
"Papa!"
Rajendra merentangkan kedua tangan, berlari menghampiri ayah dan ibunya. Hari ini, Alexa dan Keenan mengantarkan bocah itu menjemput orang tuanya di bandara. Mereka pulang lebih cepat setelah Keenan memberi kabar mengenai insiden perampokan di rumahnya. Dimas yang tak tenang meninggalkan Raje, akhirnya memesan tiket pesawat ke Jakarta.
Dimas tak bisa terus membiarkan Raje bersama sepasang suami istri itu. Bukan tidak mempercayai mereka, tetapi ia sangat mengetahui Alexa dan Keenan memiliki kesibukan masing-masing.
Dimas menggendong Raje seraya menciumi kedua pipi mungil anaknya. "Raje kalo ketemu orang baik harus bilang apa?"
Anak itu menoleh ke arah Alexa dan Keenan, Raje cengengesan melihat mereka berdua. "Makasih, Om, Tante. Nanti, kita main kuda-kudaan lagi ya, Om?"
"Pastinya dong," Keenan mengacungkan dua jempol jari pada Raje.
Ini pertama kalinya Alexa bertemu Della. Wanita bertubuh tinggi semampai itu lebih cantik dibandingkan dengan dirinya. Dari segi usia pun sudah jelas berbeda jauh. Itu yang dipikirkan Alexa saat melihat istri Dimas secara seksama. Alih-alih melihat, justru sepasang matanya mengamati Della, si mantan polwan.
Della Agustine mendelik Alexa tajam dari ujung rambut sampai kaki. Ia agak sedikit kaget melihat kedatangan Keenan bersama gadis lain. Della pernah berpikir, lelaki yang pernah disukainya ini tidak tertarik sama sekali dengan perempuan, ia mengira Keenan menyukai sesama jenis. Ya, itu dulu, setelah perasaan Della di tolak oleh Keenan.
"Dell, kenalin ini istrinya Keenan. Alexandra Wijaya." ucap Dimas, telapak tangannya menunjuk Alexa.
"Oh ... ." Ekspresi wajah Della berubah seketika. Ia meraih tangan Alexa seraya bersalaman. "Maaf, ya, tadi saya sempat sinis sama kamu."
Alexa mengulas senyum, lalu mengangguk pelan. "Nggak apa-apa, Kak. Malah aku yang seharusnya minta maaf."
"Itu ... Kuping sama tangan lo kenapa?" tanya Dimas penasaran, melihat perban kain kasa di bagian tubuh Keenan yang terluka.
Keenan mengangkat telapak tangannya. "Ini? Cuma goresan kecil, ya, gara-gara si perampok itu."
"Tapi Kak Regan lagi berusaha nyari pelakunya, kok." timpal Alexa.
Selang dua puluh menit kemudian, Keenan membantu Dimas mengangkat dua koper besar ke dalam bagasi mobil. Sesudah itu, mereka mengantar Dimas dan Della pulang ke rumah dengan selamat.
****
__ADS_1
Mengingat bahan makanan di kulkas habis tak tersisa, Alexa dan Keenan pergi berbelanja di supermarket. Alexa berjalan mengitari rak-rak sembari mendorong troli, ia celingak-celinguk mencari barang yang paling mereka butuhkan. Sudah lima menit Alexa dan Keenan memutari rak. Namun, troli belanja masih kosong.
Bukan bingung memilih, perut Alexa tiba-tiba terasa kram hingga menyebar ke pinggang. Ia meminta Keenan yang mendorong troli, lalu mereka mulai mengambil sayuran segar di rak dan buah-buahan. Alexa mengambil nugget ayam di dalam freezer kulkas, tiga bungkus cukup untuk stok makanan mereka.
Keenan membulatkan mata ketika melihat noda kemerahan di celana putih Alexa. Tanpa berpikir, ia langsung mengikatkan jaketnya di pinggang Alexa, guna menutupi darah haid yang tembus di celana istrinya.
"Sebentar, tunggu di sini."
Keenan berlari menuju rak di barisan keempat. Dengan cepat, lelaki itu mengambil semua merek pembalut yang ada. Tidak ada kata memalukan dalam kamusnya, biar saja orang menilai urat malunya sudah putus hanya perkara memborong pembalut.
Keenan kembali menaruh beberapa pembalut yang ia ambil. Alexa tampak meringis memegangi perutnya. "Lo nggak apa-apa?"
"Sakit gini lo bilang nggak apa-apa?! Emang bener ya, cowok tuh nggak bisa ngertiin perasaan cewek!" ketus Alexa.
Lelaki itu menghela nafas. "Ya, udah. Sini, sini. Naik ke troli. Lo nggak bisa jalan, kan?"
Alexa mengiyakan Keenan dengan anggukan kepala. Kemudian, Keenan mengangkat dan mendudukkan tubuh gadis itu di troli. Semua orang yang ada di sekitar, melongok memperhatikan dua sejoli itu. Mereka berdua hanya tersenyum menanggapi orang-orang itu.
Setelah di rasa semuanya sudah cukup, mereka menghampiri meja kasir, berbaris tertib menunggu antrian. Pria tadi pun kini mengantri di belakang Keenan, tampak pria tersebut hanya membeli satu bungkus makanan ringan.
Tak berselang lama, giliran mereka membayar. Alexa turun dari troli di bantu oleh Keenan. Gadis itu melangkah keluar pintu supermarket, menuju area parkiran. Langkahnya perlahan gontai ketika mendapatkan satu notifikasi pesan masuk di ponselnya.
Irama detak jantung Alexa menjadi tidak karuan saat melihat ponselnya. Ia memegangi tangannya yang gemetaran. Perlahan, Alexa membaca kembali pesan yang didapatnya. Seseorang menubruk maju lengan gadis itu hingga ponselnya terlempar ke aspal.
"Maaf, saya nggak sengaja. Permisi." Pria itu menunduk seraya mengeratkan topinya.
Alexa menarik pundak pria itu. Ia tidak membiarkan orang tersebut lolos begitu saja. Wajah dan lehernya memerah, Alexa tersentak saat pria itu mengangkat kepala.
Loh?
Telunjuk gadis itu terangkat ke arah wajah pria di hadapannya. Kala matanya terpejam, kejadian yang merenggut nyawa suaminya berputar. Ia tidak akan pernah lupa, bagaimana pria itu menusuk Keenan. Pria itu melarikan diri setelah Alexa mengenali siapa dirinya.
__ADS_1
"Woi Perampok, jangan lari lo!" Gadis itu meraih ponselnya di bawa motor, kemudian berlari ke trotoar jalan raya, mengikuti langkah si perampok itu.
Alexa semakin mempercepat langkahnya. Keringat mulai menyembul di dahinya. Sampai di jalanan sepi, ia berhenti. Akibat gesekan di pangkal paha, area sensitifnya jadi semakin nyeri. Napasnya tersengal-sengal. Alexa memegangi pinggang, kedua lututnya jatuh di permukaan aspal.
Gadis itu mengubah posisinya duduk. Jempolnya menggeser layar ponsel yang di genggamannya. Alexa nyaris lupa mengabari Keenan. Biar bagaimanapun, ia pergi tanpa sepengetahuan suaminya.
Detik berikutnya, telepon tersambung. Suara Keenan terdengar.
"Kak Keen ... Gue—"
"Lo di mana sekarang?!" Napas Keenan terdengar menderu.
"Gue di ... ."
"Nggak usah, biar gue ke sana."
Alexa hendak mengedarkan pandangan. Akan tetapi, tubuhnya langsung di dekap erat oleh seseorang. Keenan menghembuskan nafas lega, ia panik setengah mati kehilangan jejak Alexa. Pasalnya, lelaki itu baru mendapatkan kabar dari aparat kepolisian. Tahanan bernama Gavin Sanjaya melarikan diri dari sel tahanan.
Awalnya, Gavin mencari masalah dengan tahanan lain, hingga terlibat perkelahian. Ia berpura-pura lemah, seolah dialah yang teraniaya. Dua orang petugas kepolisian berniat membawa Gavin ke rumah sakit terdekat, sebelah matanya berdarah di tinju oleh seorang preman berbadan besar.
Sebelum sampai rumah sakit, pria itu merebut pistol yang di selipkan di saku celana. Gavin lagi-lagi menembak mati seseorang, kali ini yang ia tembak dua aparat kepolisian. Setelahnya, Gavin melarikan diri ke suatu tempat. Kamera dasbor mobil berhasil merekam aksi tersebut.
"Lo emang nggak baca pesan gue?"
Alexa memejamkan mata, berusaha mengingat-ingat pesan teks itu. Alexa membuka mata dan menjawab. "Gue baca sekilas, cuma sampai ... Gavin melarikan diri. Abis itu hp gue jatuh gara-gara perampok itu muncul."
"Sekarang ganti dulu celana lo. Darah yang nembus pasti nggak sedikit."
"Oh, iya!"
Keenan mengeratkan ikatan lengan jaket miliknya di pinggang Alexa, lalu menggendong tubuh istrinya.
__ADS_1
TBC.