
"Semua bukti udah di kumpulkan. Besok, lo berdua bisa serahin ini ke meja pengaduan. Oh, ya, satu lagi." ucap Regan pada Alexa dan Keenan. Lelaki itu beralih menatap Ilona yang duduk di hadapannya, tepatnya di sebelah Alexa. "Lo ini saksi pertama, jadi, lo harus ceritain gimana kronologinya."
Ilona menoleh ke arah Alexa, satu tangannya memegangi luka di sudut bibirnya. "Lo yakin mau denger ini, Lex? Gue tau dari Pak Regan. Kalau ... Alex temen sekelas kita, saudara kembar lo."
"Nggak apa-apa. Ceritain aja, lagi pula, gue udah tau kejahatan Alex." jawab Alexa.
Ilona menghela nafasnya, hingga akhirnya ia menjelaskan bagaimana kronologi kejadian pembunuhan yang dilakukan Alex. Regan meletakkan ponsel di atas meja, detik demi detik, menit demi menit, tertera di layarnya. Ya, Regan merekamnya untuk dijadikan sebagai barang bukti, nantinya rekaman tersebut akan di pindahkan ke satu ponsel agar bisa di serahkan ke meja pengaduan.
"Tulisan Alex bisa menjadi bukti kuat, ini bakal di salin ke surat dakwaan." kata Keenan meletakkan selembaran kertas di meja.
Setelah mendengar kesaksian Ilona, membaca selembaran kertas bertuliskan pengakuan Alex, Alexa menahan napas seraya berpindah ke kursi kosong yang berada di belakangnya. Barulah ia membuang napasnya melalui mulut. Sadis dan kejam. Hanya itu yang bisa ia pikirkan tentang saudara kembarnya.
Keenan bangkit dari kursi, lalu mendekap Alexa dengan posisi berdiri. Menenangkan istrinya agar tetap kuat menerima kenyataan bahwa Alex adalah seorang pembunuh berantai. Ia berharap setelah masalah ini selesai, tidak akan ada lagi pembunuhan atau pelecehan seksual di kotanya.
"Ilona, mana jaket gue?" kata Regan datar menatap Ilona. Ia menagih jaket jeans miliknya yang terkena muntahan gadis itu, sekaligus memecahkan suasana keheningan malam.
Ilona cengengesan, kemudian mengalihkan pandangan ke arah Alexa dan Keenan. "Masalah ini lagi ... Hmmm, jaket Bapak udah saya cuci."
"Ya, terus? Sekarang mana?" Regan mengulurkan telapak tangan di hadapan Ilona.
"Tapi ... Jaket Bapak luntur." Setelah mengatakan itu, Ilona mengulum bibirnya. Memejamkan mata, menyiapkan diri bila Regan akan memarahinya karena perkara jaket jeans.
"Heh, Upil Gajah. Lo tau harga jaket itu? 500 ribu! Bayangin aja gimana susahnya gue kerja keras selama tiga bulan cuma buat beli jaket itu. Ya, emang bisa langsung beli, tapi gue juga harus kirim uang buat nyokap gue di Surabaya, belum lagi bayar sekolah adik-adik gue." jelas Regan panjang lebar.
Ilona membuka mata, memberanikan diri memandang lawan bicaranya. Jangan pikir gadis sepertinya tidak memahami perkataan Regan. Ia sangat memahaminya. Memang tak mudah membeli segalanya, apalagi membelinya menggunakan uang sendiri.
"Kalo begitu ... Saya bakalan ganti rugi, dua kali lipat." Ilona menopang dagunya dengan satu tangan. "Mulai hari ini saya resmi jadi waiters di Lexa's Coffee Shop."
__ADS_1
Alexa melongo mendengarnya. "Lo serius? Mau kerja di sini?"
"Gue serius. Yang penting, masalah perjaketan ini selesai." jawab Ilona, matanya terus memandangi Regan.
Keenan mendekatkan diri pada Alexa, seraya berbisik di telinga gadis itu. "Apa lo yakin dia bisa?"
"Maybe or not, kita percayakan aja semuanya sama Ilona." Alexa tersenyum. Namun sesaat, ekspresinya kembali datar.
*****
Beberapa Minggu telah berlalu. Setelah menyerahkan semuanya ke meja pengaduan, menunggu putusan pengadilan, akhirnya hari ini tiba juga. Panitera pengganti, jaksa penuntut umum, penasehat hukum dan pengunjung sidang, terutama Megane dan Athifa memasuki ruangan.
Tak lama kemudian, seorang panitera pengganti dengan lantang berteriak. "Hakim/majelis hakim memasuki ruang sidang, hadirin dimohon untuk berdiri!"
Seluruh hadirin yang ada langsung berdiri, seiring Sofyan Wijaya bersama majelis hakim berjalan masuk dan duduk di bangku masing-masing. Panitera pengganti pun mempersilahkan para hadirin duduk kembali. Sofyan memastikan apakah penuntut umum siap menghadirkan terdakwa, pertanyaan itu diiyakan oleh si penuntut umum.
Tak lama, petugas kepolisian membawa Alex ke ruang sidang dan mempersilahkannya duduk di kursi pemeriksaan.
Sofyan berdehem. "Terdakwa Alexander Wijaya, apakah dalam keadaan sehat dan siap mengikuti persidangan?"
Para hadirin cukup terkejut mendengar Sofyan menyebutkan nama terdakwa. Sedikit dari mereka ada yang tidak menyangka, sebagiannya hanya bereaksi biasa-biasa saja.
"Bisa, Yang Mulia." jawab Alex sembari mengangguk.
"Saya mengingatkan kepada terdakwa Alexander agar memperhatikan segala sesuatu yang di dengar dan dilihat dalam persidangan ini." Sofyan menghela nafas sejenak. "Apakah terdakwa didampingi oleh penasehat hukum?"
"Ya, Yang Mulia." Alex menoleh ke arah Ricky, seorang penasehat hukum yang akan mendampinginya selama persidangan.
__ADS_1
Sofyan selaku hakim ketua bertanya kepada Ricky. "Apakah benar dalam sidang ini kamu bertindak sebagai penasehat hukum terdakwa?"
"Benar, Yang Mulia." jawab Ricky.
Sofyan meminta Ricky untuk menunjukkan surat kuasa khusus dan kartu ijin praktek pengacara/advokat. Ricky memberikan apa yang dimintanya, ia mengamati surat tersebut, lalu menunjukkan kedua dokumen itu pada para hakim anggota dan penuntut umum.
Kemudian, Sofyan meminta Alex untuk mendengarkan dengan seksama pembacaan surat dakwaan. "Silahkan dibacakan."
"Baik ... ."
Seluruh hadirin, termasuk Alexa dan Keenan menoleh ke arah pintu masuk. Seisi ruangan menjadi sunyi senyap, jaksa pun tidak melanjutkan kalimatnya lagi. Dari luar ruangan terdengar suara tembakan yang perlahan mendekat. Semuanya berdiri karena sedikit panik.
Dua daun pintu kayu terbuka lebar, seorang pria berpakaian hoodie abu-abu muncul diiringi suara tembakan beruntun terdengar memenuhi ruangan. Keenan menarik tubuh Alexa dan berjongkok di bawah bangku. Seluruh hadirin bersembunyi, menutup telinga rapat-rapat. Peluru dimuntahkan ke arah mereka, lantai yang bersih kini telah kotor oleh cipratan darah.
Puas menghamburkan pelurunya, pria itu membawa paksa Alex keluar dari ruang sidang. Alex meronta-ronta, tetapi pria tersebut membisikkan sesuatu di telinganya hingga ia pasrah ikut bersama pria itu.
Alexa berdiri, menghampiri ayah dan ibunya serta sang nenek. Ia memeriksa denyut nadi mereka satu persatu, apakah masih ada tanda-tanda kehidupan atau tidak. Sesaat kemudian, gadis itu tertegun, tubuhnya terduduk di lantai. Ketiganya sudah berdarah-darah di bagian perut.
"Ibu bahagia bisa melihat kamu lagi, semoga ini bukan pertemuan terakhir kita, ya!"
Tangis Alexa tumpah ruah seketika. Ternyata ini maksud dari perkataan sang ibu waktu itu. Ia meraba telapak tangannya yang baru saja memegang kulit ibu, ayah dan neneknya. Dadanya naik turun dengan nafas menderu. Hatinya sakit memandangi wajah mereka yang sudah tak bernyawa.
Tubuh perlahan hendak jatuh. Beruntung, Keenan segera menangkap punggung gadis itu. Ia memandangi wajah Alexa, lalu mengusap air mata di pipi istrinya. Keenan menengok ke sekitar. Dinding dan kursi sudah di kotori cipratan cairan berbau anyir.
"Kirim ambulans sekarang!" ucap Keenan setengah berteriak panik. Ia menelepon tim medis untuk membawa seluruh korban pembantaian. Keenan menutup teleponnya, ia melihat dompet kulit pria yang tergeletak di dekat kaki korban seorang lelaki.
Keenan mengeluarkan sarung tangan karet di kantung jaketnya, ia meletakkan kepala Alexa di paha. Keenan memakai sarung tersebut di kedua tangan, kemudian meraih dompet itu dan membukanya.
__ADS_1
"Gavin Sanjaya?"
TBC.