
25 April 2014, Jakarta Selatan.
"Gue bingung deh, kenapa bisa di sekolah kita ada siswa kaya Kenzo. Bener, nggak?"
"Ganteng sih, tapi ... Autisme."
Seseorang yang dibicarakan siswi-siswi tadi berjalan melewati mereka, dengan tatapan datar tanpa menunjukkan emosi, sembari memeluk beberapa buku di dadanya. Lelaki berseragam putih abu-abu itu memasuki kelas, lalu duduk di pojok kanan barisan paling belakang.
Kenzo Pratama, saudara kembar Keenan Pratama. Ia berbeda dari saudaranya. Kenzo tidak terlalu banyak bicara, jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, bahkan selalu dianggap remeh karena kekurangannya. Perilakunya masih terbilang seperti orang normal pada umumnya, hanya saja ia tidak memiliki minat bersosialisasi.
Meski mereka kembar, Kenzo tak pernah menunjukkan Keenan pada siswa-siswi di sekolahnya. Alasannya, tidak ingin membuat pemuda itu merasa terkucilkan karena mempunyai saudara kembar sepertinya. Mereka tidak satu sekolah. Narendra Pratama pernah memasukkan Kenzo ke SLB. Namun, lingkungan di sana terlalu agresif sehingga berdampak buruk padanya.
BRAK!!
"Mana yang namanya Kenzo!"
Teriakan diiringi bantingan pintu menggema di ruangan, membuat semua orang terlonjak kaget. Salah satu siswa segera merengkuh kerah seragam putih Kenzo, menyeretnya ke hadapan Gavin Sanjaya dan dua kawannya. Pemuda dengan dua kancing baju terbuka itu melemparkan buku di kepala Kenzo.
"Kerjain tugas gue, sampe selesai!"
Kenzo bangkit seraya memajukan kacamata kotaknya yang mengendur. Kemudian, duduk kembali di tempatnya. Ia benar-benar mengerjakan tugas Gavin hingga selesai. Pemuda itu memang dikenal berperilaku tidak menyenangkan baik secara verbal atau pun fisik.
Setelah menyelesaikan tugas tersebut, Kenzo memberikannya pada Gavin. "Sekarang, beliin makanan. Pake uang lo."
"Tapi uang gue buat di celengin. Kata Om nggak boleh buang-buang uang." jawab Kenzo, nada bicaranya datar seperti robot.
Gavin tertawa terbahak-bahak. "Ya, itu urusan lo. Sekarang cepetan beliin gue makanan. Gue mau mie—"
Pemuda itu langsung pergi menuju kantin tanpa mendengarkan penjelasan Gavin terlebih dahulu. Tak ada yang bisa dilakukan selain menuruti manusia bernama Gavin. Kenzo terpaksa harus merelakan uang 50 ribu rupiah untuk membayar makanan Gavin dkk. Uang selembaran kertas senilai 50 ribu rupiah itu ludes dalam hitungan menit, Kenzo membelikan banyak makanan ringan.
__ADS_1
"Gue bilang mie ayam. Bukan roti, makanya kalo orang ngomong itu di dengerin!"
Gavin melampiaskan amarahnya pada Kenzo, menendang perut pemuda itu bersama dua kawannya. Itu belum cukup membuat amarahnya reda. Gavin memasukkan roti ke dalam mulut Kenzo secara paksa. Ketiganya tertawa puas sedangkan Kenzo kesusahan mengunyah. Jangankan mengunyah, menelan saja butuh waktu beberapa detik.
"Kalo besok lo ngelakuin kesalahan yang sama. Gue hukum lo lebih dari ini." Gavin menarik rambut Kenzo. Bola matanya melotot menatap wajah pemuda di hadapannya. "Paham, nggak?!"
"Kalo besok lo ngelakuin kesalahan yang sama, gue hukum lo lebih dari ini." Kenzo tak menjawab, tetapi ia mengulangi perkataan Gavin. Pemuda itu mengayunkan tubuh ke depan dan belakang.
Bukannya mereda, justru emosi Gavin makin memuncak. Ia meraih batu bata merah yang ada di sekitarnya, memukuli pemuda tersebut habis-habisan. Tentu Kenzo tidak tinggal diam, ia membalas perlakuan Gavin dkk padanya, memukuli wajah mereka bertiga sampai lecet dan bengkak serta tampak biru lebam.
Selama ini, Narendra dan Keenan selalu memperlakukannya dengan baik. Namun, orang lain malah sebaliknya, memperlakukannya semau dan seenak jidat mereka. Ia tersinggung karena ucapan Gavin yang seolah menganggapnya sebagai pesuruh.
Sejak saat itu pihak sekolah resmi mengeluarkan Kenzo dari SMA Aksara Bangsa. Setelah itu, ia menjalani psikoterapi terapi kognitif atau CBT (cognitive behavioural therapy) bertujuan untuk melatih berpikir atau fungsi kognitif dan cara bertindak anak dengan autisme. Paman bahkan saudara kembarnya tidak mengetahui penyebab kondisi Kenzo yang tiba-tiba berubah drastis.
****
"Kok, bisa-bisanya ada cewek yang mau sama dia?" Gavin memijat pelipisnya dengan tangan seraya tertawa meremehkan. Saking masih tak percayanya, ia menggelengkan kepala. "Yang pantes bersanding sama Alexa cuma gue, bukan dia."
"Maaf, Bos, tapi ... Menurut penglihatan saya, orang yang Bos maksud bukan Kenzo. Dia Keenan Pratama."
Gavin tersentak, tidak ada lagi tawa yang keluar dari mulutnya. Ia mengangkat kepala, menatap anak buahnya itu dengan tatapan datar. "Keenan Pratama? Dari mana lo tau?"
Anak buahnya itu mulai menjelaskan. Ia diam-diam mencuri dompet dari kantung saku celana Keenan, guna melihat kartu tanda pengenal lelaki itu. Setelah mengetahui identitasnya, pemuda tersebut mengembalikan dompet Keenan dengan dalih terjatuh di jalanan.
Gavin menghentakkan kukunya di meja berlapis kaca tebal. "Jadi, mereka udah nikah? Itu artinya ... Alexa udah nggak perawan?"
"Bisa jadi, Bos. Mana mungkin sepasang suami istri nggak melakukan hubungan intim." celetuk anak buahnya.
"Pantau terus laki-laki bernama Keenan sampai gue kasih perintah. Jangan sampai lo kehilangan jejak dia."
__ADS_1
"Baik, Bos."
Gavin bersandar di kepala kursi kerjanya. Ia memejamkan mata, membayangkan yang menjadi suami Alexa adalah dirinya. Fantasinya semakin liar, semenjak ia menukar boneka panda hari itu. Tidak hanya memuaskannya, Gavin ingin mengontrol pikiran Alexa, melakukan tindak kriminal bersama dan berpesta di club malam.
Sayangnya, anak buah yang diutus lelaki itu tidak berhasil membawa Alexa. Namun, kembali dengan keadaan babak belur. Hoodie—Keenan lagi-lagi menghalangi segala rencananya. Gavin membuka mata begitu menyadari sesuatu.
"Cowok yang gue liat tadi itu ... Pake hoodie abu-abu. Kenapa mirip sama si pahlawan yang gue liat di rumah sa—"
Belum sempat kalimat gumamannya selesai, Gavin terlonjak saking kagetnya, tiba-tiba ia mendengar suara bantingan pintu. Alex muncul dari sana dengan kedua tangan terkepal kuat dan berjalan ke arah meja. Kilatan amarah terpancar dari kedua bola mata pemuda itu.
"Jangan pernah lagi lo sentuh adik gue! Bahkan sehelai rambut pun, gue nggak akan biarin itu terjadi." sergah Alex.
Apa Alex bakalan lebih marah dari ini? Kalau gue kasih tau wanita yang dia liat waktu itu adalah nyokap gue?
Sebelum Gavin memperkerjakan Alex sebagai kaki tangannya, ia harus mengetahui identitas pemuda itu terlebih dahulu. Alex tentu menceritakan latar belakangnya. Ekspresinya biasa saja ketika mengetahui Alex putra kandung Sofyan. Sewaktu Gavin menginjakan kaki di gedung pesta pernikahan sang ibu pun, ia sudah bisa menduganya. Terlihat sekali raut wajah Alex sangat geram waktu itu.
Gavin berdehem sebelum berbicara. "Ya, karna gue suka sama adik lo. Gimana ya, kalau Alexa nikah lagi, dan calonnya itu gue. Pasti dia seneng punya dua suami."
Alex menarik napas kasar. "Gue saranin lo berhenti berkhayal. Bisa-bisa lo jadi gila."
"No, no, khayalan gue ini bakalan jadi kenyataan."
Alex terkekeh geli mendengar perkataan Gavin yang melantur. Ya, anggap saja sekarang ia sedang berbicara dengan orang dalam gangguan jiwa (ODGJ). Tak ada gunanya mengancam pria itu.
Pemuda itu melihat potret foto Keenan dan Alexa bertebaran di meja. Kemudian, beralih pada Gavin. "Jangan bilang, lo ngawasin Alexa?"
Gavin mengangguk, sudut bibirnya tertarik. "Kalo iya, emang kenapa? Lo mau bertindak sejauh apalagi? Gue nggak akan ngelarang lo ngelakuin apapun, sampe Alexa ada di tangan gue."
TBC.
__ADS_1