Lelaki Pilihan Orang Tua

Lelaki Pilihan Orang Tua
Calon Bayi


__ADS_3

"KAK KEENAN!"


Alexa berlari panik keluar kamar mandi, lalu melompat naik ke tubuh suaminya yang masih memeluk bantal guling. Jeritan itu hampir memecahkan gendang telinga Keenan, kemudian ia bersandar di kepala dipan. Kelopak mata lelaki itu masih terasa berat. Semalaman Keenan menemani Alexa bolak-balik ke kamar mandi, lantaran mual tak kunjung henti.


"Gimana ini ... Pokoknya lo harus tanggung jawab!" pekik Alexa menepuk-nepuk kedua pipi suaminya.


Keenan mencoba membuka mata, berkedip secara berulang. Kini ia bisa melihat wajah Alexa dengan jelas. Rasa takut tersirat di wajah istrinya. Keenan menyandarkan kepala Alexa di dada polosnya. "Tanggung jawab apaan? Hmm? Pagi-pagi udah ribut aja."


"Kak!" Alexa merubah posisi, duduk di paha Keenan yang tertutupi selimut bed cover. Gadis itu menunjukkan hasil testpack di depan mata Keenan. "Gue hamil, hamil anak lo."


Sesaat, Keenan kembali berkedip. "Serius? Lo hamil?"


"Gue udah coba tiga testpack, dan hasilnya sama. Positif!"


Keenan tentu terbelalak mendengar hal tersebut. Ia senang bukan main, tak menyangka akan menjadi seorang ayah di usianya yang ke dua puluh lima tahun. Saking senangnya, Keenan menangkap pipi mulus sang istri dan memberi kecupan bertubi. Tak lupa mengucapkan rasa syukur atas karunia yang telah diberikan oleh sang pencipta.


"Sebentar!" Ekspresi wajah Keenan berubah datar. "Lo dapet testpack dari mana?"


"Itu ...." Alexa memanyunkan bibir sembari menabrakkan kedua telunjuknya.


Kebetulan kemarin sore Alexa bertemu Della istri Dimas, di apotek. Alexa yang mempunyai inisiatif untuk bertanya, akhirnya meminta saran obat penghilang rasa mual kepada wanita itu. Betapa baiknya Della membelikannya tiga buah testpack. Istrinya Dimas itu menyarankan Alexa agar tidak meminum obat-obatan sebelum melakukan pemeriksaan.


"Ya udah, nanti kita periksa ke dokter. Sekarang gue mau mandi dulu."


"Nggak boleh ...." Alexa langsung bergelayut manja di bahu Keenan.


"Oh, nggak mau di lepas nih? Beneran?"

__ADS_1


Keenan merasakan anggukan kepala Alexa di pundaknya. Lehernya terasa tercekik saat gadis itu mengeratkan pelukannya. Dengan terpaksa, Keenan mengalungkan tangan di pinggang Alexa, lalu berjalan masuk ke kamar mandi.


"KAK KEENAN, NGGAK MAU!!"


Gadis itu menjerit setelah Keenan membuka seluruh pakaian di hadapannya. Pintu kamar mandi terbuka, Alexa tampak akan keluar. Namun, Keenan berusaha menarik tubuh istrinya masuk kembali. Kedua tangan Alexa berpegangan pada dinding pintu, mempertahankan posisinya yang hampir keluar.


"Sini sama Om, Sayang."


Menyesal sudah, tubuh Alexa berhasil di seret masuk kembali ke kamar mandi. Di bawah rintikan air shower keduanya berciuman. Pakaian keduanya basah kuyup. Alexa yang tadinya memberontak. Namun, menikmati sapuan bibir basah suaminya. Mereka saling membalas perlakuan masing-masing. Keenan memberikan tanda kemerahan di punggung Alexa, sebaliknya, Alexa memberi tanda kepemilikannya di leher jenjang sang suami.


Lima belas menit kemudian, Keenan keluar mengenakan handuk di pinggang. Bekas ciuman tercetak di sisi kanan kiri lehernya, mereka tak melakukan hubungan intim. Hanya sekadar menjahili satu sama lain. Alexa pun keluar dengan jubah mandi dan handuk kecil melilit di rambut basahnya. Karena keisengan Keenan, alhasil mereka berdua mandi bersama. Meski hari ini Alexa sedang malas mandi pagi.


Alexa duduk di bangku kecil, di hadapan cermin rias. Ia ngambil hairdryer di laci mejanya dan mencolokkan kabel benda berlistrik itu ke stopkontak. "Oh, iya, Kak. Besok acara keluarga di rumah Om Haiden. Om juga ngundang Om Narendra sama Kak Kenzo."


"Besok? Kayaknya mereka berdua nggak bisa ikut. Om Narendra sibuk di kantor perusahaan mendiang Papa. Kalo si Kenzo nemenin Clara di rumah sakit."


Tawa kecil terdengar dari Keenan. "Ngawur, seluruh dunia bahkan alam semesta pun tau. Kalo istri gue cuma satu. SATU! Do you understand, Honey?"


"Y-yes."


****


Tempat pemakaman massal ramai dikunjungi orang-orang yang datang untuk berziarah. Tepat di hadapan Alexa dan Keenan berdiri, rumput hijau yang menumbuh di tanah kuburan Sofyan, Athifa, dan Alex tampak hijau segar, tidak ada satu helai rumput yang menguning. Seminggu sekali, penjaga kuburan selalu membersihkan dan mendoakan setiap makam di sana.


"Assalamualaikum, Ibu, Ayah." Alexa melirik makam Alex. "Lex, gimana kabar lo? Maaf, gue baru datang lagi. Banyak kejadian yang bikin gue lupa sama lo, apalagi Ibu dan Ayah."


"Ibu, Ayah, kita punya kabar baik. Kita akan segera punya anak. Kalian pasti senang dengar ini." seru Keenan menunjukkan surat keterangan hamil dan buku ibu hamil.

__ADS_1


Setelah konsultasi dengan dokter spesialis kandungan, keduanya mampir ke makam Sofyan, Athifa dan Alex. Dokter Fiona mengatakan, usia kehamilan Alexa sudah berjalan selama lima Minggu. Pantas saja, tanggal 29 kemarin ia tidak haid. Pasalnya, pertama ia haid tanggal sekian.


"Aku bahkan udah nyiapin nama bayinya, Bu, Yah. Rasanya nggak sabar baby E lahir."


"Sabar, dong. Kan, baru lima Minggu. Ya kali, langsung brojol gitu aja."


Tak terasa air mata mengalir saking bahagianya. Alexa berharap orang tua dan saudara kembarnya bahagia mendengar kabar yang mereka sampaikan. Dulu, orang tuanya bercita-cita ingin menimang cucu dari mereka, kini impian kedua orang tuanya terwujudkan. Namun sayang, saat baby E lahir nanti, Sofyan atau Athifa tidak bisa menggendong bayi tersebut.


Mendadak Alexa menangis terisak, suaranya menyita perhatian orang-orang yang sedang berziarah. Dokter Fiona mengingatkan Keenan, jika di trimester pertama ibu hamil kerap mengalami perubahan suasana hati. Keenan yang mengingatnya, segera membawa Alexa ke dekapannya.


"Lex, Bu, Ayah, kita pamit, ya? Suasana hati Alexa lagi nggak baik. Kalian jangan khawatir, aku akan jaga Alexa dan baby E." Kemudian, Keenan merangkul pinggang Alexa seraya membantunya berdiri. Sebelum keluar dari area pemakaman, tak lupa mereka menyiram air doa di makam mereka.


Tiba di dalam mobil, Alexa mengarahkan tangan Keenan ke perutnya. Lelaki itu langsung mengerti tanpa di beritahu, lalu mengelus-elus perut Alexa sembari berbicara dengan baby E.


Mengingat masa-masa awal perkenalan mereka, Alexa dan Keenan selalu beradu mulut setiap bertemu hingga keduanya sepakat berencana membatalkan perjodohan ini. Namun, sudah sampai di titik ini, ternyata pernikahan melalui jalur perjodohan tidak buruk juga. Bahkan, Alexa dan Keenan merasa bahagia, terlebih lagi mereka dikaruniai calon buah hati.


"Ngomong-ngomong, soal resepsi pernikahan, gimana kalo barengan sama Ilona dan Regan?"


"Seriusan mereka mau nikah? Ih, kok bilang, sih? Harusnya lo tuh bilang, Kak."


"Ya udah, maaf, ya?" intonasi lembut Keenan membuat Alexa meleleh. Gadis itu melingkarkan kedua tangan di perut Keenan dan mendongak menatapnya. Wajah Alexa berada di bawah dagu suaminya. "Apa?"


Alexa memonyongkan bibir. Keenan tertawa gemas melihat tingkah manja sang istri, kemudian mengecup bibir merah merona Alexa. Ia senang mendapatkan perhatian seperti ini, beberapa kali bertingkah manja pun Keenan selalu meladeninya.


"Sehat-sehat, ya, Honey."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2