
"Ibu, maaf ... Maafin aku .... ."
Alexa menghampiri sang ibu, mencium kedua punggung kakinya dengan perasaan menyesal. Meskipun tak ingat, wanita di hadapannya ini yang telah mengandungnya selama sembilan bulan. Alexa merasa telah durhaka kepada ibunya, hari ini ia berkunjung ke rumah orang tuanya untuk meminta maaf sekaligus memberitahu mengenai ingatannya.
Athifa membantu Alexa berdiri. Melihat sang putri yang terus menangis sesenggukan sambil mengucapkan permohonan maaf, ia segera mendekap gadis itu. "Ibu sudah mendengar dari Keenan. Kamu pasti mengalami banyak hal setelah menikah, seharusnya Ibu nggak memaksa kamu menikah."
Rasa sesak di dada Alexa semakin memuncak. Air matanya tak berhenti membanjiri pipinya. Tidak, tidak sedikit pun ia menyesali statusnya sebagai seorang istri. Sebaliknya, Alexa sangat bersyukur karena sang ibu memilih lelaki yang tepat untuknya. Memang pada awalnya ia menolak mentah-mentah soal perjodohan ini. Namun sekarang, Alexa bisa menerimanya dengan lapang dada.
Athifa menyeka air mata yang membasahi pipi putrinya, senyumnya mengembang begitu melihat Alexa tersenyum manis. "Aduh, anak Ibu sekarang sudah sebesar ini. Ibu bahagia bisa melihat kamu lagi, semoga ini bukan pertemuan terakhir kita, ya!"
"Ih, jangan bilang begitu. Ucapan itu adalah doa loh, Bu." celetuk Alexa memanyunkan bibirnya.
"Apa salahnya Ibu bilang begitu? Kan, umur nggak ada yang tau. Bisa aja besok atau lusa Ibu sudah nggak ada."
Alexa hanya mengangguk mendengarnya. Kata Sofyan, wanita itu telah berada di kamarnya selama dua hari dua malam, berdoa kepada sang pencipta agar gadis itu datang menemuinya. Doa Athifa dikabulkan. Saat ini, di kamar ini, ibu dan anak itu mengobrol banyak hal. Alexa sudah melihat foto masa kecilnya bersama Alex di sebuah album.
Ternyata gue waktu masih kecil seimut ini.
"Ibu sebenarnya mau bertemu Alex, tapi Eyang kamu pasti akan marah besar kalau Ibu menemui Alex."
"Emangnya kenapa? Kok Eyang sampe marah besar?" Alexa tampak terkejut.
Athifa mengusap sehelai demi sehelai rambut panjang Alexa. "Eyang kamu nggak suka Ibu melahirkan anak kembar beda gender. Bahkan ayahmu disuruh berbohong pada polisi supaya kasus Alex di tutup."
"Nama Eyang siapa, Bu?"
__ADS_1
"Megane."
"Ibu bersumpah, anak itu akan mempunyai kehidupan yang menyedihkan. Hilang di ambil orang pun Ibu tidak peduli."
Spontan, Alexa tertegun mendengar nama itu. Ingatan seorang wanita tua terlintas dalam memorinya. Sebelum kecelakaan sembilan tahun lalu, Megane dan Sofyan seringkali bertengkar hanya karena pria itu memberikan perhatian lebih pada Alex. Sang kakek lah yang membuat neneknya membenci Alex. sewaktu masih muda, kakeknya itu menikah lagi dengan wanita lain. Tak lama setelah itu, mereka dikaruniai anak kembar berbeda gender.
Sekarang Alexa mengerti mengapa ayahnya menikah lagi, apa yang di perbuat seorang ayah akan berimbas pada anaknya. Ia menjadi pesimis akan hubungannya dengan Keenan. Apakah Keenan akan setia? Atau malah sebaliknya?
Alexa geleng-geleng, menjernihkan pikirannya. "Nggak, nggak, itu nggak boleh terjadi."
"Apa yang nggak boleh terjadi, Lexa?" tanya Athifa menyadarkan lamunan Alexa.
"Nggak, kok, Bu. Aku cuma ... ." Alexa berdiri seraya mengangkat kedua tangan di udara. Ia memandangi langit-langit kamar yang di cat pink pastel itu. "Kangen sama kamar ini."
"Untung Ibu nggak mengubah apapun yang ada di dalam kamar kamu." Athifa tersenyum hangat. "Ibu berharap kamu bahagia selalu, ya, Nak?"
****
Sepasang suami istri itu mondar-mandir dari meja barista ke meja pengunjung Lexa's Coffe Shop. Malam ini, mereka menggantikan Athifa di cafe. Seisi ruangan sangat berisik oleh perbincangan para muda-mudi, sesekali mereka menyeruput secangkir kopi buatan Keenan. Alexa duduk di kursi kosong, gadis itu mengambil napas panjang beberapa kali.
Alexa mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia menemukan sesuatu yang baru semenjak kembali dari Jakarta Selatan, ternyata dirinya adalah anak dari seorang pemilik cafe. Alexa tercengang melihat jejeran lampu yang menggantung di atap. Tak hanya itu, ia meletakkan telunjuknya di dinding dengan ukiran batu bata. Saking takjubnya, bola matanya sampai tak berkedip.
"Mas, boleh minta nomor teleponnya nggak?"
__ADS_1
Alexa menoleh, menatap seorang wanita yang berdiri di depan meja barista. Kalau dilihat-lihat, wanita itu memiliki postur tubuh seksi dengan pakaian baju ketat hingga membuat bokongnya kentara sekali. Tentu sebagai seorang istri, ia tidak bisa diam saja melihat suaminya digoda oleh wanita lain. Alexa menghampiri Keenan, merangkul pundak lelaki itu di depan wanita itu.
Gadis itu berjinjit, menyambar sebelah pipi Keenan dengan satu kecupan manis. "Sayang, aku mau di buatkan kopi."
Keenan terdiam ketika menerima kecupan dari istrinya. Terlebih, Alexa bertingkah sangat manis, nada bicaranya juga terdengar imut. Ia mengulum bibirnya, berusaha menahan tawanya. "Nanti gue bikinin, sekarang duduk dulu. Gue lagi ngelayanin pelanggan."
"No! Mana mungkin gue biarin lo berdua sama." mata Alexa bergerak melirik wanita berambut baby pink itu. Kemudian, ia melemparkan tatapan tajam. "Calon pelakor."
Wanita itu berdehem. "Lah, kok pelakor Mbak? Kan situ duluan yang menggoda masnya."
"Aduh, gimana, ya ... ." Alexa menyelipkan anak rambutnya ke telinga, bermaksud memamerkan cincin pernikahannya.
"Oh, istrinya toh!" Wanita itu langsung paham setelah melihatnya.
Setelah pertengkaran kecil itu, wanita tadi meminta maaf kepada Alexa karena sudah lancang menggoda suaminya. Keenan benar-benar gemas melihat tingkah laku sang istri. Baru kali ini ia merasa dicemburui.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Para pengunjung berhamburan keluar cafe. Alexa mengelap satu persatu meja, sedangkan Keenan mencuci piring dan gelas kotor bekas pengunjung. Mereka berdua saling mencuri pandang, sebenarnya Alexa malu sudah bertingkah seperti tadi.
"Lo cemburu?" tanya Keenan memastikan. Ia mengelap telapak tangannya yang basah.
"Ya ... Gue nggak suka aja lo deket-deket sama cewek itu. Mana pakaiannya ketat banget. Gue yakin lo pasti tergoda, kan?"
Keenan berjalan mendekat, lalu ikut duduk di sebelah Alexa yang berdiri. Ia melipat kedua tangan di dada, sembari memperhatikan gadis itu yang masih fokus mengelap meja.
"Mana mungkin. Gimana gue bisa tergoda, sedangkan di depan gue ini ada cewek yang lebih cantik dari cewek tadi."
__ADS_1
"Iyain aja, deh, dari pad—"