
Marco bersama Derpaz telah menyelesaikan tugasnya dalam mengawal para perawat menuju perbatasan Sandzelt. Satu hari kemudian dia sudah kembali lagi ke Yazelt dan melanjutkan latihan. Ada berita terbaru selama kepergiannya, ternyata pasukan Corvos telah mengirimkan pesan bahwa mereka akan menyerang kembali tepat ketika purnama berakhir. Berarti masih banyak waktu untuk menyusun rencana dan meningkatkan kekuatan. Perang kedua yang Marco ikuti menjadi perang penentuan baginya. Karena jika perang ini dapat membuat lawan menjadi tunduk, maka dia akan diberikan jabatan sebagai penasihat strategi resmi dan sejajar dengan Sir. Hudson.
Marco justru menolak tawaran tersebut. Dia lebih menginginkan melakukan penelitian bersama orang-orang cerdas lainnya. Banyak hal di masa lalu yang membuat Marco tertarik. Sepertinya dia sangat menikmati hidupnya di era perang ini. Walau banyak orang bar-bar yang sedang dia lawan serta nyawa menjadi taruhan.
Dapat menikmati hidup sesuai keinginannya adalah hal yang sangat memuaskan. Hidup bebas adalah dambaan semua insan, namun memiliki teman yang bisa mengerti diri kita juga suatu hal yang sangat penting. Marco yang sejatinya lebih suka menutup diri, kini mulai bisa membaur bersama teman-teman baru. Meski teman-temannya ini sudah pasti menjadi tua atau pun sudah ada yang mati di masa depan. Sudah pasti mati, kecuali mereka abadi. Umur mereka hanya sekitar 90-100 tahun saja. Tidak mungkin hidup sampai 200 tahun lebih. Yang jelas, pasti masih ada keturunan dari kawan-kawan seperjuangannya itu.
Marco tidak terlalu ambil pusing dengan tatanan alam yang sedang dia acak-acak. Karena dia berpindah ke sini atas kemauan Nolas. Ilmuwan itu yang membuat dirinya berada di era perang. Kalau saja tidak ada situs aneh yang memunculkan robot mirip dirinya, tentu Marco masih bersantai di dalam kamarnya sambil bermain video game.
Sebelum berpisah, Theresia mengucapkan terima kasih kepada Derpaz dan Marco. Gadis itu lalu kembali ke perkemahan. Saat ini Marco bisa fokus lagi melanjutkan latihan. Tapi dia masih membahas kejadian sewaktu berada di Hutan Lumbor. “Siapa gerangan pencuri waktu itu,” katanya.
“Aku juga tidak tahu. Rumor mengatakan kalau di sana memang ada bandit hutan yang selalu menghadang pejalan kaki,” jawab Derpaz.
“Walau hanya makanan, tapi itu membuat kita kesusahan. Kemarin kau mendapatkan apa dari orang Sandzelt?”
Derpaz memicingkan matanya. “Oh. Orang tua itu menitipkan sebuah buku untuk diberikan kepada Nolas.”
“Siapa orang tua tersebut. Apakah dia kenalan Nolas?”
“Entahlah. Buku itu masih ada di tasku. Nanti aku berikan padamu saja, kau kerabatnya, kan?”
__ADS_1
“Oh. Baiklah,” jawab Marco.
“Terima kasih.”
Derpaz melanjutkan latihannya, kali ini dia ingin belajar pedang. Sedangakan Marco tetap fokus menggunakan panahnya. Dia sudah terbiasa menggunakan panah, akurasi bidikannya semakin membaik. Sekarang dia tinggal menguatkan lengannya lagi.
Dua minggu berlalu, purnama telah berakhir, pasukan Corvos pasti akan segera datang. Sejauh ini mereka selalu menepati janjinya. Tapi, ambisi mereka benar-benar busuk. Kenapa tidak berdamai saja dan menjalin hubungan yang baik. Perang hanya akan menimbulkan kerugian besar.
Di lain tempat, Tinos semakin menderita dengan latihan yang dia jalani. Nolas betul-betul membuat bocah ompong itu seperti mainannya. Tubuhnya masih terlalu kecil, tapi dia dipaksa untuk berlatih keras. Pelatihan yang Nolas berikan membuat Tinos ingin mati saja. Tapi ada hal yang membanggakan dan patut dipuji. Tinos sudah mampu menggunakan pedang serta menguasai tekniknya. Lengannya menjadi kekar dan pipinya tidak terlalu gemuk lagi. Dia terlihat lebih ramping dan memiliki tubuh ringan.
Kalau dia sedang nyengir, gigi bagian depan yang ompong membuat orang yang melihatnya ingin tertawa. Gigi ompong itu tidak menjadi penghalang bagi Tinos, justru ia jadikan sebagai kelebihan. Karena setiap kali Nolas memaksanya terus berlatih, Tinos akan tertawa menunjukkan gigi ompongnya, seketika membuat Nolas tertawa dan mengizikan Tinos untuk beristirahat sejenak. Gigi depan ompong bukan hal memalukan, tapi karunia. Seperti itulah yang dipikirkan Tinos.
“Jangan bodoh! Kau harus menjadi lebih hebat lagi, setelah itu baru kuizinkan pergi ke dunia luar,” gertak Nolas.
“Aku sudah tidak tahan dengan cara latihanmu. Kau membuatku seperti binatang sirkus yang harus menurutimu setiap waktu.”
“Sudah, jangan banyak bicara. Kalau kau ingin ikut berperang, kau harus menjadi kuat.”
“Hm. Baiklah.”
__ADS_1
Akhirnya Tinos mau mendengarkan Nolas dan melanjutkan latihannya. Memang benar apa yang dikatakan Nolas. Kalau ingin diakui dalam pasukan, Tinos harus menjadi lebih kuat. Dia tidak ingin disebut pembual atau pun pengecut. Saat ini waktunya untuk membuktikan kekuatan sejatinya. Seorang laki-laki harus bisa menjadi kuat tanpa harus disebut pahlawan. Karena pahlawan adalah orang yang akan dikenal namanya, dia tidak butuh ketenaran. Tinos ingin menjadi orang yang bisa berguna.
Kalau aku berhasil masuk ke medan perang, akan kulakukan yang terbaik, ucapnya dalam hati. Dia tidak akan mengecewakan Marco. Irama degub jantungnya bertalu-talu seolah ingin pecah. Semangatnya membakar aliran darahnya hingga mendidih. Suatu saat dia pasti bisa menjadi ahli pedang. Orang tuanya di dunia masa depan pasti sedang kebingungan karena kehilangan anak mereka. Tinos merenung memikirkan kedua orang tuanya.
“Maafkan anak kalian yang tidak berbakti. Semoga kalian sehat selalu. Ayah-Ibu, aku mencintai kalian,” ucapnya lirih.
Sudah pukul 4 pagi, tiba-tiba sirine dipelabuhan berbunyi. Seluruh pasukan terbangun dari tidur mereka. Ternyata pasukan Corvos menyerang pagi-pagi buta. Para penjaga pelabuhan mulai kelabakan karena panik. Pasukan Branco harus bergegas, ditambah lagi jarak Desa Harfil dengan pelabuhan memakan waktu 10 menit. Jika orang-orang Trovolta tidak sabar menunggu, sudah pasti pelabuhan akan dihancurkan dan menyerang desa-desa lainnya. Selama ini mereka berperang di pelabuhan, di Gurun Tlantz hanya sekali karena saat itu pasukan Corvos berhasil menyusup melalui udara.
Desa Harfil terletak paling dekat dengan pelabuhan, maka dari itu, seluruh pasukan Branco berlatih di desa tersebut. Karena jika terjadi serangan mendadak dari Selat Krokalm, bisa langsung di lawan.
Pasukan Branco berlarian mempersiapkan pakaian dan alat tempur. Banyak mata yang masih mengantuk, namun situasi sedang darurat. Jika tetap terlelap sudah pasti akan hancur dibantai oleh musuh. Dengan sangat cepat, mereka telah selesai bersiap lalu membentuk barisan. Semua anggota berkumpul kemudian menentukan pola serangan serta strategi yang telah mereka pelajari sebelumnya. Kali ini Marco masih tetap berada di garda depan, namun tugasnya hanya mengintai saja, tidak untuk memulai serangan atau pun membuka jalan.
__ADS_1