
"Ken, Clara udah balik ke Indonesia. Tolong jagain dia, jangan biarin dia ngerusak hubungan gue sama Alexa."
Setelah menerima dan membaca satu pesan dari Keenan melalui WhatsApp, Kenzo meminta lokasi pusat perbelanjaan yang didatangi saudara kembarnya. Ia sangat mengetahui sifat Clara yang satu ini. Gadis itu bisa menjadi apa saja demi mempertahankan kedekatannya dengan Keenan mau pun Kenzo. Contohnya seperti saat ini, mengungkit masa lalu mereka di depan Alexa.
Kenzo mencoba mencari akun Instagram Clara. Ketemu. Ia bergegas menelusuri seisi mall, mencari keberadaan gadis itu. Melihat Keenan keluar dari toko pakaian bersama Alexa, dan seorang gadis yang hendak menghampiri mereka, Kenzo refleks menyeretnya agar tidak menggangu dua sejoli itu.
Clara melepaskan tangan Kenzo dengan kasar. "Kamu pasti Kenzo, kan?"
"Ya, seperti dugaan lo." jawab Kenzo.
Clara memandangi wajah lelaki di hadapannya hingga ujung kaki. Ia sama sekali tidak bisa membedakan mana Kenzo mana Keenan. Di matanya, mereka berdua tetap sama, hanya penampilan mereka yang berbeda. Kenzo cenderung lebih menyukai berpakaian berwarna, tidak seperti Keenan.
Saat ini, Kenzo mengenakan kaus putih dan lapisan jaket biru putih di bagian lengan. Kabar yang Clara dengar dari Narendra, Kenzo sempat mengalami bullying sewaktu SMP sampai memperparah kondisi autisme lelaki itu. Tiga tahun kemudian, Narendra mengabarinya lagi, mengatakan bahwa Kenzo telah sembuh berkat menjalani terapi kognitif.
"Lo mau ngapain balik ke Indonesia? Udah gitu ...." Kenzo memandang Clara dari ujung rambut sampai kaki. Melihat tali dress putih yang melingkar di leher gadis itu, seratus persen Kenzo yakin Clara mengenakan pakaian kurang bahan. "Pakaian lo terbuka begini?"
Clara merapatkan mantel bulunya. "Intinya, aku ke sini mau kerja di tempat Keenan."
Seketika Kenzo tertawa. "Serius? Lo emang tau sekarang Keenan kerja apa?"
"Detektif polisi."
Kenzo menghela nafas kasar. "Nggak usah aneh-aneh deh, lo. Kerja tuh yang sesuai sama kemampuan, bukan karna ngejar cinta suami orang."
Clara meletakkan kedua tangan di dada, lalu menggeleng. "Pasti kamu bohong, kan? Mana mungkin Keenan udah nikah. Apa dia cuma pura-pura doang biar aku cemburu?"
Spontan Kenzo menyebut nama sang pencipta, betapa kesalnya ia menghadapi gadis ini. "Pura-pura? Oh, jadi lo nggak percaya?"
Clara menganggukkan kepala. Kenzo menyalakan ponselnya, membuka galeri dan memencet foto Keenan dan Alexa. Ia menunjukkan foto kemesraan mereka pada Clara. Hatinya memanas melihat pose Alexa memonyongkan bibir pada Keenan, terlebih lagi lelaki itu malah meresponnya.
"Ini pasti editan, kan?"
"Ini hasil photo booth mereka tadi, asli tanpa di edit!"
Pikiran Clara menjadi liar, membayangkan Keenan tidur di ranjang yang sama dengan Alexa, hingga melakukan malam pertama. Clara membuka mulutnya tanpa sadar, kemudian segera ia tutup dengan satu tangan. "Nggak mungkin. Kenapa calon suami aku jadi begini?"
__ADS_1
"Dari pada lo ngehaluin yang enggak-enggak. Mending lo cari kerjaan biar nggak gila."
"Ya, aku bingung mau cari kerja di mana?"
"Ikut gue."
Kenzo melangkah sembari memasukkan satu tangan di saku celana. Mendengar derap langkah kaki Clara yang lambat, Kenzo berbalik dan meraih koper besar gadis itu.
"Thank you." Clara langsung berdiri di samping Kenzo, lalu cengengesan melihat kepekaan teman masa kecilnya.
****
"Ternyata hanya kamu, hanya kamu ... ."
Suasana Lexa's Coffee Shop begitu sepi dan damai, hanya ada alunan lagu yang terdengar menggema di speaker. Ilona sedang menyapu lantai, sesekali ia bernyanyi sesuai nada bicara sang penyanyi lagu. Sore ini, cafe tutup lebih awal.
Ilona berhenti bersuara, ketika melihat Alexa dan Keenan melalui pintu kaca bening, sepasang suami istri itu menuruni mobil. Terlihat mereka berjalan berlawanan arah, Alexa menghampiri cafe sambil menjinjing paper bag, sedangkan Keenan masuk ke dalam rumah. Tak mau membuat sahabatnya marah, Ilona melanjutkan aktivitasnya menyapu lantai.
"Nih," Alexa menyodorkan paper bag.
Ilona meraih paper bag di tangan Alexa. "Ini pesanan gue, kan?"
"Lah, lo kenapa? Atau jangan-jangan lo bertengkar?" tanya Ilona penasaran.
Alexa menghempaskan tubuh di kursi. Kemudian, ia menceritakan tentang Clara, teman masa kecil suaminya. Ilona mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan cerita sahabatnya. Bukannya tenang, Alexa justru di buat makin emosi dengan saran Ilona.
"Gue jadi penasaran sama tu cewek. Kayak apa, ya? Apa sejenis pick me girl? Atau—"
Alexa menghembuskan nafas kasar. "Entahlah. Gue khawatir kalo nantinya Kak Keenan jadi tertarik sama dia. Lo tau, kan? Berita perselingkuhan yang lagi viral itu?"
"Oh, yang itu. Iya, ya, gue tau." jawab Ilona.
"Mana katanya dia suka megangin tangan Kak Keenan. Ini tuh udah kelewat batas, gue nggak bisa biarin Si Clara Clara itu gangguin rumah tangga gue." geram Alexa. Ia mengetuk-ngetuk kukunya di atas meja.
"Tapi gue yakin, kok, suami lo itu nggak bakalan terpengaruh sama cewek lain."
__ADS_1
Gadis itu membuka resleting tas selempang yang dikalungkan di pundaknya, mengeluarkan amplop putih berisi uang 2 juta 150 ribu. Alexa menyerahkan gaji pertama Ilona. Seharusnya gaji sahabatnya itu 2 juta 950.000 ribu, karena sisanya sudah dibelikan jaket jeans sesuai permintaan Ilona sendiri.
Ilona buru-buru mengeluarkan ponsel yang diletakkan di saku celemek. Ia memotret amplop berisi uang hasil keringatnya sendiri dan memamerkannya pada sang ayah. Ilona meloncat-loncat kegirangan setelah mendapatkan pesan pujian dari ayahnya.
Alexa ikut tersenyum sumringah melihat kegirangan gadis itu. "Pasti bokap lo bangga banget sama anaknya."
"Oh, iya, maaf ya, Lex? Gue nggak bermaksud ... ."
"Apaan, sih? Santai aja kali."
****
Sementara itu, di depan Lexa's Coffee Shop, sebuah mobil berhenti, Kenzo turun dari sana, lalu melangkah ke samping. Setelahnya, seorang gadis cantik berkulit putih dan berambut coklat terurai indah turun setelahnya.
Clara Adelin. Di Kenzo yang membukakan pintu, gadis itu turun dari mobil dengan anggun, seraya mengibaskan rambutnya.
"Kenapa kamu ngajak aku ke sini?" tanya Clara, memandangi bangunan di hadapannya. Kemudian, ia mengalihkan pandangan pada Kenzo di sebelahnya.
Lelaki itu tersenyum miring. "Ayo masuk, katanya mau kerjaan."
Begitu memasuki cafe, lonceng pun berbunyi. Secara refleks Alexa dan Ilona melirik ke arah pintu, melihat siapa pengunjung yang turut menikmati kopi di tempat itu. Mata mereka membulat ketika melihat Clara hadir di sana, berdiri di sebelah Kenzo.
Sejenak, Alexa mengerutkan dahi, mengingat seseorang yang menarik gadis itu di pusat perbelanjaan tadi. Jarinya menunjuk pada Kenzo. Ya, ia yakin lelaki itu adalah saudara kembar suaminya. Mungkin jika Keenan tidak memberitahunya, Alexa akan menuduh Keenan berselingkuh.
"Eits, Jangan kira gue ini Keenan, ya? Gue sama dia itu jelas beda." sahut Kenzo melirik Alexa.
"Oalah, kembarannya. Hampir gue sledding ni orang." celetuk Ilona.
Kenzo langsung pada intinya, memberitahu tujuannya kemari membawa Clara, meminta tolong pada Alexa untuk memperkerjakan gadis itu di Lexa's Coffee Shop. Kebetulan Alexa sedang mencari pegawai yang bertugas di dapur, ia sangat kekurangan staff saat ini. Namun, Clara menolak.
Ilona menggiring Alexa menjauhi dua manusia berbeda gender itu. Mereka berdiskusi sebelum menerima Clara bekerja di cafe ini, Ilona mengusulkan kepada Alexa untuk mengetes kemampuan gadis itu, sesuai syarat yang sudah diterapkan di cafe ini. Ya, bekerja di Lexa's Coffee Shop tidak harus memiliki ijazah, tetapi dengan menguji kemampuan calon pegawai.
"Oke, setuju. Tapi ... Sebelum itu Clara harus di tes." ucap Alexa.
Kenzo mengangguk setuju. "Deal. Kalo dia macem-macem, marahin aja."
__ADS_1
"KENZO!!" teriak Clara penuh amarah.
TBC.