, lembah, serta Pegunungan Himalaya hanya dalam waktu semalam.


Menurut kesaksian warga lokal; warga Kota Lagoon yang merupakan kota terdekat dari wilayah Pegunungan Himalaya, mereka mengatakan bahwa semalam terjadi guncangan dan ledakan yang terus-menerus mengguncang kota mereka. Beberapa rumah warga bahkan sampai hancur karenanya.


Tidak ada yang tau secara pasti tentang penyebab insiden tersebut, tapi menurut dugaan, insiden tersebut disebabkan oleh pertarungan pasukan rahasia top guild yang mencoba menaklukkan sang Monster Bencana Besar, salah satu dari tujuh Monster Terkuat, sang Serigala Fenrir.


"Aku tidak menyangka kalau akan jadi sebesar ini," gumamku sambil menatap surat kabar yang kupegang.


"Kita harus segera pergi dari sini. Kota ini akan jadi lebih ramai lagi setelah berita ini tersebar," kata Fenrir.


"Apa kau tidak melihat kondisiku? Aku bahkan kesulitan berjalan gara-gara kau hajar habis-habisan semalam. Aku merasa kalau seluruh tulangku rasanya hancur," balasku.


"Itu salahmu sendiri karena berani menantangku," balas Fenrir.


"Jangan seenaknya bicara. Sejak awal aku sudah bilang kalau aku hanya ingin bicara," balasku geram.


"Eh, tunggu ... apa kau bisa membaca?" Aku baru menyadari itu setelah beberapa saat.


"Aku sudah ribuan tahun berbaur di antara manusia. Apa itu terasa aneh untukmu?" balas Fenrir, lalu menambahkan, "Lupakan soal itu. Kita harus segera pergi dari sini sebelum situasi jadi semakin ramai."


"Oke, asal kau mau menggendongku," balasku.


Fenrir menatapku tajam. Dari raut wajahnya, dia seperti ingin menolak usulanku, tapi di sisi lain, dia juga seperti tidak punya pilihan.


...


"Yuuuuhuuuuuu!" Aku berteriak senang saat menunggangi tubuh Fenrir yang sedang berlari dengan kecepatan tinggi.


Fenrir tidak menggunakan wujud aslinya. Saat ini, dia hanya menggunakan wujud serigala setinggi dua meter agar tidak menarik perhatian.


"Fenrir, apa kau bisa lebih cepat lagi?" tanyaku.


"Jangan sampai jatuh!" balas Fenrir, lalu semakin mempercepat larinya.


"Yuuuuhuuuuuuu!" Sementara aku terus berteriak girang.

__ADS_1


Menurutku, Fenrir adalah tunggangan sekaligus kendaraan terbaik karena dia bisa menerjang segala macam medan tanpa melambat sama sekali.


Selain itu, bulu hitamnya yang tebal, serta larinya yang sangat stabil juga membuatnya sangat nyaman untuk ditunggangi.


Andai saja dia bersedia untuk selalu menjadi tungganganku, itu pasti akan sangat mengasikkan.


...


Setelah menempuh perjalanan selama satu hari penuh, kami akhirnya sampai di dekat perbatasan desa.


Berkat Fenrir yang terus berlari tanpa henti, mengingat dia punya stamina tak terbatas, kami bisa sampai di desa tiga kali lipat lebih cepat dari yang seharusnya.


"Jadi ini desamu?" tanya Fenrir yang berjalan di sampingku, masih dengan wujud serigala setinggi dua meter.


"Ya, keren, kan?" balasku.


Sesampainya kami di perbatasan desa ...


"Alvin kembali! Alvin sudah kembali!"


Salah seorang warga yang berjaga di perbatasan langsung berteriak untuk memberitahu seluruh warga desa tentang kedatanganku.


Tidak lama setelah itu, satu per satu warga desa, mulai dari Pak Kepala Desa, anak-anak panti, Paman Santoso, Paman Gary, Bibi Nur, sampai Bibi Septi, mulai berdatangan menghampiriku.


Di antara mereka, Angel berlari menghampiriku dan langsung memelukku.


"Alvin, syukurlah kau kembali dengan selamat! Kami sangat mengkhawatirkanmu!" ujar Angel sambil memelukku erat.


"Ah, Ngel ... bantalanmu agak menekan tulang rusukku," kataku dengan perasaan canggung.


Angel buru-buru melepas pelukannya sambil berkata, "Maaf, aku tidak sengaja."


Jika dalam kondisi normal, aku akan sangat senang mendapat pelukan dari Angel, tapi berhubung kondisiku sedang babak belur, di saat sentuhan lembut pun terasa seperti pukulan telak, pelukan itu malah terasa sangat menyakitkan.


"Bang!"


Anak-anak panti berebut memelukku.


Mereka memelukku dengan erat, sampai membuatku merasakan nyeri di seluruh tubuh.


"Anak-anak, Bang Alvin lagi sakit." Angel mencoba menjauhkan anak-anak dariku.


"Vin, kenapa denganmu?" tanya Paman Gary.


"Ini gara-gara pertarungan melawan Fenrir," balasku.


"Tapi bukannya kamu bilang nggak bakalan bertarung?" tanya Angel.


"Ya ... maunya sih gitu ... tapi banyak hal yang terjadi."


"Terus gimana? Kamu berhasil nggak bawa Fenrir ke sini?" tanya Angel.


Baru saja aku ingin menjawab, Zaltan tiba-tiba bersujud di hadapan serigala setinggi dua meter yang datang bersamaku, dan hal itupun membuat semua orang bingung.


Tanpa didengar siapa pun, kecuali aku dan Fenrir, Zaltan yang sedang bersujud berkata, "Uatu keholmatan bisa beltemu Anda, Uan Fenlil (Suatu kehormatan bisa bertemu Anda, Tuan Fenrir)."


"Elf, kah ...? Sudah lama aku tidak bertemu ras kalian. Bagaimana kehidupanmu di sini?" tanya Fenrir.


Ucapan Fenrir hanya bisa didengar olehku dan Zaltan.

__ADS_1


"Saya Sangat senang bisa belada di sini (Saya sangat senang bisa berada di sini)," balas Zaltan.


"Vin ...." Angel tiba-tiba menatapku, seakan seperti memintaku untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Semuanya, perkenalkan, dia ini adalah Fenrir."


Warga desa terdiam beberapa saat. Mereka seperti percaya dan tidak percaya akan apa yang baru saja kukatakan.


"Bukannya Fenrir itu serigala raksasa setinggi puluhan meter?" tanya Paman Gary.


"Vin, apa jangan-jangan kamu salah tangkap?" imbuh Angel.


Fenrir tiba-tiba merubah ukuran tubuhnya ke bentuk aslinya; serigala raksasa berbulu hitam legam setinggi lima puluh meter.


Warga desa yang sebelumnya meragukan, kini langsung terdiam dengan raut tercengang. Itu wajar, karena aku juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi mereka.


Warga desa kemudian mulai bersujud di hadapan sang Serigala Fenrir sebagai bentuk penghormatan.


Sementara itu, Fenrir kembali ke wujud sebelumnya; serigala berbulu hitam legam setinggi dua meter.


...


Sambil berjalan berkeliling desa bersama Angel, aku bertanya, "Ngel, Drian belum kembali?"


"Belum ... paling juga besok atau lusa," balas Angel.


"Terus gimana soal pembangunan reaktornya?" tanyaku.


"Semua berjalan lancar. Javier dan para pekerja dari Guild Gorgius sedang berusaha keras untuk segera menyelesaikan pembangunannya," jawab Angel.


"Vin, lu dah balik?" teriak Bang Kris dari kejauhan, kemudian mulai berjalan mendekat.


"Gimana misimu?" imbuh Hansel yang berjalan di samping Hansel.


"Lo ... kalian kok di sini?" tanyaku.


"Yeee ... kita kan udah sepakat buat join ke guild lu. Jadi, daripada pulang pergi, gua dan yang lainnya mutusin buat pindah dan tinggal di sini," jawab Bang Kris.


"Iya, soalnya desa lu ini terpencil banget. Repot kalau harus bolak balik. Jadi, sekalian pindah aja," imbuh Hansel.


"Terus yang lainnya mana?" Yang kumaksud adalah Pak Warto dan yang lainnya.


"Mereka lagi bantuin Javier bangun pembangkit listrik," jawab Bang Kris.


Singkat cerita, kami bersama sama pergi menuju area tempat pembangunan reaktor fusi yang akan menjadi sumber listrik di desa kami.


"Wow ... jadi ... ini kah reaktor fusi ...?" Aku kagum saat melihat bangunan besar di hadapanku.


Selain bangunan besar yang mulai menunjukkan bentuknya, di sana juga ada puluhan pekerja yang sedang bekerja membangun pembangkit listrik reaktor fusi rancangan Javier.


Tidak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat Javier.


"Hoi, Javi! Gimana pembangunannya?" teriakku sambil berjalan menghampiri Javier.


"Oh, kau sudah kembali? Bagaimana misimu?"


"Berjalan lancar. Kau sendiri?" balasku.


"Semuanya berjalan melebihi harapanku. Mungkin pembangunannya akan berjalan lebih cepat dari yang kuperkirakan. Sesuai reputasi mereka, para pekerja dari Guild Gorgius benar-benar luar biasa. Mereka bahkan bisa menyelesaikan seperempat pembangunan kurang dari satu minggu."

__ADS_1


"Tidak sia-sia kita mengeluarkan banyak uang kalau begitu." Aku lega karena projek dan misi yang kami jalankan berjalan dengan lancar.


Sekarang, hanya tinggal satu misi yang tersisa. Drian, kami tinggal menunggu kepulangan Drian dan menunggu kabar darinya. Dengan begitu, semuanya akan selesai dengan sempurna.


__ADS_2