Lelaki Pilihan Orang Tua

Lelaki Pilihan Orang Tua
Putih Nan Mulus


__ADS_3

"Please dengerin gue, jangan percaya sama siapa pun selagi lo nggak yakin. Jangan terpengaruh sama perkataan orang, gue tau lo ini anaknya teliti dalam segala hal. Paham?"


Perkataan Alex membuat Alexa tersadar seketika dari lamunannya. Hampir saja ia hanyut dalam pikirannya sendiri. Saat ini Alexa berada di dalam mobil bersama Ratna dan Gavin. Ia menoleh ke arah kaca jendela. Di kanan kiri terdapat pengendara motor dan mobil berhenti seraya menunggu lampu hijau.


Alexa menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Kenapa bisa gue ikut sama mereka? Ini pasti gara gara gue kebanyakan ngelamun.


"Alexa Sayang, gimana? Kamu seneng ikut sama kita? Ini adalah momen yang paling Mama tunggu setelah sekian lama." tanya Ratna melirik Alexa dari kaca spion tengah.


Dengan geram, gadis itu memaksakan senyum. "Seneng banget, kok, Ma. Apalagi ... Bakalan tinggal satu rumah sama Kak ... ."


"Gavin."


Gavin melanjutkan kalimat Alexa. Ia tahu kalau Alexa masih sulit untuk mengingat nama seseorang, bahkan dengan sesuatu yang pernah dialami gadis itu. Pelaku yang telah menabrak Alexa adalah dirinya sendiri. Awalnya, ia hanya ingin berbelasungkawa atas kepergian siswinya. Namun, tak menyangka akan bertemu saudari tirinya di tempat pemakaman umum.


Pria itu hanya memantaunya dari luar TPU. Setelahnya, mengikuti ke mana mobil Alexa pergi. Tiba di tempat tujuan, Gavin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga menabrak tubuh Alexa.


Alexa menggigiti bibirnya. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya kabur dari dua manusia di hadapannya. Tidak mungkin ia langsung kabur di kemacetan jalan raya. Durasi waktu lalu lintas hanya tinggal dua puluh detik lagi. Alexa meraba-raba kantung baju dan celananya, hanya ada ponsel terselip di kantung celana jeans-nya.


Dahi gadis itu berkerut. Tapi kalo dipikir-pikir, bukannya bagus kabur di saat macet kayak gini?


Alexa mendorong pintu mobil. Sialnya malah terkunci. Gavin yang sadar akan hal itu, hanya terkekeh melihat usaha Alexa. "Lo mau berusaha kabur dari gue? Nggak akan bisa."


"B-bukan itu masalahnya." Alexa merapatkan kedua kakinya, lalu memegang bawah perutnya. "G-gue ... Kebelet buang air kecil. Udah di ujung soalnya."


"Vin, kamu biarin aja dia. Dari pada dia ngompol di mobil, nanti yang ada bau pesing." usul Ratna. Alexa mengangguk setuju.


Gavin menarik napas berat. "Ya, udah. Buruan, jangan lama-lama."

__ADS_1


Begitu Gavin menekan tombol untuk membuka kunci pintu, Alexa berlari keluar mobil, bersamaan dengan lampu lalu lintas yang sudah menghijau. Satu persatu pengendara bermotor mau pun mobil melaju. Alexa terus mempercepat langkah kakinya ke depan trotoar jalan. Ia melihat tiang papan nama jalan. Kebayoran Lama Selatan.


"Terus gue harus ke mana sekarang? Gue bahkan nggak kenal daerah sini."


Alexa melangkah tanpa tujuan, warga Jakarta Selatan menandinginya keheranan. Ia celingak-celinguk memperhatikan sekeliling jalan raya, seolah tersesat di tempat asing. Padahal, di sinilah ia dilahirkan. Bulir bening mulai mengucur di dahinya. Makin lama berlari, napasnya makin tersengal.


Gadis itu memutuskan berhenti sejenak. Alexa menarik napasnya secara perlahan dan menghembuskannya. Ia melihat Hoodie berdiri di seberangnya. Kemudian, berjalan ke arahnya sambil merentangkan satu tangan.


"Alexa! Jangan lari lo!"


Beberapa anak buahnya Gavin berlarian mengejarnya. Hoodie segera menggenggam erat tangan Alexa hingga tubuhnya tertarik. Hoodie memancing beberapa tersebut ke gang sempit yang hanya bisa dilalui satu orang, agar mereka tak mempunyai celah untuk merebut Alexa.


"Tetep di belakang gue." perintah Hoodie.


Alexa memundurkan tubuhnya. Sementara, kedua tangan Hoodie berpegangan pada tembok pembatas antara rumah warga dan gang. Lelaki itu menangkap pergelangan tangan musuhnya, kemudian mendaratkan pukulan di wajah beberapa orang itu dengan siku lengannya. Jurus itu terus ia lakukan sampai anak buahnya Gavin terkapar di permukaan tanah.


"Serahin cewek itu kalau lo mau selamat." ucap salah satu dari mereka.


Secara diam-diam, gadis itu membuka ponselnya, mencari klakson sirine polisi melalui Google. Di sebelah kiri Alexa ada seseorang yang berjalan mengendap-endap, tangan lelaki itu sudah mengangkat pisau tajam hendak menikam punggungnya. Secepat kilat, Hoodie menangkap pisau yang hampir mengenai gadis itu. Derasnya darah bercucuran ke aspal.


Refleks, ujung jari Alexa menekan klakson sirine polisi di ponselnya. Anak buahnya Gavin kelabakan mendengar suara tersebut, mereka melarikan diri sebelum petugas kepolisian berdatangan.


"Tangan lo."


Alexa panik melepas outer-nya yang sedikit longgar. Ia melebarkan telapak tangan Hoodie dan menghentikan pendarahannya dengan kain putih berbahan katun halus. "Jangan salah paham. Gue ngelakuin ini karna lo udah nolongin gue."


"Apapun itu. Yang penting lo nggak kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Sini ikut gue."


Tubuh Hoodie digiring menuju toserba di pinggiran trotoar jalan. Alexa mendudukkan lelaki itu di kursi, lalu masuk ke toko serba ada untuk membeli cairan alkohol dan kapas. Tak lama kemudian, ia kembali membawa benda yang dibelinya. Alexa mengobati luka pada kulit tangan Hoodie.


"By the way, lo nggak penasaran sama muka gue?" tanya Hoodie memastikan.


"Ngapain gue penasaran sama muka lo? Kenal juga kaga." jawab Alexa, matanya masih fokus pada telapak tangan lelaki itu.


Hoodie tertawa kecil. "Lo tuh, selalu penasaran sama gue sebelum hilang ingatan. Apalagi lo lebih nyaman sama gue, dari pada sama suami lo."


Semilir angin berhembus, menerbangkan beberapa helai rambut Alexa hingga menutupi wajahnya. Hoodie segera menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah istrinya.


"Awalnya gue mau jagain lo dari jarak jauh, tapi ternyata setelah dipikir-pikir ... Gue nggak bisa." Sembari tersenyum dengan jarak yang begitu dekat dengan Alexa. Posisi Hoodie sekarang ini sedang duduk di bangku plastik, sementara Alexa duduk di hadapannya masih sambil mengobati lukanya.


Alexa mengangkat kepala. Seketika kepala Hoodie terdorong untuk kedua kalinya, dagunya dan kepala gadis itu hanya berjarak satu jengkal. Spontan Alexa menarik kain hitam yang menutupi sebagian wajah Hoodie.


Kini, terpampang jelas wajah itu di depan mata. Alexa merasa tak asing ketika memandanginya. Ia mengulurkan tangan, meraba-raba kulit putih bersih nan mulus serta mengusap bibir Hoodie. Tidak ada satu pun ingatan yang terlintas tentang lelaki di hadapannya ini.


"Lo siapa? Kenapa lo kenal sama gue? Atau jangan-jangan yang di bilang sama cowok itu bener, lo mau ngebunuh gue setelah ini?" Alexa tak habis pikir. Ia makin lekat memandangi Keenan Pratama yang berstatus sebagai suaminya. Namun, ia tak ingat akan hal itu.


"Gue Keenan Pratama. Suami lo." Keenan menggeser bangku plastik yang diduduki gadis itu agar mendekat padanya. Keenan menyandarkan kepala Alexa di bahunya. "Jangan pikirin apapun, nanti kepala lo sakit lagi."


Mereka tak menyadari keberadaan Gavin dan Ratna di seberang jalan, memantau dua sejoli itu dari dalam mobil. Pria itu menghubungi anak buahnya, sedangkan matanya masih tertuju pada Alexa dan Keenan.


"Kalian harus bawa Kenzo ke hadapan gue." perintahnya. Kemudian, memutuskan sambungan telepon. "Kenzo Pratama ... Si autis itu ternyata udah keluar dari rumah sakit."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2