
Beberapa jam sebelumnya.
Alexa kembali mendengar suara hantaman keras, kali ini suaranya kencang hingga memenuhi gendang telinganya. Kemudian, ia memutuskan berjalan sendiri di lorong tanpa dinding di kiri kanan, hanya ada atap dan tiang penyangga. Sepi dan tak ada siapa pun kecuali dirinya. Saat itu masih pukul empat lewat 17 menit.
Alexa berhenti melangkah saat satu memorinya menyeruak masuk ke dalam ingatan. Ia memejamkan mata, mencoba menguatkan diri. Dalam diam, gadis itu menangis sesenggukan. Ia langsung menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Lututnya jatuh ke lantai.
"Alex ... ." lirihnya.
Bayangan seorang gadis kecil terkapar bersimbah darah di kepala, terlintas begitu saja. Meskipun sekilas, Alexa bisa langsung mengenali siapa gadis kecil tersebut. Dirinya sendiri. Sementara anak laki-laki yang di bawa pergi oleh ketiga preman adalah saudara kembarnya, Alexander Wijaya.
"Kalo lo bertanya-tanya siapa gue. Gue ini saudara kembar lo. Alexander Wijaya."
Lamunan Alexa buyar ketika mendapati sepasang kaki berdiri di hadapannya. Perlahan, ia mengangkat kepala. Tampak seorang pemuda berkemeja hitam dan celana jeans dengan warna senada, berdiri memandanginya. Pemuda itu yang dilihat Alexa sewaktu sadarkan diri.
"Alex?"
Alexa menegakkan tubuhnya. Kemudian, ia memeluk erat saudara kembarnya. Air mata Alexa tidak bisa dibendung lagi, ia mengalirkan seluruh air matanya di kemeja pemuda itu. "Gue mohon sama lo, jangan pergi lagi. Cuma lo satu-satunya orang yang gue ingat."
Alex menatap wajah Alexa, menyeka air yang membasahi pipi gadis itu. "Lo inget sama gue?"
Secepatnya, Alexa mengangguk. "Iya. Tapi gue nggak bisa inget siapa pun kecuali lo. Apalagi, di antara mereka ada yang mencoba mempengaruhi pikiran gue. Gue bingung, antara harus percaya atau enggak."
"Ikutin apa kata hati lo. Jangan percaya sama siapa pun kecuali keluarga, suami lo. Dan ... Jangan percaya sama gue."
Alexa tersentak mendengarnya, tangannya yang berada di pinggang Alex terlepas. "Apa ... Apa maksud lo?"
"Gue ... Gue hampir bunuh lo sekali, Alexa. Bukan, dua kali. Kalo waktu itu nggak ada dokter, mungkin sekarang gue nggak bisa liat lo lagi." ungkap Alex.
Satu tetes air mata jatuh di pipi Alexa. Perkataan Alex terdengar jujur tanpa dibuat-buat, matanya memerah hingga berair. Alexa mengangguk paham. "Gue percaya. Mana ada seorang Kakak yang tega membunuh adiknya sendiri. Gue paham apa yang lo rasain."
"Please dengerin gue, jangan percaya sama siapa pun selagi lo nggak yakin. Jangan terpengaruh sama perkataan orang, gue tau lo ini anaknya teliti dalam segala hal. Paham?"
__ADS_1
"Iya, gue paham."
Alex mengusap lembut pucuk kepala sang adik. Setelah sekian lama tidak mengobrol seperti ini, akhirnya mereka bertemu dan saling bertukar cerita walaupun hanya sebentar. Alex masih berada di area rumah sakit untuk melihat kondisi Alexa. Ia berencana akan menyerahkan diri ke kantor polisi setelah kesehatan gadis itu pulih.
Selama subuh hari sampai menjelang matahari terbit, Alex menemani Alexa berjalan-jalan pagi. Pemuda itu menceritakan kisah silam 8 tahun lalu, terkecuali pekerjaan gelapnya dan pernikahan ayah mereka.
"Pasien Alexandra!" Suara seorang perawat menyembul dari kejauhan. Perawat itu menghampiri Alexa yang sedang mengobrol bersama Alex. "Sudah waktunya sarapan, Anda harus kembali sekarang."
Alex menunjuk perawat tersebut menggunakan dagunya. "Sarapan sana. Dengerin apa kata perawat."
Alexa menggeleng. Ia menggenggam kedua tangan Alex, sembari memanyunkan bibirnya. "Nggak mau. Nanti lo pergi lagi kayak dulu."
"Kalo lo nggak mau, gue bakalan pergi beneran."
Rintik hujan turun perlahan membasahi jalanan kota Jakarta. Aroma air bercampur debu jalan aspal memasuki rongga hidung. Alex melepas kemejanya, lalu menutupi kepala gadis itu agar tidak terkena cipratan air hujan. Untung ia mengenakan kaus sebagai lapisan dalamnya.
Pemuda itu memandangi punggung Alexa yang semakin menjauh dari pandangannya. Ia masih tak percaya Alexa akan mengingatnya, entah Alex harus senang atau sedih. Situasi ini benar-benar membuatnya merasa cemas.
"Alexa! Ibu mohon kamu jangan pergi. Alexa!"
Teriakan seorang ibu menggelegar, hingga membuat semua pengunjung rumah sakit memperhatikannya. Namun, teriakannya berlawanan dengan air mata yang mengalir di pipi. Athifa berlari mengejar Alexa sampai terpeleset di teras. Bahkan, Alexa acuh tak menggubris ibunya. Gadis itu masuk ke dalam mobil sedan hitam bersama Gavin dan Ratna.
Sebelum pergi, Alexa meminta Hoodie—Keenan melepaskan Ratna. Lelaki itu menuruti kemauannya. Bodohnya Hoodie malah membiarkan Alexa pergi bersama pria lain. Bukan tanpa alasan, Hoodie melakukan itu karena tak bisa memaksa Alexa. Ia akan memulainya dari awal, mengikuti GPS yang sudah terpasang di ponsel gadis itu.
Athifa melontarkan tamparan keras di pipi sang suami. Dengan tak sabaran, Athifa merengkuh kerah kemeja Sofyan dan mengguncangnya. "Kenapa kamu diam aja? Seharusnya kamu sebagai seorang ayah bertindak! Jangan diam seperti patung!"
Sofyan memejamkan mata seraya menghela nafas berat. "Aku nggak bisa, Fa. Tolong mengerti posisi aku saat ini."
"Apa yang harus dimengerti? Jelasin sekarang! Aku yakin selama ini kamu menyimpan rahasia di belakang aku, kan?" tanya Athifa memojokkan Sofyan.
Pria berusia 48 tahun itu termangu. Sofyan tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan anak perempuannya di bawa pergi oleh anak tirinya. Kalau ia bertindak, Gavin akan membeberkan pernikahannya dengan Ratna. Yang harus dipikirkan sekarang adalah, mencari cara untuk menceraikan istri mudanya sebelum masalah menjadi tambah runyam.
__ADS_1
"Athifa, aku nggak mungkin menyembunyikan sesuatu dari kamu. Kalau pun aku menyembunyikan sesuatu, aku bakalan kasih tau kamu." jawab Sofyan bohong.
Athifa menatap suaminya penuh selidik. "Yakin? Coba jawab pertanyaan ini dengan jujur. Selama aku dan Alexa di Australia, kamu ngapain aja?"
Sofyan tak bisa berkutik lagi, mulutnya seolah terkunci rapat. Ya, pria itu mengambil kesempatan untuk mengadakan acara pernikahan, selagi sang istri dan putrinya berada di Australia. Malam pertama? Tentu Sofyan dan Ratna telah melakukan kewajiban mereka masing-masing, karena sudah sah menjadi sepasang suami istri. Meskipun menikahi wanita itu hanya sekadar membalas kebaikannya.
"Aku—"
"Tante!"
Perkataan Sofyan terpotong oleh suara Ilona yang memanggil istrinya. Ia menghela nafas lega sembari mengusap dadanya. Ilona mencium punggung tangan Athifa dan Sofyan. Kemudian, gadis itu menempelkan pipinya di kedua pipi wanita itu.
"Kenapa ... Suasananya canggung begini, ya?" kalimat itu yang pertama kali keluar dari mulut Ilona. Ia memandang Sofyan dan Athifa bergantian dengan tatapan penuh tanya. "Apa Ilona ganggu Tante sama Om?"
Sesaat kemudian, Athifa dan Sofyan saling mencuri pandang. Wanita itu menyunggingkan senyum. "Engga, kok. Kamu ... Kamu udah ketemu Alexa?"
Ilona melengkungkan bibirnya di hadapan Athifa, seperti seorang putri merengek pada ibunya. "Aku nggak ketemu sama Alexa, Tan." ucap Ilona. Tiba-tiba ia tersenyum sumringah. "Tapi aku ketemu sama jodohku."
Athifa tertawa senang bercampur sedih, ia menyeka air mata yang tersisa di pipi. "Bagus dong. Kamu harus kasih tau Tante bebet bobotnya laki-laki itu."
"Kalo itu mah jelas. Gimana kalo kita nongki di kafe? Aku udah lama nih nggak ke sana."
"Boleh. Yuk, Tante yang traktir kamu."
Suasana hati Athifa berubah seketika itu juga, seakan lupa dengan kesedihannya. Ilona menggamit lengan wanita itu dan berjalan ke area parkiran. Sofyan benar-benar bersyukur dirinya tidak jadi di interogasi. Mungkin memang bukan hari ini, tetapi lain hari.
Ilona sudah menganggap Athifa seperti ibu kandungnya, begitu pula sebaliknya. Ibunya sudah meninggal dunia akibat serangan jantung, saat itu Ilona masih berusia 8 tahun. Ia satu-satunya tulang punggung keluarga. Ini yang membuatnya tidak pernah berdekatan dengan lelaki mana pun selain ayahnya. Yang dipikirkannya hanya belajar, ujian, lulus, dan bekerja tanpa bantuan perusahaan ayahnya.
"Untung ada Ilona. Bisa-bisa aku diamuk kalau berkata jujur." gumam Sofyan pelan.
TBC.
__ADS_1