
Pagi ini, di saat guild-guild lain sudah berangkat menuju stadion tempat pertandingan mereka akan dilaksanakan, aku dan rekan-rekanku masih berkumpul di lobi hotel dengan perasaan cemas, menunggu kedatangan Mbak Shelly dan Viona.
Berhubung kini kami sudah punya sponsor, kami wajib menuliskan nama perusahaan sponsor kami di bagian dada setelan tempur yang kami gunakan.
Mbak Shelly dan Viona-lah yang bertugas mengurusnya, tapi dari semalam sampai sekarang, mereka belum juga kembali.
"Gimana nih? Pertandingannya dimulai jam sembilan. Ini udah hampir jam delapan," ucap Angel panik.
"Ya, mau bagaimana lagi, kita juga nggak mungkin bisa bertanding kalau nggak ada setelan," balas Drian.
"Apa kita susul saja mereka?" usul Bang Kris.
"Jangan. Iya kalau ketemu, kalau nggak, nanti malah tambah ruwet. Lagian, mereka juga pasti sudah berusaha buru-buru. Jadi, kita tunggu saja," balas Pak Warto.
Di saat beberapa rekanku terus mondar mandir dengan perasaan cemas, aku hanya duduk di sofa, juga sambil berharap-harap cemas, berharap agar Mbak Shelly dan Viona segera kembali.
Setelah hampir setengah jam menunggu, Mbak Shelly dan Viona akhirnya datang dengan terburu buru.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama, tadi alatnya ngadat terus, jadinya waktu pengerjaannya molor," kata Mbak Shelly dengan nafas terengah-engah.
"Iya, padahal udah diperbaiki berkali-kali, tapi alatnya rusak terus," imbuh Viona, juga dengan nafas terengah-engah.
"Terus gimana setelannya, aman nggak?" tanyaku.
"Semuanya sudah beres. Ayo berangkat," balas Mbak Shelly.
Kami kemudian bergegas menuju Stadion Arai, stadion tempat digelarnya pertandingan kami melawan Guild Loyer.
Berhubung Stadion Arai tidak jauh dari hotel tempat kami menginap, kami masih sempat mengejar waktu, meski mepet.
...
Saat bersiap di bangku cadangan ...
"Woah ... kayaknya penonton yang sekarang lebih banyak dari yang kemarin," gumamku sambil melihat beberapa puluh orang yang duduk di tribun stadion.
"Apa mereka semua datang untuk menonton kita?" tanya Angel.
"Palingan, mereka datang karena ingin melihat penampilan Guild Loyer. Mereka itu kan guild papan tengah," sahut Pak Warto.
"Apa pun itu, sisi baiknya kita jadi punya lebih banyak penonton," kataku.
Meski yang hadir dan menonton pertandingan kami tidak mencapai seratus orang, aku sudah cukup senang. Apalagi, yang menonton bukan cuma scout dari guild lain, tapi ada juga yang nampak seperti penonton biasa.
...
Di sisi lain, sambil menatap ke seberang lapangan, tepatnya ke bangku cadangan para anggota Guild Quantum, beberapa anggota Guild Loyer yang juga sedang bersiap di bangku cadangan mulai berkomentar.
"Le Beers ... bukannya itu nama perusahaan berlian yang cukup terkenal? Aku pernah beberapa kali membeli berlian merek itu," kata Hanna; roaster wanita andalan Guild Loyer.
"Sepertinya mereka dapat sponsor besar berkat penampilan impresif mereka di pertandingan sebelumnya," kata Boris; sang Master Guild sekaligus roaster andalan Loyer.
__ADS_1
"Kenapa kalian malah memperdulikan hal seperti itu? Fokus saja pada pertandingannya," tegur Yoga; roaster andalan Guild Loyer.
...
Sebelum memulai pertandingan, seperti biasa ...
"Silakan bersiap di posisi masing-masing."
Wasit yang akan mengawal jalannya pertandingan meminta para pemain dari kedua kelompok bersiap di posisi masing-masing.
Di pertandingan kali ini, Quantum mendapat posisi di sudut kanan lapangan, sementara Loyer di sudut kiri.
Sama seperti pertandingan sebelumnya, di pertandingan kali ini Quantum kembali menurunkan Alvin, Drian, dan Angel sebagai roaster utama, sementara Loyer menurunkan Boris, Yoga, dan Hanna.
Saat bersiap di sudut kiri lapangan bersama kedua rekannya, Boris fokus menatap ke depan sambil berkata, "Langsung tumbangkan mereka secepat mungkin. Jangan beri mereka kesempatan untuk merespon."
"Ya, kami tau," balas Yoga, sementara Hanna hanya fokus menatap ke depan, ke arah ketiga pemain Quantum yang sedang bersiap di sisi kanan lapangan.
Saat para pemain dari kedua kelompok sudah bersiap di posisi masing-masing, wasit yang mengawal pertandingan langsung berteriak, "Play!"
Tepat setelah pertandingan dimulai, sebelum Alvin dan Drian sempat bergerak dari posisi mereka, Yoga dan Hanna langsung melesatkan kombinasi serangan cepat ke arah mereka.
Yoga melesatkan tembakan berlapis atribut api berkecepatan tinggi ke arah Drian, sedangkan Hanna melesatkan serangan tombak yang terbuat dari atribut angin ke arah Alvin.
Melihat serangan yang datang mengincar mereka, Alvin dan Drian langsung mengayunkan katana masing-masing untuk menangkis kedua serangan tersebut.
Baru saja menangkis kombinasi serangan pertama, kombinasi serangan yang sama kembali melesat mengincar mereka.
Sama seperti sebelumnya, Alvin dan Drian kembali mengayunkan katana masing-masing untuk menghalau kombinasi serangan tersebut.
Namun, belum sempat Angel melakukannya, Boris yang langsung melesat ke depan tepat setelah set pertama dimulai, dia kini sudah bersiap menyerang Angel dari samping.
Melihat serangan yang mengincarnya, Angel terpaksa membatalkan niatnya dan memilih mengurung dirinya sendiri dalam barier berbentuk bulat untuk menghalau tebasan pedang berlapis atribut petir milik Boris.
Pada saat itu, di saat dia sedang berhadapan langsung dengan Angel, Boris; sang Master Guild Loyer, langsung melancarkan serangan aura yang membuat kesadaran Angel perlahan memudar.
Selain itu, barier yang mengurung tubuh Angel juga ikut perlahan menghilang seiring dengan memudarnya kesadarannya.
Meski Angel sedang berada dalam bariernya, namun serangan aura yang Boris lancarkan tetap berhasil menembus barier tersebut karena serangan berbasis aura sanggup menembus dan mengabaikan segala macam pertahanan, kecuali pertahanan berbasis aura.
Menyadari Angel yang tiba-tiba ambruk dan pingsan, Alvin dan Drian tidak ingin tinggal diam. Mereka berusaha menghentikan Boris yang ingin melesatkan serangan penghabisan pada Angel.
Namun, sayang seribu sayang ...
"Dasar bodoh! Kenapa kalian mudah sekali terpancing? Bagai sebuah permainan catur, kalau kalian memakan mentah-mentah umpan lawan, maka bersiaplah terkena 'checkmate'!" pikir Roberto yang sedang menonton dari tribun stadion.
Rupanya, itu adalah situasi yang diinginkan ketiga roaster utama Guild Loyer.
Begitu fokus Alvin dan Drian tergganggu, Hanna langsung membakar 100% energinya untuk kemudian diubah menjadi puluhan tombak angin padat yang melayang di sekitarnya, lalu melesatkan puluhan tombak angin tersebut ke arah Alvin.
Sementara itu, di waktu yang bersamaan, Yoga juga langsung membakar 100% energinya untuk kemudian diubah menjadi atribut api dan menanamkannya ke dalam senapannya, lalu melepaskan rentetan tembakan kuat berkecepatan tinggi berlapis atribut api ke arah Drian.
__ADS_1
Melihat situasi tersebut, Alvin mulai tersenyum kecut sambil menggerutu, "Sial! Jadi, mereka sudah mempelajari tentang kami, ya ...? Mereka bahkan bisa membuat kami sampai mengalami situasi semacam ini. kukira kekuatan saja sudah cukup untuk bersaing dengan guild-guild lain, tapi ternyata tidak, ya ...."
Pada saat itu, Alvin akhirnya menyadari bahwa jika dibandingkan dengan guild-guild lain, apalagi dengan guild-guild yang benar-benar mengincar gelar juara, guildnya masih kurang dalam banyak hal.
Mereka mungkin kuat, cukup kuat untuk bersaing dengan guild-guild raksasa papan atas. Akan tetapi, mereka melupakan satu hal yang paling penting.
Dalam sebuah pertempuran, otot tidak pernah menjamin kemenangan. Dibutuhkan juga peran otak sebagai penyeimbang.
Kebutaan terhadap informasi lawan, ditambah dengan ketiadaannya sosok Mastermind yang bisa meracik strategi dan mengorganisir tim, hal itu membuat kerja sama dan peran masing-masing dari mereka jadi sangat berantakan.
Itu terbukti dan terlihat di pertandingan kali ini. Padahal lawannya hanya guild papan tengah yang tidak terlalu diunggulkan, di mana itu seharusnya adalah lawan mudah bagi mereka, sangat mudah bahkan, tapi karena lawan sudah mempelajari tentang mereka dari pertandingan sebelumnya, mereka jadi berhasil ditekan habis-habisan.
Satu hal lagi, alasan yang membuat mereka bisa menang mudah melawan Guild Scorpion karena itu merupakan pertandingan pertama mereka, di mana belum ada sedikit pun informasi terkait guild mereka. Jika tidak, itu mungkin akan menjadi cerita lain.
Jika ingin bisa bersaing di papan atas, mau tidak mau, mereka harus segera berbenah, karena jika tidak, lupakan soal menjadi juara, masuk ke babak knock out saja pasti terasa berat bagi mereka.
...
Di saat pedang berlapis atribut petir milik Boris hampir menyentuh tubuh Angel yang sedang tergulai lemas di tanah, serta rentetan serangan yang Hanna dan Yoga lesatkan hampir mencapai mereka, entah karena reflek atau memang mereka sudah mengerti pikiran satu sama lain ...
Tanpa koordinasi sama sekali, Drian langsung memanipulasi tubuhnya menjadi pecahan partikel cahaya, lalu melesat mendekati tubuh Angel dan melindunginya dari pendinginan suhu ekstrim yang akan segera Alvin ciptakan.
Sementara itu, di waktu yang bersamaan, Alvin mulai menurunkan suhu tubuhnya sendiri hingga mencapai minus sepuluh ribu derajat celcius, di mana itu sepuluh kali lipat lebih dingin dibandingkan spesial teknik yang biasa dia gunakan.
Akibatnya, segala hal yang berada di dalam lapangan, mulai dari sang wasit, kedua rekannya sendiri, ketiga pemain lawan, hingga rentetan serangan yang lawan lesatkan, semuanya seketika membeku dan mengkristal dalam waktu kurang dari seperempat detik, kecuali Alvin sendiri.
Sesaat sebelum tubuhnya membeku, Boris bergumam, "Sial! Padahal kami sudah berusaha menumbangkan mereka secepat mungkin, bahkan sebelum mereka sempat merespon, tapi anak ini ..."
Belum selesai memikirkan itu, tubuh Boris sudah membeku sepenuhnya.
Karena para pemain, bahkan sang wasit yang berada di dalam lapangan ikut membeku akibat penurunan suhu ekstrim yang Alvin ciptakan ...
"Set Clear!"
Keempat wasit yang berjaga di luar lapangan memutuskan mengakhiri set tersebut untuk kemenangan Quantum, mengingat hanya Alvin seorang yang masih bertahan.
Begitu pertandingan selesai, para petugas medis yang berjaga di pinggir lapangan langsung berlarian memasuki lapangan, berniat bergegas menolong semua orang yang sedang membeku.
Namun, langkah mereka tiba-tiba terhenti saat tubuh mereka merasakan pancaran hangat yang muncul dari tubuh Alvin.
Bukan hanya para petugas medis saja, namun semua orang yang merasakan pancaran hangat yang Alvin pancarkan juga ikut terdiam dengan raut heran bercampur takjub.
Berbeda dari hawa panas yang muncul dari kobaran api, hawa panas yang Alvin pancarkan terasa seperti guyuran hangat cahaya matahari, sebuah kehangatan yang mampu menghadirkan perasaan tenang dan nyaman di hati semua orang.
"Ini ... apa ini ...? Rasanya ... aku seperti sedang berjemur di pantai," gumam Shelly takjub sekaligus heran.
"Pancaran hangatnya sangat menenangkan," imbuh Viona.
Di sisi lain, Roberto yang melihat itu dari tribun stadion tiba-tiba tersenyum lebar.
"Bocah itu ... aku harus mendapatkannya. Apa pun yang terjadi, aku harus mendapatkannya. Aku pasti akan langsung kaya raya kalau bisa menariknya ke Guild Alabama," gumam Roberto sambil melihat lapangan yang sebelumnya membeku, kini perlahan mulai mencair.
__ADS_1
Sementara itu, Alvin yang sedang berusaha mencairkan pembekuannya mulai bergumam, "Maaf, semuanya. Aku melakukan ini karena terpaksa."
Dengan begitu, Quantum berhasil mengamankan poin di set pertama dan memimpin sementara atas Loyer dengan skor 1-0.