
Mentari semakin meninggi, Marco bangun dari tidurnya lalu menuju tepi Sungai Oxin yang mengalir melewati Desa Harfil menuju ke Selat Krokalm. Dia memandang ke utara, menatap tembok pembatas negara yang berdiri setinggi 7 meter. Dia meregangkan semua ototnya lalu menguap beberapa kali. Marco menyusuri pinggiran sungai yang dialiri air jernih. Sungai ini kelak akan berubah menjadi ramai karena dibangun taman megah dengan berbagai fasilitas, ada kapal yang siap mengantarkan menjelajahi sungai sambil menangkap ikan. Ada juga penginapan megah yang dikelola dengan begitu baik. Tentu jika mereka bisa memenangkan perang ini.
Jika takdir kali ini mereka harus kalah, sudah pasti Marco tidak akan pernah menyaksikan kemegahan tempatnya tinggal. Terlebih lagi jika leluhurnya tewas, pasti Marco tidak akan pernah lahir. Perputaran waktu ini sungguh membingungkan, apakah dunia mempunyai dua sisi yang berbeda? Bagaimana jadinya jika sejarah berubah total.
Tidak ada yang tahu bagaimana takdir akan terjadi. Jika perang berhasil Marco menangkan, apakah dia akan berada di era 9000 Gerkach untuk melanjutkan hidup. Atau kembali ke masa depan. Apa jangan-jangan dia akan lenyap, lalu memulai lagi dari awal. Dari pertama kali leluhurnya melahirkan kakek, ayahnya, lalu dirinya. Tidak ada yang bisa menebak.
Mungkin saja Marco tidak perlu pulang lagi ke masa depannya. Dan memilih mengasingkan diri. Bisa juga dia menggunakan mesin waktu yang diciptakan oleh orang yang bernama Nolas untuk menjelajah ke dunia lain. Misteri selalu menimbulkan pertanyaan, setidaknya itu yang sedang dipikirkan oleh Marco. Pikirkan nanti lagi masalah itu, yang terpenting dia harus membantu kaumnya untuk memenangkan perang. Jika perang sudah bisa dimenangkan, hidup selanjutnya pasti lebih indah.
Perang Remains menjadi sejarah terbesar setelah perang dahsyat yang dilakukan King Arcansas. Sejak kecil, cerita tersebut selalu dikisahkan kepadanya oleh kakek dan ibunya. Di sekolah, Marco juga pernah mempelajari perang tersebut. Ada tokoh-tokoh terkenal yang disebutkan di dalam sejarah Perang Remains. Seperti nama Sonits sang legenda farmasi. Marco tersenyum ketika mengingat nama itu, dia merasa bangga karena bisa bertemu dengan orang itu. Nolas Sonits yang dia jumpai di laboratorium, tentu adalah pahlawan yang dimaksud. Lalu nama Si Canggih yang pandai menyusup seperti tikus. Juga pasangan kembar yang begitu melegenda karena kehebatan mereka di medan tempur. Saat ini Marco belum bertemu dengan orang yang pandai menyusup atau pun dua saudara yang dimaksud di dalam sejarah tersebut.
Mungkin orang hebat itu akan muncul saat perang berikutnya, atau mereka berada di pasukan lain. Marco berniat mencari tahu mereka, mungkin bisa dengan menanyakannya kepada Kolonel Grim dan Sir. Hudson. Petinggi pasukan itu pasti mengetahui nama itu. Kalau pun mereka tidak tahu, mungkin itu hanya sebuah kesalahan yang tertulis di dalam sejarah kaumnya.
Beberapa saat kemudian, dia membasuh wajahnya menggunakan air sungai yang mengalir. Sensasi segar menyelimuti seluruh kulit wajahnya. Dia berjalan ke sebuah bangunan tua yang katanya tempat untuk menyimpan sisa-sisa obat. Marco memasuki gedung tua tersebut. Dia terkejut saat melihat sebuah penutup wajah dan pakaian perang yang dikenakan oleh sosok misterius berambut sebahu. Tiba-tiba muncul seorang wanita yang sangat cantik dari balik tumpukan papan kayu. Rupanya wanita itu adalah prajurit yang memohon kepada Kolonel Grim untuk ikut berperang. Marco memaksa wanita tersebut untuk mengaku. Namun, wanita tersebut berhasil kabur. Marco ingat, dia adalah wanita yang selalu memperhatikan Marco dari jauh saat istirahat latihan. Dia tidak mau mendekati Marco seperti wanita yang lain.
Marco lalu kembali ke perkemahan. Para koki dari Sandzelt masih sibuk menyiapkan masakan untuk ribuan tentara. Tidak hanya mereka saja, orang-orang Yazelt juga ikut membantu. Ada seorang wanita yang sedikit berbeda dari wanita lainnya. Wajahnya sangat manis, dia terlihat begitu anggun. Wanita itu suka menyendiri ketika teman-temannya yang lain menggoda Marco saat istirahat latihan. Marco tersadar, dia adalah wanita yang ada di bangunan tua tadi. Dia yang menyamar menjadi prajurit bertopeng.
Marco mendekat ke arahnya, dia benar-benar dibuat penasaran dengan wanita itu. Sepertinya dia bukan orang Yazelt, mungkin dari wilayah timur atau selatan. Karena matanya berwarna abu-abu, berbeda dengan orang-orang Yazelt yang bermata hitam. Wanita tersebut sesekali tersenyum kepada koki disekitarnya. Sampailah Marco di depan wanita itu.
“Hai. Boleh kubantu?” sapa Marco.
“Ah. Tentu, silahkan kau potong-potong daging rusa itu.” Jawab gadis itu malu-malu.
__ADS_1
“Kau koki dari Sandzelt?”
“Tidak, aku memang dari wilayah timur, tapi aku bukan seorang koki. Sekarang ini aku hanya ingin membantu yang lain untuk memasak,” jawab perempuan itu.
“Begitu. Kenapa kau menyamar menjadi prajurit?” tanya Marco penuh selidik.
“Karena prajurit kebanyakan adalah seorang pria. Kolonel tidak mungkin mengizinkanku ikut berperang jika tahu aku seorang wanita.”
“Kau sungguh hebat. Apakah kau memang seorang prajurit sejati?”
“Sebenarnya aku seorang suster, aku dikirim ke sini untuk membantu kalian. Kumohon jangan katakan tentang rahasiaku kepada siapa pun,” wajah gadis itu terlihat memelas.
“Tentu.” Wanita itu tersenyum menatap Marco, “namaku Theresia Erie, kau bisa memanggilku Erie.”
“Oh. Nama yang bagus. Namaku Marco. Aku juga berada di garda depan saat perang.”
“Salam kenal, Marco. Ya, kau sangat cerdas dan hebat”
“Aku anggota baru di sini. Pertempuran kemarin kebetulan aku ditugaskan di garda depan sebagai pembuka jalan.”
“Memang hebat. Kau langsung menjadi pembuka jalan ketika pertama kali masuk dalam pasukan.”
__ADS_1
“Bukan hebat, tapi mengerikan. Aku yang pertama kali akan mati.”
“Iya juga, asal kau selalu waspada, pasti selamat. Buktinya kau masih bernapas sampai detik ini.”
Mereka menyiapkan daging untuk di antar ke tungku raksasa. Karena memang jumlah pasukan yang ribuan, jadi harus masak sebanyak mungkin dengan cara klasik seperti itu. Theresia adalah wanita yang Marco ajak berbicara seolah sudah kenal lama. Berbeda dengan perempuan lain yang suka menggoda dirinya. Rahasia prajurit misterius akhirnya terbongkar.
Setelah sarapan, Marco memutuskan untuk kembali ke laboratorium. Dia menemui Sonits untuk meminta pertolongannya. Saat ini ada sesuatu yang harus dilakukan oleh Marco. Dia ingin kembali ke masa depan, kembali ke rumahnya. Dia berkata ada sesuatu yang perlu diambil. Sonits begitu terkejut mendengar permintaan Marco.
“Kau tak bisa kembali kalau laptop di kamarmu sudah mati,” ucap Sonits.
“Bisa dicoba dulu, ‘kan?”
“Itu sangat mustahil, sudah berapa lama kau ada di sini? Orang-orang di sana mungkin mengabaikan laptop itu.”
Mereka berdebat, hingga akhirnya Sonits menuruti permintaan Marco. Sonits mencoba menghubungkan perangkat yang dia kembangkan. Sonits menjelaskan, bahwa kembaran Marco yang berupa robot itu akan muncul ketika dia melihat wajah yang dia jumpai pertama kali di masa depan. Ternyata orang itu adalah Marco. Sedangkan Marco hanya tersenyum, dia menjawab kalau sudah tahu mengenai hal tersebut. Robot kembarannya itulah yang menjelaskan kepadanya.
Setelah persiapan selesai, Sonits memakaikan sebuah gelang ke tangan Marco. Sekarang Marco sudah siap untuk kembali ke masa depan. Entah apa yang ingin dia ambil. Sayang sekali, meski sudah mencoba menghubungkan berkali-kali. Tetap tidak ada respon. Mungkin saja laptop di masa depan sudah rusak atau dalam keadaan mati. Marco tampak putus asa, wajahnya mulai berkeringat. Dia duduk di kursi sambil menundukkan kepalanya. Entah kenapa alat itu tidak dapat bekerja. Sonits meletakkan bokongnya di kursi. Komputer itu tidak mau merespon dunia di masa depan. Wajah mereka berdua benar-benar seperti domba yang tersesat.
__ADS_1