Lelaki Pilihan Orang Tua

Lelaki Pilihan Orang Tua
Gedung Tua


__ADS_3


Di pedalaman hutan, tampak gedung tua dengan cahaya lampu kuning yang menerangi seluruh ruangan di dalamnya. Dimas mengintip sejenak dari balik pohon tinggi, melihat beberapa orang berkemeja hitam menjaga gedung tersebut. Ponsel di genggaman tangannya terus bergetar, ia melihat nama dan foto seseorang yang meneleponnya.


Della Agustine.


Dimas menolak telepon dari istrinya. Terdapat tujuh belas panggilan tak terjawab tertera di layar ponselnya. Namun, tidak ada satu panggilan pun dari Della yang ia angkat.


"Mas Dimas, Rajendra sakit. Badannya panas, dia terus manggil kamu dari tadi."


Della mengirim video rekaman anak mereka yang merengek memanggil nama ayahnya. Waktunya di tengah hutan tidak banyak, Dimas mengabaikan pesan istrinya, tetapi malah mengirim lokasi tempat gedung tua itu pada Keenan. Ia mulai bergerak menghampiri gedung di depannya.


Orang-orang itu berdiri menghalangi jalannya, masing-masing dari mereka menggenggam tongkat besi. Mereka menghentakkan benda silver itu di tanah sembari menatap Dimas curiga.


"Siapa lo?"


"Gue ... Polisi."


"Hahaha! Mana ada polisi bentukannya mirip kayak kita. Jangan bercanda lo." Salah seorang dari mereka menunjuk Dimas dengan tongkat besi.


Dimas mengibaskan tangan, lalu tertawa renyah. "Ya, kali, gue polisi. Gue kan, anak buahnya Bos Gavin."


Penyamarannya itu berhasil mengelabui mereka. Ia mengetahui lokasi markas mafia dari Nathan, ya, pemuda itu memberitahunya. Lantaran tidak ada cara lain untuk meringankan hukuman penjaranya. Pemuda itu akan di sidang setelah Dimas menemukan Alex dan Gavin.


Dimas masuk ke dalam gedung itu bersama beberapa orang tadi. Matanya melebar kala melihat seorang pemuda terlentang di dinding dengan kedua tangan terikat oleh rantai. Alexander Wijaya. Ya, pemuda itu tampak bertelanjang dada, kulit tubuhnya telah dipenuhi luka cambukan dengan darah kehitaman yang mengering.


Ludahnya seketika turun ke kerongkongan. Salah! Salah besar Dimas mengambil keputusan untuk masuk ke kandang mafia. Kalau keluar pun pasti ia akan di curigai. Perlahan, kepala Alex terangkat, sepasang matanya menatap Dimas seakan meminta bantuan.

__ADS_1


Tenang, gue akan cari cara buat lepasin lo dari sana. Sekali pun dia udah membunuh banyak orang, tapi dia tetep manusia yang harus di lindungi.


"Siapa pun yang berani berhenti jadi anak buah gue, kalian ... Akan bernasib sama seperti Alex." Suara keras Gavin menggelegar di seluruh ruangan. Pria itu menuruni tangga, lalu berhenti di ujungnya. "Minggir kalian!"


Gavin meneguk habis minuman keras di gelasnya. Setelah mengosongkan gelas kaca di genggaman jemarinya, ia melemparnya ke kepala Alex hingga pecahan kaca berjatuhan di lantai. Darah menetes di potongan-potongan kecil itu.


"Hukuman apa yang pantes buat Alex?" Gavin bertanya kepada barisan anak buahnya. Seketika pandangannya tertuju pada Dimas. "Menurut lo, apa hukuman yang setimpal buat Alex?"


Dimas terdiam, sementara Gavin masih menunggu jawaban darinya. Mustahil kalau Dimas mengusulkan siksaan yang pedih dan menyakitkan untuk Alex, ia ini detektif polisi bukan pembunuh. Lelaki dua puluh tujuh tahun itu tetap diam untuk mengulur waktu.


"Kenapa diam? Biasanya kalo di kasih perintah langsung jawab. Apa jangan-jangan ... Lo bukan anak buah gue? Tapi orang luar?" Kedua sudut bibir Gavin merekah, tatapan matanya mendelik Dimas tajam.


DORR!


Sontak tubuh Gavin ambruk di lantai, terduduk dengan memegangi kakinya yang tertembak. Gavin, Dimas, dan yang lainnya menoleh ke arah suara tembakan itu berasal. Bukan Keenan yang datang. Namun, Alexa. Setelah menembak, gadis itu berlari tanpa tujuan.


"Kalian, urus dia! Biar cewek itu jadi urusan gue." Gavin memberi perintah pada anak buahnya untuk menghajar Dimas. Ia berlari terpincang-pincang mengejar Alexa.


Alexa terpeleset di bendungan air becek. Jaket kulit hitam dan celana jeansnya basah. Pistol yang digenggamnya terlempar jauh dari tempatnya tersungkur. Ia berpegangan pada kedua lututnya dan berdiri, mengambil senjata apinya yang tergeletak di bawah pohon. Sinar bulan purnama memantul dari balik dedaunan yang bergoyang tertiup angin.


"Untung aja, gue yang baca pesan Kak Dimas duluan."


Sebelum sampai ke hutan, Alexa iseng memainkan ponsel suaminya. Tak berselang lama, muncul notifikasi pesan dari Dimas yang mengirimkan lokasi markas mafia. Dengan liciknya, ia membawa ponsel Keenan bersamanya menyusul Dimas secara diam-diam. Meski demikian, Alexa tetap menempelkan selembar kertas di pintu kulkas, berharap Keenan membacanya.


"Gue udah pindahin lokasi yang di kirim sama Kak Dimas ke ponsel gue. Bye!" Begini kira-kira isi pesannya.


Alexa celingak-celinguk ke sekitar. Ia membuka selot di gagang pistolnya. Tersisa tiga peluru di dalamnya. Tangannya bergetar merogoh kantung jaket, mengeluarkan stok peluru yang dibawanya. Alexa mengisi peluru sembari melihat ke arah sekitar, memastikan Gavin tidak mengejarnya.

__ADS_1


"Alexa!"


Seperti disambar geledek di malam hari, Alexa membelalakkan matanya dengan sempurna. Alexa merapatkan diri pada pohon, sesekali ia mengintip dari baliknya. Terlihat, Gavin masih berjalan terpincang-pincang, berteriak memanggil namanya. Suaranya membuat burung-burung berterbangan ke langit.


"Alexa! Gue tau lo ada di sini. Keluar lo sekarang juga!" Gavin melirik pohon-pohon yang ada. Entah tebakannya benar atau salah, ia melangkah ke salah satu pohon tinggi di hadapannya.


Alexa memukul punggung Gavin dengan siku tangannya, lalu menendang lelaki itu hingga terhuyung ke tanah. Nafasnya naik turun memandangi Gavin, seseorang yang sudah membantai sembilan belas orang bahkan lebih.


"Kenapa lo harus bunuh orang tua gue! Kenapa?! Mereka punya salah apa sama lo? Kenapa ... Kenapa lo nggak bunuh gue sekalian? Ha!!" Alexa meraih kerah baju Gavin, mencengkeramnya dan meluapkan amarahnya di depan wajah kakak tirinya.


Gavin menyentuh pipi Alexa. Kemudian, ia berbisik. "Karna gue suka sama lo. Gue nggak bisa nyakitin lo, terlebih lagi ... Liat lo sama orang lain. Nggak, orang lain nggak bisa dapatin lo selain gue."


Segera Alexa menjauhkan diri sebelum bibirnya jadi sasaran. Gavin bangkit, kemudian melangkah maju, gadis itu perlahan mundur. Gavin menarik Alexa seraya mengeluarkan belati di saku celana. Satu sabetan belati berhasil melukai pipi mulus Alexa. Pipi kanannya terasa berair, aliran darah turun ke leher.


"Cuma gue ... Cuma gue yang boleh tinggal di sisi lo!"


Sebelah pipi Alexa pun jadi sasaran. Bukan hanya pipi, lengan dan bagian tubuh lainnya. Ia selamat karena mengenakan jaket kulit, alhasil hanya jaketnya yang tergores.


"Gila! Sampai maut menjemput pun gue nggak akan mau sama orang gila kayak lo!"


Alexa berbalik arah, berlari sembari memegangi pipinya. Rasa perih mulai menyengat, matanya berkedut saking perihnya.


Gavin menarik rambut panjang Alexa, hingga tubuh gadis itu merapat padanya. Tentu ia tidak membiarkan gadis yang dicintainya kabur begitu saja. Alexa menautkan kedua lengan di lengan Gavin dan mengangkat tubuhnya.


"Hah!" Menggunakan tenaga dalamnya, Alexa membanting tubuh lelaki itu. Mengingat cara Keenan membantingnya, ia langsung memperagakannya.


Sekarang bukan waktunya berdiam diri, Alexa segera berlari keluar hutan. sesaat kemudian, ia menghentikan langkah, pistol di saku jaketnya sudah tidak ada. Alexa mencoba membalikkan badan. Pistolnya telah jatuh di tangan Gavin, dan lelaki itu bangkit menodongkannya ke arah Alexa.

__ADS_1


DORR!!


TBC.


__ADS_2