
Seperti singa yang sedang mengejar mangsa, Marco berlari dan menyerang dengan membabi buta tanpa memikirkan strategi lagi. Baginya, Tinos adalah tanggung jawab besar yang harus dia jaga. Bocah itu sudah seperti adik sendiri meski tingkahnya kadang menyebalkan. Dengan penuh amarah, Marco terus menghabisi titan yang menghadangnya. Wilson muncul sambil membawa Tinos di tangannya. Bocah kribo itu tergeletak tak sadarkan diri di telapak tangan raksasa Wilson. Marco menghindar dan mencari tempat aman untuk melihat kondisi Tinos.
“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Marco.
“Sepertinya dia bertarung dengan Garben.”
“Brengsek! Akan kuhajar dia.”
“Sebaiknya kita tunggu yang lain datang dulu,” ucap Wilson.
“Aku tidak punya waktu untuk menunggu, akan kuhancurkan sendiri pasukan musuh.”
“Jangan gegabah. Kau tidak bisa menang melawan mereka kalau sendirian.”
Marco tetap kukuh dengan pendiriannya, dia menghiraukan semua yang diucapkan raksasa Wilson. Dengan penuh rasa marah, Marco mengeluarkan kembali anak panahnya dan menempatkan pada busurnya, dia membidik ke arah raksasa yang berjalan menuju ke arahnya. Satu anak panah, dua anak panah, semua tepat mengenai sasaran.
Raksasa Wilson memandangi apa yang dilakukan Marco. Dia lalu terbayang pada satu sosok yang sangat mirip dengan Marco. Benar, sosok itu adalah King Arcansas yang dulu selalu dilayani dengan baik oleh si kembar itu. Kegigihan, rasa tidak peduli, dan selalu mendengarkan kata hatinya, itulah King Arcansas saat berusaha menaklukkan Pegalisch. Sepertinya Marco mewarisi semua sifat raja tersebut.
Kolonel bersama seluruh pasukan telah tiba dan segera menyusul Marco. Rencana darurat segera dilaksanakan, perang kali ini tidak seperti biasanya. Setelah gencatan senjata selama 6 bulan lamanya, waktu yang cukup lama. Tentu kekuatan masing-masing pasukan semakin bertambah, terlebih lagi pasukan Corvos memiliki petinggi yang menyebut dirinya Anak Suci. Akan seperti apa perang kali ini? Pertumpahan darah akan segera terjadi kembali.
Kolonel maju bersama Sir. Hudson dan beberapa anggota lainnya. Derpaz memimpin pasukan berpanah untuk melakukan serangan pertama. Pasukan berpedang kali ini lebih banyak dan di pimpin oleh Nolas. Ilmuwan itu ikut bertempur di medan perang setelah sekian lama bersembunyi di dalam laboratoriumnya. Pertempuran maha dahsyat telah berkobar, seluruh pasukan berjuang sekuat tenaga. Para titan dari Tsandor mulai menguasai medan perang, mereka lebih unggul karena sudah hafal dengan geografis di wilayah itu.
Papilon maju bersama Luis menggempur wilayah sisi timur. Deart terluka karena tendangan dari salah satu raksasa. Tulang rusuknya patah, dia harus mundur dari medan perang dan kembali ke sisi pelabuhan. Darah mulai berceceran di mana-mana, mayat bergelimpangan. Tubuh titan yang begitu besar mulai ambruk satu persatu. Pasukan Branco mulai bisa mengimbangi pertempuran. Mungkin untuk saat ini, sebelum Anak Suci muncul, karena pemimpin Trovolta itu sungguh luar biasa kehebatannya. Dia seolah-olah bisa mengendalikan dunia ini dengan semaunya.
__ADS_1
Nolas mulai bersiap untuk melepaskan virus yang dia bawa. Dia memberi aba-aba untuk seluruh pasukannya supaya melepaskan zirah yang dipakai. Para raksasa dari Trovolta tidak mengerti dengan yang dilakukan oleh musuh. Seluruh orang kerdil itu melepas zirah yang dipakai di hadapan para titan. Setelah semua siap, Nolas menyebarkan virus Arx-V yang ada di sebuah tong. Virus itu dimasukkan ke dalam sebuah alat yang dia bawa lalu dilepaskan ke udara hingga menyebar ke seluruh penjuru medan perang dengan sangat cepat.
Raksasa yang telah terkena virus mulai tampak kelabakan. Mereka seperti anjing rabies dan tubuhnya semakin besar lalu kepalanya pecah. Darah mengucur deras dari leher tanpa kepala lalu seonggok daging titan ambruk ke tanah. Di susul dengan jatuhnya titan yang lain. Beberapa titan yang berada di posisi jauh mulai mundur. Tapi ada satu yang tiba-tiba maju, dia menyerang dari udara menuju ke arah Nolas. Sepertinya dia tau senjata apa yang digunakan oleh Nolas. Raksasa itu ternyata Anak Suci, sorot matanya begitu tajam dan mengerikan. Nolas tidak sempat menghindar, kecepatan Anak Suci itu sungguh di luar nalar. Tubuhnya besar, namun kecepatannya seperti kilat, dia telah tiba di hadapan Nolas. Marco yang tidak memakai zirah menoleh ke arah Nolas.
Pemandangan mengerikan terjadi di depan mata Marco. Seluruh mata tertuju pada sosok Anak Suci. Dia mengangkat tanganya yang di kepalkan lalu menghujam dengan dahsyat ke arah Nolas. Seketika itu debu membumbung ke udara dibarengi suara dentuman keras. Marco terbelalak matanya, bagaimana nasib Nolas? Kolonel Grim dan pasukan lainnya berteriak memanggil nama Nolas. Mereka berteriak sangat keras penuh keputusasaan.
Debu mulai menyingkir dan pandangan kembali jelas. Mereka bisa melihat kembali tangan Anak Suci yang begitu besar, tubuhnya masih membungkuk. Rupanya Nolas masih hidup, dia bisa menahan serangan dari Anak Suci dengan pedangnya. Nolas tentu akan mati jika terkena pukulan itu. Marco bernapas lega karena mengetahui Nolas masih selamat. Dia segera berlari untuk membantu Nolas, tapi sayang, dia terlambat. Dari arah belakang, Nolas di serang oleh raksasa yang masih sekarat. Tangan raksasa itu mengayunkan pedang hingga memotong tubuh Nolas. Anak Suci menegakkan tubuhnya lalu mengambil tubuh bagian atas Nolas kemudian meremukkannya dengan tangan. Situasi benar-benar gawat, Marco menangis melihat buyutnya tewas mengenaskan.
Virus itu telah berhasil membunuh setengah raksasa yang memakai zirah. Tapi malang bagi Nolas, dia harus tewas seketika itu juga. Tinos mulai membuka matanya, dia masih tertidur di belakang tubuh Wilson. Raksasa Wilson juga mulai kelelahan, dia mundur untuk bergabung dengan Kolonel Grim. Suasana tiba-tiba hening untuk sejenak. Marco menangis dan menjatuhkan kedua lututnya ke tanah berpasir. Dia meraung-raung begitu keras seperti orang gila, mengenang semua yang telah ia lalui bersama Nolas.
“Nolas!!!!” teriak Marco. “Akan kuhancurkan semuanya!!!!” Marco diliputi angkara murka. Matanya menatap penuh kebencian ke arah Anak Suci.
Seluruh pasukan termasuk Kolonel Grim terkejut ketika melihat cuaca berubah secara mendadak. Langit menjadi gelap diliputi oleh awan hitam yang menggumpal seperti kapas. Raksasa Wilson tercengang, lalu menatap ke tempat Marco berada.
“Angin ini? Mungkinkah itu terjadi?” ucap raksasa Wilson.
“Kondisi seperti ini pernah terjadi, angin ini tidak biasa.”
“Hoi. Apa yang akan terjadi?” Kolonel Grim memotong pembicaraan Wilson dan Tinos.
Raksasa Wilson terdiam sejenak, dia lalu mengangguk. “Ya. Aku sangat yakin. Aura ini benar-benar kurasakan dari sekitar Marco.”
“Aura apa?” tanya Kolonel.
__ADS_1
“Marco akan mengamuk, jika itu benar, maka sesuatu yang hebat akan terjadi.”
Benar saja, apa yang dikatakan oleh Wilson segera terjadi. Dari langit muncul kilatan cahaya yang sangat menyilaukan. Petir menari-nari seolah ingin membelah lautan. Angin bertiup lebih kencang, seperti angin jahat yang siap meluluh lantakkan semua isi dunia. Tubuh Marco tiba-tiba dikelilingi oleh cahaya serta angin berputar di sekitarnya. Dia terlihat meraung kesakitan, ada yang aneh dengan tubuhnya. Tubuhnya membengkak lalu berubah menjadi raksasa.
Raungan Marco semakin keras, tubuhnya kian membesar hingga sebanding dengan tubuh titan milik Wilson. Anak Suci sedikit mundur dan bersiaga. Dari atas langit, sesuatu terlihat jatuh menuju ke arah Marco. Wilson menunjuk benda yang meluncur ke bawah itu.
“Lihatlah. Seperti yang kuduga, ternyata keajaiban ada di pihak kita.” Wilson meloncat dan tertawa gembira, “itu adalah panah legendaris milik King Arcansas dari 2000 tahun silam, Panah Realo.”
Seluruh orang yang mendengar ucapan Wilson kaget bukan kepalang, terutama Tinos. Dia tidak menyangka Marco bisa berubah menjadi raksasa juga. Ternyata Daz dan Fell tidak berbohong jika dahulu seluruh leluhurnya bertubuh raksasa.
Busur yang lengkap dengan anak panahnya telah jatuh di hadapan Marco. Dengan perlahan, Marco bangkit dari tanah dan mengambil panah itu. Panah yang begitu besar dan kokoh, panah klasik namun memiliki energi tersendiri. Anak Suci terbelalak matanya menatap apa yang baru saja jatuh. Kain yang menutupi sebagian wajahnya terlepas, sehingga terlihat wajah asli Anak Suci. Dia tahu, panah itu adalah panah yang digunakan untuk menguasai Pegalisch oleh Arcansas.
Wilson terkejut saat melihat wajah Anak Suci. Ternyata dia adalah orang yang bisa hidup dengan umur panjang juga. Dia juga berasal dari Pulau Suin, wajahnya rusak karena terbakar ketika mengambil serpihan permata Livinett yang dicuri Wilson. Dulu dia juga ikut berperang bersama Arcansas ketika melawan Raja Trill dari Pedral.
Akibat kutukan batu Livinett, dia kabur dengan cara menceburkan diri ke laut. Kutukan itu mengenai dirinya, tapi tubuhnya tidak berubah menjadi kecil berkat air laut. Dia lalu berenang menyeberangi Selat Krokalm dan tiba di Benua Tsandor. Di sana, dia mulai menghasut orang kerajaan dan mulai melakukan kudeta. Anak Suci memiliki nama asli Ulvir, dia berhasil menjadi raja di Benua Tsandor berkat kekuatannya.
Daz Wilson dan Fell Wilson kini bisa mengenali Anak Suci. Marco semakin berapi-api, dia lalu menyiapkan anak panah yang baru didapatnya. Panah Realo yang mampu membunuh 1000 raksasa dalam sekali tembak. Para titan dari Tsandor mulai berkumpul menjadi satu di belakang pemimpin mereka.
Anak Suci mengeluarkan jurus yang sangat aneh. Marco pun telah siap melepaskan anak panahnya dari busur. Slash! Anak panah melesat ke arah Ulvir, badai semakin besar ketika anak panah diluncurkan. Tangan Marco terbakar karena panah yang dia pegang begitu dahsyat. Wilson tidak menyangka, Marco bisa menggunakan panah itu.
Sungguh hebat, tanah yang dilewati anak panah itu terbelah. Anak Suci yang bernama asli Ulvir itu mengeluarkan cahaya merah di sekeliling tubuhnya. Sepertinya dia mengeluarkan kekuatan penuhnya untuk menahan serangan Marco. Sayang Ulvir tidak bisa lagi menahan anak panah berkekuatan super itu. Anak panah pun tepat menusuk ke dada Ulvir. Dia terpental ke belakang dengan sangat cepat, mengenai seluruh pasukan yang ada di belakangnya. Mungkin karena anak panah telah ditahan oleh kekuatan misterius milik Ulvir, korban yang jatuh tidak begitu banyak. Tapi sayang, seketika itu juga Ulvir tewas. Dadanya berlubang dan dia tidak bisa bangkit lagi.
Seluruh pasukan Branco pun bersorak gembira karena kekalahan Corvos. Para raksasa dari Tsandor yang melihat pemimpin mereka tewas, mulai mundur dan menyerah. Roz Fruilt tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia masih selamat dari panah Marco. Pencuri zirah itu harus diberi pelajaran, tapi Kolonel Grim menyuruh membiarkan Roz Fruilt hidup. Dia tidak akan berani lagi macam-macam dengan orang Yazelt. Sayang sekali, Garben ikut tewas dalam insiden itu, dia terkena serangan panah yang dilontarkan Marco. Kini Garben telah menyusul Tink, semoga kalian tenang di sana. Tubuh raksasa Marco kembali menyusut, dia lalu tersungkur ke tanah. Tinos langsung berlari untuk menjemput Marco.
__ADS_1