
Tubuh Tinos menggigil karena luka-luka yang dia derita. Marco memapahnya ke luar dari medan perang, mereka bersembunyi di balik semak-semak. Anak kembar tadi masih melakukan perlawanan dengan sangat hebat. Benar, mereka adalah anak kembar berkemampuan super. Kolonel Grim yang melihat aksi mereka tampak terpukau. Dia bersorak dan menyemangati kedua bocah kembar itu.
Marco berhenti, napasnya tersengal karena memapah Tinos. Marco juga mengalami luka cukup serius, meski tidak ada tulang yang patah. Hanya luka sayatan serta memar. Tinos juga terlihat babak belur. Entah mengapa, Marco bergetar saat mengetahui kehebatan bocah ini. Dia ternyata sangat berbakat mengayunkan pedangnya.
Seperti ketika mencoba untuk menjilat hidung. Sangat sulit dilakukan, itu adalah hal mustahil. Sama seperti pemikiran yang baru saja terbesit di dalam kepala Marco, apakah mereka akan menang melawan raksasa-raksasa perkasa itu? Terasa sulit, Marco mulai menjadi pesimis. Nampaknya napas Tinos juga terengah-engah, dia juga menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya. Keadaan ini membuat Marco merasa sangat payah dan memalukan.
Marco menaruh harapan kepada dua petarung yang baru saja datang. Mereka seperti membawa angin segar di tengah keputusasaan. Siapa tahu mereka mampu mengalahkan seluruh pasukan Corvos.
Bocah kembar itu berhasil membuat pasukan titan kelabakan. Anak Suci yang berada di atas kapal induk mulai geram. Dia mengangkat kedua tangannya lalu muncul cahaya silau di sekitar tubuhnya. Disaksikan sang matahari serta ombak Krokalm, Anak Suci itu seperti mengumpulkan energi dari dalam tubuhnya. Setelah itu, cahaya yang bersinar di sekitar tubuhnya, membentuk bulatan di depan dadanya. Dengan penuh kekuatan, dia melontarkan bola cahaya itu ke arah pelabuhan. Dia tidak peduli dengan pasukannya yang masih ada di daratan. Bola cahaya itu menerjang ke arah Marco, lalu menghantam pelabuhan dan menyebabkan ledakan dahsyat. Bocah kembar yang sedang bertarung, terkejut lalu terpental cukup jauh ke belakang.
Saat itu juga, Kolonel Grim dan Sir. Hudson memerintahkan semua pasukan untuk mundur. Tiada lagi perintah yang dapat dilontarkan, ini adalah jalan satu-satunya agar tidak jatuh korban yang lebih banyak. Mengingat pasukan Branco sudah semakin berkurang karena banyak yang telah tewas. Derpaz berlari disusul Luis dan yang lain. Marco ke luar dari semak-semak lalu melambaikan tangan ke arah pasukan yang sedang berlari ke arahnya. Para pengguna Zelcar dengan kecepatan penuh juga ikut meninggalkan pelabuhan. Ledakan maha dahsyat terjadi, korban yang ambruk akibat serangan yang dilancarkan oleh Anak Suci cukup banyak. Dia bahkan tidak segan untuk membunuh bawahannya.
Si Anak Suci itu sungguh kejam dan tidak memiliki belas kasihan. Dia tidak menganggap penting nyawa bawahan yang telah berjuang demi dirinya. Dia angkuh serta egois, dia memang harus dimusnahkan secepatnya. Kalau tidak, seluruh dunia bisa hancur karena kekejamannya. Bukan maksud Marco untuk menggampangkan suatu hal, tapi, orang itu telah membuatnya begitu marah.
Apa lagi yang hendak dikatakan, itu sudah menjadi hal yang lumrah. Melihat orang kejam tanpa belas kasih rasanya sangat menyayat hati. Purnama indah yang sebelumnya bersinar terang, seolah menyingkir karena kedatangan Anak Suci. Apanya yang suci, dia kotor dan penuh angkara murka, dia lebih pantas disebut iblis. Marco tidak berniat menghakiminya, tapi memang seperti itulah kenyataannya.
__ADS_1
“Marco, kembali ke Harfil sekarang juga. Kita tidak punya waktu untuk menolong korban yang terluka. Nanti kita pikirkan cara untuk menolong mereka,” teriak Kolonel Grim.
Marco mengangguk tanda setuju. Dalam hatinya dia tidak sanggup meninggalkan kawan-kawannya yang terluka. Namun, memang sudah seharusnya itu terjadi. Karena dalam perang harusnya tidak ada yang namanya lengah, kalau tidak ingin tewas, teruslah bersiaga.
“Sil, apa kau merasakan apa yang kurasakan juga saat ini?” tanya Marco.
“Ya. Aku tahu perasaanmu, aku juga berat meninggalkan rekan-rekan kita yang terkapar di medan perang. Tapi, kita tunggu saat yang tepat, kita akan kembali lagi untuk menolong mereka.”
“Semoga saja mereka bisa bertahan.”
Seluruh pasukan Branco baik di darat mau pun udara mulai mundur meninggalkan medan perang. Pasukan Corvos mengibarkan bendera mereka di beberapa sisi pelabuhan lalu melontarkan beberapa asap ke udara. Itu adalah kode dari mereka kalau mereka akan kembali tiga minggu lagi.
“Tenanglah, selama mereka menjalankan kesepakatan yang telah dibuat bersama. Mereka tidak akan masuk ke wilayah Pegalisch yang lain sebelum berhasil mencuri semua teknologi kita. Tujuan mereka masih Yazelt saja. Jangan biarkan mereka berhasil, kita tidak boleh menyerah,” sahut Derpaz yang berlari di belakang Marco.
Marco mulai kelelahan karena menggendong Tinos. Mereka berhenti sejenak untuk menarik napas. Para pengguna zelcar memperlambat mesin mereka. Setelah mereka sampai Desa Harfil, mereka terkejut karena melihat semua rekan yang terluka telah ada di sana. Marco juga begitu tercengang melihatnya. Kenapa mereka bisa ada di sini, sedangkan kondisi mereka terluka parah.
__ADS_1
Terlihat dua sosok sedang duduk di atas tumpukkan kayu. Mereka sedang memakan daging dan minum anggur. Dua sosok itu adalah si kembar yang tadi ikut melawan Branco.
“Siapa sebenarnya kalian?” teriak Kolonel Grim sambil turun dari zelcar.
Dua bocah itu tetap melanjutkan makannya, mereka menghiraukan ucapan kolonel.
“Hei! Kalian dengar atau tidak?” bentak sang kolonel, dia mulai naik pitam.
“Saat makan, kami tidak berbicara,” jawab bocah yang bersenjata panah setelah mereguk anggur. “Ah, kalian benar-benar payah. Melawan raksasa seperti mereka saja sampai memakan korban sebanyak ini.”
“Hei! Kami tidak tahu kalian ini siapa. Jangan menghina pasukan kami, sekarang cepat jelaskan asal-usul kalian!” teriak Derpaz.
“Kami juga orang dari benua ini. King Arcansas yang membuat kami berada di sini. Tugas kami adalah melindungi Benua Pegalisch ini,” kata si kembar yang bersenjata pistol.
Semua orang yang berada di kerumunan itu sangat tercengang mendengar ucapan bocah kembar itu. Siapa sebenarnya mereka? Kenapa menyebut nama King Arcansas.
__ADS_1