
Setelah set pertama berakhir, para pemain dari kedua kelompok beristirahat di bangku cadangan masing-masing, menunggu pergantian set.
Sambil memancarkan hawa hangat pada Angel dan Drian yang masih menggigil kedinginan, aku bertanya, "Bagaimana kondisi kalian?"
Dengan tubuh menggigil dan berselimut handuk tebal, Angel membalas, "Nggak masalah kok. Ini sudah lebih baik."
"Maaf, gara-gara aku, kalian harus ..."
Belum selesai aku berbicara, Drian langsung memotong.
"Ngomong apaan sih lu ...? Nggak usah lebay dah!"
Aku yang masih merasa bersalah hanya terdiam mendengar apa yang Drian ucapkan, sementara Drian menambahkan, "Vin, kami tau, lu ngelakuin itu buat kita. Toh, kami juga nggak kenapa-napa. Jadi, lupain aja. Nggak usah ngerasa nggak enakan. Kayak sama siapa aja sih lu. Lagian, itu juga salah kita karena kita nggak ngantisipasi lawan."
Mendengar itu, meski belum bisa menghilangkan rasa bersalahku, aku mencoba melupakannya.
...
Di sisi lain, tepatnya di bangku cadangan Guild Loyer.
"Gimana kondisi kalian?" tanya sang Kepala Manager Guild Loyer.
"Ini sudah lebih baik," jawab Boris sambil menghangatkan diri dengan kobaran api yang dibuat salah satu anggotanya.
"Sial ... aku benar-benar tidak menyangka kalau anak itu bisa mendinginkan suhu sampai seekstrim itu," gerutu Yoga yang juga sedang menghangatkan diri.
"Bukannya scout kita mengatakan kalau proses pembekuannya memakan waktu sekitar satu setengah detik? Kenapa dia bisa melakukannya lebih cepat?" tanya Hanna.
"Kemungkinan, di pertandingan sebelumnya dia tidak benar-benar menggunakan full powernya," balas sang Kepala Manager.
"Apa pun itu, di set selanjutnya kita harus jauh lebih berhati-hati. Walaupun mereka masih amatiran dan kerja sama tim mereka juga masih berantakan, tapi mereka punya komposisi pemain yang cukup hebat. Kita tidak boleh sampai lengah, atau kita akan bernasib sama seperti Guild Scorpion," kata Boris sambil menatap ke seberang lapangan, tepatnya ke arah para pemain Guild Quantum yang sedang beristirahat di bangku cadangan.
...
Beralih ke salah satu pintu masuk tribun Stadion Arai.
"Cepat! Cepat! Kita sudah telat!"
"Sabar! Apa kau tidak tau kalau ini berat ...!" balas Thoriq yang tengah menggendong drum besar.
Saat pertama kali memasuki stadion, Thoriq dan dua puluh lima anak buahnya seketika tersentak.
"Apa yang baru saja terjadi di sini?"
Mereka keheranan karena melihat beberapa panitia pertandingan sedang berusaha mencairkan es yang menyelimuti lapangan.
"Hei, lihat! Itu mereka!" teriak salah satu anak buahnya Thoriq sambil menunjuk ke bangku cadangan tempat para anggota Guild Quantum berkumpul.
"Kalian semua, cepat selesaikan persiapannya sebelum set selanjutnya dimulai!" seru Thoriq bersemangat.
"Baik!" sahut para bawahannya.
__ADS_1
Thoriq dan para anak buahnya kemudian mulai bersiap di tribun dekat bangku cadangan Guild Quantum, lalu mulai menabuh drum, meniup terompet, dan menyanyikan lagu dukungan mereka untuk Guild Quantum.
...
Mendengar tribun yang sebelumnya sunyi senyap tiba-tiba bergemuruh, aku pun langsung menoleh sambil bergumam, "Apa itu?"
Sementara itu ...
"Quantum~ Ayo Quantum~ Kalian pasti bisa~"
Deraian lagu diiringi irama tabuhan drum dan tiupan terompet mulai memeriahkan stadion.
"Bukannya mereka itu Kelompok Thoriq?" tanya Angel keheranan.
"Kenapa tiba-tiba mereka mendukung kita?" Drian juga nampak keheranan.
Sementara itu, aku hanya terdiam, juga dengan raut keheranan.
...
Bukan hanya Alvin dan kelompoknya saja yang kebingungan melihat Thoriq dan kelompoknya yang tiba-tiba datang memeriahkan stadion, para anggota Guild Loyer yang sedang berkumpul di bangku cadangan mereka juga kebingungan akan hal itu.
"Siapa mereka?" tanya Yoga sambil melihat Thoriq dan kelompoknya yang sedang memainkan lagu dukungan untuk Guild Quantum.
"Memangnya siapa lagi ...? Itu pasti pendukung mereka," sahut Hanna.
"Ya, aku tau! Maksudku kenapa mereka baru datang sekarang!" bentak Yoga geram, sementara Hanna hanya mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tau.
...
Sebelum memulai set kedua, seperti biasa ...
"Silakan bersiap di posisi masing-masing."
Wasit utama yang akan mengawal jalannya pertandingan meminta kami bersiap di posisi masing-masing
Saat kami sedang berjalan memasuki lapangan ...
"Tretetet~ tetetet~ tetet~" Iring-iringan terompet, disertai teriakan, "Berjuanglah, kalian semua! Go, go, Quantum~ go, go, Quantum~"
Teriakan serta nyanyian Thoriq dan kelompoknya turut serta mengiringi langkah kami.
"Wah ... rasanya aku jadi semakin bersemangat," gumam Angel.
"Ya, aku juga," sahut Drian.
Sementara itu, aku hanya tersenyum lebar.
Itu adalah pengalaman yang cukup luar biasa. Meski aku sendiri tidak tau kenapa Thoriq dan kelompoknya sampai melakukan itu, tapi aku sangat senang mendapat dukungan dari mereka. Apalagi, mereka benar-benar totalitas dalam mendukung kami.
...
__ADS_1
Saat kami sudah bersiap di posisi masing-masing, wasit yang mengawal jalannya pertandingan langsung berteriak, "Play!"
Berbeda dari set sebelumnya, di set kali ini, kami sudah mematangkan strategi dan membagi peran masing-masing orang agar apa yang terjadi di set pertama tidak terulang lagi.
Tepat setelah set kedua dimulai, Angel langsung mengurung tubunya beserta aku di dalam sebuah barier besar, mengantisipasi kalau lawan berniat langsung melesatkan serangan cepat.
Sementara Drian, dia langsung memanipulasi tubuhnya menjadi pecahan partikel cahaya, kemudian mulai melesat ke depan, mengincar ketiga pemain lawan.
...
Saat bergerak dalam 70% kecepatan cahaya, Drian mulai merasa kalau waktu di sekitarnya berjalan dengan sangat lambat.
Selain itu, pandangannya juga agak kabur karena matanya kesulitan menangkap objek dengan jelas, akibat percepatan yang dia lakukan.
Meski begitu, berkat semua latihan yang sudah dia jalani, Drian tetap bisa mengontrol pandangan dan pergerakanya dengan cukup baik.
Begitu dia mencapai ketiga pemain Loyer, Drian langsung melesatkan tiga kombinasi tebasan cepat.
Thone Rose!
Slink! Slink! Slink!
Dengan kombinasi tebasan berkecepatan 70% kecepatan cahaya, Drian berhasil menumbangkan dan mengeliminasi ketiga pemain Loyer dalam sekejap mata.
Akibatnya ...
"Set Clear!"
Wasit yang mengawal pertandingan langsung menyatakan set kedua selesai untuk kemenangan Quantum.
Melihat apa yang baru saja terjadi, Thoriq dan kelompoknya yang sebelumnya sibuk menabuh drum dan meniup terompet, mereka tiba-tiba terdiam.
Dengan raut terkejut bercampur heran, Thoriq bergumam, "Aku tau mereka hebat, tapi aku tidak menyangka kalau mereka akan sehebat ini."
Sementara itu ...
Setelah set kedua resmi berakhir, aku dan Angel menghampiri Drian dan berjalan kembali ke bangku cadangan bersama-sama.
"Nice, Yan," kataku sambil menepuk pundak Drian.
"Seharusnya aku melakukan ini dari awal," kata Drian.
Di sisi lain ...
Saat Drian dan kedua rekannya sedang berjalan kembali ke bangku cadangan, Boris, Hanna, dan Yoga terus menatap mereka dengan tampang geram.
"Apa-apaan kecepatannya itu?" gerutu Yoga geram, sambil melirik ke arah Drian.
"Mereka terus saja mengejutkan kita. Sebenarnya berapa banyak kemampuan yang belum mereka tunjukkan ...!" gerutu Hanna, sementara Boris; sang Master Guild, dia hanya terdiam.
Yang membuat para pemain Loyer geram bukan hanya tentang kejutan yang dihadirkan para pemain Quantum di pertandingan kali ini, tapi juga tentang tidak bergunanya informasi yang mereka miliki.
__ADS_1
Padahal, mereka sudah berusaha menyusun strategi untuk meredam dan mengantisipasi kemampuan para pemain dari guild baru yang menjadi lawan mereka pada pertandingan kali ini, tapi karena minimnya informasi, ditambah dengan minimnya kemampuan mereka, mereka jadi benar-benar tidak berkutik saat lawan mereka sudah mulai menunjukkan taring mereka yang sebenarnya.