Lelaki Pilihan Orang Tua

Lelaki Pilihan Orang Tua
Mual Dan Pusing


__ADS_3

Keenan memandang wajahnya di kaca spion tengah, merapikan hoodie sweater abu-abu yang ia kenakan seraya menudungi rambut hitamnya. Acara perpisahan sekolah telah tiba, saat ini mobilnya menepi di pinggir jalan tepat di depan tembok pembatas SMA Pradita Dirgantara.


Mulai hari ini, Keenan akan menunjukkan wajah asli Hoodie yang selama ini dijuluki sebagai pahlawan oleh masyarakat. Sudah lama ia tidak tampil seperti ini di depan Alexa atau pun di mata publik. Itu semua permintaan pihak kepolisian, karena khawatir bila nantinya terjadi sesuatu pada Keenan.


"Honey, i'm coming."


Seulas senyum terbit di wajah Keenan, menatap bucket bunga di sebelah kursinya. Cukup lama memandang benda tersebut, Keenan akhirnya meraih bucket bunga mawar dan memarkirkan mobilnya di area sekolah. Begitu turun dari kabin, ia langsung di sambut oleh pemandangan meriah di hadapannya.


Mata lelaki itu berkeliaran ke sana kemari, mencari Alexa di deretan bangku para siswa-siswi di tenda. Istrinya duduk di bangku barisan kedua. Keenan bersandar di pintu mobil, memperhatikan raut wajah cemberut Alexa dari kejauhan.


Keenan menghela nafas. "Cantiknya bini gue."


Beberapa siswa-siswi di panggil oleh seorang guru, menyuruh mereka menjajarkan barisan di hadapan wali kelas. Mendengar nama Alexa disebut, Keenan melangkah pelan. Pihak sekolah mulai melepaskan dasi di kerah seragam masing-masing siswa yang telah lulus. Setelah selesai melepas dasi, Alexa dan siswa lain menyalimi punggung tangan wali kelasnya.


Pandangan Alexa dan Keenan bertemu. Senyumnya merekah melihat suaminya hadir di acara perpisahan sekolahnya. Padahal sebelumnya, Keenan menolak datang karena sibuk di kantor. Tentu, Alexa agak kecewa saat itu, ia hanya ingin seseorang yang dicintainya melihat momentum hari ini.


"Alexa." Senyum Keenan menyapa Alexa. Tangan yang sedang menggenggam bucket bunga itu melambai ke arah Alexa.


Untuk sejenak, Alexa memandang hoodie abu-abu yang selalu dipakai oleh Keenan saat menyamar sebagai Hoodie. Ia merindukan sosok itu, sosok yang selalu melindunginya dari marabahaya. Keenan makin melebarkan senyumnya, tampak lelaki itu merentangkan kedua tangannya.


Tanpa mempedulikan orang sekitar, Alexa langsung menghambur mengalungkan lengan di bahu suaminya. Spontan bucket bunga di genggaman Keenan terjatuh.


"Eh, eh, itu kan ... Yang pernah viral di media sosial, kan?"


"Kok, bisa Alexa kenal sama pahlawan itu?"

__ADS_1


"I don't care about this. Yang penting gue bisa dapet tanda tangan dia. Aaa!"


Keenan meraih bucket bunga di bawah kakinya. Ia memasukkan satu tangan ke saku, satunya lagi menyodorkan tanaman tersebut pada Alexa. "Ini buat My Honey, Bunny Sweety, Lo—"


"Stop!" sanggah Alexa cepat. "Lo belajar kata-kata itu dari mana? Gue merinding tau dengernya."


"Dari Regan. Katanya biar di bilang cowok romantis."


"Romantis? Romantis apaan, itu namanya alay. Kalo mau romantis, cium pipi istrinya kek jidat atau apalah."


Keenan menunduk, menjajarkan tinggi badannya dengan Alexa. Kemudian, ia mengecup pipi sang istri. "Kayak gini? Apa masih kurang?"


"I—"


Belum sempat Alexa berucap, siswa-siswi berdatangan mengerumuni Keenan yang mereka kenal sebagai Hoodie. Mereka meminta foto bersama dan tanda tangan lelaki itu. Alexa yang tadinya berada di dekat Keenan terdorong oleh mereka. Keenan tidak bisa menolak permintaan mereka, lalu menuliskan namanya di seragam sekolah dan buku sampul para siswa.


Keenan menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan istrinya. Ia mengucapkan terima kasih pada para siswa karena telah mengidolakan sosok Hoodie. Setelah itu, Keenan membelah jalan menghampiri istrinya. Alexa mengadukan apa yang dirasanya.


"Bisa jalan nggak?" tanya Keenan panik.


Alexa menaruh tangan di pelipisnya dan menggeleng. "Gue pusing, Kak Keen, nggak bisa jalan."


"Rileks, tutup mata lo." Lelaki itu mengalungkan satu lengan Alexa di bahunya seraya mengangkat tubuh sang istri. Ia meminta salah satu siswa untuk menyampaikan pesannya pada pihak sekolah, Alexa tidak bisa mengikuti acara perpisahan sampai selesai.


****

__ADS_1


Kenzo memperhatikan seorang gadis yang terbaring lemah di ranjang tunggal. Sudah beberapa hari ini ia terus mengunjungi rumah sakit sepulang kuliah. Clara Adelin. Ya, gadis itu adalah teman masa kecilnya. Dokter mendiagnosis Clara mengidap kanker darah stadium akhir. Dokter mengatakan umurnya tidak akan bertahan lama.


Alasan utama Clara kembali ke Indonesia untuk menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Ia sudah lama menderita kanker, hanya saja ia baru berani menceritakannya pada Kenzo.


"Sebelum aku meninggal, aku mau merasakan yang namanya menikah. Tolong panggil Keenan ke sini, aku mau dia yang jadi mempelai prianya." pinta Clara lirih.


"Dalam kondisi kayak gini pun lo masih mikirin Keenan? Cowok yang enggak pernah cinta sama lo? Gue tau lo suka sama Keenan dari dulu, tapi ...."


"Ini terakhir ... Setelah aku pergi semuanya selesai. Aku nggak bakalan gangguin hidup Keenan atau pun kamu." bulir air mengalir di ujung mata Clara. Ia menatap penuh permohonan pada Kenzo.


"Okay. Gue lakuin itu buat lo." Kenzo meraba saku belakang celananya, lalu menghubungi nomor Keenan untuk membicarakan perihal Clara.


Gadis itu menyisir rambutnya menggunakan jemari. Namun, beberapa helai rambut hitamnya rontok lumayan banyak. Melihatnya, Clara langsung menangis sesenggukan. Kenzo sontak membanting ponselnya ke sofa.


"Rambut aku makin menipis, nanti aku botak, terus aku jadi jelek pas hari-h pernikahan nanti," ucap Clara.


"Nggak ada yang bilang lo jelek. Lo tetep cantik di mata gue." Kenzo menyapu helai demi helai rambut Clara. Gadis itu memejamkan mata, seolah tahu apa yang akan dilakukan teman masa kecilnya itu selanjutnya.


Kenzo menautkan jemarinya di jemari Clara. Perlahan tapi pasti, bibir mereka bersentuhan lembut, kepala lelaki itu bergerak ke kanan kiri. Clara yang terbuai dalam sapuan lidah Kenzo, membalas ciuman tersebut. Akibat lama tinggal di Singapore, kegiatan seperti ini pun sudah biasa baginya.


"Asal lo tau, orang yang pernah janji sama lo itu bukan Keenan. Tapi gue, Clar. Lo mau, ya? Nikah sama gue. Biarin saudara gue bahagia sama pilihannya sendiri." tutur Kenzo lemah lembut.


"Maaf, aku nggak bisa, Ken. Hati aku cuma buat Keenan."


"Sadar, Clara. Sampai ajal menjemput pun Keenan nggak bakal nerima perasaan lo. Dia cuma cinta sama istrinya, bukan sama lo." Kenzo mencium punggung tangan Clara. "Gue janji, setelah kita menikah nanti, gue nggak akan nyakitin lo."

__ADS_1


Clara memejamkan mata, mencondongkan wajahnya pada lelaki itu. Bibir mereka kembali menempel. Kenzo menganggap diamnya Clara sebagai ucapan 'ya'. Baru kali ini Clara merasa dimanjakan oleh seorang lelaki, ayah dan ibunya tidak pernah memanjakannya karena terlalu sibuk bekerja.


TBC.


__ADS_2