
Alexa menggeser posisi tidurnya merapat pada tubuh Keenan. Ia refleks membuka mata saat merasakan suhu tubuh Keenan yang memanas. Perlahan-lahan ia bangkit, lalu duduk sebentar. Ia menarik laci pertama di meja nakas, mengambil termometer telinga atau timpani di dalamnya. Alexa meletakkan alat tersebut di lubang telinga Keenan, mendiamkannya hingga terdengar bunyi alarm tanda pengukuran suhu selesai.
Ketika termometer berbunyi, suhu tubuh lelaki itu berada di 39,4 derajat Celcius. Alexa menyentuh leher Keenan dengan punggung tangannya. Demam tinggi. Ia melirik ke arah jam dinding, masih jam setengah dua pagi. Mau tak mau, Alexa harus turun dari tempat tidur dan keluar kamar.
Mengeluarkan baskom kecil di rak piring, mengambil handuk, dan mengisi panci dengan air kran. Kemudian, memasaknya. Setelah membiarkannya selama dua menit, Alexa menuangkannya di baskom tadi. Ia kembali naik ke kamar, menaiki anak tangga dalam keadaan mata mengantuk.
Setelah sampai di dalam, gadis itu berjongkok di hadapan Keenan yang tertidur menghadap ke samping. Sejenak, Alexa menghela nafas. Kemudian, ia membalikkan tubuh Keenan menghadap langit-langit kamar.
"Oke, ini termasuk tugas seorang istri juga, kan?" gumam Alexa memelankan suaranya. Ia mulai menaruh handuk di baskom berisi air dan memerasnya. Saat hendak meletakkan handuk itu di dahi suaminya, lelaki di hadapannya ini malah membuka mata.
"Ngapain? Hmm?"
Tanpa memedulikan pertanyaan itu, Alexa menaruh handuk di dahi Keenan. "Badan lo panas."
"Ya, elah. Cuma demam bias—"
Alexa berdiri, lalu menarik menyingkirkan selimut tebal yang menutupi tubuh Keenan bertelanjang dada. Almarhumah ibunya pernah mengatakan, kalau sedang demam tinggi tidak dianjurkan untuk menyelimuti seluruh tubuh.
Lelaki itu memang sudah terbiasa tidur bertelanjang dada, Alexa pun mulai membiasakan diri mengenakan tank top crop dan celana pendek setiap kali hendak tidur. Toh, mereka sudah saling melihat bagian dalam tubuh masing-masing.
"Lo nggak perlu sampai kayak gini." Keenan berpegangan pada kasur, berusaha menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Tidur, Kak ... Ini masih malem. Lo harus sehat."
Keenan tidak dapat berkelit. Ia menyandarkan kepalanya di bantal, memandangi langit-langit, lalu memejamkan mata pasrah, sebelum akhirnya mengangguk.
"Nah, gitu dong nurut. Kalo gini kan, usaha gue nggak sia-sia." Alexa bergumam kecil.
Gadis itu duduk di kursi meja belajar, membuka laptop dan buku. Ia membaca ulang buku-bukunya, sembari mencatat jadwal belajar kelompok. Ia harus mempersiapkan diri sebelum ujian akhir semester dimulai. Halaman demi halaman di balik, Alexa sesekali melirik Keenan, memastikan lelaki itu sudah tertidur pulas.
Jari-jarinya hampir rontok akibat terlalu lama berkutat di keyboard laptop. Jarum jam pendek telah menunjukkan pukul setengah tiga. Alexa memutuskan untuk melanjutkan menonton drama China berjudul Hidden Love, drama favoritnya.
"Perasaan baru beberapa menit nonton, kenapa ... Udah adegan ciuman aja." Alexa memajukan wajahnya ke layar laptop, yang menampilkan adegan Sang Zhi dan Duan Jiaxu berciuman.
__ADS_1
Mengingat mendiang sang ibu rela tidak tidur demi menjaganya, Alexa pun melakukan hal serupa pada Keenan. Menonton drama sembari menyantap camilan ringan, agar matanya tidak mengatup.
****
Pagi menjelang, panas di tubuh Keenan sudah mereda. Ia meraba-raba bantal di sampingnya. Tidak ada Alexa. Begitu menoleh, ia menemukan sosok yang dicarinya. Keenan perlahan turun dari ranjang, menghampiri meja belajar. Gadis itu terlihat tenang tidur dengan kepala bersandar di meja.
Ujung jari Keenan menyelipkan rambut yang menutupi wajah istrinya. "Dasar keras kepala, gue bilang nggak apa-apa, tapi dia malah ngeyel."
Karena Alexa sudah sangat berbaik hati mau menjaganya sepanjang malam, Keenan membayar waktu gadis itu yang terbuang. Tidak membayarnya menggunakan uang, melainkan dengan masakannya.
Keenan mengenakan kaus abu-abu dan pergi ke dapur, memastikan bahan-bahan masakannya ada di dalam kulkas. Kosong, bahan-bahan telah habis, hanya ada dua mie instan dan lima butir telur.
"Okay, no problem." Keenan mulai mengisi panci dengan air kran, menyalakan kompor listrik dan meletakkannya di atas api sedang. Tak lama, ia memasukkan dua mie instan rasa ayam bawang ke dalam air mendidih.
Beberapa menit kemudian, masakan telah siap. Keenan menuangkannya ke mangkuk melamin, lalu membaginya sama rata. Tak lupa pula ia memasukkan bumbu-bumbunya. Ini belum siap untuk disajikan, Keenan berlanjut memasak telur omelette sebagai lauknya. Setelah omelette matang, ia memotong dan menatanya di piring.
Aroma bumbu indomie soto menyeruak masuk ke rongga hidung kala Keenan membauinya. Perutnya seketika keroncongan, minta diisi. Wanginya bahkan sampai ke hidung Alexa yang terlihat menuruni anak tangga.
Keenan meletakkan dua mangkuk dan sepiring omelette di atas meja makan, serta dua gelas kaca berisi air putih. Baginya ini bukan sekadar sarapan biasa, ia menyebutnya romantic breakfast. Karena kebetulan di tengah-tengah meja terdapat vas yang di isi setangkai bunga mawar.
"Lo udah mendingan? Gimana panasnya?" tanya Alexa cemas.
"Gue baik-baik aja, Lex, orang cuma demam, kok." jawab Keenan enteng. Keduanya duduk di bangku yang saling berhadapan.
Alexa mencomot satu potong omelette, kemudian melahapnya. Rasanya hambar. Sejenak, ia termangu seraya mengunyah makanan di dalam mulutnya. Alexa mencomotnya lagi. Ia janji ini yang terakhir.
"Gue paling suka omelette yang nggak di kasih bumbu. Ini enak, bahkan gue nggak bisa berhenti ngunyah."
Keenan tersenyum mendengarnya. "Makan yang banyak, biar nanti semangat ngejagain gue."
"Jangan salah paham, gue cuma ngelakuin kewajiban sebagai seorang istri." Alexa menyuapkan sesendok mie ke mulut. Ia lebih suka memakan mie menggunakan sendok ketimbang garpu.
Hari ini hari yang damai tanpa adanya pengganggu. Kemarin, Clara sempat memaksa ingin tinggal bersama Alexa dan Keenan. Tentu saja mereka menolak keras keinginan gadis itu, mana mungkin Alexa membiarkan wanita lain tinggal di rumahnya. Terlebih, rumah orang tuanya.
__ADS_1
Clara mulai hari ini menempatkan rumah lama Alexa dan Keenan. Tentu tidak gratis. Clara harus membayar 3 juta perbulannya. Kebetulan, siang ini mereka akan mengambil semua barang-barang yang ada di sana.
Sebelum menyantap masakannya sendiri, Keenan meneguk air terlebih dahulu. Namun, terdengar bunyi bel pintu yang di tekan berkali-kali. Keenan berdecak kesal, selera makannya hilang karena itu.
"Biar gue yang bukain." Alexa beranjak dari bangku.
"Eh, jangan. Gue aja." Segera Keenan menahan tangan Alexa.
Melihat istrinya hanya memakai celana pendek sepaha dan tank top, Keenan menyuruh gadis itu untuk berdiri di belakangnya. Keenan menarik gagang pintu, sontak ia mengerutkan dahi melihat siapa yang bertamu ke rumahnya.
"Clara?" Refleks, Keenan memanggil gadis di hadapannya.
Alexa menyembul dari balik punggung Keenan. "Hah? Clara?"
"Aku bawain kamu makanan. Kamu pasti kelaparan, karna istri kamu nggak jago masak kayak aku." Clara menyodorkan kotak makan pada Keenan.
"Iya deh, si paling jago masak." Alexa memutar bola matanya sinis.
Keenan menerima kotak makanan di tangan Clara. "Ini gue terima. Sekarang lo boleh pergi."
"Kok pergi, sih? Nggak mau mempersilahkan aku masuk dulu gitu?" tanya Clara dengan penuh keyakinan.
"Sorry to say ya, tapi gue nggak mau biarin ulet bulu masuk ke rumah ini. Nanti tangan gue gatel-gatel gimana?" sindir Alexa, meletakkan lengan di pundak Keenan.
Di tengah perdebatan antara istri dan teman masa kecil suaminya, Keenan memejamkan mata, memegangi kepalanya yang mengakibatkan pandangannya berputar-putar. Alexa secepatnya merangkul lengan Keenan di bahunya.
"Keenan, kamu nggak apa-apa?" Clara antusias memegangi sebelah lengan Keenan.
"Pergi selagi gue minta baik-baik." Keenan menepis kasar jemari Clara yang menyentuhnya. "Kalo lo masih mau berdiri di sini, silahkan."
Bantingan pintu membuat Clara terperangah. Gadis itu mematung di tempat, sedikit tak menyangka melihat perubahan sikap Keenan padanya.
TBC.
__ADS_1