
Marco begitu serius menjalani latihannya, sampai tidak kembali ke laboratorium selama sebulan. Kali ini dia mendapat tugas untuk membantu para ahli medis dari Sandzelt. Marco harus mengawal orang Sandzelt yang akan mengambil obat-obatan baru untuk Yazelt. Jadi, dia harus ikut mengambil obat-obatan itu dari perbatasan. Meski masih di benua yang sama, keamanan tetap diperlukan.
Dia pasti akan melaksanakan perintah tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab. Ternyata Theresia ikut dalam rombongan yang akan dikawal oleh Marco. Meski tanpa pengawalan, rasanya tidak akan ada masalah karena Theresia juga mempunyai kekuatan yang hebat. Namun sayang, gadis itu menyembunyikan identitasnya dengan menyamar menjadi prajurit bertopeng.
Karena Theresia ikut, hal ini tentu membuat Marco sangat senang dan semakin bersemangat. Sepertinya Marco menaruh rasa kepada Theresia. Wajar saja, seorang perawat yang begitu cantik sudah pasti membuat banyak pria jatuh hati. Keberangkatan mereka telah ditentukan, yaitu saat subuh.
Setelah semua bersiap-siap, rombongan pun berangkat dengan truk besar. Ketika sampai tepi Hutan Lumbor, mereka berhenti. Derpaz menjelaskan, untuk menuju perbatasan di Sandzelt tidak bisa menggunakan kendaraan. Jadi mereka harus berjalan melewati hutan. Kalau melalui udara sangat tidak mungkin, karena Sandzelt sedang mengembangkan lapangan udara dan belum jadi.
Jalanan yang mereka lalui begitu banyak bebatuan. Sebenarnya tidak akan ada musuh yang mengincar mereka, mungkin beberapa bandit saja. Tapi, di perbatasan ini sering terjadi badai yang sangat besar. Badai itu sudah ada sejak dahulu kala, entah kenapa badai itu bisa terjadi di hutan. Setiap kali badai terjadi, banyak pohon akan tumbang karena akarnya tercabut dari tanah. Pohon-pohon itu bisa berbahaya karena akan menimpa siapa saja yang ada di bawahnya. Sepertinya hanya daerah itu yang memiliki iklim ekstrim dan susah diprediksi.
Hutan itu membentang dari tepi Sungai Oxin melewati tembok pembatas dan menutupi sepertiga wilayah Sandzelt. Tidak heran jika tembok pada perbatasan ini rusak dan paling jelek dari tembok perbatasan di wilayah lain. Sekitart 3 kilometer di sebelah tenggara, ada sebuah padang rumput di Sandzelt yang sangat luas bernama Boran. Padang rumput itu selalu ramai digunakan untuk menggembala kambing oleh penduduk di timur. Tembok perbatasan dibangun untuk menjaga wilayah masing-masing, selain itu dulu digunakan untuk keperluan pembuatan peta dan membagi wilayah.
Semua kaum yang menghuni Benua Pegalisch saling menghargai, karena mereka sama-sama keturunan King Arcansas. Penduduk pendatang boleh menetap asalkan mereka bisa memberi kejelasan dari mana dirinya berasal. Selain Benua Pegalisch dan Tsandor, masih ada lagi satu benua yang terletak cukup jauh. Benua itu bernama Arimp yang berada di Samudra Kulfik, di barat daya Benua Pegalisch.
__ADS_1
Orang-orang Benua Arimp banyak yang melakukan perjalanan hingga ke Pegalisch. Mereka dijuluki sebagai Kaum Biru, karena rambut mereka yang berwarna biru. Semua penduduk dari sana memiliki warna rambut yang sama, entah kenapa bisa berwarna biru semua. Mungkin karena moyang mereka atau memang genetik yang aneh.
Rombongan yang dikawal Marco dan Derpaz melanjutkan perjalanan dengan memasuki hutan. Mereka membawa tas-tas besar berisi tenda dan perbekalan. Dua buah gerobak duturunkan dari truk untuk meletakkan barang-barang serta untuk mengangkut perawat yang kelelahan atau sakit mendadak. Hutan itu benar-benar luas, butuh waktu satu malam untuk mencapai perbatasan. Tidak ada jalur lain selain melewati hutan ini, kalau pun harus menyeberang sungai akan membuat perjalanan semakin lama. Karena setelah itu mereka harus melewati sebuah gurun yang sangat luas dan bisa memakan waktu 3 sampai 4 hari.
Mereka berjalan tanpa ada hambatan sampai siang hari. Matahari harusnya bersinar sangat panas, tapi mereka berada di dalam hutan jadi terasa teduh. Jam makan siang pun telah tiba, rombongan tersebut berhenti untuk makan siang terlebih dahulu. Perjalanan masih jauh, kemungkinan mereka akan tiba besok pada siang hari. Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, rombongan kembali melanjutkan perjalanan.
“Jadi kau harus melewati hutan ini untuk menuju ke Yazelt?” tanya Marco kepada Theresia.
“Ya. Tapi kalau sendiri pun tidak bisa menggunakan motor canggih buatan Yazelt. Karena hutan ini memiliki sesuatu yang aneh, mungkin seperti medan magnet atau semacamnya. Sehingga mesin apa saja yang melewati hutan akan mati. Jadi tidak ada cara lain selain berjalan menembus hutan yang pekat ini,” jawab Theresia sambil menyibak rambutnya.
“Jadi begitu.”
Marco hanya mengangguk sambil terus mendorong gerobak. Dia sebenarnya sudah tahu kondisi hutan yang konon sering terjadi badai. Karena di masa 200 tahun mendatang, hutan itu akan dibuka untuk membuat jalan tol. Penyebab badai yaitu angin yang bertiup sepanjang tahun dari Gunung Rez dan bertemu dengan angin dari Selat Krokalm. Karena itu, badai sering terjadi di Hutan Lumbor. Mungkin itu juga penyebab mesin kendaraan mati ketika melewati hutan. Gunung Rez adalah gunung terbesar yang ada di Benua Pegalisch, selain masih aktif, gunung itu juga memberi kehidupan untuk seluruh kaum di Pegalisch. Karena Sungai Oxin mengalir berkat adanya gunung tersebut serta deretan pegunungan yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
Saat pembuatan jalan tol yang menghubungkan semua wilayah, para pemikir dari Yazelt talah menemukan cara untuk mencegah badai agar tidak terjadi di sekitar hutan tersebut. Ilmuwan juga telah menemukan cara untuk mengatasi fenomena medan magnet di Hutan Lumbor. Mereka menciptakan sebuah alat yang mampu membelokkan arah tiupan angin. Dengan alat tersebut, badai tidak akan terjadi lagi dan gravitasi aneh di hutan tersebut hilang. Jalan tol yang baru dibangun itu baru selesai saat Marco menginjak usia 5 tahun.
Sekarang Marco sudah berusia 20 tahun, dia belum pernah menjumpai badai tersebut. Menurut cerita dari ibunya, badai itu membunuh adik laki-laki ibunya. Ketika itu, sang adik sedang bermain bersama ketiga temannya di hutan untuk mencari tupai. Nasib buruk tiba-tiba terjadi, badai datang mengamuk dan menyebabkan ketiga anak tewas tertimpa pohon termasuk pamannya Marco. Satu anak berhasil selamat dari peristiwa tersebut. Anak yang selamat itu bernama Ergalo, sekarang dia tinggal di dekat hutan tersebut untuk mengenang peristiwa mengerikan yang menimpanya. Marco memanggilnya Paman Ergalo. Kalau saja adik laki-laki ibunya masih hidup, Marco tentu masih memiliki paman kandung.
Setiap hari Paman Ergalo menatap jalan tol yang ramai. Kenangan itu selalu membayangi hidupnya. Marco sering mendengar tentang masa kecil ibunya dan pamannya dari pria itu. Ergalo adalah laki-laki yang baik, karena dia selalu mengizinkan Marco untuk memakan semua kue yang ada dirumahnya. Marco tidak pernah mengunjunginya semenjak dia ke luar dari sekolahnya.
Mungkin saja Ergalo merindukan Marco, sudah lama Marco tidak bersua dengan pria itu. Hidup Ergalo seperti tidak butuh wanita, dia tidak menikah sampai sekarang. Entah apa alasannya kenapa tidak mau menikah, atau memang dia tidak suka berkeluarga. Marco tidak ingin menanyai hal pribadi seperti itu.
Sore hari telah tiba, langit mulai gelap karena awan pekat menggumpal menutupi sinar matahari. Rombongan Marco masih berjalan sedikit lebih santai. Sudah cukup jauh perjalanan yang mereka tempuh. Mendadak, hawa menjadi lebih dingin. Hutan menjadi sangat gelap dan angin mulai bertiup semakin kencang. Ada yang tidak beres, sepertinya badai yang dibicarakan akan terjadi.
__ADS_1