LIVINETT PROTOCOL 9

LIVINETT PROTOCOL 9
17


__ADS_3

Hiruk-pikuk menggelayuti Desa Harfil, para prajurit tampak berlatih dengan serius. Beberapa prajurit ada yang saling membantu memperbaiki parit. Garben sudah mulai membaik suasana hatinya. Dia tidak begitu sedih lagi dengan kematian Tink. Dua sahabat dari kecil yang tumbuh bersama. Sangat menyakitkan memang, jika orang yang kita sayangi mati tragis di hadapan kita. Begitulah hidup, sesuatu yang tak terduga sering datang tiba-tiba. Hidup ini memang penuh kejutan.


Marco masih berada di laboratorium bersama Tinos. Si Tinos masih heboh berkeliaran, dia mengelus dagunya karena kagum melihat semua yang ada di laboratorium. Tinos sangat girang karena berhasil berada di masa lalu. Masa sulit karena situasi sedang perang. Dia sama sekali tidak memikirkan tentang bahaya yang mengancam. Situasi perang tidak baik untuk siapa pun, tapi bocah yang gigi depannya ompong itu seolah tidak memiliki rasa takut.


“Hey! Apakah baju perang ini ada yang cocok untuk ukuran tubuhku?” tanya Tinos kepada Nolas.


“Tentu. Tubuhmu cukup tinggi untuk bocah seusiamu, ada beberapa zirah yang muat untuk kau pakai.”


“Bisakah kau menunjukkannya padaku?”


“Tentu.”


Nolas membuka sebuah brangkas berukuran cukup besar. Di sana terpampang beberapa zirah yang masih sangat bagus. Nolas mengeluarkan satu, dia memberikannya kepada Tinos agar dicoba.


“Nolas. Kenapa kau memberikannya kepada bocah ini? Dia tidak akan ikut berperang, kurung saja dirinya,” celetuk Marco.


“Dasar kau! Aku juga ingin membantu kaumku,” sergah Tinos.


“Sudah. Tidak ada salahnya mencoba zirah ini. Dia hanya ingin mencoba memakainya,” ucap Nolas.

__ADS_1


Akhirnya Marco mengalah dan membiarkan Tinos memakai zirah tersebut. Sungguh menjengkelkan kelakuan bocah satu itu. Tinos membuat Marco geram, tingkah bocah bergigi ompong itu bisa membuat Marco gila. Bayangkan saja jika seorang anak kecil ikut berperang melawan raksasa. Tidak ada rasa belas kasihan dalam perang, orang-orang dari Trovolta pasti akan menghabisinya tanpa ampun, tidak peduli dia seorang bocah sekali pun.


Bukan perang namanya kalau tidak ada kekerasan. Ini perang sungguhan, bukan perang di dalam video game. Marco harus bisa menghentikan bocah itu agar tidak mengikutinya ke tempat latihan. Desa Harfil cukup jauh, dia pasti tidak akan tahu tempat itu. Marco menyuruh Nolas untuk mengurung bocah itu. Akan sangat membahayakan jika Tinos sampai mengikuti dirinya.


Setelah berunding dengan sangat alot, akhirnya Nolas menyetujui permintaan Marco. Tinos merengek karena diseret ke tempat gelap dan sepi. Dia menangis dan mengumpat tidak jelas, tapi dihiraukan begitu saja oleh Marco. Walau Tinos menjadi setan gentayangan, Marco tidak akan melepaskan bocah itu. Tinos memaki Marco habis-habisan, tapi tidak membuat tekad Marco goyah.


Tinos hanya bisa meratapi nasib apes yang menimpanya. Dia kini terkurung di dalam ruangan yang menyedihkan. Marco akhirnya pamit kepada Nolas untuk kembali ke tempat latihan di Desa Harfil. Jiwa raga siap dia korbankan lagi, berlatih dengan serius untuk menghadapi pasukan Corvos di perang berikutnya. Tidak ada waktu untuk bersantai, perang harus segera dimenangkan.


Melawan takdir adalah keharusan, jika kau ingin merubah nasib. Tapi, menerima takdir juga suatu kewajiban, jika memang itu sudah terjadi. Akan tetapi, saat ini faktanya perang masih berlangsung, segala kemungkinan masih bisa terjadi. Perang itu tidak bisa disebut takdir karena belum berakhir, kemenangan masih bisa diraih. Jika kelak yang terjadi adalah kalah, mungkin takdir itu memang sudah berhenti, tidak bisa dirubah lagi. Jadi, selama itu belum terjadi, itu tidak bisa dikatakan takdir, kita sendiri yang akan mengubah takdir. Seperti itulah yang saat ini dipikirkan Marco.


Orang-orang yang pasrah pada keadaan tidak salah. Mereka menyadari semua kekurangannya dan menyerahkan segalanya pada penguasa alam raya ini. Tapi, orang yang terus berusaha dan pantang menyerah masih lebih baik, setidaknya perjuangan yang pernah dilakukan bisa membuat hidup lebih bermakna. Kalau pun gagal, barulah kita bisa berpasrah diri. Yang terpenting dalam hidup ini bukan apa yang kau dapat, tapi perjuangan yang kau lalui dan kau tidak mengenal kata menyerah.


Semua kesuksesan butuh pengorbanan dan perjuangan. Tidak ada kenikmatan yang didapat secara instan tanpa perjuangan apa pun. Itulah arti hidup sesungguhnya, menjalani hidup adalah takdir, tapi menikmati hidup adalah pilihan. Tentukan sendiri pilihan hidupmu, akan kau buat nikmat dan nyaman, atau kau buat sengsara dan penuh kepedihan. Tapi ingat, sengsara sebelum bahagia tidak berdosa, itulah perjuangan.


Marco sampai di tempat pelatihan, dia disambut oleh Papilon yang sedang berjaga di pintu masuk. Papilon memegang dua bungkus roti, dia melemparkan satu bungkus ke arah Marco. Dengan sigap langsung ditangkap oleh Marco. Mereka hanya berbicara sebentar, lalu Marco masuk ke area perkemahan. Matanya menatap seluruh penjuru komplek perkemahan, banyak prajurit yang berlalu lalang dan bercanda. Marco mencari sosok wanita yang bernama Theresia.


Pandangan Marco menyapu seluruh tenda yang berdiri, hingga akhirnya dia menatap satu tenda bewarna merah di dekat jembatan. Theresia terlihat berdiri di depan tenda dan sedang berbicara dengan teman perempuannya, mungkin juga seorang perawat. Marco melangkahkan kakinya menuju ke arah Theresia. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan Marco mengenai wanita itu.


Theresia terlihat begitu cantik, senyumnya sangat menawan, dia sungguh sempurna. Marco sampai di tenda merah tersebut dan tersenyum hangat kepada Theresia.

__ADS_1


“Halo. Bagaimana harimu?” tanya Marco.


“Oh, hai. Sangat menyenangkan, banyak prajurit terluka yang mulai membaik kondisinya.”


“Baguslah.”


“Perkenalkan. Ini Wilona, dia juga dari Sandzelt, petugas medis sama sepertiku.” Theresia memperkenalkan gadis yang bersamanya. Gadis itu tersenyum kepada Marco. berbeda dengan Theresia, gadis bernama Wilona itu memiliki kulit yang sedikit coklat dan berambut panjang.


“Oh. Marco,” ucap Marco sambil melambaikan tangan.


“Hai. Aku Wilona Seryn. Salam kenal, Marco.”


“Salam kenal. Baiklah, aku akan menemui Kolonel Grim sebentar, semoga hari kalian menyenangkan.”


“Dah... sampai nanti,” tukas Theresia.


Marco berlalu meninggalkan dua wanita tersebut untuk menemui Kolonel Grim. Theresia dan Wilona tampak tertawa ketika melihat Marco. Entah apa yang mereka bicarakan selepas kepergian Marco dari hadapan mereka.


Marco telah melangkah semakin jauh. Sepertinya ada hal penting  yang ingin Marco sampaikan kepada atasannya itu. Mungkin terkait rencana barunya untuk menghadapi pasukan Corvos.

__ADS_1


 


 


__ADS_2