LIVINETT PROTOCOL 9

LIVINETT PROTOCOL 9
18


__ADS_3

“Keluarlah!”


Teriak Nolas dengan lantang sambil melemparkan sebuah pedang kayu ke dalam ruangan gelap. Wajahnya terlihat beringas seperti singa yang kelaparan dan siap menerkam mangsa. Setelah mengeluarkan tawanannya, dia melepaskan jas kuning serta kacamata miliknya. Tawanan yang baru saja dibebaskan oleh Nolas adalah seorang bocah, benar sekali, bocah itu bernama Tinos.


Entah apa yang dipikirkan Nolas, kenapa dia mengeluarkan Tinos. Padahal dia setuju untuk mengurung bocah itu sesuai perintah Marco. Ada apa dengan Nolas, apakah dia merencanakan sesuatu? Atau dia ingin melakukan penelitian aneh kepada Tinos. Tidak mungkin, sepertinya ada niat lain yang ia sembunyikan.


Bocah bergigi ompong satu dan berambut kribo itu ke luar dari tempat gelap tersebut. Dia menuruti apa yang diperintahkan oleh Nolas. Pedang kayu yang tadi dilemparkan ke arahnya telah ia genggam dengan erat. Dengan sangat hati-hati, Tinos memberanikan diri bertanya kepada Nolas.


“Apa yang akan kau lakukan padaku, Paman?”


“Jangan banyak tanya, sekarang ikuti aku. Kau turuti saja semua perintahku jika masih sayang nyawamu,” ucap Nolas.


Tinos mengikuti langkah Nolas yang berjalan menuju bagian belakang laboratorium. Tinos menelan ludahnya karena ketakutan. Dia tidak bisa berpikir jernih, membayangkan hal ngeri yang mungkin terjadi. Bisa jadi ilmuwan aneh itu akan mengobrak-abrik isi perutnya untuk diteliti. Atau mungkin malah tubuhnya akan diubah menjadi sebuah robot. Tinos menggelengkan kepala sambil mengusap dahinya, dia ingin membuang semua pikiran negatif itu. Kalau kau sudah takut sejak awal, maka ketakutanmu akan menguasaimu. Tinos mengingat kalimat yang pernah diucapkan Marco untuk menghilangkan rasa takutnya.


Mereka berjalan melalui sebuah lorong dingin. Lorong itu tidak begitu besar, lampu menyala remang-remang, membuat kesan angker dan mengerikan. Tinos menarik napasnya dan tetap bersiaga. Siapa tahu Nolas akan menerkamnya secara tiba-tiba. Rasa takut yang masih menggelayuti membuat lututnya serasa ingin berhenti bergerak, tapi dia tetap memberanikan diri mengikuti orang bernama Nolas tersebut.


Sudah cukup lama mereka berjalan menyusuri lorong. Tapi belum ada kejelasan tempat apa yang akan mereka tuju. Apakah lorong itu tidak memiliki ujung, atau merupakan saluran menuju dimensi lain. Imajinasi liar mulai menguasai pikiran Tinos. Dia mulai membayangkan hal-hal aneh.


Akhirnya Nolas berhenti tepat di depan sebuah pintu. Lorong tersebut benar-benar aneh, kenapa ada pintu di ujungnya. Tinos ikut berhenti dan tetap menjaga jaraknya dengan Nolas. Matanya terus menatap tajam mengawasi semua gerak-gerik yang dilakukan Nolas.


“Tempat apa ini, kau membawaku ke mana?” tanya Tinos.


“Sebentar lagi kau akan mengetahuinya.”

__ADS_1


Nolas membuka pintu yang terkunci. Pintu terbuka, sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan. Di balik pintu tersebut ternyata ada sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan hijau dan terawat.


“Kenapa ada tempat seperti ini di dalam laboratorium?”


“Ya. Sebenarnya kita berada di bawah tanah. Ini adalah ruang bawah tanah yang kujadikan laboratorium penelitianku.”


“Lalu kenapa bisa ada tanah seluas ini di sini,” Tinos masih penasaran.


“Tanah ini adalah tempat untuk meneliti binatang buas serta alat-alat baru yang belum pernah diuji coba sama sekali dan beresiko meledak.”


“Jadi, apa tujuanmu membawaku kemari?”


“Kau ingin ikut berperang bersama Marco, kan?”


Kalimat Nolas membuat Tinos tercengang. Tinos tidak mengerti apa tujuan Nolas yang membebaskan dirinya dari kurungan lalu membawanya ke tempat aneh ini.


“Tidak perlu. Kau akan berlatih di sini bersamaku. Aku yang akan menjadi mentormu.”


“Hah?” Tinos bingung.


“Kau sudah kuberi pedang itu untuk latihan.”


“Tapi ini pedang kayu. Apa yang dapat kulakukan dengan senjata mainan ini.”

__ADS_1


“Jangan protes. Kau harus berlatih menggunakan pedang kayu terlebih dahulu. Tapi, sebelum itu, aku akan melatih otot-ototmu dahulu.”


“Apa aku bisa menjadi hebat?”


“Tidak ada yang tahu. Kita coba dulu.”


Akhirnya bocah kribo itu mau menuruti perkataan Nolas. Latihan mereka sangat aneh, pertama harus melakukan latihan untuk menguatkan otot. Latihan itu menggunakan bola besi yang sangat berat untuk menguatkan otot lengan. Kemudian mencabut rumput yang ada di lapangan untuk menguatkan cengkraman jari tangan. Lalu berdiri dengan satu kaki secara bergantian selama 12 jam.


Latihan aneh tersebut tidak berhenti sampai di situ. Untuk menguatkan otot punggung, Tinos harus tidur tengkurap di atas tanah, lalu punggungnya ditimpa dengan batu pipih raksasa. Semakin hari berat batu akan ditambah secara bertahap. Latihan ini lebih mirip penyiksaan, karena Tinos masih bocah. Nolas benar-benar tidak kenal ampun, dia sangat keras dalam melatih Tinos.


Di lain sisi, Marco juga terus berlatih bersama prajurit lainnya di Desa Harfil. Dia tidak mengetahui nasib Tinos yang sangat memprihatinkan. Sungguh berat hari-hari yang dilalui Tinos karena berada di bawah pengawasan Nolas. Kalau bocah biasa sudah pasti mati karena menjalani latihan gila seperti itu. Setelah semua hal berat berhasil dilalui Tinos, akhirnya dia mulai diajarkan cara menggunakan pedang.


“Apakah dengan pedang bisa melawan raksasa Trovolta? Aku ingin berperang jarak jauh saja, dengan senjata api misalnya,” celetuk Tinos.


“Kalau kau ingin menggunakan senjata lain boleh saja. Tapi kau harus menguasai ilmu pedang ini dulu. Dengan pedang, musuh akan lebih mudah dijangkau dan mudah memastikan kematian mereka.”


“Baiklah. Jika aku sudah berhasil menguasai ilmu berpedang, ajarkan aku senjata lainnya juga.”


“Ya.”


Sudah 4 minggu bocah itu menjalani latihan sadis bersama Nolas. Jika dia membangkang sekali saja, maka dia tidak akan mendapatkan jatah makan. Entah apa yang Nolas harapkan dari bocah bernama Tinos. Bocah itu sebenarnya sangat cerewet, tidak cocok kalau jadi prajurit perang, yang ada dia akan berpidato di tengah medan perang. Mulutnya benar-benar tidak bisa dihentikan ketika sudah asik berbicara, sampai berbusa sekali pun, kalau belum tidur dia belum bisa diam. Tidur saja dia sering mengigau tidak karuan.


Marco sudah terbiasa mendengar ocehan bocah tersebut. Gendang telinganya seolah sudah dilapisi baja dan tidak akan pecah jika mendengar suara cempreng milik Tinos. Mungkin orang lain akan pingsan karena otaknya jadi rusak gara-gara terserang ocehan dari mulut Tinos. Apakah dia terlahir hanya untuk menjadi orang yang banyak omong? Entahlah.

__ADS_1


 


 


__ADS_2