
Cahaya kuning lampu tiang menyinari jalanan beraspal di sebuah gang sepi. Tidak ada pengendara motor atau pun pejalan kaki yang melintas di jalan itu, hanya Ilona seorang diri. Ia melangkah pelan dengan santai, sambil sesekali mendongak ke atas. Jejeran bintang terlihat berkelap-kelip di langit gelap. Ilona kembali meluruskan pandangannya ke depan.
"Tunggu, itu ... ." Ilona menciutkan kelopak matanya. Tampak seorang gadis berpegangan pada tembok pembatas, berjalan sempoyongan dengan pakaian yang dipenuhi bercak darah. Melihatnya, Ilona mempunyai inisiatif untuk membantu gadis itu.
Belum sempat kakinya melangkah, seorang pemuda datang dari arah belakang gadis itu. Kemudian, menikam gadis tersebut hingga ceceran darah mengucur di aspal. Ilona perlahan memundurkan langkahnya. Naasnya, ia terjatuh karena tersandung kaki sendiri. Pemuda itu menghentikan aksinya dan menoleh ke arah Ilona.
"Alex?"
Pemuda bernama Alexander Wijaya itu menghempaskan tubuh korbannya. Ia berjalan mendekati Ilona yang terduduk di hadapannya. Alex berjongkok, lalu menarik rambut gadis itu. Selama Alex melakukan tindak kriminal, seumur-umur baru kali ini ia terpergok membunuh seseorang. Terlebih, yang melihatnya adalah teman satu sekolahnya.
Sebelah tangan Alex menarik rahang bawah Ilona, menancapkan kuku-kuku tajamnya di kulit wajah gadis itu. "Lo udah liat sejauh mana?"
Bukannya menjawab, Ilona malah memalingkan muka. Deru nafas terdengar kala Alex meletakkan ujung pisaunya di sudut bibir Ilona. Dengan terbata-bata ia bertanya balik. "Kenapa ... Kenapa lo bunuh cewek itu?"
"Jawab pertanyaan gue sebelum bibir lo gue robek." ancam Alex. Simpul di kedua sudut bibirnya terangkat. "Atau lo mau bernasib sama seperti Wilda?"
"Please, jangan." Ilona menggeleng ketakutan.
"Gue nggak peduli. Lo udah liat semuanya, jadi, lo harus terima akibatnya."
Dalam satu tarikan tangan, Lelaki itu menyayat ujung bibir Ilona. Gadis itu langsung menutupi lukanya yang mengeluarkan darah. Hendak melarikan diri, tetapi Alex menyeret dan membanting tubuhnya ke tembok pembatas. Lutut Alex menjepit kedua lutut Ilona, setelahnya mencengkram kuat leher jenjangnya.
"Mati lo!"
****
Samar-samar, terdengar suara seseorang berteriak di persimpangan jalan gang sepi. Regan yang sedang bertugas menggantikan Keenan berpatroli di jalanan tersebut, menoleh ke samping kanan. Ia meletakkan telapak tangan di atas alisnya seraya menyipitkan mata.
"Itu bukannya temennya Alexa ... ." Regan terbelalak melihat seorang pemuda bertopi hitam mencekik Ilona. Ia tidak langsung bertindak. Namun, mengeluarkan pistol dari dalam saku celana jeansnya.
Regan meluruskan tangan ke depan, membidik mata kaki Alex. Ia menekan tuas trigger pada pistolnya. Pemuda itu tersungkur setelah tertembak olehnya. Ia tak lupa memberitahu petugas polisi lain melalui HT (Handy Talky). "Target di temukan."
__ADS_1
"Baik, kami segera menuju ke sana."
Regan menghampiri Ilona. Sebelum sampai di sana, Ilona sudah lebih dulu berlari hingga mereka bertubrukan. Ia memperhatikan gadis di hadapannya ini dengan seksama. Detik berikutnya, lelaki itu menyeka darah yang terus mengalir di sudut bibir Ilona menggunakan telunjuknya.
"Pe-pelakunya ... ."
"Sshuutt." Regan meletakkan jari telunjuk di tengah bibir gadis itu. "Jelasin itu nanti aja. Bibir lo pasti sakit kalo bicara."
Beberapa orang berseragam cokelat berdatangan, sebagian menangkap Alex dan menyita barang bukti berupa pisau lipat milik pemuda itu. Alex terlihat santai saat lengannya di cekal, bahkan ia tidak melakukan perlawanan terhadap aparat kepolisian. Salah satunya meraba nadi, memeriksa pernafasan dan suhu badan korban. Kemudian, beralih menatap Regan dan Dimas secara bergantian.
"Gimana?" tanya Dimas. Salah satu petugas kepolisian menggeleng. "Reg, bawa saksi jauh dari TKP."
"Iya."
Regan menarik tangan Ilona menjauh dari tempat kejadian perkara. Pasalnya, saksi dan tersangka harus dijauhkan agar tidak terlibat perselisihan antara keduanya.
Sebelum memindahkan korban, Dimas memberi tanda garis letak gadis itu dengan kapur tulis. Tak lupa, ia memeriksa identitas diri korban melalui KTP di dompetnya.
"Gue pembunuh berantai, sekaligus ... Kurir narkoba."
"Udah bertahun-tahun gue ngelakuin ini. Tepatnya, setelah gue lepas dari ketiga preman itu." Alex berucap lagi. Dimas segera mengeluarkan ponselnya dan merekam pengakuan pemuda itu. "Melakukan transaksi narkoba di SMA Pradita Dirgantara, dan ... Gue hampir membunuh Alexa."
"Oke, cukup. Keenan yang akan interogasi lo di kantor polisi." tukas Dimas.
Sebagian petugas kepolisian membawa Alex masuk ke dalam mobil. Ketiga detektif itu saling berbagi tugas. Keenan mengintrogasi Alex, Regan meminta keterangan dari pihak saksi. Sementara Dimas mengurusi tempat kejadian perkara.
****
"Harusnya, dari awal lo ngaku! Jangan bikin susah gue sama yang lain." cetus Keenan.
Ini sudah kedua kalinya Keenan menghempaskan papan jalan di meja interogasi. Bukan, bukan di hadapan Nathan melainkan Alex. Keenan sudah mendengar dari salah satu rekannya, kakak iparnya ini hampir membunuh Ilona dan telah menewaskan nyawa seorang gadis. Ia tidak marah, hanya saja kesabarannya itu setipis tisu yang di robek menjadi dua bagian.
__ADS_1
Tak lama setelah suara gebrakan itu, Alexa muncul dari balik pintu, menghampiri Alex sembari menyodorkan ponsel di meja. Layarnya memutarkan video rekaman CCTV, saat saudara kembarnya itu mencekiknya. Alexa mengetahui soal ini dari Keenan.
Sementara, Alex menyaksikan kekejamannya sendiri di layar ponsel tersebut. Ia menunduk tak berani menatap wajah Alexa. Kebohongan yang ia tutupi selama bertahun-tahun lamanya, pada akhirnya akan ia bongkar di ruangan ini, di depan Keenan dan Alexa.
"Kata Keenan ... sebelum gue hilang ingatan, lo hampir bunuh gue? Sekarang juga lo ngelakuin hal yang sama ke sahabat gue?" tanya Alexa pada saudara kembarnya penuh selidik. "Angkat kepala lo!"
Alex mengangkat kepala, lalu mengangguk. "Bener. Tapi terlepas dari itu semua, gue nggak tau kalo lo itu sebenernya saudari kembar gue."
"Ceritain, dari awal lo ngelakuin kejahatan sampe sekarang. Kalo lo nggak sanggup, tulis di kertas ini." Keenan meletakkan pulpen di atas papan jalan yang beralaskan selembaran kertas kosong. Tiba-tiba, ia teringat Nathan yang masih berada di sel tahanan. "Satu lagi, lo kenal Nathan?"
"Dia anak buahnya bos mafia. Kalo gue, kaki tangannya." jawab Alex enteng.
Seketika keheningan menyelimuti ruangan interograsi. Keenan mau pun Alexa saling melempar pandang. Gadis itu mendongak menatap langit-langit, helaan nafas kasar berhembus di udara. Alexa masih tak percaya. Alex yang ia kenal sebagai anak baik-baik pun ternyata bisa terjerat berbagai macam kasus kriminal.
"Karna lo udah kelewat batas. Gue mau kasus ini di bawa ke pengadilan. Alex, lo harus bayar semua perbuatan yang udah lo lakuin." ucap Alexa menatap tajam pada Alex.
Alex tersenyum dan menggeleng. "Lebih bagus begitu, gue malah seneng kalo masalah ini di bawa ke jalur hukum."
"Keen, boleh tinggalin kita berdua? Ada yang mau gue omongin sama dia." tanya Alexa menoleh ke arah Keenan. Lelaki itu pun keluar ruangan, menunggu di depan pintu, membiarkan dua bersaudara itu berbincang.
Gadis itu duduk di kursi yang berhadapan dengan Alex. Tanpa berbasa-basi, Alexa langsung mempertanyakan alasan saudara kembarnya itu tidak memberitahu identitasnya sedari awal mereka bertemu di sekolah. Alex menjelaskan, kalau ia tidak bisa mengakui tentang dirinya begitu saja, ia juga lelah menjadi kaki tangan bosnya.
"Apa narkoba yang gue temuin di kelas itu dari lo?"
"Tebakan lo bener lagi." Alex sedikit mengembangkan senyum.
"Apa lo juga tau nama istri Papa? Ratna Dwiyanti, kan?"
"Bukan. Dia cuma istri mudanya Ayah. Nama Ibu kita Athifa Wijaya."
Sepintas, Alexa teringat wanita yang terus memanggilnya di rumah sakit beberapa waktu lalu. Tetesan air mata jatuh di pipi. Betapa bodohnya ia mengabaikan teriakan ibu kandungnya, dan lebih memilih pergi bersama Gavin.
__ADS_1
Ibu ... .
TBC.