
Matahari mulai naik ke atas langit. Ilona memunguti cup gelas-gelas plastik di setiap meja, memasukkannya ke dalam plastik besar. Padahal, sudah disediakan tempat sampah, tetapi masih saja ada pengunjung yang meninggalkan bekas cup gelas atau bungkusan snack. Ilona membuang sampahnya di tong yang terletak di depan cafe.
Setelah itu, Ilona menyemprot kaca jendela dengan cairan pembersih, lalu mengayunkan lap di tangannya ke kiri dan kanan. Ia berjinjit, mengulurkan tangan ke atas kaca untuk mengelap debu yang terlihat. Seseorang merebut kain lap yang dipegangnya, membantu gadis itu mengelap setiap sudut bingkai jendela.
"Aku mau juga." Regan memberikan kain lap itu pada Raje, lelaki itu mencontohkan cara mengelap dengan benar. Raje tampak antusias mengikuti arahan Regan.
Sementara Ilona berdiri mematung, berusaha mencerna apa yang ia lihat di hadapannya. Regan memiliki anak? Jangan-jangan selama ini ia mendekati suami orang? Pertama kali bertemu pun ia sudah lancang mencium bibir lelaki ini. Ilona semakin jauh berpikir. Pasalnya, Regan membawa Rajendra ke cafe.
"Oh, iya. Gue pesan es kopi satu sama roti croissant dua."
Ilona masih diam berdiri di tempat. Kemudian, ia bergumam kecil sembari menatap Rajendra. "Apa jangan-jangan dia duda lagi? Atau malah beristri?"
Gumaman Ilona tertangkap oleh telinga Regan. "Eh, jangan salah sangka. Ini bukan anak gue, dia anak temen gue di kantor."
"Seriusan, Pak? Bapak nggak punya istri, kan?" tanya Ilona memastikan. Senyum di bibirnya merekah.
"Nggak lah. Gue tuh, jomblo udah empat tahun."
Ilona melongok ke arah Regan, mulutnya sampai menganga mendengar jawaban lelaki itu. Ia segera menutupi mulutnya dengan tangan. Jantungnya berjingkrak-jingkrak dari tempatnya. Sebelum jalur kuning melengkung, Ilona masih memiliki kesempatan mendekati Regan.
"Om, roti aku mana?" rengek Raje yang sudah bosan bermain dengan kain lap.
"Oh, iya! Sebentar."
Gadis itu mengeluarkan buku catatan kecil dan pulpen di dalam saku celemek-nya, menuliskan pesanan Regan tadi. Ilona merobek selembar kertas, lalu berjalan menuju meja bartender, menyerahkan kertas tersebut pada seseorang yang bertugas sebagai barista.
Tak lama, pesanan telah siap. Ilona mengangkat nampan berisi satu cup gelas es kopi dan sepiring roti croissant. Ia berjalan menghampiri meja Regan.
"Hati-hati ya, rotinya masih panas." Ilona menunjukkan senyum ramah tamahnya, sembari meletakkan pesanan Regan di meja. Ilona menoleh pada lelaki itu. "Jadi, ini anak siapa, Pak?"
"Sebentar." Regan mencomot selembar tissue. Kemudian, ia membelah dua roti croissant yang sudah lumayan menghangat dan memberikannya pada Raje.
Karena Raje terus menanyakan seorang adik kepada kedua orang tuanya. Alhasil, Dimas dan Della meluncur ke kota Bali untuk honeymoon selama lima hari. Tentunya mereka pergi tanpa membawa Raje.
__ADS_1
Sudah dua hari Raje tinggal bersama Regan. Dari situ ia terpikirkan ide gila. Hari ini, ia akan menyerahkan Raje pada Keenan dan Alexa. Harap-harap sepasang suami istri itu juga dikaruniai keturunan setelah mengasuh anak laki-laki itu.
"Alhamdulillah, saya hampir ngira Bapak udah beristri." Ilona bernafas lega.
Tanpa permisi Ilona berjalan ke ruang ganti staf, mengambil paper bag yang ia diamkan di tempat penyimpanan barang untuk para staf. Ilona kembali ke meja Regan setelah mengambil barangnya.
Ilona menyodorkan paper bag itu ke arah Regan. "Ini, Pak, jaket jeans sesuai permintaan Bapak."
"Hihi, apa itu Om?" seru Raje.
"Ini hadiah dari calon istri Om." jawab Regan.
Pacuan jantung Ilona sudah tidak karuan, terlebih saat Regan menjawab begitu. Sesaat, ia memalingkan muka, memasukkan kepalan tangan ke mulutnya. Namun, Ilona menarik napas dalam-dalam sambil mengusap dadanya.
"K-kalo gitu ... Saya ... Saya balik kerja lagi!"
Regan tertawa terbahak-bahak melihat Ilona berlari kocar-kacir. "Kalo dipikir-pikir, seru juga sih punya istri kayak dia."
****
"Eh? Ini siapa?" Alexa tampak kebingungan menatap Raje.
Raje melepaskan jarinya dari pakaian Alexa. Anak kecil itu cengengesan. "Ih, aku kira Mama. Soalnya bajunya sama."
Regan menjelaskan, ia akan meninggalkan Raje di rumah Alexa dan Keenan selama tiga hari, sampai orang tua anak kecil itu kembali. Lelaki itu juga punya pekerjaan dan tak bisa terus menerus bersama Raje. Tidak mungkin kan, Regan bekerja sambil membawa anak kecil? Ia berdalih begitu, agar sepasang suami istri itu mengasihaninya.
"Nama kamu pasti Rajendra Alaska, ya?" tanya Keenan berjongkok di hadapan Raje. Anak kecil itu mengangguk.
"Kok, Kak Keenan tau?" Alexa melirik Keenan curiga.
Keenan mencubit gemas pipi Raje. "Dia ini anaknya Dimas."
"Rajendra, ikut Tante, yuk. Di kamar ada banyak mainan, loh."
__ADS_1
Alexa yang notabenenya menyukai anak kecil, langsung menggandeng tangan Raje masuk ke dalam rumah. Ia yakin anak itu tidak akan bosan, karena di kamarnya banyak sekali mainan sewaktu dirinya masih kecil. Sementara, Regan memberikan tas ransel berisi pakaian ganti anak sahabat mereka, pada Keenan.
"Goodluck ya, Bro."
Kemudian, Keenan menyusul Alexa. Gadis itu terlihat menarik laci besar di bawah ranjangnya. Dari sekian banyaknya mainan, Raje memilih mobil-mobilan hotwheels. Memperhatikan anak kecil bermain sendirian pun rasanya menenangkan. Raje sangat nyaman berada di kamar Alexa.
"Raje, mau main kuda-kudaan nggak sama Om?"
Suara Keenan terdengar di ambang pintu kamar. Ia merangkak, menunggu anak itu menaiki punggungnya.
"Mau!"
Raje langsung melempar mobil-mobilan begitu melihatnya. Keenan tersenyum simpul. Anak itu mengangkat satu kakinya ke punggung lelaki itu. Kemudian, Alexa membenarkan posisi duduk Raje.
"Siap?" tanya Keenan, kepalanya sedikit menoleh ke belakang.
"Siap!"
Perlahan Keenan mengayunkan kedua tangannya, mengitari tubuh Alexa sembari menirukan suara kuda. Ya, beginilah nantinya bila mereka dikaruniai seorang anak. Kalau di tanya sudah siap menjadi seorang ayah, Keenan jelas sangat siap. Namun, tidak untuk Alexa.
Bukan. Alexa bukan tidak ingin memiliki momongan. Ia masih harus fokus belajar. Alexa sudah mencatat daftar keinginan di buku diary-nya. Di bukunya tertulis, setelah lulus SMA nanti, Alexa ingin mengadakan resepsi pernikahan besar-besaran dan honeymoon ke luar negeri.
"Tante, ayo naik juga dong."
Lamunan Alexa buyar saat Raje menggoyangkan lengannya. Baru gadis itu akan menaiki punggung suaminya, Keenan menyudahi permainan kuda-kudaannya itu. Keenan membaringkan tubuhnya di ranjang tunggal. Tak lama, Raje ikut berbaring di sampingnya.
"Kayaknya Raje lebih nyaman sama Om Keenan ya, ketimbang sama Tante?" Alexa memanyunkan bibir.
"Enggak, kok. Aku cuma kangen Papa. Kok, Papa lama ya, buat dedeknya." celetuk Raje.
Hening menyambut. Alexa dan Keenan diam saja, bingung ingin menanggapi apa. Sekarang keduanya paham mengapa Dimas menitipkan Raje pada Regan. Ya, tidak salah lagi. Pasti Dimas sedang berbulan madu bersama istrinya.
"Tante sama Om, kalo buat adek bayi cepat nggak?" Raje berucap lagi.
__ADS_1
TBC.