Lelaki Pilihan Orang Tua

Lelaki Pilihan Orang Tua
Teman Masa Kecil?


__ADS_3

Desiran angin meniup dedaunan kering di permukaan tanah. Jum'at siang, Alexa dan Keenan datang lagi ke pemakaman massal. Kali ini bukan hanya berdoa untuk kedua orang tuanya dan sang nenek, tetapi juga untuk Alexander yang baru meninggal dunia lima hari lalu, sekitar pukul sebelas malam lewat 34 menit.


Alex meninggal dunia akibat kehilangan banyak darah saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Keenan membantu proses pemakaman pemuda itu bersama dua rekannya dan warga. Sebelum itu, ia sudah memberitahu makam almarhumah ibu dan ayah mertuanya pada si penggali kubur, dengan menunjukkan foto Sofyan dan Athifa. Akhirnya jenazah Alex akan dimakamkan di dekat makam keluarganya.


Alexa uring-uringan setelahnya, mogok makan, mogok bicara, dan sering melihat album foto masa kecilnya. Ia masih belum percaya ayah, ibu, nenek, dan saudara kembarnya meninggalkannya secepat itu. Namun, Alexa berhasil keluar dari kesedihannya. Karena jika dipikir-pikir, berdukacita terlalu lama tidak baik.


"Pasti mereka seneng kalo liat gue ceria." Alexa mengulum bibirnya, menatap Keenan sembari menghela nafas panjang.


Keenan merangkul bahu Alexa, mengusap-usap lengan atas gadis itu. "Iya, gue yakin, kok. Coba bayangin, kalo misalnya orang tua lo nggak jodohin kita, mungkin sekarang lo sendirian."


"Lo bener, Kak. Harusnya gue bersyukur, mereka milih suami yang tepat buat gue."


"Alasan orang tua lo nikahin kita bukan cuma sekedar perjodohan kayak di novel-novel lain. Mereka ngelakuin ini, karna udah mempersiapkan diri. Surat wasiat, surat rumah, bahkan kafe itu sekarang udah atas nama lo."


Alexa tersenyum, menampilkan deretan gigi-giginya. Ia terharu mendengar penjelasan Keenan. Alexa selalu berpikir negatif tentang kedua orang tuanya, mereka egois, tidak membebaskan anaknya untuk memilih pasangan hidup. Sekarang ia menepis pikiran itu.


"Makasih, ya, Bu, Yah, udah ngelakuin hal yang terbaik buat aku. Maaf, kalo belum bisa jadi anak yang berbakti sama orang tuanya."


Kemudian, Alexa dan Keenan bergantian menyirami tanah kuburan orang tua, neneknya serta Alex, dengan sebotol air yang sudah didoakan. Tak lupa meletakkan empat bucket bunga mawar di dekat batu nisan mereka.


"Lex, gue sama Keenan balik, ya? Gue bakal sering-sering, kok, datang ke sini. Gue bakal selalu kasih kabar baik buat lo." ujar Alexa sembari menepuk batu nisan bertuliskan nama Alexander Wijaya.


"Kita pamit, Lex." Keenan tersenyum sumringah melihat makam pemuda itu.


*****


Mereka mengurungkan niatnya untuk pergi, ternyata sedari tadi Ratna sudah berdiri di belakang mereka. Entah mengapa setiap kali Alexa melihat wanita itu, emosi di dalam dirinya langsung meluap-luap. Akan tetapi, karena ini pemakaman, Alexa berusaha untuk tetap tenang.


"Tante kalo mau ziarah, silahkan. Kita nggak ngelarang." celetuk Keenan.


"Makasih, kalian masih berbaik hati sama Tante. Padahal, Tante udah jahat sama kalian." Tetesan air mengalir di pipi Ratna.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Tan. Lagian, kalo Tante jahat sama aku, pasti langsung dapat balasannya. Secara, sekarang aku yatim-piatu." seloroh Alexa.


Ratna berjongkok, menunduk seraya memegangi kaki Alexa. "Maafin Tante. Tante beneran minta maaf."


Secepatnya, Alexa menarik lengan atas Ratna, membantu wanita itu berdiri. Ia tidak tahu, apakah Ratna tulus mengatakan itu atau hanya sekadar pencitraan. Meskipun demikian, Alexa tetap merasa iba mendengar permohonan maaf ibu tirinya.


Tanpa menjawab wanita itu, Alexa dan Keenan melangkah keluar pemakaman massal dengan berhati-hati, takut menginjak tanah kuburan di sekitar.


Untuk merilekskan pikiran, Keenan membawa Alexa ke pusat perbelanjaan. Mengajak istrinya bermain ice skating bersama, Keenan menuntun Alexa berjalan di lantai putih yang licin. Bukan hanya bermain ice skating, mereka berfoto di photo booth dengan beberapa gaya.


"Coba gaya ini." Alexa memonyongkan bibir pada suaminya. Keenan terkekeh geli melihat tingkah laku gadis itu, lalu ia mengecup bibir Alexa. Foto mereka pun telah terpotret.


Beberapa lembar potret foto mereka telah tercetak. Keenan mengambilnya, setelah itu menggandeng tangan Alexa, mengajaknya ke suatu tempat yang lain.


Mereka keluar dari photo booth, tampak di kejauhan seorang gadis cantik mengenakan mantel bulu dan dress putih sepaha, berlari ke arah Keenan. Melihat itu, Alexa segera menggeser posisi berdirinya di depan suaminya, menghadap ke arah gadis itu.


Gadis itu hampir menubruk Alexa, kalau saja ia tidak menghentikan langkahnya. Kemudian, gadis tersebut mendorong Alexa menjauhi Keenan.


"Keenan, aku tuh kangen sama kamu. Pasti kamu juga kangen kan, sama aku?" tanya gadis itu hendak mengalungkan tangan di bahu Keenan.


"Aku Clara Adelin. Temen masa kecil kamu, masa kamu lupa, sih?" Clara menggamit lengan Keenan, bergelayut manja. "Dulu aku sering megangin tangan kamu kayak gini."


Sontak Alexa segera melepaskan tangan Clara yang memegang tangan suaminya. Kini, gilirannya yang menggamit lengan Keenan. Tidak peduli, mau gadis itu teman masa kecil Keenan, atau sahabatnya, Alexa tak akan pernah membiarkan wanita mana pun mendekati suaminya.


"Maaf, ya, Mbak, kalo gatel jangan sama suami orang." sindir Alexa.


Clara Adelin, teman masa kecil Keenan dan Kenzo. Ia sangat akrab pada kedua lelaki itu. Sayangnya, keakraban mereka tidak berselang lama, Clara harus pergi mengikuti kedua orang tuanya yang bekerja di Singapore sekaligus melanjutkannya sekolahnya di sana. Hari ini, ia kembali ke Indonesia dan akan menetap di negara asalnya.


Awalnya, Clara hanya menikmati waktunya berbelanja di mall. Begitu melihat Keenan yang kebetulan berada di sana juga, ia menghampiri lelaki itu, memberikan kejutan atas kepulangannya di Indonesia.


Clara mencondongkan wajah, matanya membulat sempurna. "Nggak mungkin! Keenan tuh, udah janji mau nikahin aku nanti."

__ADS_1


Keenan mengerutkan dahi, lalu melipat kedua tangan di dada. "Sejak kapan gue bilang begitu? Oh, pasti lo salah ngira orang. Yang bilang begitu Kenzo bukan gue."


Alexa menoleh pada Keenan. "Kenzo? Salah ngira orang?"


"Nanti gue jelasin."


Tanpa menunggu tanggapan apa pun lagi, Alexa dan Keenan segera melangkah pergi, menembus kerumunan orang yang lalu-lalang. Clara menghalangi jalan mereka. Keenan memperingati teman masa kecilnya itu agar tidak mendekatinya lagi, ia tak ingin ada kesalahpahaman di antaranya dan Alexa.


Alexa menolehkan pandangan pada Clara, lalu tersenyum menyeringai lebar menatap wajah kesal gadis itu. Hampir saja, ia mengira Clara adalah simpanan Keenan. Tanpa Alexa sadari, gigi Clara bergemeletuk saking geramnya diabaikan oleh Keenan.


Sebelum keluar dari pusat perbelanjaan, Alexa mampir ke toko pakaian, mencari jaket jeans yang sama persis seperti milik Regan. Mereka mengitari deretan jaket yang berjejer di gantungan baju.


"Ini, kan? Sama banget kayak punya Regan." Keenan meraih salah satu jaket jeans hitam yang tergantung.


Alexa mengangguk. "Iya, ini bener. Coba liat harganya."


Mereka tersentak ketika melihat bandrol harga di jaket tersebut. Harga aslinya bukan lima ratus ribu melainkan delapan ratus ribu. Artinya Regan berbohong pada Ilona, sesaat mereka memahami kebohongan lelaki itu.


"Mungkin Si Regan nggak mau nyusahin Ilona. Makanya, dia bilang harganya 500 ribu."


"Bisa jadi, sih. Apalagi Ilona harus beli jaket ini pake uang hasil kerja kerasnya."


Selesai berdiskusi tentang perjaketan, mereka membayar jaket yang di ambil tadi. Dua sejoli itu yang membelinya menggunakan gaji Ilona, karena gadis itu tidak mempunyai waktu luang untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Pasalnya, Lexa's Coffee Shop sedang ramai dikunjungi oleh pembeli.


Alexa mengira Clara sudah pergi, kenyataannya teman masa kecil suaminya itu masih berkeliaran di sekitar pusat perbelanjaan. Terlihat Clara hendak menghampiri Alexa dan Keenan, tetapi seseorang menarik pergelangan tangan gadis itu.


"Itu siapa? Jangan-jangan orang jahat lagi?" pikir Alexa.


"Enggaklah, itu Kenzo. Udah biarin aja." jawab Keenan.


"Kenzo Kenzo itu siapa, sih?"

__ADS_1


"Saudara kembar gue."


TBC.


__ADS_2