
Alexa memandangi sembilan belas makam dengan taburan bunga di atas tanah merah. Lima hari setelah pembantaian itu, ia baru memberanikan diri mendatangi pemakaman massal. Ia tidak mengetahui di mana orang tua dan neneknya di kubur. Pasalnya, hanya ada batu nisan tanpa nama. Alhasil, Keenan mau pun Alexa menaburkan bunga di sembilan belas makam tersebut.
Saat memberikan bunga-bunga tersebut, pelupuk mata Keenan tak henti menitikkan air mata. Namun, tidak untuk Alexa. Air matanya tidak mau keluar walaupun di paksa, hatinya seperti sudah mati rasa.
Selain sembilan belas orang yang tewas, termasuk Sofyan, Athifa dan Megane, tujuh orang hanya mengalami luka tembak di bagian lengan. Beritanya langsung tersebar luas di televisi. Keenan berserta aparat kepolisian telah melakukan pers untuk menunjukkan identitas diri pelaku melalui KTP yang ia temui. Gavin dan Alex resmi di tandai sebagai buronan polisi.
Kali ini, awak media tak sembarang menuduh Hoodie—Keenan sebagai pelakunya. Sebaliknya, mereka berspekulasi Gavin melakukan itu karena iri, tidak ingin melihat namanya bersinar di mata masyarakat kota Jakarta. Regan dan Dimas pun berpikiran sama.
Keenan menempelkan beberapa lembar kertas bergambar foto Gavin di tiang listrik, tembok pembatas jalan gang, halte bus, dan di dinding luar kafe Lexa's Coffee Shop.
"Saya mau ketemu sama owner kafe ini!"
"Ah, itu dia Lexa baru dateng."
Ilona menunjuk ke arah pintu yang terbuka. Ratna Dwiyanti langsung berbalik, wanita itu tampak sangat geram. Kemudian, ia menghampiri Keenan dan melayangkan satu tamparan keras di pipinya, hingga mengejutkan seluruh pengunjung kafe.
"Kamu pasti menjebak anak saya, kan? Bisa jadi kamu mencuri kartu identitas diri anak saya. Polisi?" Ratna membuang ludahnya di lantai. "Polisi macam apa ini? Memfitnah orang sembarangan tanpa bukti."
Alexa memejamkan mata, berusaha meredakan amarahnya. "Tante, jangan buat keributan di sini."
"Kamu lagi! Anak pelakor nggak usah ikut campur!" Jari telunjuk Ratna hampir menyentuh ujung hidung gadis itu.
Keenan hendak menarik lengan Alexa, guna melerai mereka berdua. Semua orang sekarang tertuju pada Alexa dan Ratna. Namun, gadis itu sudah hilang kesabaran.
"Anda yang pelakor! Tiba-tiba datang ke kehidupan keluarga saya, mengaku sebagai penolong kecelakaan 9 tahun lalu. Padahal, Anda yang menabrak saya waktu itu." Alexa melototi Ratna sembari melangkah. Sementara, wanita itu mundur ke belakang. "Anak dan Ibu sama aja!"
Alexa melirik tangan Ratna yang terkepal erat. Ia menepuk pipi kanannya dengan telunjuk. "Tampar kalo berani. Kenapa cuma Keenan yang di tampar? Takut? Takut nggak dapet surat wasiat?!"
Seluruh pengunjung menjadi terenyuh, memandangi Ratna dengan tatapan jijik. Makin memanas keributan itu, mereka mengabadikan momen tersebut dan menguploadnya di sosial media.
Keenan membuka sedikit jaketnya, mengeluarkan plastik transparan dari saku yang ada di dalamnya. Ia menentengnya di udara. "Sidik jari Gavin ditemukan di dompet ini." timpalnya.
Dahi Ratna berkerut. Ia memandang lelaki itu curiga. "Bohong! Itu pasti akal-akalan kamu, kan?!"
__ADS_1
"Polisi mana mungkin bisa berbohong. Cuma polisi gadungan yang menutupi fakta." pungkas Keenan.
Alexa menarik pergelangan tangan Ratna, mendorongnya keluar kafe. Ini pertama kalinya ia berlaku kasar terhadap orang tua, tetapi jika orang tua seperti Ratna, ia tak bisa menoleransi sikap wanita itu. Alexa mengetahui maksud kedatangan istri kedua mendiang ayahnya, bukan, mantan istri.
"Jangan pernah, muncul di depan saya lagi atau pun orang-orang terdekat saya!"
"Dasar adik narapidana!"
Alexa tertawa terbahak-bahak mendengar makian itu. "Anak Tante juga, calon narapidana! Sekarang lagi jadi buronan polisi. Sampah masyarakat seperti anak Tante, emang pantes mendekam di penjara!"
Ratna menggertakkan deretan giginya. Bisa-bisanya bocah ingusan seperti Alexa berani melawannya. Padahal, dulu gadis itu sangat lemah, tidak pernah bersikap kasar seperti ini.
"Awas, ya, kamu! Aku akan bikin kamu jatuh miskin!"
*****
Hari berikutnya. Alexa mulai giat belajar, sering menghadiri sekolah offline dan mempelajari buku tentang hukum. Semenjak kasus yang marak terjadi di lingkungan kota, kepala sekolah memutuskan untuk menugaskan para guru mengajari siswa-siswi secara offline. Gurunya bukan lagi Gavin melainkan orang lain.
"Di marahin guru tau rasa lo!"
"Sebentar lagi kelas dah mau di mulai, Ale, buruan!"
Suara siswa-siswi di iPad-nya itu membuat Alexa jengah. Baru ia ingin menekan ikon kamera pada layar iPad, Keenan muncul dengan keadaan bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek selutut. Tetesan air berjatuhan membasahi buku tulisnya, Alexa memutar bahunya. Ya, lelaki itu habis mandi setelah berolahraga.
Keenan menekan tombol mute di iPad yang berdiri tegak di atas meja. "Lo masih mau irit bicara sama gue?"
"Gue sibuk, jangan tolong jangan ganggu."
Alexa hendak menyalakan mode mute di aplikasi discord-nya. Akan tetapi, Keenan menggandeng tangan Alexa. Sebelum keluar kamar, lelaki itu meraih kaus hitam di ranjang dan berjalan menuju rooftop, meninggalkan iPad-nya yang masih menyala.
Tiba di rooftop, tempat yang selalu menjadi favorit orang tuanya. Di pemandangan rumahnya langsung menuju ke Lexa's Coffee Shop. Alexa memperhatikan pengunjung yang lalu-lalang masuk dan keluar kafenya. Pancaran sinar matahari menyilaukan mata, ia mengedipkan mata begitu sinarnya menusuk pupilnya.
"Ayo belajar bela diri." ucap Keenan.
__ADS_1
"Iya ... ."
Alexa tampak tidak antusias berdiri di hadapan Keenan. Lelaki itu menghela nafas, lalu menekan belakang lutut Alexa dengan satu kakinya. "Tegak!" Ia melakukan hal itu berulang kali sampai lutut gadis itu menegak. Sebenarnya, Keenan hanya memancing emosi Alexa agar merespon tindakan yang dilakukannya.
"Masih belum tegak, berdiri lagi!" titah Keenan. Ia meletakkan kedua tangan di belakang.
Gadis itu bangkit, menguatkan pijakan kakinya pada lantai. Keenan menekan belakang lutut Alexa lagi. Kali ini, lutut Alexa tidak jatuh. Keringat nampak bercucuran di dahinya. Keenan menaikkan satu ujung bibirnya, menatap bangga ke arah Alexa.
"Lo tau kenapa gue ngelakuin itu?" tanya Keenan seraya menyentuh lutut Alexa yang memerah. "Bagian ini selalu menjadi sasaran empuk musuh, di saat lo fokus meninju, mereka—"
"Auw!"
Meskipun tak bersemangat, Alexa mendengarkan penjelasan Keenan, hingga ia spontan mendaratkan lututnya di wajah suaminya. Keenan tersungkur di lantai, pandangannya langsung menghadap ke langit.
"Lo nggak apa-apa?"
Wajah Keenan yang terpapar sinar matahari, kini terhalang oleh wajah Alexa yang berada di atasnya. Bulir air keringat menetes dari dagu gadis itu hingga jatuh ke kantung matanya. Walau Alexa tidak selalu menunjukkan kepeduliannya terhadapnya, tetapi istrinya masih mengulurkan bantuan padanya.
Keenan menerima uluran tangan Alexa. Ia menunduk seraya tertawa sejenak. Kemudian, lelaki itu mengangkat tubuh Alexa dan membantingnya di matras empuk yang berada di pinggiran tembok pembatas rooftop. Betapa jantung Alexa hampir copot karena saking terhenyak saat punggungnya bertubrukan dengan matras di bawahnya.
"Stop, gue nyerah ... Gue nggak bisa." Alexa mengangkat tangan. Ia mengatur napasnya yang sedikit tersengal.
"Mana bisa begitu. Gue harus didik lo jadi wanita tangguh, nggak mudah lembek, menye-menye. Kalo lo pernah baca novel, pasti tau. Pembacanya ada yang nggak suka sama cewek lembek, ada juga yang suka." sindir Keenan.
Sampai sini, kedua mata Alexa membulat tak percaya. Ia menatap Keenan tajam. "Sekarang gue nggak selemah itu lagi, ya, stop nyindir ... ."
Ponsel di saku celana Keenan berdering, ia meletakkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan Alexa untuk tidak berbicara sebentar. Keenan melihat nama yang tertera di layarnya. Regan Syahputra. Segera ia mengangkat telepon dari rekannya itu.
"Ada apa?"
"Gawat! Dimas nekat menyamar jadi anak buahnya bos mafia, sekarang dia lagi nyari di mana lokasi markasnya." ucap Regan panik.
TBC.
__ADS_1