Lelaki Pilihan Orang Tua

Lelaki Pilihan Orang Tua
Mahkota Berharga


__ADS_3

"Eh? Kenapa ...."


Layar di ponsel Ilona menyala dibarengi dengan getaran dan sederet pemberitahuan Instagram. Ia sesekali melirik ke samping wastafel, sementara kedua tangannya berkutat pada piring-piring kotor. Setelah semua piring tercuci bersih, Ilona segera memeriksa notifikasi yang masuk.


SamuelAdtya__ mengikuti Anda.


SamuelAdtya__ menyukai foto Anda.


Ilona terbelalak sekaligus menutupi mulutnya. Ya, itu notifikasi yang ia terima. Bukan hanya satu foto yang disukai Samuel. Namun, lima ratus postingan. Sesaat, Ilona jadi berpikir secara berlebihan. Ia segera menghapus semua fotonya, kemudian mengunci akun Instagram-nya.


"What the hell?"


Gadis itu mengernyit, ketika layar ponsel menampilkan akun Twitter milik Samuel mengikutinya. Beruntung Ilona hanya mengunggah beberapa kutipan kalimat di Twitter, hal itu tidak terlalu membuatnya takut. Yang membuatnya kepikiran, Samuel menyimpan beberapa fotonya dan menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi.


"Tenang Ilona, bisa jadi Pak Samuel cuma iseng."


Tak lama, suara ketukan pintu terdengar. Ilona menaruh ponselnya di meja, lalu melangkah ke arah pintu. Ketika membuka pintu lebar-lebar, kosong melompong, tak ada siapapun di sana. Ilona hanya mengangkat kedua bahunya. Ini pasti ulah anak tetangganya yang kerap kali menjahilinya.


Ilona hendak menutup pintu. Namun, sebuah kaki menghalanginya. Perlahan Ilona mengangkat kepala. Seorang pria dengan mulut ditutupi masker, berdiri tegap di hadapannya. Ilona hendak masuk ke dalam, dengan secepat kilat pria itu menancapkan jarum suntik di pundak gadis itu.


Penglihatan Ilona berputar-putar bak rollercoaster. Pria itu menutup pintu dan menguncinya. Kemudian, tubuh Ilona di seret menaiki anak tangga menuju kamar di lantai dua.


****


Bunyi jam alarm terdengar nyaring memenuhi gendang telinga. Tangan Alexa terulur, mematikan alarm di meja nakas samping ranjang. Biarpun memasang alarm pukul enam pagi, ia tidak langsung bergegas bangun melainkan kembali memejamkan mata, membelakangi suaminya.


"Alexa Sayang, bangun yuk, udah pagi." Keenan yang sudah bangun lebih dulu akhirnya membujuk istrinya bangun.


Alexa tidak merespon. Hanya suara dengkuran halus yang menyahut. Keenan mengulum bibir, menahan diri agar tidak tertawa. Karena cara itu tidak ampuh, ia menyeludupkan tangan ke dalam selimut. Jemari lentiknya menggerayangi kulit tubuh Alexa yang mulus tanpa sehelai benang pun.


"Iya, iya, gue bangun sekarang." Alexa yang merasa kegelian dengan sentuhan suaminya, segera bangkit sebelum Keenan melahap dirinya seperti semalam.


Semalam, Keenan dan Alexa menunaikan kewajiban masing-masing layaknya suami istri. Malam itu tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup. Meski sebelumnya mereka sudah melaksanakan malam pertama, tetapi mereka melakukan itu bukan karena kemauan melainkan dorongan dari obat perangsang.

__ADS_1


Keenan kembali menyeludupkan tangan, mengelus perut istrinya. "Gue mau kita punya anak."


"Sama. Kayaknya bakal seru, deh, kalo misalkan ... Kamar ini rame sama suara tangisan bayi." jawab Alexa.


"Kalo dipikir-pikir, iya juga, sih. Lebih lucu lagi kalo anak kita nanti pake seragam polisi."


"Pasti anak kita keren banget."


Keenan memajukan mencondongkan wajah, ingin menenggelamkan bibirnya di leher jenjang Alexa. Dering telepon menjadi pemecah suasana keromantisan suami istri itu. Alexa meraih ponselnya di sebelah bantal. Sebelum mengangkatnya, ia menatap nama penelepon yang tertera di layar.


"Halo, Na? Tumben lo nelepon pagi-pagi gini?" Alexa bersandar di bahu Keenan, sembari membersihkan kotoran di sudut matanya. Telunjuk Alexa berhenti di batang hidung mancungnya, ketika mendengar suara sesenggukan Ilona.


"Lex ... ."


Spontan Alexa bangkit dengan raut wajah panik. "Na? Lo kenapa? Nggak terjadi sesuatu kan, sama lo?"


Mendengar hal itu, suara Ilona makin sesenggukan. "Gue .... Gue udah nggak suci lagi, Lex."


"Hah?" Kening Alexa berkerut. "Gimana ceritanya?"


Alexa menuruni ranjang, mengambil jubah mandi yang tergantung di gagang pintu lemari. "Okay, lo bisa tunggu gue beberapa menit? Gue keramas dulu, tunggu di sana."


Lima belas menit kemudian, Alexa mempercepat langkah menuruni tangga. Ia meninggalkan suaminya yang masih bersiap di kamar.


Alexa membuka kedua daun pintu, Ilona tampak duduk meringkuk di teras lantai. Setelah mendengar decitan pintu, Ilona langsung melangkah memeluk sahabatnya. Saking takutnya, gadis itu enggan menaiki taksi dan lebih memilih berjalan kaki dari rumah menuju rumah Alexa.


Sepanjang jalan, Ilona harus menahan rasa sakit di pangkal pahanya, di tambah ia mendorong koper besar berisi baju-bajunya. Ilona terlalu takut berdiam diri di rumah sendirian, ayahnya yang bertugas di luar kota pun tak kunjung pulang.


"Siapa ngelakuin itu sama lo? Jawab gue, siapa orangnya?" Kilatan amarah tersirat di kedua bola mata Alexa.


Ilona menundukkan kepala seraya menggeleng. Air matanya bercucuran, mengingat di sekujur tubuhnya banyak noda kemerahan. Saat ini Ilona mengenakan syal rajut untuk menutupi lehernya.


"Gue nggak tahu ... Tapi yang gue ingat, orang itu ngebius gue."

__ADS_1


Seperti perkataan Ilona, ia sungguh tidak mengetahui siapa yang telah memerkosanya semalam. Ia hanya ingat penampilan orang tersebut. Bangun-bangun, Ilona mendapati dirinya sudah dalam keadaan tanpa busana. Betapa histerisnya saat melihat bercak darah di kasur.


"Di rumah lo nggak ada cctv?"


"Nggak ada, Lex. Mungkin ini bisa membantu polisi cari pelakunya." Ilona membaringkan koper dan membuka resletingnya. Di atas tumpukan pakaian terdapat pakaian yang ia kenakan semalam, terbungkus plastik. Ilona sengaja tidak langsung mencucinya, ini bisa dijadikan bukti kuat untuk mencaritahu siapa pelaku pencabulan terhadap dirinya.


"Sebelum lo pingsan, lo ngapain?" tanya Alexa penasaran.


"Gue lagi nyuci piring, abis itu ...." Ilona memijat pelipisnya, berusaha mengingat sebelum pria itu datang ke rumah. "Pak Samuel."


Ilona menceritakan mengenai Samuel yang mengikuti akun Instagram dan Twitter-nya. Alexa menduga guru mereka sebenarnya adalah stalking.


Secara umum stalking adalah pemantauan yang tidak diinginkan oleh individu atau kelompok terhadap orang lain. Sebutan lain dari stalking adalah menguntit. Menurut Cambridge Dictonary, stalking adalah kejahatan ilegal yang dilakukan dengan mengikuti atau mengawasi seseorang dalam periode waktu tertentu.


Sumber dari google.


"Apa jangan-jangan ...." Alexa mendelik pakaian kotor di hadapannya.


"Pak Samuel yang ngelakuin itu?" Ilona dan Alexa berucap secara berbarengan. Namun, Ilona masih belum bisa percaya. Pasalnya, ia saja baru bertemu Samuel tiga kali di sekolah semenjak semester dimulai.


Alexa mengangguk mengerti. "Kita emang nggak punya bukti lagi selain ini, jadi, lo harus sabar. Begitu sidik jari pelaku ketahuan, gue bakal bantuin lo nangkap dia."


"Gue takut dia datang lagi, gue boleh kan, nginep di rumah lo?"


"Eemm ... Atau nggak, gini aja. Gue yang nginep di rumah lo. Masalahnya, gue udah punya suami sekarang."


"Ya, udah nggak apa-apa. Yang penting gue ada temen di rumah."


Ponsel Ilona di dalam koper menyala sendiri. Detik kemudian, layarnya tampak bergerak membuka aplikasi galeri foto, WhatsApp, dan aplikasi lainnya. Alexa langsung mengerti, lalu menyuruh Ilona untuk diam tidak bersuara.


"Hp lo di sadap. Jangan bersuara, okay?" Alexa memberi sahabatnya isyarat dengan gerakan mulut.


Tak lama, seseorang tidak dikenal mengirimi Ilona sebuah video di WhatsApp. Ilona tanpa ragu memutar rekaman tersebut. Air mata kembali membanjiri pipinya, melihat perbuatan yang dilakukan oleh si pelaku saat gadis itu tak sadarkan diri.

__ADS_1


Alexa mematikan ponsel Ilona. Ia tak mau sahabatnya terus menangisi apa yang sudah terjadi. Ini memang berat, Alexa juga pernah mengalami hal serupa, bedanya ia tidak sampai kehilangan mahkota berharganya.


Gadis itu ikut meneteskan air mata, mendengar isakan Ilona. Brengsek.


__ADS_2