
Note: Disarankan untuk membaca sampai akhir bab.
****
Alexa melangkah lebih dekat pada Keenan seraya menggenggam keempat jari lelaki itu. Keduanya melakukan curtsy. Dua sejoli itu mengayunkan kaki ke depan dan belakang secara berulang. Kemudian, Alexa memutar tubuhnya. Mereka berdansa lapangan luas di kelilingi rumput ilalang yang bergoyang karena tiupan angin.
Gadis itu tampak cantik dengan balutan dress hitam berlengan pendek, di bawah roknya terdapat renda bunga. Sementara, Keenan hanya mengenakan kemeja putih dan celana hitam.
Seulas senyum terbit di wajah Keenan. Ia mengusap lembut setiap inci wajah Alexa. "Sampai kapan pun gue nggak akan pernah ninggalin lo. Berapa kali pun lo dalam bahaya, gue akan berusaha nolongin lo."
Alexa menyandarkan pipinya di telapak tangan lelaki di hadapannya. "Makasih, karna lo selalu ada buat gue."
Keduanya tersenyum ceria. Perlahan tapi pasti, Keenan memajukan wajahnya sambil memejamkan mata. Bibir mereka saling bertautan, ******* lembut bibir itu begitu memabukkan. Alexa berpegangan pada pundak Keenan. Kemudian, lelaki itu melepas ciumannya. Napas keduanya saling bertukar di udara.
Bunyi tembakan berdentum keras, dua peluru melesat di punggung Keenan. Pelan-pelan darah keluar di mulutnya. Meski demikian, Keenan masih bisa tersenyum memandangi istrinya. Tubuh Alexa seketika membeku di tempat, bulir air mata menghujani pipinya.
"Ini bukan apa-apa, lo jangan khawatir." ucap Keenan lirih.
"Kenapa lo bisa-bisanya ... Bilang begitu?"
Gavin berjalan sambil menekan tuas trigger, menodongkan senjata apinya ke arah Alexa. Keenan segera mendekap erat gadis itu, menjadikan dirinya sebagai tameng. Beberapa peluru berhamburan keluar, mendarat di punggung Keenan lagi dan lagi.
Darah menyembul dari balik kemeja putih yang Keenan kenakan. Dengan tubuh bergetar, Keenan beringsut ke permukaan rumput dan duduk sebelum terjatuh. Alexa mengelap cairan merah yang merembes di mulut lelaki itu menggunakan rok dress-nya.
"Maaf, maaf ... Gue nggak bisa janji sama diri gue sendiri buat jagain lo, apapun yang terjadi nanti, tolong, ya? Tetap hidup." Setelah mengatakan hal tersebut, Keenan menghembuskan nafas terakhirnya.
"Keenan ... Keenan!" Alexa mengguncang bahu suaminya.
Gavin menarik paksa pergelangan tangan Alexa, menjauhi Keenan. "Semuanya udah berakhir. Hubungan lo sama Keenan cuma sampai di sini. Karna dia udah mati."
"Tutup mulut lo! Gue yakin dia masih hidup!"
__ADS_1
"Sadar, Lexa! Dia itu udah nggak bernafas. Apa yang lo harapkan dari mayat ini?"
"Bajingan lo." umpat Alexa menatap Gavin penuh kebencian.
Alexa melepaskan cengkraman tangan Gavin. Ia merangkak mendekati Keenan yang terlentang lemah tak berdaya. Ia memegang tengkuk leher dan menempelkan telinga di dada suaminya. Denyut nadi dan jantung Keenan tidak bereaksi. Hati Alexa rontok seketika.
Tangisan Alexa makin kencang, dadanya bergemuruh saat itu juga. Ia sudah kehilangan orang tua, ia sudah kehilangan saudara kembarnya, sekarang suaminya pun ikut bernasib sama seperti mereka.
"Bunuh gue sekarang. Itu yang lo mau, kan?" Gadis itu tidak terima, lalu bangkit memukuli pundak Gavin.
"Lo salah besar, Alexa. Setelah gue berhasil bikin lo hidup sendirian tanpa keluarga, gue juga bakal nyusul mereka."
Gavin menempelkan ujung pistol di pelipisnya. Ia tersenyum menatap adik tirinya. Bunyi tembakan kembali terdengar, darah membuncah dari kepala Gavin. Di hadapan Alexa, pria itu ambruk di rerumputan hijau bersama darah yang mengotorinya.
*****
"Kenapa? Lo mimpi buruk lagi?"
Alexa tersentak membuka matanya. Kupingnya tegak setelah menangkap suara seseorang yang tak asing. Alexa menoleh ke samping kanan. Keenan Pratama, suaminya itu masih hidup, bahkan saat ini lelaki itu tengah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Jangan tinggalin gue. Pokoknya lo harus tetap sama gue." Tetesan air jatuh di pipi gadis itu. Sungguh ia paling benci hidup sendirian tanpa keluarga.
Keenan memangku bokong Alexa di pahanya, mengusap-usap pucuk kepala istrinya. "Iya, gue janji nggak akan tinggalin lo. Udah, ya? Itu kan, cuma mimpi."
Meski demikian, beberapa orang ada yang menganggap mimpi akan menjadi kenyataan, ada pula yang hanya menganggapnya sebagai bunga tidur. Alexa pun berpikir mimpinya hanya sebatas bunga tidur saja. Namun, dadanya masih terasa sakit.
Jemari Alexa menyapu lembut pipi Keenan. Sekilas, ia mengecup bibir Keenan. Alexa mengatupkan mulutnya. Sesaat lelaki terdiam, kemudian membaringkan tubuh Alexa di atas tubuhnya. Alexa memalingkan wajah ke arah pintu.
"Mata lo bengkak. Apa sesakit itu kalo gue nggak ada?"
Tak lama, terlihat cahaya dari sebuah ponsel di tangan Keenan. Sementara itu, tangan Keenan satu lagi meraih jemari Alexa. "Lo bisa liat gue?"
__ADS_1
Alexa mengangguk. Ia membelalakkan mata, teringat Raje yang berada di seberang kamar mereka. "Raje. Dia pasti ketakutan."
Benar juga, bagaimana jika bocah itu terbangun dan berjalan sendirian di ruangan gelap? Keduanya tergesa-gesa menuruni ranjang. Alexa memeluk erat lengan Keenan. Mereka berjalan pelan-pelan hanya dengan modal cahaya dari ponsel Keenan.
Namun, baru beberapa langkah, mereka dikagetkan oleh bunyi pecahan kaca jendela yang dipukul menggunakan benda tumpul. Suaranya terdengar dari lantai satu. Alexa mengunci pintu kamar Raje dari luar kamar, lalu berjalan mengendap-endap menuruni anak tangga.
"Jangan-jangan itu maling lagi?" bisik Alexa.
"Halah, palingan kucing." seloroh Keenan.
Mereka telah sampai di ruang tengah. Keenan menyorotkan cahaya di ponselnya ke seluruh ruangan. Kaca jendela di kedua sisi pintu memang tampak sedikit pecah. Mereka melangkah ragu-ragu mendekati pintu dan menarik gagangnya. Tiang lampu jalanan tampak menyala, seluruh rumah warga pun tidak padam listrik.
Keenan membalikkan badan hendak kembali masuk ke dalam. "Curiga gue."
"Kak Keenan di belakang!"
Spontan Keenan berbalik, menahan pisau yang hampir menusuk bahunya. Seorang pria berhoodie hitam tiba-tiba datang dari arah samping, mengacungkan senjata tajam pada Keenan. Beruntung, Alexa sigap memberi tahu lelaki itu.
Tenaga perampok itu lebih kuat dibandingkan dengan Keenan. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menahan benda tajam itu agar tidak mengenai dirinya. Namun, ujung pisaunya menggores bawah telinganya.
"Rampok! Tolong ada rampok!"
Perampok itu berlari ketika Alexa berteriak meminta tolong kepada warga. Orang-orang berhamburan keluar rumah, kala mendengar suara cempreng gadis itu. Sebagian dari mereka mengejar perampok tersebut bersama seorang satpam.
Alexa membuka telapak tangan Keenan. Goresan pada tangan Keenan tidak terlalu dalam, tetapi lukanya terus mengeluarkan darah. Seluruh ruangan kembali terang saat Alexa menyalakan lampu sekring. Kemudian, ia menarik sebelah tangan Keenan, mendudukkan suaminya di sofa tunggal.
Gadis itu berjalan mengambil kotak p3k di lemari kitchen set atas. Tangannya tidak sampai, ia berjinjit. Terlambat, Keenan sudah meraihnya terlebih dahulu.
"Gue nggak apa-apa, ini cuma luka kecil."
Alexa menoleh, melihat darah di telinga dan tangan suaminya, Jantungnya berdebar cepat, ia menghela nafas panjang. "Gue takut. Takut lo kenapa-napa."
__ADS_1
"Sekarang tenang, gue baik-baik aja. Okey?" Keenan menarik lengan gadis itu ke pelukannya.
TBC.