LIVINETT PROTOCOL 9

LIVINETT PROTOCOL 9
12


__ADS_3

Rumah Tinos, 9200 Gerkach.


 


 


Tinos sepertinya mulai putus asa, karena komputer yang dia minta dari rumah Marco tidak membuahkan hasil untuk menemukan lokasi Marco. Sepertinya Marco berada sangat jauh. Tinos menarik napas, dia merebahkan tubuh kecilnya di atas ranjang. Rasa rindu semakin menggebu, dia ingin sekali bertemu dengan orang yang sudah dia anggap sebagai kakak sendiri. Bocah itu tidak mengetahui situs bernama Protocol 9, kalau saja dia tahu tentang situs itu, pasti dia akan menyusul Marco ke masa lalu.


Tinos tidak tahu apa yang sekarang menimpa Marco. Jika saja dia berhasil menemukan keberadaan Marco, dia bisa segera mengabari orang tua Marco agar tidak khawatir. Sayangnya, sudah dua hari ini dia mencoba melacak keberadaan Marco, tapi hasilnya nol. Komputer tersebut dapat menemukan benda-benda yang pernah dipakai Marco. Tapi entah kenapa tidak mau mendeteksi posisi Marco sekarang.


Bocah 10 tahun itu terus bepikir keras, mencari cara agar bisa menemukan Marco. Jika dia menyuruh orang lain untuk membantunya, tentu tidak akan ada yang percaya dan menganggapnya gila. Terlebih sikap kedua orang tua Tinos yang selalu menganggapnya suka berkhayal aneh-aneh. Ketika dia bertanya kemungkinan perang yang akan terjadi lagi, mereka menyanggahnya dengan habis-habisan seolah tidak memercayai anaknya. Tinos merasa sangat kecewa, tapi mau bagaimana lagi, perang itu sudah berlalu kurang lebih selama 200 tahun.

__ADS_1


Jika dia berkata perang akan terjadi lagi, sudah pasti kalimat ‘hanya sebuah lelucon’ yang akan diucapkan orang lain kepadanya seperti sebelumnya. Tinos menatap wajahnya di depan cermin, rambut afronya seperti sarang burung. Benar sekali, Tinos berambut kribo dengan warna sedikit kecoklatan. Dia tidak pernah mau mencukur rambut kribonya. Sampai sekarang telah tumbuh begitu lebat.


“Apakah aku terlihat seperti pembual?” dia berbicara sendiri di depan cermin.


Tinos memutar badannya, melompat, mengangkat tangannya, menarik rambut. Semua itu dilakukan sambil berpikir, apakah dia memiliki wajah pembual. Tukang omong kosong yang tidak memiliki otak.


“Aku sekarang sudah 10 tahun, tubuhku juga sudah lebih tinggi dari sebelumnya. Apakah otakku saja yang tidak berkembang?”


Komputer milik Marco masih menyala di atas meja. Tinos duduk di kursi lalu menatap ke layar itu lagi. Dia menyentuh tabung, keyboard, dan membuka semua berkas yang masih tersimpan di komputer itu. Dengan penuh harap bisa menemukan sesuatu yang berguna untuk menemukan keberadaan Marco. Ada sebuah game lawas yang terpasang di komputer itu, Tinos lalu tersenyum. Dia mengingat masa lalunya saat suka bermain game ini bersama Marco.


Sampai gelap, kalau ibunya belum mencarinya, Tinos akan terus berada di kamar Marco. Dia sangat betah meski seharian tanpa makanan dan minum. Bocah itu sangat menyukai kamar, serta apa saja yang dilakukan oleh Marco. Dia lebih mengenal kepribadian Marco lebih dari siapa pun. Orang tua Marco saja tidak begitu dekat dengan anak sendiri.

__ADS_1


Bagaimana cara untuk membuat Marco tertawa, dia adalah ahlinya. Cara mengatasi ketika Marco sedang marah, Tinos paham betul caranya. Mereka berdua sedekat lubang hidung, sampai kapan pun mereka tidak akan bisa saling membenci. Sangat sulit untuk melupakan kenangan indah yang pernah dia lalui. Tapi, kini Tinos sangat sedih karena kehilangan Marco. Tanpa ada Marco, Tinos merasa kesepian, diam sendiri, begitu merindukan canda tawa bersamanya. Sesungguhnya, yang dirasakan Tinos itu wajar diterima oleh siapa saja yang sedang kehilangan orang terdekatnya.


Karena sampai detik ini belum membuahkan hasil, Tinos memutuskan untuk mengambil makanan di dapur. Dia berencana mengisi perutnya dahulu, siapa tahu dia jadi lebih semangat untuk mencari petunjuk tentang keberadaan Marco. Sekarang, bocah berambut kribo itu sedang sendirian di rumah. Terlalu sering sendirian di rumah, karena orang tuanya sibuk bekerja. Tinos mulai tertular kebiasaan Marco, dia malas ke sekolah dan berubah menjadi penyendiri. Hal buruk pasti terjadi kalau dia terus bermalasan.


Dunia yang dia tempati seperti memberikan rasa sakit yang teramat menyiksa. Cukup berat harus menjalani hidup yang kadang tidak dipercaya oleh orang. Gigi depannya yang ompong satu juga sering menjadi bahan olok-olokan teman-temannya. Tinos sebenarnya punya rasa ingin tahu yang tinggi, dia juga cukup cerdas seperti lainnya. Karena memang mereka berasal dari ras yang sama. Kaum cerdas yang banyak menemukan alat-alat canggih. Tapi, rasa percaya dirinya terkadang terkikis karena penampilan dan hal buruk yang dia terima.


Banyak teman seumurannya yang senang sekali mengejek dirinya. Meski itu hanya sebuah gurauan, tapi terlalu menyakitkan bagi Tinos. Kekurangan fisik selalu saja dibicarakan. Dunia ini sampah, benar, memang sampah. Dunia penuh dengan sampah tidak berguna, pikirnya. Dia mengunyah makan siangnya dengan sangat rakus karena kesal dengan nasibnya. Orang tuanya sudah pasti akan pulang sore hari. Sudah terbiasa bagi dirinya seharian ditinggal oleh orang tua, karena itulah dia sangat senang kalau berada di rumah Marco.


Bebas, tidak ada yang mengomeli, bisa bermain sepuasnya, karena memang orang tuanya tidak percaya dengannya. Minta uang untuk membeli mainan saja tidak pernah diberikan, dia harus bekerja sendiri membantu orang berjualan lalu menabung, terakhir kali ibunya memberi uang saat dia ingin meminta tambahan untuk membeli konsol game. Itu saja hanya diberi 1000 dizt (mata uang Yazelt).


Mainan itu sempat rusak. Tinos benar-benar senang karena Marco bersedia memperbaikinya. Kalau orang tuanya tahu mainan itu rusak, pasti Tinos langsung dimarahi. Dikurung di dalam kamar tanpa mendapat jatah makanan. Tinos tidak suka dengan cara mendidik yang dilakukan oleh orang tuanya. Dia tidak bisa bebas seperti anak kecil lainnya yang selalu dimanja.

__ADS_1


Tapi dengan itu, dia mulai sadar, berkat kelakuan keras dari orang tuanya. Dia menjadi pemberani dan tidak takut hidup susah. Menjadi mandiri sangat menyenangkan, dia bangga jika tidak merepotkan orang lain. Semua itu dia sadari dari kelakuan Marco serta petuah yang selalu diberikan Marco kepada Tinos. Orang tua Tinos memang menyayanginya, jadi mereka berlaku keras terhadapnya, mendidik dengan sangat baik dengan cara mereka. Tinos tidak mau lagi menjadi anak pembangkang. Semenjak dia mengenal Marco, sikapnya yang suka melawan orang tua sedikit berkurang. Tidak baik selalu membangkang, tapi untuk urusan ke sekolah, dia masih berpikir dua kali. Dia masih malas, mungkin lebih tepatnya disebut trauma. Trauma dengan penindasan yang selalu dilakukan oleh teman seusianya.


__ADS_2