
Kota Yiklaz, 9200 Gerkach
Selesai makan, Tinos kembali lagi ke kamarnya untuk istirahat. Sudah seharian dia berkutat dengan komputer lama milik Marco. Dia membuka pintu kamarnya, setelah pintu terbuka, dia melihat ada orang lain di dalam kamarnya. Tinos terkejut bukan main, dia tidak menyangka, rupanya orang yang ada di dalam kamarnya adalah Marco.
Dengan sangat cepat, Tinos berlari ke arah Marco. Wajahnya sangat senang karena bisa melihat Marco kembali. Dia memeluknya dengan sangat erat sambil meneteskan air mata. Tinos memanggil nama Marco berkali-kali, gigi depannya yang ompong terlihat menggelikan. Ingusnya bergoyang naik turun di lubang hidungnya, dia menangis sesegukan.
“Kau kembali? Ke mana saja selama ini?” tanya Tinos.
“Ya. Aku tidak pergi ke mana pun.”
“Tapi kau telah menghilang selama beberapa bulan ini. Orang tuamu mengkhawatirkanmu, Marco.”
“Aku tahu itu.”
Mereka berdua duduk sejenak, Marco menceritakan semua yang terjadi selama ini. Situs Protocol 9 yang ada di laptopnya, dan cara dia menghilang dari rumah dan sekarang kembali lagi. Dia juga sedikit bingung, kenapa malah muncul di kamar Tinos. Ternyata komputer lama miliknya ada di kamar Tinos. Sedangkan saat dia menghilang ke masa lalu, dia tidak menggunakan komputer itu lagi.
Tinos tercengang mendengar semua kisah yang dialami oleh Marco. Rasa penasarannya semakin memuncak, apakah benar Marco telah melakukan perjalanan waktu. Tinos sedikit tidak percaya, sampai akhirnya dia mendengarkan penjelasan terakhir tentang laptop yang membawanya ke masa lalu, tahun 9000 Gerkach, ketika perang besar dialami oleh kaumnya. Tinos kagum mendengar kisah heroik yang dilalui Marco dan membantu kaumnya di masa lalu untuk berperang.
“Seperti apa kota ini saat perang itu berlangsung?” tanya Tinos.
“Tidak jauh berbeda dengan sekarang, zaman itu sudah maju dan alat-alat canggih sudah dikembangkan dengan besar-besaran. Meski kota tidak seindah dan secanggih sekarang, karena saat itu sedang terjadi perang.”
“Apakah kau akan kembali lagi ke perang itu?”
“Ya. Aku hanya ingin mengambil beberapa buku yang kurasa bisa membantuku di sana.”
__ADS_1
“Buku di rumahmu? Tapi bagaimana kalau orang tuamu tahu.”
“Kebetulan sekali. Aku beruntung karena muncul di sini. Bagaimana kalau kau yang mengambilkan buku itu di rumahku?”
“Yang benar saja. Kau muncul tiba-tiba seperti setan di kamarku, dan sekarang aku harus menuruti perintahmu.”
“Ayolah. Kali ini saja, mumpung aku masih berada di sini.”
“Setelah itu kau akan pergi lagi? Hari-hariku akan sepi, tidak ada lagi orang yang mau menemaniku bermain game,” gerutu Tinos.
“Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa meninggalkan perang itu, orang-orang di sana sudah mulai mengenalku.”
“Bagaimana kalau kau mati di sana?”
“Kau berharap aku mati, ya? Kalau itu terjadi, aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi.”
Marco terkejut mendengar perkatakan Tinos. Dia lalu bangun dari tempat duduknya, memandang tajam ke wajah bocah kecil itu. Marco menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan permintaan Tinos.
“Kalau kau ikut, kau hanya akan membuatku kerepotan. Lebih baik kau di sini saja, menjaga keluargamu.”
“Ya sudah. Aku tidak akan mengambilkan buku yang ada di rumahmu,” jawab Tinos.
Marco termenung sejenak, roman wajahnya berubah menjadi serius. Kalau dia kembali siang hari ke rumah, sudah pasti ibunya akan memergoki dirinya. Kalau malam hari, lewat jendela kamar, mungkin bisa berhasil. Tapi terlalu beresiko, bagaimana kalau ibunya belum terlelap, atau malah ibunya tidur di kamar Marco. Setelah mempertimbangkan kembali, kalau Tinos ikut, tentu akan sangat berbahaya. Mengingat dia masih bocah, apa yang akan terjadi nanti kalau dirinya terluka. Orang tuanya pasti akan khawatir kalau dia menghilang seperti Marco.
“Baiklah! Dengan berat hati, aku mengizinkamu ikut denganku.”
“Yay! Kalau begitu akan kuambilkan buku yang ada di kamarmu. Tapi buku apa saja itu?”
“Ambilkan buku farmasi milik ayahku di rak buku kamarku, di bagian paling atas, bersampul hijau, dan buku berjudul Sejarah L dan Y. Tolong jangan berkata aku ada di sini, bilang saja kau ingin meneliti sesuatu.”
__ADS_1
“Baiklah. Tapi, ada satu hal yang mengganjal pikiranku. Kenapa kau bisa masuk ke kamarku lewat komputer lama itu?”
“Aku tidak tahu. Yang jelas, aku ingin kembali ke kamarku. Tapi komputer di laboratorium yang diciptakan oleh ilmuan bernama Sonits tidak mau merespon. Saat aku sudah putus asa, tiba-tiba komputer itu memberikan tanda bahwa portal telah terhubung dengan tahun ini. Aku bergegas masuk ke dalamnya, ternyata aku tiba di kamarmu. Entah kenapa komputer lamaku bisa ada di kamarmu.”
“Komputer lama milikmu aku minta dari orang tuamu. Aku ingin melacak keberadaanmu, karena kau pernah memodifikasi komputer ini, bukan? Sehingga bisa menemukan semua barang milikmu karena telah dilengkapi sensor khusus. Harusnya bisa mendeteksi dirimu kalau ada di sini. Tapi kau ternyata berada di masa lalu.”
“Jadi begitu.”
Marco termenung, dia mencoba melupakan kejadian rumit tersebut. Sekarang yang paling utama adalah mendapatkan buku tadi. Tinos bersiap menuju rumah Marco untuk mengambilkan buku yang dimaksud. Dia menyusuri jalan kecil menuju rumah keluarga Virpie. Setelah sampai, yang membukakan pintu adalah ibunya Marco. Tinos menyampaikan maksud kedatangannya.
Setelah menemukan buku-buku itu, Tinos pamit dan bergegas kembali ke rumahnya. Sesampai di kamarnya, dia menyerahkan buku itu kepada Marco. Dengan serius, Marco mengecek buku tersebut. Tinos lalu mengeluarkan sebuah tas berukuran besar dari lemari. Marco terkejut, rupanya Tinos ingin segera mengemas barang-barangnya. Dia tidak tahu situasi seperti apa yang sedang terjadi di masa lalu itu. Perang Remains yang begitu dahsyat karena menyengsarakan kaumnya.
“Jika kau benar-benar nekat, akan sangat berbahaya untuk nyawamu. Perang ini adalah perang sungguhan, bukan main-main.”
“Tenanglah. Aku sudah membulatkan tekadku. Sekarang tunggu aku sebentar, akan kukemas semua barangku,” ucap Tinos.
Saking bersemangatnya, dia sampai mengabaikan Marco yang baru kembali dari masa lalu. Tinos Koulos bocah bergigi ompong satu, sangat sumringah. Dia akan melihat masa lalu, melakukan perjalanan waktu ke zaman perang. Rasa penasaran menyelubungi kepalanya, jantungnya berdebar, ingin melihat bagaimana perang dahsyat yang selama ini hanya dia ketahui dari sebuah cerita dan buku. Tinos sudah selesai mengemas barang-barangnya. Dia berdiri menatap Marco sambil berkacak pinggang.
“Lihatlah. Semua sudah beres, sekarang ayo kita berangkat,” celetuk Tinos.
“Berangkat bagaimana? Aku tidak tahu caranya kembali. Sudah aku katakan sebelumnya, aku hanya diculik oleh kembaranku yang berupa robot dari komputer. Dan sekarang ini aku kembali dengan cara yang tidak terduga, karena tiba-tiba muncul di kamarmu.”
“Aaaa!! Kenapa kau tidak mencari tahu caranya? Harusnya kau bawa pengawal dari sana.”
Mereka semua terdiam dan saling memandang. Rencana berwisata ke masa lalu sepertinya batal dilakukan oleh Tinos.
__ADS_1