LIVINETT PROTOCOL 9

LIVINETT PROTOCOL 9
22


__ADS_3

Terkadang semangat saja tidak cukup untuk meraih keberhasilan. Begitulah hidup, meski semangat sudah disertai dengan usaha yang sangat keras, tapi tidak menjamin untuk mendapatkan keberhasilan. Mungkin faktor keberuntungan juga merupakan penentu. Apalagi jika kita hidup hanya untuk bermalas-malasan. Kalau hanya sekedar hidup, kuman di tubuh juga hidup. Marco tentu tidak ingin hidupnya berlalu dengan hal mengecewakan. Sekarang ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan pengalaman hidup yang sangat berkesan. Pilihannya untuk berperang bersama kaumnya semakin mengobarkan gairah hidupnya.


Perang yang terjadi di masa lalu ini seakan telah ditakdirkan untuk dirinya. Dunia ini selalu menyimpan misteri. Semua misteri kehidupan masih banyak yang belum diketahui oleh manusia. Marco yang terdampar di masa lalu sungguh menikmati hari-harinya yang penuh tantangan. Jiwanya mungkin terlahir untuk menjadi orang yang menyukai ketegangan serta hal-hal yang di luar nalar.


Banyak kejadian besar di dunia ini yang telah berlalu. Semua itu tentu menjadi sejarah yang berharga. Dengan melihat secara langsung sejarah yang terjadi di masa lalu, membuat Marco ingin melihat seluruh sejarah yang ada. Sangat disayangkan, keegoisan dan sifat rakus manusia membuat dunia ini menjadi kotor. Kotor karena dipenuhi kebohongan, kemunafikkan, kebencian, serta penuh dengan pertumpahan darah. Kalau hidup hanya untuk mementingkan kelompok atau pribadi, niscaya dunia ini akan hancur lebih cepat. Hancur karena keserakahan yang ada di dalam diri manusia.


Perang telah dimulai, Marco serta Papilon mengendap-endap di bawah rerimbunan pohon cemara. Suasana masih sedikit gelap, matahari belum muncul. Ribuan prajurit Corvos mulai turun dari kapal perang mereka. Di antara mereka ada yang dapat mengambang di udara. Sungguh gila, mereka memiliki pasukan super. Kekuatan mereka sepertinya benar-benar berada jauh di atas pasukan Branco. Marco menelan ludah lalu menarik napas dalam-dalam. Seluruh raganya bergetar seperti pertama kali ia ikut berperang.


Derpaz, Luis dan Garben muncul dari belakang Marco. Sil bersama Reil berada 10 meter di sebelah kiri. Mereka sedang mengintai seluruh musuh yang mulai membanjiri pelabuhan. Para raksasa itu seperti monster yang siap melahap siapa saja. Semua pasukan berpanah telah siap siaga menunggu aba-aba dari Kolonel Grim. Marco tidak bertugas untuk menyerang daluan. Sil berjalan mendekat ke arah Marco, Reil mengekor dibelakangnya.


Setelah sampai di hadapan Marco, Sil menepuk pundak Marco. “Jangan gentar,” ucapnya tegas.


“Yah. Pasti,” jawab Marco.


“Dengar! Papilon, Derpaz, Luis, Reil dan terutama kau, Garben. Jangan gegabah dan mengabaikan perintah dari Marco atau pun Kolonel Grim. Jika kalian bertindak semaunya, maka nasib kalian akan seperti Tink,” ucap Sil tegas.


“Jangan membicarakan dia! Kuhajar kau,” sergah Garben.

__ADS_1


“Memangnya salah? Ini untuk pembelajaran kalian saja. Lagi pula aku tidak berniat menghina Tink.”


“Sudah, hentikan! Ini bukan saatnya untuk berdebat,” Marco menyela.


Mereka pun terdiam dan melanjutkan pengamatan dengan cara berpencar lebih jauh. Mereka menggunakan kode tangan untuk saling berkomunikasi. Sinar mentari perlahan mulai merekah di ufuk timur. Purnama telah benar-benar berakhir karena bulan telah menghilang. Tiba-tiba suara sangkakala berbunyi sangat keras, rupanya itu aba-aba untuk melakukan penyerangan dari pasukan Corvos. Mereka pasti sudah tahu keberadaan pasukan Branco di sekitar pelabuhan. Biasanya, jika pasukan Branco belum datang, Corvos akan melakukan kerusakan dengan menyerang membabi buta, kemudian masuk ke wilayah yang lebih dalam untuk mengobrak-abrik Yazelt.


Ada kode dari Kolonel Grim yang menggunakan Zelcar, beliau memerintahkan untuk melakukan perlawanan sekarang juga. Tapi ada perubahan rencana mendadak, pasukan pengintai yang dipimpin Marco harus menyerang terlebih dahulu menggunakan panah serta membakar dua kapal musuh. Tanpa menunggu lama, Marco langsung melaksanakan intruksi tersebut, dia mengkoordinir seluruh pasukan berpanah untuk menyiapkan anak panah.


Ratusan anak panah telah berterbangan menuju arah kapal. Kemudian 500 pasukan yang menggunakan Zelcar maju untuk memulai perlawanan. Disusul dengan 1500 pasukan lainnya yang dipimpin oleh Sir. Hudson. Perang kedua yang diikuti oleh Marco berbeda dengan sebelumnya. Entah mengapa, pasukan Corvos bergerak sangat hebat dan berhasil memukul mundur pasukan Branco. Marco menjadi gelisah melihat situasi ini. Namun, semua itu tidak berlangsung lama, karena 700 pesawat Creo-R telah menyuruh seluruh pasukan Zelcar untuk mundur secepat mungkin, kemudian pesawat-pesawat itu menghujani pasukan Corvos dengan rudal.


“Siapa yang menahan semua rudal tadi?” teriak Derpaz.


“Apakah Anak Suci itu ikut andil dalam pertempuran?” tukas Reil.


Ketika Marco dan kelompoknya mulai panik, Deart bersama Rifiz muncul dengan membawa sebuah teropong. Mereka berlari ke arah Marco dan kawan-kawan.


“Lihatlah ke atas kapal induk itu, dekat dengan cerobong pertama. Di sana ada Anak Suci,” teriak Deart sambil menyerahkan teropong ke tangan Marco.

__ADS_1


Marco langsung menempatkan teropong itu di depan matanya. “Benar katamu, Deart. Orang itu ikut lagi dalam perang kali ini. Sialan! Kehebatannya sangat luar biasa.”


“Berikan padaku teropong itu,” pinta Luis.


Memang benar, kali ini Anak Suci itu ikut lagi dalam pertempuran. Dia mempunyai kekuatan spiritual, atau mungkin sihir. Tidak tahu kenapa dia bisa sehebat itu. Rudal saja mampu dia halau dari jarak jauh. Sungguh bukan main kehebatan petinggi dari Benua Tsandor. Jika dia memiliki kekuatan hebat macam itu, kenapa justru melakukan perang dengan kaum lemah seperti Yazelt. Benar-benar manusia yang sangat tamak.


Di samping raksasa yang menyebut dirinya Anak Suci itu terlihat satu orang lagi. Dia sedang berdiri menatap ke pelabuhan, dia adalah Roz Fruilt, orang yang telah meminta purwarupa zirah dari Kaum Yazelt. Bajingan itu tampaknya sedang menikmati perang yang ia kobarkan. Kalau saja dia tidak meminta prototype zirah itu, mungkin tidak akan ada niat jahat untuk menguasai Yazelt. Kemajuan teknologi benar-benar bisa membawa malapetaka. Ilmu pengetahuan yang seharusnya digunakan untuk kebaikan, justru membuat manusia saling membunuh.


Seluruh pasukan yang telah maju mulai kelelahan, banyak korban yang telah berjatuhan. Marco tidak bisa tinggal diam, dia akhirnya memberi aba-aba pasukan berpanah untuk terus bertempur. Semuanya maju dengan gagah berani melawan sekumpulan raksasa yang semakin menggila. Marco terus melontarkan anak panahnya, banyak raksasa yang tumbang terkena panah Marco. Dia terus melawan sekuat tenaga, Papilon dan Deart berada di kanan dan kirinya. Mereka melontarkan anak panah secara bersamaan, terkadang saling membelakangi punggung.


Marco berlari lebih dekat ke arah pelabuhan, dia dihadang oleh dua raksasa Trovolta. Marco berhasil melumpuhkan raksasa itu, satu raksasa hancur kepalanya karena panah yang dilontar Marco. Setelah berhasil melewati dua raksasa tadi, dia maju ke depan untuk melindungi Kolonel Grim. Sayang, langkahnya terhenti karena tiba-tiba dia ditendang oleh raksasa. Marco terpental cukup jauh, tubuhnya terpelanting ke pasir lalu berguling-guling beberapa saat. Dahinya serta pipinya berdarah, dia memegangi bahunya. Wajahnya menyeringai, menahan sakit dan marah. Sialnya, busur panah yang dia pegang patah dan tidak dapat digunakan lagi.


Keadaan semakin gawat, raksasa tadi masih mengincarnya. Langkahnya yang lebar telah menjangkau Marco. Kini mereka saling berhadapan, sang raksasa mengangkat satu kakinya, dia berniat menginjak Marco. Bayangkan saja, jika Marco terinjak, tubuhnya sudah pasti hancur menjadi bubur. Kaki raksasa itu telah terangkat dan akan menimpa Marco, tapi, hal tak terduga muncul. Tiba-tiba kaki raksasa itu hancur, kulitnya terkelupas, lalu terpotong. Raksasa kemudian ambruk, rupanya ada sosok yang telah menyelamatkan Marco. Marco terkejut melihat kehadiran sosok itu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2