
Sebagian aparat kepolisian menyebar ke penjuru kota Jakarta, dengan berpakaian seperti orang biasa pada umumnya. Keenan dan Regan pun ikut serta dalam penyamaran tersebut. Saat ini, dua detektif itu tengah berdandan layaknya pria lansia.
Setelah menempelkan kumis palsu di bawah hidungnya, Keenan menoleh ke arah Regan. "Reg, menurut lo gimana?"
Regan sontak menahan tawa. "Nah ini ni, gambaran lo kalo udah tua nanti."
"Kurang ngajar lo!"
"Nih, tongkat lo."
Regan memberikan tongkat kayu pada Keenan. Mereka mulai berjalan perlahan sembari membungkukkan badan, keluar dari toilet pria. Keduanya berkomunikasi dengan nada bicara khas pria lansia, meski awalnya agak sulit. Namun, lama kelamaan terbiasa. Keenan memperhatikan sekeliling, mengamati orang-orang yang lalu-lalang di trotoar jalan.
Keenan dan Regan mengenakan kemeja polos dengan perpaduan celana bahan. Untuk menyempurnakan penampilan, mereka mengoleskan minyak GPU di bagian leher masing-masing. Agar semerbak aroma lansia mereka kentara, leher mereka terasa hangat setelah dioleskan minyak tersebut.
"Keen, arah jam tiga." Regan menepuk betis kaki Keenan dengan tongkat.
Keenan memalingkan muka ke kanan. Tampak di seberang jalan raya, seorang pria berpakaian hoodie hitam dan sebelah mata ditutupi perban kain kasa, berdiri celingak-celinguk melihat ke kanan kiri. Saat jalanan sepi, tidak ada pengendara motor atau mobil yang lalu-lalang, pria itu melangkah ke arah mereka.
Mengingat rekaman kamera dasbor yang ditemukan di dalam mobil polisi, Regan segera memutar kembali video tersebut. Barang bukti sudah di salin ke ponselnya. Hal ini dapat memudahkan mereka menangkap Gavin. Sekilas di dalam video tersebut, sebelah mata Gavin terlihat memerah dan mengeluarkan darah.
"Gue curiga itu dia." Regan berbisik pelan.
Keenan mengangguk, Regan memasukkan ponselnya di saku celana. Mereka kembali melangkah tergopoh-gopoh, ke arah jam dua belas. Kaki mereka sengaja di getarkan, untuk memperlambat langkah. Pria tadi sekarang sudah berada di belakang Keenan dan Regan.
"J-jalannya yang bener dong, ada anak muda ini mau lewat." siku tangan Keenan menyenggol lengan Regan yang berjalan di sebelahnya.
Regan menoleh ke belakang. Ia menyipitkan mata. "Oh? Ada anak muda rupanya. Sok atuh, jalan."
Keenan dan Regan membelah jalan, mempersilahkan pria dengan wajah tertutupi masker itu jalan di depan. Pria itu lantas maju mempercepat langkah. Punggung pria tersebut menjauh, mereka segera menegakkan tubuh dan mengikuti jejaknya. Mereka mengamati dari kejauhan, pria yang diduga tahanan itu masuk ke gang. Gang yang menuju rumah Alexa.
__ADS_1
Salah. Pria itu masuk ke dalam Lexa's Coffee Shop. Keenan dan Regan kembali membungkuk. Begitu keduanya memasuki cafe, mereka berpura-pura memandang takjub seisi ruangan, seolah tak pernah mendatangi kedai kopi sekeren ini. Regan menabrak kursi yang diduduki oleh pria itu.
"Aduh, anak muda ini bagaimana sih, kalau duduk lihat-lihat dong." ketus Regan bak orang tua. Ia memegangi bokongnya yang menabrak kursi.
Pria itu tampak diam tak menanggapi. Pandangannya fokus memandangi Alexa. Keenan mengikuti arah pandang pria itu. Tampak di depan sana, Alexa duduk menyilangkan kedua kaki, wajah gadis itu terhalangi oleh buku yang di buka.
Keenan menjatuhkan diri di lantai. Lelaki itu memukul-mukul dadanya. Refleks, Alexa meletakkan bukunya di atas meja dan menghampiri lelaki itu. Alexa membantu Keenan duduk di sebelah kursi yang ia duduki.
"Ilona, tolong ambilin air putih." ucap Alexa. Suaranya setengah berteriak sekaligus panik.
Dahi Regan mengernyit heran. Dih, dasar modus. Bisa-bisanya dia ngambil kesempatan dalam kesempitan.
Ilona kembali membawakan air putih, lalu menaruhnya di meja. Keenan meneguk air di gelas melamin. Tegukan demi tegukan membuat Alexa dan Ilona refleks membuka mulut sedikit, ketika gelas tersebut kosong tak tersisa, Keenan menghentakkan gelasnya di meja.
Alexa mengatupkan bibir. "Kakek, mau pesan apa?"
"Mau pesan kamu boleh nggak, Cu?" tanya Keenan. Gelengan kepala menjadi jawaban Alexa.
"Cu, jangan dengerin dia. Kita, pesan semua menu yang ada di sini." Regan mengetuk-ngetuk tongkat kayunya di lantai.
Seketika para staf langsung berhamburan memasuki dapur, staf di bartender menjadi sibuk berkutat di mesin kopi espresso. Ilona yang bertugas sebagai waiters, menunggu di samping meja bartender.
Pria itu mengangkat satu tangan, lalu menunjuk Keenan dan Regan. "Saya pesan es teh, biar kakek tua itu yang bayar pesanan saya."
"Sudah, bikinkan untuk anak muda ini." Kata Regan.
Setelah menunggu beberapa menit, para staf mengantarkan pesanan Keenan dan Regan, menatanya di meja. Ilona memberikan pesanan pria berhoodie hitam. Satu gelas es teh.
Selesai makan, Regan membayar semua pesanan tadi sebesar 850.000 ribu. Selama pria itu tidak pergi dari cafe, Keenan dan Regan pun begitu. Mereka duduk di sana sampai langit menampakkan warna jingganya. Tidak ada batasan waktu bagi siapapun yang duduk di cafe, asalkan ingat waktu.
__ADS_1
Sampai para pengunjung lalu-lalang pun Keenan, Regan dan pria itu tidak beranjak dari tempat mereka. Alexa yang tadinya fokus belajar jadi terganggu, bukan karena keberadaan Keenan dan Regan. Namun, pria itu yang sedari awal menatapnya. Dua puluh menit berlalu, pria itu beranjak pergi meninggalkan cafe.
"Reg, ayo, jangan biarin dia lolos." Keenan maupun Regan langsung melempar tongkat masing-masing, lalu berlarian mengikuti ke mana perginya pria itu.
"Alexa, lo juga denger, kan? Tadi ... Suara suami lo!" ucap Ilona terkejut.
"Apa jangan-jangan ... ." Alexa mengerutkan dahi, mengingat pria lansia yang terjatuh tadi. "Bisa jadi, itu Gavin. Ayo kita bantu mereka."
"Alexa!" Ilona berteriak memanggil Alexa. Gadis itu sudah keluar cafe. Ilona membuka celemek di badannya dan menyusul sahabatnya.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Keenan dan Regan makin mempercepat langkah, mengejar pria berhoodie hitam itu. Sedangkan, Alexa dan Ilona mengambil jalan pintas untuk mengepung pria tersebut. Dua gadis itu memasuki gang sempit yang hanya bisa di lalui oleh pejalan kaki. Ilona sudah berada di depan Alexa.
Ilona berhenti sejenak, mengatur nafas perlahan-lahan. Ia mengangkat, melirik jam di tangannya. Hampir pukul enam sore lewat 20 menit.
"Lex, berhenti dulu. Gue cape." Ilona mengulurkan tangan, meraba-raba sahabatnya. Ilona menengok ke belakang. "Lah? Alexa? Bukannya ni anak harusnya di belakang gue?"
Gadis itu spontan menutup mulutnya dengan tangan. "Jangan-jangan Alexa ... ."
Cepat-cepat Ilona mengeluarkan ponsel, memberitahu Regan perihal hilangnya Alexa yang tiba-tiba. Telepon terhubung setelah beberapa detik menunggu.
"Pak, emergency! Saya kehilangan jejak Alexa!" teriak Ilona.
"Kok bisa?" tanya Regan tak paham.
Kemudian, Ilona menjelaskan secara rinci tentang apa yang terjadi. Regan dan Keenan samanya seperti Ilona, kehilangan jejak pria berhoodie itu. Ilona memberikan asumsi bahwa Alexa di bawa pergi oleh pria itu.
"Lo jangan khawatir. Petugas kepolisian juga lagi mencari Gavin." Regan menarik napas berat. "Sekarang lo balik ke cafe, stay di sana. Jangan ke mana-mana, okey?"
"Iya, Pak."
__ADS_1
TBC.