Lelaki Pilihan Orang Tua

Lelaki Pilihan Orang Tua
Kematian Alexa


__ADS_3

Alexa bangkit, lalu duduk sebentar. Kepalanya terasa di hantam benda tumpul berkali-kali di sisi kanan kiri. Padahal seingatnya, ia sedang berada di belakang Ilona, mengejar berhoodie hitam itu bersama sahabatnya. Namun, seseorang menarik pergelangan tangannya dan menancapkan jarum suntik di pundaknya. Setelah jarum tersebut menembus kulit, ia merasa kelopak matanya berat seperti mengantuk.


Alexa memandang ke sekeliling. Ruangan tempatnya berada saat ini begitu pengap. Tidak ada pencahayaan sedikit pun, hanya sinar matahari yang masuk melalui jendela kecil. Ia menarik gagang pintu yang langsung mengarahkannya ke ruang tengah.


Detik kemudian, keluarlah seorang pria dari dalam kamar mandi. Alexa tertegun melihat pria di hadapannya.


"Lo udah sadar? Untuk kedua kalinya lo kecelakaan. Lain kali, lo harus hati-hati." tutur Gavin.


"Kecelakaan?"


"Iya," Gavin mengambil ponselnya di saku belakang celana dan menyodorkannya. "Nih, ambil. Lo harus kasih tau suami lo, kan?"


Ragu-ragu, Alexa meraih ponsel di tangan pria itu. Alih-alih memberi, Gavin malah melempar ponselnya ke kolong sofa panjang. Kemudian, Gavin melebarkan senyumnya. Alexa mendelik curiga. Ia perlahan memundurkan langkah, lalu berbalik meraih gagang pintu.


Senyum Gavin memudar. Dengan santai, ia menghampiri Alexa, menarik ujung rambut gadis itu dan menghentakkan dahinya di pintu. Tidak hanya sampai di situ, Gavin menyeret tubuh Alexa hingga tersungkur.


Gadis itu meraih pisau di meja dapur, kemudian menodongkannya ke arah Gavin. "Tolong lepasin gue, dan serahin diri lo ke polisi."


"Serahin diri? Jangan harap." Gavin memegang gagang benda tajam itu dan mengarahkannya ke jantung Alexa. Giginya berkertak seiring Gavin mendorong pisau di genggaman tangannya. "Jujur, gue nggak mau ngelakuin ini. Tapi, kalo lo begini. Gue jadi berubah pikiran."


"Aakhh ... ." Sekuat tenaga Alexa menahan ujung pisaunya.


Gavin menancapkan pisau di paha Alexa. Gadis itu terduduk di lantai, sedikit demi sedikit darah merembes keluar membanjiri lantai. Alexa tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan senjata tajam itu tertinggal di pahanya, karena kalau di cabut, darah akan semakin mengalir di area kulit yang terluka.


Darah mengotori lantai tatkala Alexa menyeret tubuhnya. Ia memilih kembali ke ruangan tadi, lalu menutup pintu rapat-rapat. Alexa meraba saku celana. Beruntung ia selalu mengutamakan benda paling penting yang harus di bawa ke mana pun. Segera Alexa menekan nomor Keenan, memberitahu keberadaannya pada sang suami. Tak lama telepon tersambung.


"Alexa, lo di mana sekarang?"


"Gue nggak tau sekarang ada di mana. Tapi yang jelas ... Gavin nyulik gue ke suatu tempat." ucap Alexa sembari menekan pahanya pelan-pelan. "Kak, ada pisau di paha gue. Darahnya nggak mau berhenti keluar."


"Dengerin gue, jangan tutup teleponnya, okay? Gue sama yang lain segera ke sana sekarang."

__ADS_1


"Iya ... Kak."


Alexa memandangi kuku-kukunya yang memutih. Ia merasa tubuhnya dingin seperti sebongkah es. Kedua matanya terasa berat sekali. Keenan memperingati Alexa untuk tidak menutup mata. Ucapan itu selalu ia dengar selama telepon masih tersambung. Darah menyembur mengotori celana putihnya.


Derap langkah kaki terdengar di luar ruangan. Pintu terbuka lebar, Gavin berjalan mendekat ke arah Alexa. Gavin meletakkan kaki di lutut Alexa, menginjaknya sekeras mungkin. Suara jeritan gadis itu memenuhi ruangan.


Gavin berjongkok di hadapan Alexa, jemarinya mengusap lembut wajah pucat adik tirinya. "Lo harus jadi milik gue, kalo lo mati pun, gue nggak akan biarin lo ke mana-mana."


Dengan penuh gairah, Gavin melahap brutal bibir gadis itu. Alexa sudah tidak mempunyai cukup tenaga lagi untuk melawan lelaki di hadapannya. Ciumannya turun ke leher. Sudah lama ia menantikan momen ini, menjerat Alexa berada di bawah kungkungannya.


"Sialan! Jangan macem-macem sama istri gue, lepasin dia sekarang!" suara amukan Keenan terdengar di ponsel Alexa yang terletak di samping.


"Kalo gue lepasin, lo mau apa?"


Suara bantingan pintu menggema, membuat Gavin menghentikan aktivitasnya. Terpaksa ia harus memeriksa keluar. Sebelum gagang pintu diraih, Keenan sudah mendobraknya terlebih dulu. Melihat wajah pucat Alexa dengan bibir membiru, amarah terpancar di wajah Keenan.


"Brengsek lo!" Keenan tak bisa menahan dirinya, hingga tendangan bertubi pun melayang di tubuh Gavin. Pria itu meringkuk di lantai.


Dimas benar. Keenan segera menghampiri Alexa, memeriksa suhu tubuh dan denyut nadinya. Tubuh gadis itu semakin mendingin, denyut nadinya melemah. Aparat kepolisian mengamankan Gavin, sementara tim paramedis mendorong brankar lipat. Hitungan ketiga, mereka mengangkat Alexa ke atas brankar.


Di dalam ambulans, salah satu tim paramedis memasangkan ventilator di mulut Alexa. Keenan menggenggam erat jemari istrinya dan meletakkannya di bibir.


"Gue mohon lo bertahan. Lo harus tetep ada di sisi gue."


****


Setengah jam berlalu, dokter tak kunjung keluar dari ruang operasi. Keenan sudah menunggu lama sedari tadi di kursi tunggu, sembari berdoa untuk keselamatan istrinya. Lampu di atas pintu masuk meredup, yang artinya operasi telah usai. Dua daun pintu terbuka lebar, tiga perawat mendorong ranjang rumah sakit keluar ruangan.


Keenan menghampiri ranjang tersebut, kain putih menutupi seluruh tubuh seseorang yang berbaring di atasnya. Dokter menyatakan pasien bernama Alexa meninggal dunia akibat pembuluh darahnya pecah.


"Dokter nggak salah sebut nama, kan?" tanya Keenan yang menunggu jawaban sang dokter.

__ADS_1


Dokter itu menggelengkan kepala. "Tidak, Mas. Kami benar-benar sudah memeriksanya."


Dada Keenan sesak seketika. Air matanya langsung berjatuhan di kain putih yang menutupi jenazah Alexa.


"Masnya kalo boleh tau siapanya pasien?"


"Saya suaminya, Dok."


"Tapi keluarganya bilang Alexa masih lajang."


Seseorang yang dibicarakan dokter tadi pun berlari menghampiri ranjang pasien. Ketika selimut putih di buka, ternyata bukan Alexa istrinya. Namun, orang lain yang kebetulan memiliki nama serupa. Memalukan, Keenan betul-betul malu karena telah mengira wanita itu istrinya.


"Keluarga pasien Alexandra Wijaya!"


Begitu nama sang istri disebutkan, Keenan berbalik. Tiga orang perawat keluar membawa ranjang Alexa. Wajah gadis itu tampak normal pasca operasi pengangkatan benda tajam. Dokter memberitahu kondisi Alexa stabil dan akan dipindahkan ke ruang rawat inap.


Keenan mengecup pipi Alexa. "Makasih, udah bertahan."


Sepanjang malam, mata Keenan terjaga memandangi Alexa. Untuk sementara waktu, gadis itu harus menggunakan kursi roda, paling tidak selama lima belas hari. Untungnya ia datang tepat waktu, jika tidak, mungkin istrinya sudah diperkosa oleh Gavin.


Kedua mata Alexa terbuka. Keenan menggeser kursinya lebih dekat pada ranjang. Gadis itu mengembangkan senyum melihat kehadiran Keenan.


"Maafin gue karna sering ngerepotin lo." ujar Alexa.


Keenan tertawa kecil mendengar ucapan sang istri. "Alexa, ini udah jadi tanggung jawab seorang suami. Jadi, jangan merasa terbebani. Gue nikah sama lo bukan cuma buat senang-senang doang, tapi ... Ada buat lo setiap saat."


Bulir air mata bahagia mengalir di pelipis Alexa. Ternyata orang tuanya tak salah memilihkannya pasangan hidup seperti Keenan. Mungkin ini paksaan terbaik, Alexa akan mencoba mencintai Keenan dengan tulus mulai hari ini.


Makasih, Kak Keen, lo udah hadir di kehidupan gue.


TBC

__ADS_1


__ADS_2