
Alex menyambar tubuh Alexa, mendekap saudari kembarnya erat-erat. Sebuah peluru menembus kulit punggungnya bertubi-tubi, mengalirkan darah kental kemerahan yang memberikan sensasi luar biasa. Alex makin mengeratkan pelukannya pada Alexa. Suara senjata api itu menggelegar di hutan.
Pemuda itu bisa sampai ke sini karena Dimas. Pria itu menolongnya setelah menghalau anak buahnya Gavin. Namun, ia tak yakin Dimas bisa menghadapi mereka atau tidak.
Alexa memangku kepala Alex di pahanya. Pemuda itu mengembangkan senyum memandang gadis di hadapannya. Alexa melepas hendak melepas jaketnya, bermaksud menghentikan pendarahan pada punggung saudara kembarnya.
"Jangan, biarin gue kayak gini. Percuma ... Toh, gue bakal di hukum mati nantinya ... ." Alex berucap perlahan-lahan. Nafasnya mulai naik turun.
"Nggak! Lo harus tetep hidup, gue nggak mau kehilangan anggota keluarga lagi!" Rasa takut mencengkram ke dalam dada.
"Kan ada Keenan ... ." Alex menggenggam tangan Alexa. "Please, biarin gue pergi, ya?"
Alexa memejamkan mata sesaat. Ia menggeleng cepat mendengar ucapan Alex, seolah pemuda itu sedang berpamitan. Sebelum saudara kembarnya itu menutup mata, Alex memuntahkan darah yang terkumpul di dalam mulutnya.
"Kakak!" Tangis Alexa pecah saat itu juga.
Alexa mendaratkan pukulan bertubi di dada bidang Alex. Sia-sia. Tubuh saudara kembarnya itu tidak menerima respon, perutnya pun tidak bergerak naik turun. Giliran Alexa yang mendekap erat kepala Alex.
Tak lama kemudian, derap langkah kaki menghampiri. Aparat kepolisian perlahan mendekat sembari menodongkan senjata api, salah satu dari mereka mengamati tersangka sebelum menangkapnya. Mereka menurunkan senjata masing-masing, melihat ceceran darah di dedaunan kering yang berserakan.
Alexander Wijaya, tersangka yang menjadi buronan polisi tewas tertembak.
"Alexa." Keenan segera membantu Alexa berdiri. Dengan lembut, ia mengelus punggung gadis itu guna menenangkannya. "Ada gue di sini."
Mendengar kata penenang dari Keenan, bukannya tenang, air mata Alexa justru semakin mengalir. Sekarang ia hanya memiliki Keenan di sisinya.
Dua orang aparat kepolisian meraih senjata api dan belati yang tergeletak di sekitar tersangka. Sidik jarinya tidak akan tercampur dengan sidik jari Gavin, karena ia sudah mengenakan sarung tangan kulit. Setelahnya, polisi tersebut menaruh barang bukti di dalam plastik. Mereka pun akhirnya memborgol kedua tangan Gavin dan membawanya.
"Tunggu, tunggu!" Alexa berlari menghalau dua aparat kepolisian yang hendak membawa Gavin. "Balikin keluarga gue, balikin!"
Melihat air mata Alexa yang tiada hentinya mengalir di pipinya, Gavin sedikit tersentuh. Refleks, ia menjatuhkan kedua lututnya di hadapan Alexa. Menyesali perbuatannya, meminta gadis itu agar memaafkannya sebelum ia di bawa ke kantor polisi.
__ADS_1
"Bawa dia pergi dari hadapan saya, Pak."
Dua polisi itu menarik lengan Gavin, menggiring pria itu pergi keluar hutan.
Sepeninggal Gavin, salah seorang dari kepolisian membawa tandu. Tubuh Alex di angkat dan ditutupi dengan kain putih, mereka berjalan menggotong tandu itu pergi menjauhi TKP. Sebagian aparat kepolisian memberikan tanda garis polisi, agar tidak ada sembarang orang yang melewatinya.
Keenan menatap wajah Alexa, terdapat sayatan kecil dan darah kering di kedua pipi gadis itu. Ia menarik resleting jaketnya, mengambil hansaplast di sakunya. Untung saja ia selalu siap sedia hansaplast. Keenan menempelkannya di bagian wajah Alexa yang terluka.
Keenan mendengar deru nafas Alexa. Ia mengulas senyuman di bibirnya. "Tarik nafas, buang. Ayo, lakuin. Lo pasti bisa."
"Sakit ... ." Isak Alexa, segera ia memeras kaus Keenan. Gadis itu menundukkan pandangan, menyembunyikan wajah basahnya.
Keenan menepuk bahu Alexa pelan-pelan seperti yang dilakukannya dulu. "Gimana kalo lo bantuin gue?"
"Bantuin apa?"
****
Tugas Dimas sudah selesai, pria itu memberikan salam hormat dua jari pada Keenan. Sebaliknya, Keenan pun membalas salam tersebut.
Kini, Keenan dan Alexa memasuki gedung tua. Botol bekas minuman keras tergeletak di lantai, bercak-bercak darah hitam mengotori dinding bercat putih. Sebelum memeriksa sekitar, mereka memakai sarung tangan dan masker. Aroma alkohol serta bau anyir darah begitu menyengat rongga hidung.
"Lo bisa, kan?" tanya Keenan memastikan. Alexa mengangguk mengiyakan pertanyaannya.
Langkah yang tak pernah terlupakan, yaitu memotret kondisi seisi ruangan. Saat sedang asyik memotret, Alexa beralih pada tas besar di kolong meja. Ia menarik tas tersebut keluar dari sana. Beratnya tidak main-main. Kemudian, Alexa membuka resletingnya.
"Kak Keen, gue nemuin sabu-sabu!"
"Sabu-sabu? Mana?" Keenan antusias menghampiri Alexa. Kedua matanya menatap lembut gadis itu. "Tumben? Nggak biasanya lo manggil gue begitu."
Alexa mengedipkan mata, lalu membuang muka. "Udah sana, kerjain tugas lo."
__ADS_1
Tas besar itu berisi tujuh kantung sabu-sabu yang sudah di kemas dalam plastik berukuran satu kilogram. Ini baru bukti pertama, selanjutnya mereka menggeledah seisi ruangan. Keenan menemukan beberapa emas batangan asli di laci lemari pakaian.
Selain itu, Alexa menemukan ruangan khusus dengan lampu merah. Di dinding, tertempel beberapa foto korban yang sudah di tandai bercak darah. Yang artinya mereka sudah mencapai target. Ada foto Ilona dan orang tuanya juga di sana. Namun, karena Ilona berhasil selamat, Gavin merobek sebagian fotonya.
"Tenang, Bu, Yah. Aku pastiin Gavin di hukum mati." Alexa menghela nafas panjang.
Setelah semua penyelidikan selesai, Keenan memberi garis polisi di ambang pintu masuk. Mereka telah mengumpulkan sejumlah barang bukti yang ditemukan, foto-foto tadi pun Alexa cabut. Sekarang waktunya mereka pulang dan beristirahat sebelum menyambut hari selanjutnya.
****
Lima hari kemudian, berita penangkapan tersangka kasus pembantaian hari itu telah tersebar di berbagai channel TV. Tak hanya Gavin, Leon dan Nathan pun ikut di tangkap atas kasus pencabulan dan pengedaran narkoba. Saat ini Alexa dan Keenan hadir di pengadilan negeri untuk mendengar putusan hakim, mereka duduk di bangku barisan depan.
Suara ribut para hadirin dan keluarga dekat korban memenuhi ruang sidang. Mereka berbondong-bondong menyuarakan hak asasi keadilan terhadap korban. Meminta Gavin di hukum mati secepatnya tanpa menunda waktu.
"Tenang, tenang! Jangan ribut, kita nggak bisa seenaknya menghakimi orang. Keputusan ada di tangan majelis hakim, jadi, tolong jangan ribut." Hakim ketua mengetuk palu satu kali, meminta para hadirin duduk dengan tenang.
"Terdakwa Gavin Sanjaya, apakah ada pembelaan?" tanya hakim ketua pada Gavin.
Gavin melirik Alexa, lalu menggeleng kepala. "Tidak ada, Yang Mulia. Tapi ... Saya mau mengaku."
Pria itu mengakui semua perbuatannya di depan hakim ketua dan seluruh hadirin yang ada. Gavin melakukan pembantaian hari itu karena tak mau Alex membeberkan semuanya. Maka dari itu, ia nekat menembak orang-orang di luar ruang pengadilan dan di dalam, untuk menghentikan sidang tersebut.
Hakim ketua menarik napas panjang, kemudian mengetuk palu sebanyak tiga kali. Gavin menunduk, pasrah akan putusan hakim ketua.
"Dalam Pasal 100 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Pasal 100 Ayat 1 KUHP, Terdakwa Gavin Sanjaya, dan Nathan dijatuhi pidana mati dengan masa percobaan selama 10 tahun dengan memerhatikan rasa penyesalan terdakwa dan ada harapan untuk memperbaiki diri atau peran terdakwa dalam tindak pidana.
Sementara, Terdakwa Leonardo dijatuhi hukuman penjara seumur hidup."
Semua orang bernafas lega mendengarnya, begitu pula Alexa. Kemudian, hakim ketua mengetuk palu lagi sebanyak tiga kali, menyatakan bahwa sidang hari ini ditutup. Panitera pengganti mengumumkan majelis hakim akan meninggalkan ruang sidang, meminta seluruh hadirin berdiri.
Para pengunjung sidang, penuntut umum, penasehat hukum dan terdakwa berangsur-angsur meninggalkan ruang sidang. Gavin, Nathan dan Leonardo di kawal oleh petugas polisi kembali ke sel tahanan.
__ADS_1
TBC.