LIVINETT PROTOCOL 9

LIVINETT PROTOCOL 9
16


__ADS_3

Seperti kapal pecah, kamar Tinos benar-benar berantakan. Dia belum merapikannya sama sekali, ditambah kedatangan Marco yang membuat kondisi kamar itu semakin amburadul. Selimut dan bantal berada di lantai, mejanya penuh dengan berbagai perkakas. Sekarang suasana kamar semakin memanas karena perdebatan Marco dan Tinos. Komputer belum bisa digunakan untuk kembali lagi ke dimensi masa lalu, karena Marco juga tidak tahu caranya.


Keributan terus berlangsung, Tinos tetap ngeyel ingin ikut ke masa lalu jika portal penghubung telah muncul. Dia sama sekali tidak mengerti resiko seperti apa yang akan dia hadapi. Bahaya mengintai setiap saat dalam perang, tidak mungkin bisa tenang. Bocah itu benar-benar punya pendirian yang kokoh. Marco menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Tinos yang susah diberitahu. Ketika mereka sedang serius berdebat, tiba-tiba layar komputer Marco menyala terang. Mereka menoleh bersama, sebuah lubang hitam muncul di layar komputer.


Belum selesai keterkejutan di wajah mereka, tanpa sempat melangkah. Mereka berdua sudah tersedot ke dalam portal itu. Tinos ikut terbawa bersama Marco ke masa lalu. Semua barang yang sudah dikemas oleh Tinos ikut terbawa, begitu juga dengan buku yang dibutuhkan Marco.


Barang-barang berjatuhan bersama munculnya Marco dan Tinos. Tinos terkejut bukan kepalang, dia menatap sekelilingnya. Banyak benda-benda asing di tempat itu, ada juga yang sudah pernah dia lihat dibuku sejarah, seperti baju zirah yang tertata di laborat. Sekarang mereka berada di laboratorium, tempat pertama kali Marco mengenal dunia masa lalu itu. Tinos tersenyum senang lalu menatap Marco.


“Akhirnya kita berpindah tempat, sekarang kita pasti berada di era perang tersebut.”


“Bodoh. Harusnya kau tidak senang,” ucap Marco.


Tinos hanya memalingkan wajahnya lalu berjalan ke arah deretan zirah yang terpajang. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan kemunculan sosok pria paruh baya. Rupanya itu adalah Nolas, dia tersenyum ke arah Marco dan Tinos. Wajah Tinos kebingungan saat melihat pria itu, sepertinya dia pernah melihatnya di suatu tempat. Bukan di dalam buku sejarah, tapi orang itu seperti mirip dengan seseorang.


“Selamat datang kembali, Marco. Untunglah kau bisa kembali dengan selamat, siapa anak kecil ini?”


“Aku Tinos Koulos! Aku bukan anak kecil biasa, aku ini sangat kuat,” celetuk Tinos.


“Hai, Tinos. Sangat bersemangat sekali dirimu,” Nolas menyapa bocah itu.

__ADS_1


“Ya. Aku adalah orang yang akan membantu kalian berperang.”


“Hoho. Kau sangat lucu, lebih baik kau bersembunyi bersama anak lainnya. Perang akan sangat berbahaya.”


“Enak saja. Jangan meremehkan kehebatanku.”


Tinos benar-benar membuat Marco semakin pusing. Ceritanya sudah berbeda, sekarang dia harus berperang sambil menjaga bocah ingusan itu. Tinos sangat cerewet dan pasti akan merepotkan setengah mati. Apa yang dirasakan Marco tidak bisa disangkal lagi, karena Tinos memang bandel. Kalau pun dia bisa mencegah bocah itu, pasti dia akan tetap merengek untuk ikut dilatih perang.


Hingga detik ini, Marco selalu dibuat lelah ketika harus menjawab semua pertanyaan yang diajukan Tinos. Bocah kecil itu terus nyerocos setiap waktu, mulutnya tetap biasa saja, apa dia tidak lelah? Sedangkan mulut Marco sudah pasti berbusa karena menjawab semua pertanyaan Tinos. Dari pertanyaan tidak berarti sampai pertanyaan tingkat dewa dia lontarkan setiap waktu.


Tapi karena mulutnya yang cerewet itu, Marco jadi tidak kesepian. Mulut dari satu orang bocah bernama Tinos, namun seperti ribuan mulut ketika dia mulai bicara. Mungkin bocah itu memang tidak bisa membungkam mulutnya agar diam.


Tidak percuma semua waktu yang telah ia lalui bersama Marco. Dia mampu menyerap banyak ilmu dari pergaualannya dengan Marco. Perbedaan usia mereka memang sangat jauh. Tinos masih berumur 10 tahun, sedangkan Marco sudah menginjak usia 20 tahun. Tapi, perbedaan usia tidak menghalangi mereka untuk saling berbagi dan berkawan.


Bila napas telah berakhir, raga telah terbujur kaku. Saat itulah persahabatan akan terpisah. Semua cerita tentang hidup yang dilalui bersama akan berakhir menjadi kenangan semata. Tapi, selama kita masih diberi kehidupan, jangan pernah mengecewakan sahabatmu apalagi  menyakiti hatinya. Pertengkaran, beda pendapat, adalah hal wajar dalam pertemanan. Tergantung bagaimana diri masing-masing menyikapinya, jangan rusak persahabatan karena masalah sepele. Karena itulah, menjadi dewasa dalam berpikir itu penting, meski kita masih bocah, atau pun kekanak-kanakkan.


Kekanak-kanakkan adalah sifat yang alami. Banyak orang dewasa yang tingkahnya masih seperti bocah. Tapi itu tidak masalah, seberapa tua pun usiamu, kalian akan tetap memiliki jiwa anak-anak. Karena itu akan membuat kalian bahagia, itu bisa menjadi cara untuk menikmati hidup yang penuh masalah ini.


Sungguh membebani memang, jika kita harus mengurus bocah yang sangat bandel. Memahami beban berat seperti itu membuat otak seakan mendidih. Kesabaran Marco sepertinya sudah sangat kuat, meski dia sering berdebat dan tidak mau mengalah dengan Tinos.

__ADS_1


Nolas menyuruh pegawai lab-nya untuk membawakan beberapa makanan dan minum untuk Tinos dan Marco. Pegawai yang ditugaskan oleh Nolas segera melaksanakannya. Tinos berkeliling di setiap sisi ruangan laboratorium. Dia tampak kagum dengan alat-alat, serta eksperimen yang ada di laboratorium itu. Dia mengamati dengan jeli, matanya seolah tidak mau berkedip.


Marco duduk di kursi dan membaca buku yang baru diambilnya dari masa depan. Nolas nampak penasaran dengan buku yang sedang dibaca oleh Marco. Dia mendekat ke arah Marco sambil memasang wajah yang penuh rasa ingin tahu. Pasti dalam benaknya ingin sekali mengetahui isi buku itu. Itulah sifat asli seorang peneliti, dia sangat haus akan informasi dan hal baru. Tidak semua orang menyukai membaca, tapi orang akan membaca apa yang dia sukai. Kebanyakan memang seperti itu, rasa ingin tahu kadang kalah dengan rasa suka.


Beda dengan Nolas, yang tentunya akan membaca apa saja yang bisa membuatnya puas. Buku-buku baru yang ia baca akan menambah asupan pengetahuannya. Sampai sekarang, Nolas tidak pernah melupakan membaca meski hanya satu halaman saja. Mulailah dari membaca yang kau suka, itu tidak masalah. Asal kau konsisten untuk menyelesaikan bacaanmu, suatu saat otakmu akan ketagihan untuk membaca lebih banyak buku.


Dari sebuah buku, kita jadi tahu ilmu dan hal yang menakjubkan lainnya. Saat membaca kisah petualangan, dirimu pasti akan merasakan kisah yang kau baca, bahkan berkhayal jika dirimulah yang mengalami kejadian tersebut. Itulah hebatnya membaca, imajinasimu akan bertambah tajam dan pengetahuanmu akan meluas tanpa batas. Kapasitas otakmu akan mampu menampung banyak cerita, karena manusia adalah makhluk cerdas.


“Buku apa yang sedang kau baca?” tanya Nolas.


“Oh. Ini buku farmasi milik ayahku.”


“Jadi, itu buku yang ingin kau ambil?”


“Ya. Aku akan melakukan hal besar dengan mempelajari buku ini,” jawab Marco sambil tersenyum.


 


 

__ADS_1


__ADS_2