LIVINETT PROTOCOL 9

LIVINETT PROTOCOL 9
26


__ADS_3

Hari semakin gelap, malam pun telah tiba. Para prajurit tampak kelelahan, banyak dari mereka yang telah terlelap. Hanya beberapa orang yang masih asik berbincang. Termasuk Derpaz, Luis, Papilon dan Deart. Yang tidak tampak di antara mereka hanya Garben. Mungkin dia telah tidur karena kelelahan seperti yang lainnya.


Marco hanya berbincang sebentar bersama mereka. Kemudian dia izin meninggalkan teman-temannya. Marco memutuskan untuk menemui Nolas, dia kembali ke laboratorium bersama Tinos. Selama perjalanan, Marco masih memikirkan tentang si kembar tadi. Apakah cerita mereka benar-benar nyata, atau hanya sekedar bualan belaka. Kalau itu memang benar-benar fakta, tentu ini akan menambah pengetahuan Marco tentang sejarah yang sebenarnya.


Marco dan Tinos hampir sampai di laboratorium, mereka berjalan sedikit perlahan. “Jadi yang mengajarimu ilmu pedang adalah Nolas?”


“Ya. Dia juga membebaskanku dari tempat terkutuk itu. Kau benar-benar keterlaluan, tega sekali mengurungku di tempat seperti itu,” raut wajah Tinos menjadi kesal.


“Itu demi kebaikanmu. Kalau kau kubiarkan mengikutiku, tentu kau akan mati muda. Aku tidak menyangka kalau Nolas memiliki kehebatan berpedang yang sangat luar biasa.”


“Sudah lupakan. Aku juga terkejut awalnya. Kupikir dia mengeluarkanku untuk menjadikan tubuhku sebagai bahan percobaan.”


Mereka berdua telah sampai di pintu masuk utama. Marco menekan tombol rahasia yang tersembunyi di antara akar pohon tua. Tanah pun berguncang dan terbelah, pintu otomatis muncul. Mereka melompat ke dalam lalu menginjak dasar lift. Laboratorium itu dibangun khusus. Marco tidak tahu kelak laboratorium itu akan menjadi apa di masa depan.


Mereka telah sampai di dalam dan di sambut oleh Nolas yang sedang mengelap kacamatanya. Dia tersenyum ke arah dua pemuda yang baru saja memasuki laboratoriumnya. Saat menatap mereka, Nolas tersenyum semakin lebar, mungkin dia membayangkan masa mudanya. Masa muda yang penuh semangat dan darah yang mendidih. Masa paling indah dalam perjalanan hidupnya.


“Kalian sudah kembali. Bagaimana dengan pertempuran kali ini?” tanya Nolas.


“Sangat sukses berkat ilmu nekat yang kau ajarkan kepada Tinos! Nolas, kenapa kau tidak meminta izin dulu padaku bahwa kau akan melatih bocah kribo ini.”


“Kalau aku memberitahumu terlebih dahulu, sudah pasti kau akan melarangku.”


“Tentu. Karena dia masih sangat kecil untuk ikut berperang. Nyawanya hanya satu, kalau dia tewas, apa kau bisa menghidupkannya?”


“Sudahlah. Yang penting kalian kembali dengan selamat. Selama kepergianmu untuk berlatih di Desa Harfil, aku memang sengaja melatih Tinos ilmu pedang.”


“Dasar. Kenapa kau juga tidak bilang padaku jika kau memiliki keahlian berpedang, dan kenapa kau tidak ikut berperang. Kau tentu lebih hebat dari pada si afro jelek itu.”

__ADS_1


“Berhentilah mengejakku terus-menerus, Marco sialan. Aku ini sekarang sangat kuat, jangan meremehkanku. Dan ingat, jangan menghina rambutku lagi,” celetuk Tinos.


“Memangnya kenapa? Rambutmu memang kribo, lagi pula itu sudah melekat menjadi hal unik untuk mengenalimu.”


“Yah. Sesukamu saja. Sekarang aku lelah, aku mau tidur.”


Percakapan mereka berakhir. Setelah membersihkan badannya, Tinos langsung pergi tidur. Marco juga telah mandi, dia lalu mengajak Nolas untuk menemaninya berbicara. Mereka berbicara di dalam kamar yang terpisah dengan Tinos. Laboratorium itu sebenarnya memiliki 4 kamar yang cukup nyaman. Tapi Nolas jarang menempatinya untuk tidur.


Kali ini Marco bermaksud menyerahkan buku yang dititipkan Derpaz dari orang Sandzelt. Buku itu sepertinya sangat penting sehingga orang di sana menitipkannya untuk diberikan kepada Nolas. Buku itu seperti buku farmasi, tapi sangat kuno. Karena buku farmasi yang dimiliki ayah Marco lebih bagus.


“Buku ini dipasrahkan padaku untuk memberikannya padamu.”


Nolas menerima buku tersebut lalu mengamati sampulnya. “Sepertinya buku ini adalah buku yang pernah kutulis beberapa tahun silam. Pasti orang itu Riyim, dia juga ahli obat-obatan.”


Marco mengkerutkan keningnya, dia tidak mengerti dengan ucapan orang di hadapannya itu. “Kau yang menulis? Untuk apa?”


“Ya. Aku juga menulis beberapa buku tentang penelitianku. Dulu ada percobaan yang gagal. Robot pertama yang kubuat mengamuk, dia menghancurkan ladang tanaman obat. Dengan buku ini, aku merumuskan sebuah ramuan untuk merusak robot itu. Ramuan itu sejenis asam yang akan menghancurkan mesin serta sistemnya.”


“Ya. Aku sempat tinggal di sana.”


“Baiklah. Kuserahkan buku itu padamu, selamat malam.”


Marco mengakhiri percakapan. Dia menuju kamar yang masih kosong untuk tidur. Sesampainya di kamar, dia merenung. Pemuda itu akhirnya terpikirkan sesuatu. Sepertinya ada ide yang baru saja melintas di kepalanya. Dia lalu beranjak dari ranjang dan mengambil buku farmasi milik ayahnya.


Dia sangat serius, matanya melirik setiap baris kalimat yang tertulis di buku itu. Tangannya sangat cekatan membolak-balikkan setiap lembar buku itu. Kemampuan membaca cepatnya seolah berpacu dengan gerak tangannya. Otaknya sangat fokus, dia mempelajari buku itu dalam sekejap. Dia lalu menutup buku tersebut, wajahnya menyunggingkan senyum yang begitu lebar.


“Kali ini pasti berhasil,” ucapnya.

__ADS_1


Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Ide apa yang baru saja muncul, dia seperti mendapat ilham dari langit. Setelah selesai membaca, dia lalu memutuskan untuk segera tidur. Malam berlalu begitu saja berganti dengan pagi lagi. Marco telah bangun dari tidurnya, dia membasuh wajahnya lalu menuju laboratorium. Nolas sedang membaca buku yang semalam dia terima. Marco datang menghampiri laki-laki paruh baya itu.


“Selamat pagi, apa yang sedang kau kerjakan?” tanya Marco.


“Oh. Pagi, Marco. Sekarang aku sedang mempelajari buku farmasi yang kau berikan semalam. Dibuku ini ada beberapa rumus yang aku sendiri sudah lupa.”


“Begitu. Nolas, dengarkan aku. Aku punya ide bagus, mungkin saja jika dengan bantuanmu, rencanaku ini bisa berjalan lancar. Jika ideku ini benar-benar berhasil terealisasi, kita bisa mengalahkan pasukan dari Trovolta.”


Nolas terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan Marco. Dia meletakkan buku yang sedang dia pegang. “Ide apa yang kau maksud?” tanya Nolas.


“Aku telah mempelajari buku yang kuambil dari masa depan. Dengan buku itu, kita bisa mengkombinasikannya dengan ilmu yang ada dibuku milikmu. Berikan buku itu padaku, akan kupelajari sebentar.”


“Hm. Otakmu memang jenius. Tidak baik aku meragukanmu, baiklah silahkan kau pelajari buku milikku ini.”


Nolas pun menyerahkan bukunya kepada Marco. Kini Marco duduk lalu membaca buku yang baru saja dia terima. Dia mempelajari buku yang diberikan Riyim dari Sandzelt tersebut. Matanya bergerak ke kiri-kanan mengikuti setiap baris kalimat. Seperti semalam, dia membaca dengan sangat cepat, padahal buku itu cukup tebal. Nolas benar-benar tertegun melihat kemampuan Marco.


“Kenapa kau bisa membaca secepat itu? Apa ini karena sindrom yang kau derita?” tanya Nolas.


“Ya. Kau tentu belum tahu, karena nama penyakitku ini baru diketahui setelah 100 tahun perang ini berakhir. Sebenarnya ini hanya kelainan, bukan penyakit mematikan. Orang di zamanku menyebutnya dengan sindrom hyperthymesis. Kata mereka, ini adala kelainan langka yang dialami otak. Aku memiliki kemampuan mengingat super, apa saja yang kupelajari bisa kuingat dengan sekejap.”


“Ah. Sewaktu pertama kali datang kemari, kau juga memperlihatkan kemampuanmu itu. Tapi aku lupa menanyakan apa yang membuatmu secerdas ini. Kupikir itu hal biasa yang dimiliki oleh orang dari masa depan.”


“Tidak. Kelainan ini sangat langka, hanya beberapa orang yang mengalaminya. Karena kelainan ini, aku dijauhi oleh semua temanku di masa depan. Mereka mengatakan aku ini monster karena sangat berbeda dengan mereka.”


“Begitu. Jangan risau, kau sangat mengesankan,” Nolas memuji pemuda itu, “baiklah, sekarang beritahu aku, rencana apa yang kau pikirkan?”


“Kita akan menciptakan sebuah virus yang akan menghancurkan zirah yang dipakai para raksasa dari Trovolta itu.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2