
9200 Gerkach. Cansas Kingdom.
Suasana kerajaan sangat riuh, para pelayan sibuk mempersiapkan jamuan makan. Lima raja dari masing-masing wilayah akan mengadakan rapat besar. Seluruh perwakilan dari wilayah Pegalisch akan membahas tentang kasus yang masih belum terpecahkan. Yaitu kasus jatuhnya pesawat milik orang Trovolta. Penyelidikan yang dilakukan sejauh ini belum menemukan satu petunjuk yang dapat memberi penjelasan terkait menghilangnya para penumpang pesawat yang jatuh tersebut.
Pesawat M12-43 yang terjatuh di Pegunungan Aranos 6 bulan lalu seolah menyisakan misteri yang memang tidak bisa diungkap. Para peneliti serta tim ahli sudah ikut menyelidiki, divisi penerbangan dari Trovolta sendiri juga mulai putus asa karena tidak ada petunjuk yang pasti.
Dalam pertemuan kali ini, seluruh raja berkumpul di Istana Cansas. Ryo Korlas dari Sandzelt, Stef Tac dari Cadzelt, Kaum Kyuzelt diwakilkan oleh Gibergius, dan Gio Torbern dari Yazelt. Keempat raja itu telah berkumpul semua. Torbern membagikan berkas penyelidikan pesawat yang jatuh di wilayahnya.
“Pesawat itu sudah lebih enam bulan dalam penyelidikan. Tapi, belum ada kejelasan terkait penyebab jatuh serta menghilangnya seluruh penumpang,” ucap Torbern.
Korlas mengerutkan keningnya sembari membaca laporan penyelidikan yang ia pegang. “Sebelumnya kami minta maaf, karena tidak dapat hadir untuk meninjau lokasi kejadian. Kalau menurutku, kita harus menyerahkan ini ke pihak Trovolta saja.”
“Tunggu. Kalau kita biarkan begitu saja, bisa jadi mereka akan marah. Karena seolah kita meremehkan warga mereka,” Stef menimpali usulan yang diberikan Korlas.
“Ya. Aku setuju dengan Stef, kalau itu yang kita lakukan, kemungkinan besar mereka bisa marah. Hal buruk bisa saja terjadi, mereka bisa mengobarkan api permusuhan kembali,” tukas Girbergius.
“Saudaraku. Masukan kalian sangat dibutuhkan untuk memecahkan kasus ini. Karena ini terkait dengan kelangsungan hidup di benua kita ini. Selama ini tim penyelidik dari Trovolta masih baik-baik saja, maksudnya, mereka tetap bekerja sama dengan kami tanpa kecurigaan sama sekali. Jangan sampai kita merusak hubungan ini,” Torbern kembali berbicara.
Mereka masih hanyut dalam perdebatan. Suasana ruangan begitu panas dan tegang, seolah udara habis terhisap oleh lubang gelap. Para tetua tersebut terus membahas misteri yang membingungkan ini.
***
Kembali lagi ke masa lalu, saat ini Marco sedang menemui Kolonel untuk memberitahukan informasi yang dilihat oleh Tinos. Kolonel Grim begitu terkejut ketika mendengar yang disampaikan oleh Marco. Kolonel langsung memerintahkan tim inti untuk berkumpul, termasuk si kembar.
Daz Wilson dan Fell Wilson berhasil ditemukan oleh Sir. Hudson. Si kembar itu masih asik bermain di sisi tenggara perkemahan. Mereka bermain-main dengan senjata mereka untuk memburu ikan di sungai. Setelah semua berkumpul, Kolonel Grim langsung menjelaskan situasi yang terjadi. Semua terkejut ketika mengetahui Garben telah berkhianat.
“Kita belum dapat memastikan apakah dia memang mengkhianati kita atau tidak. Masih ada satu kemungkinan lagi, mungkin saja dia menyusup ke sana sendirian untuk membalas kematian saudara angkatnya yang bernama Tink,” ucap Kolonel.
Derpaz juga sangat terkejut ketika mendengar berita ini. Papilon, Luis, Deart, Reil, dan Rifiz sama-sama terkejut. Kecuali si kembar yang duduk sambil memainkan rambut mereka. Anak kembar itu seolah tidak peduli dengan Garben.
“Bukankah Garben tadi siang masih di sini?” celetuk Deart.
“Ya. Tapi dia menuju ke pelabuhan dan diikuti oleh adiknya Marco,” jawab Kolonel Grim.
__ADS_1
Sir. Hudson tampak memainkan kumisnya, dia manggut-manggut menyimak situasi yang sedang terjadi. Ketika mereka sedang serius, terlihat seekor burung yang melayang di atas mereka. Burung tersebut mendarat di atas tenda, di kakinya terdapat gulungan kertas kecil. Kolonel langsung memerintahkan Derpaz untuk mengambil gulungan tersebut. Rupanya itu adalah surat dari Benua Tsandor. Isi surat tersebut adalah permintaan gencatan senjata selama 6 bulan, ada sesuatu yang ingin dilakukan oleh Kaum Trovolta itu.
“Apa maksudnya ini? Kenapa mereka tiba-tiba meminta untuk menghentikan perang sementara waktu?” celetuk Kolonel.
“Apakah ini karena ulah Garben? Tulisan ini terlalu kecil kalau orang Trovolta yang menulisnya.” Papilon menebak.
“Mereka akan memulai perang kembali tepat saat memasuki musim dingin, begitulah yang tertulis di surat ini,” kata kolonel.
“Apa-apaan mereka itu? Apa mereka ingin mengulur-ulur waktu agar mereka bisa menyerang kita tiba-tiba?” celetuk Derpaz.
Kolonel yang mendengar ucapan Derpaz langsung berpikir. Kolonel Grim tampak bimbang, dia menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Sambil menatap seluruh tim inti, dia maju beberapa langkah.
“Dengar. Kita turuti permintaan mereka. Untuk sekarang, dengarkan rencanaku. Kita akan melakukan penyerbuan ke wilayah mereka. Kali ini kita harus benar-benar berkorban. Selama 6 bulan ke depan, kita gunakan waktu itu untuk memperkuat pasukan kita. Setelah tiba saatnya, kita langsung menyerang mereka. Tentu mereka akan terkejut dengan kedatangan kita.”
Semua anggota tim inti tampak kaget dengan rencana komandan mereka. Semua ini terkesan mendadak, sangat tergesa-gesa untuk mengambil keputusan seperti itu.
“Tunggu. Apakah ini tidak terlalu gegabah?” Marco bertanya.
“Menurutku ini rencana yang bagus, aku akan mendukung rencana kolonel,” celetuk Fell Wilson. Seluruh anggota menoleh ke arah pemuda itu. Si kembar bersenjata pistol itu tampak sangat senang mendengar rencana kolonel. “Dengar. Kalian bisa mengandalkan kekuatan kami, si kembar yang hebat,” imbuhnya.
“Jangan sombong kau bocah ingusan. Perang ini menyangkut banyak hal, kalau kita yang justru dibantai oleh mereka, bagaimana nasib benua ini nantinya?” Luis akhirnya ikut berkomentar.
“Aku akan menyusup ke sana bersama saudaraku. Daz adalah penipu ulung, dia sangat cerdas. Kekuatanku juga sangat dahsyat, lihatlah apa yang akan kami tunjukkan pada kalian. Daz, mari kita tunjukkan kekuatan itu.”
Semua tidak paham dengan yang diucapkan Fell. Kekuatan apa yang dia maksud? Daz pun melangkah mendekati saudaranya. Fell menyuruh seluruh orang untuk menjauhi tempat mereka berdiri. Ketika tempat sudah terasa longgar, Fell dan Daz mengambil pedang yang ada di dekat mereka lalu mundur beberapa langkah. Mereka saling berhadapan satu sama lain, kemudian tangan mereka diletakkan di depan dada dengan memegang pedang. Mata pedang terhunus ke arah masing-masing si kembar. Mereka sedikit membungkuk lalu berlari ke samping searah jarum jam. Mereka berputar-putar lalu maju ke depan dan saling menancapkan pedang ke dada.
Kolonel Grim dan lainnya terkejut melihat apa yang sedang dilakukan bocah kembar itu. Si kembar itu terlihat seperti saling bunuh, tapi selang beberapa saat, angin bertiup kencang. Langit yang sudah gelap tiba-tiba menjadi terang. Seketika itu juga, tanah terasa bergetar. Di tempat si kembar berdiri, muncul seorang raksasa seperti Kaum Trovolta. Rupanya si kembar itu dapat menggabungkan diri menjadi satu dan berubah menjadi raksasa.
“Hoi, hoi, hoi! Mereka bercanda? Sialan, kenapa mereka dapat melakukan itu,” teriak Marco.
“Apa kalian terkejut? Akan kuberitahu kalian semua. Leluhur kalian dari 2000 tahun lalu juga berbadan raksasa. Sekarang aku masih hidup kerena kutukan. Kami bisa menggabungkan tubuh ketika King Arcansas meninggal, kami putus asa dan mencoba saling bunuh diri bersama dengan cara menusukkan pedang, sayangnya justru kekuatan tak terduga ini yang muncul,” si raksasa itu menjelaskan.
“Lalu apa tarian aneh tadi? Apa itu ritual?” Derpaz bertanya.
“Kami menari biar terlihat keren saja.”
“Dasar bodoh!” teriak Derpaz.
“Panggil kami Wilson. Kekuatan ini dapat bertahan sesuai keinginan kami.”
“Huaaaaa!!!!!”
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara teriakan bocah dari belakang kerumunan. Rupanya itu Tinos, dia muncul membawa pedangnya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menyerang raksasa itu. Serangannya berhasil di tangkis oleh raksasa Wilson.
“Bodoh! Ini aku, si kembar,” kata Wilson.
Tinos menurunkan pedangnya, dia tampak bingung. “Si kembar? Kenapa kalian berubah bentuk begini?”
“Inilah kekuatan kami, dasar cebol.”
“Apa!? Sialan, akan kubunuh kau, raksasa jelek!”
“Coba saja. Sekarang aku lebih tinggi darimu,” Wilson mengejek.
“Tinos! Hentikan, raksasa itu tidak punya niat jahat,” teriak Marco.
“Baiklah. Tapi kenapa mereka menjadi raksasa seperti itu, mereka ingin melakukan apa?” tanya Tinos.
Bocah kribo itu dipenuhi rasa penasaran, dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Derpaz mendekat ke arah bocah afro itu.
“Hei. Mereka akan menyusup ke wilayah musuh, orang Trovolta berniat mengadakan gencatan senjata selama 6 bulan. Jadi, kolonel berencana menyerbu wilayah mereka tepat setelah gencatan berakhir. Kau tadi melihat Garben pergi ke Trovolta, bukan?” Derpaz menjelaskan.
“Menyusup? Gencatan senjata? Ya. Aku melihatnya.”
“Bagus. Terima kasih atas kerja kerasmu, Nak. Semoga kita bisa menyelamatkan Garben.”
Tinos pun terdiam memahami situasi tersebut. Dia lalu melangkah ke hadapan kolonel.
“Kelak, saat gencatan berakhir. Biarkan aku menyusup ke wilayah musuh juga,” pinta Tinos.
Marco terkejut mendengar ucapan bocah itu.
“Apa kau serius, Nak?” balas Kolonel Grim.
“Ya.”
“Baiklah. Berlatihlah lebih keras kalau ingin melawan mereka lagi.”
Tinos pun mengangguk. Raksasa Wilson juga berkata kepada Tinos kalau mereka bersedia bekerja sama untuk menyusup. Marco pun tidak bisa menghentikan niat bocah itu.
__ADS_1