Lelaki Pilihan Orang Tua

Lelaki Pilihan Orang Tua
Aroma Kebebasan


__ADS_3

Lima hari kemudian, hari-hari berjalan damai. Kemarin, tahanan bernama Gavin Sanjaya dikabarkan telah di hukum mati oleh anggota brimob polri. Padahal sebelumnya, Gavin menunjukkan perilaku yang baik, hingga polisi mengklaim bahwa Gavin masih bisa merubah kepribadiannya. Setelah mendengar istri seorang detektif hampir terbunuh oleh pria itu, aparat kepolisian tidak bisa menunda waktu masa percobaan.


Siswa-siswi tampak lalu-lalang memasuki gedung SMA Pradita Dirgantara. Kepala sekolah mengumumkan para siswa-siswi sudah bisa kembali bersekolah seperti biasa. Aroma kebebasan makin menguar ketika kaki Keenan menginjak area SMA Pradita Dirgantara. Lelaki itu mendorong kursi roda yang dinaiki sang istri memasuki gedung.


Luka di paha Alexa memang sudah lumayan mengering, tetapi dokter tidak menganjurkan gadis itu berjalan. Terlalu banyak gerak akan membuat jahitan rentan terbuka. Keenan pun setuju dengan anjuran dokter.


"Reg, bantuin gue bawain kursi rodanya."


Keenan menggendong tubuh istrinya menaiki lantai dua. Sementara, Regan melipat kursi roda dan mengangkatnya, lalu mengekori Keenan di belakang. Sampai di depan kelas, pria dengan jaket jeans hitam itu meletakkan kembali kursi tersebut. Selanjutnya, Keenan mendudukkan Alexa di sana.


"Lo boleh pergi sekarang, gue nggak apa-apa, kok." ucap Alexa.


Keenan menarik celananya seraya berjongkok di hadapan Alexa. "Janji, ya? Lo harus ngabarin gue kalo jam pelajaran udah selesai."


Alexa mengangguk, lalu menepuk pundak lelaki itu. "Janji. Nanti pasti gue kabarin."


Regan berdehem. "Udah kali, Keen, lagian bini lo nggak apa-apa. Kan, lo tinggal lacak lokasi Alexa."


Keenan melempar tatapan dingin pada rekan kerjanya. "Lo jomblo, mending diem, deh."


"Ya, elah, salah mulu perasaan gue." Regan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Alexa mencium punggung tangan Keenan. Gadis itu memperhatikan kepergian suaminya, hingga punggung Keenan sudah tak terlihat lagi di depan mata.


****


"Omg hello!"


Ilona membelalakkan mata saat kakinya hampir menginjak halaman depan sekolah. Kemudian, ia bersembunyi di balik tembok pembatas di samping gerbang. Ia melihat Regan dan Keenan keluar dari dalam gedung. Ilona memandang jaket jeans hitam yang sedang ia kenakan. Habis sudah Regan akan memarahinya.


"Neng, ngapain di situ. Mau sengaja telat, biar bisa bolos?"


Mang Ujang, seorang satpam yang berjasa dalam menjaga keamanan sekolah di depan gerbang menegur Ilona. Pria paruh baya itu memberitahu Ilona sebentar lagi bel akan berbunyi. Gadis itu menggeleng, meminta waktu dua menit sampai dua pria yang ia lihat pergi.

__ADS_1


"Yeuh, si Eneng, sana masuk. Hari pertama ujian malah mau bolos, niat sekolah nggak, sih?" Mang Ujang menarik pergelangan tangan Ilona, mendorongnya masuk.


Tepat saat Regan dan Keenan membuka pintu mobil, ia mengurung diri begitu melihat Ilona tiba-tiba muncul di ambang gerbang. Gadis itu mempercepat langkah seraya membungkuk menutupi wajah dengan kedua tangan. Regan menyuruh Keenan masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.


"Eh, stop, stop!"


Saat kaki Ilona hendak menginjak teras lantai, dengan cepat Regan mengambil posisi di belakangnya. Sontak Ilona berhenti melangkah. Regan memperhatikan gadis itu secara seksama, lalu bergantian menatap pakaiannya sendiri. Keduanya tanpa sengaja mengenakan jaket jeans hitam yang sama persis, resleting di lengan atasnya pun terlihat mirip seperti milik Regan.


"Lo bilang jaket gue luntur. Tapi ...."


"Jaket Bapak emang beneran luntur, ini saya beli karna ... Karna bagus aja, Pak." Ilona cengengesan setelah memotong kalimat Regan.


Sembari melangkah maju, Regan mendelik Ilona tajam. "Yang bener? Lo nggak bohong, kan?"


"Enggak, kok, Pak."


Para siswa berlarian ke dalam gedung, salah satunya menabrak lengan atas Ilona. Spontan Ilona menarik kerah jaket Regan, bersamaan dengan tangan pria itu yang menahan pinggangnya. Ilona terpana, ketika ia berhasil melihat Regan dari jarak yang amat dekat kedua kalinya.


Dari arah koridor, Ilona berlari di kerumunan siswa-siswi yang berjalan. Gadis itu merentangkan kedua tangan seiring berlarinya, menyambut kedatangan Alexa dengan pelukan hangat. Setelah sekian lama menunggu kabar, akhirnya ia dapat berjumpa sahabatnya. Pasalnya, pihak rumah sakit tidak memperbolehkan siapapun menjenguk Alexa, selain pihak keluarga atau kerabat.


"Lo nggak apa-apa, kan? Ya, ampun ... ." tanya Ilona, telapak tangannya tak sengaja menekan paha Alexa.


"Awu! Sakit, Na!" Refleks, Alexa menepis jemari Ilona.


"Oh, iya, sorry." Ilona langsung menutup mulutnya. "Gue denger lo di tusuk, ya? Pasti sakit."


"Kalo nggak sakit, mana mungkin gue bisa kayak gini sekarang?"


"Hehe, iya juga sih."


Sesaat, Alexa mendelik Ilona dari ujung kepala sampai kaki. Ia merasa tak asing dengan jaket jeans hitam yang dikenakan sahabatnya itu. Mengingat hari ini Regan mengenakan jaket yang dibelinya waktu itu, gadis itu mulai menyadari sesuatu.


"Jangan-jangan lo bohong, ya?" Alexa menunjuk Ilona curiga.

__ADS_1


Ilona tersenyum kikuk. "Hah? Bohong? Apa sih, maksud lo?"


Alexa menyilang kedua tangan di dada, seulas senyuman lebar terbit di wajahnya. Ilona menghela nafas panjang. Selama ini, sahabatnya itu menyimpan jaket milik Regan di dalam lemarinya, warnanya juga masih terlihat utuh tidak ada noda putih sama sekali. Ya, Ilona mempunyai alasan berbohong pada Regan. Ia hanya ingin lebih dekat dengan pria itu.


"Oh, jadi gitu. Gue kira, lo janjian sama Kak Regan."


"Ish, enggak, ya! Ini cuma kebetulan, please deh!"


"Ya, udah, ya udah. Kita masuk sekarang ke kelas."


Ilona mendorong kursi roda yang diduduki Alexa. Mereka memasuki kelas, mengabaikan sepasang mata yang tertuju pada keduanya. Tempat duduk Alexa sudah di tempati siswi lain, Ilona segera menyuruh teman sebangkunya mengalah dan duduk di barisan belakang.


Seorang pria berkacamata dengan setelan kemeja hitam, memasuki ruangan, menyambut semua siswa-siswi. Samuel Aditya, guru baru di kelas itu membagikan masing-masing selembaran kertas ujian pada mereka.


Hari ini, hari pertama mereka melaksanakan ujian akhir semester. Biarpun tidak di beri pembatas, siswa-siswi di sana tidak ada yang berani menyontek. Jika ketahuan, guru akan memberi sangsi tegas terhadap mereka.


Ilona menulis jawaban ujian dengan teliti. Namun, wajah Regan menggerayangi pikirannya. Fokusnya hilang seketika. Ia menoleh ke samping, melihat gerakan tangan Alexa yang cepat menuliskan jawabannya. Ilona tak mau kalah dari sahabatnya, ia kembali berkonsentrasi pada kertas di hadapannya.


"Pak, saya selesai."


Sepuluh menit kemudian, Alexa mengangkat satu tangan, kemudian maju menyerahkan selembaran kertas ujiannya pada Pak Samuel, guru di kelasnya. Siapa cepat dia keluar. Alexa hendak mendorong kedua roda di kursinya ke ambang pintu. Namun, seorang siswi yang duduk di barisan depan menggeser meja, menghalangi jalan gadis itu.


Alexa memejamkan mata, menghela napas panjang dan berusaha menahan kekesalannya. "Jangan mentang-mentang gue pake kursi roda, terus lo bisa seenaknya memperlakukan gue kayak orang cacat."


"Ya, emang kenyataannya, kan? Mungkin itu karma buat lo, karna dulu lo sering acuhin cowok-cowok di sekolah." Siswi itu tersenyum miring.


"Pak, saya udah selesai."


Ilona menaruh kasar kertas ujiannya di atas meja, gadis itu langsung menggeser balik posisi meja tersebut hingga merapat pada siswi tadi. Ia membawa Alexa meninggalkan kelas.


Samuel melepas kacamatanya, lalu menunduk dan memegangi pelipisnya. Ia terkekeh setelah melihat tindakan muridnya yang satu ini. Cantik, tapi bar-bar.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2