LIVINETT PROTOCOL 9

LIVINETT PROTOCOL 9
30


__ADS_3

Keributan telah selesai, seluruh orang kembali ke tenda masing-masing. Si raksasa Wilson juga sudah kembali normal. Yang jelas, inti dari perundingan malam ini, mereka akan melakukan perlawanan enam bulan lagi setelah gencatan senjata. Mereka akan menyusup ke wilayah musuh dengan mengirim raksasa Wilson terlebih dahulu untuk menyusup dengan membawa Tinos.


Setelah selesai dengan urusan ini, Marco teringat pesan dari Theresia yang ingin bertemu dengannya. Marco langsung bergegas menuju ke tempat yang dimaksud. Tinos mencoba membaur dengan si kembar, meski mereka masih terus berdebat.


Dari arah timur, Theresia melangkah ke arah Marco. Dia melambaikan tangannya dan dibalas dengan lambaian tangan dari Marco. Mereka saling melemparkan senyuman.


“Hai, bagaimana kabarmu? Maafkan aku sedikit terlambat, tadi ada pasien yang lukanya terbuka,” ucap Theresia.


“Aku baik-baik saja. Tidak masalah, aku juga baru saja sampai di sini. Ngomong-ngomong, kenapa kau ingin menemuiku, apakah ada yang ingin kau sampaikan?”


“Ya. Kita hanya bertemu beberapa kali, kau dan aku juga sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Aku ingin memintamu untuk datang ke tempatku, maukah kau menerima undangan makan malam bersamaku besok malam?”


“Makan malam? Kau tidak tinggal di tenda ini?”


“Aku tinggal di sini, tapi sesekali aku pulang ke rumah saat ada perawat lain yang menggantikan tugasku. Apa kau bisa datang?”


“Ah, sebentar.” Marco tampak berpikir sejenak, dia juga harus segera menyelesaikan penelitiannya. Tapi, mungkin hanya makan malam saja sebentar, tidak masalah jika dia meluangkan waktunya. “Baiklah, aku akan memenuhi undanganmu. Besok aku akan datnag.”


“Benarkah? Terima kasih. Tempatku menginap ada di ujung desa ini, sebelah utara jalan utama. Terdapat deretan kandang kuda di seberang jalan, 150 meter ke kiri ada rumah berwarna hijau, disitulah aku menginap.”


“Baiklah. Aku tahu kandang kuda di sana. Adakah yang ingin kau sampaikan lagi?”


“Ah. Tidak. Sepertinya hanya ini saja.”


“Kalau begitu, aku akan kembali lagi menemui adikku, dia sedang menungguku di sana.”


“Ya. Sampai jumpa lagi.”


“Sampai jumpa,” Marco melangkah menuju perkemahan.


Theresia juga membalikkan badannya lalu menuju ke tenda perawat. Sejak percakapan tersebut, seolah ada getaran yang tumbuh di hati Marco. Sepertinya dia mulai menaruh rasa kepada Theresia. Waktu yang disepakati telah tiba, Marco pun datang memenuhi undangan tersebut. Setelah mencari, akhirnya Marco berhasil menemukan tempat penginapan Theresia.


Mereka berdua larut dalam makan malam yang indah. Banyak topik pembicaraan yang mereka bahas ketika makan, tentang kebiasaan orang Sandzelt dan lain sebagainya. Marco yang datang dari masa depan akhirnya tersadar, dia tidak seharusnya jatuh cinta di sini. Kalau itu terjadi, sejarah pasti akan berubah. Setelah makan malam selesai, dia berniat langsung kembali ke laboratorium. Tidak baik jika terlalu lama menemani wanita itu. Tapi, Theresia seolah melarang Marco untuk segera pamit, wanita itu terus mengajak Marco berbicara.


Setelah berbagai alasan diucapkan Marco, akhirnya Theresia mengizinkan Marco untuk pulang. Pria itu merasa lega karena bisa keluar dari tempat itu. Marco berjalan kembali menyusuri jalanan setapak. Sambil berjalan, dia juga memikirkan penelitiannya di laboratorium. Nolas juga merasa kepayahan karena sangat sulit menciptakan virus yang benar-benar kuat. Marco merasa tidak enak jika Nolas terus berpikir sendirian sementara dia pergi makan malam bersama wanita.


Singkat cerita, setelah melalui berbagai macam percobaan dan gagal berkali-kali. Akhirnya Marco berhasil menemukan sebuah virus yang telah diuji coba ke dalam sebuah zirah yang dikhususkan untuk lembu. Disediakan dua ekor lembu di dalam ruangan tertutup. Satu lembu tersebut dipakaiakan zirah yang didesain khusus, satu ekor lembu dibiarkan tanpa zirah. Kemudian Marco menyebarkan virus itu melalui udara. Ajaib, virus tersebut tidak berpengaruh kepada lembu yang tidak memakai zirah, karena virus itu hanya bekerja pada komponen yang ada di dalam zirah. Sedangkan lembu yang menggunakan zirah mati seketika.


Di dalam zirah tersebut terdapat sebuah komponen bernama Triusda. Komponen itu terpasang di semua zirah yang dikembangkan oleh Nolas, termasuk zirah yang telah disempurnakan oleh Kaum Trovolta.


“Sekarang tinggal kita tentukan nama virus ini,” ucap Nolas.


“Aku tidak dapat menemukan nama yang cocok untuk virus ini. Bagaimana kalau Nolas Virus, sesuai namamu,” Marco mengusulkan.


“Tidak. Aku sangat tidak setuju, karena virus ini adalah hasil penemuanmu dan ide milikmu. Aku tidak membantu banyak, lebih baik menggunakan namamu, Marco.”

__ADS_1


“Jangan. Kumohon jangan gunakan namaku. Gunakanlah saja namamu, jika ada yang bertanya siapa yang menemukan virus ini, jawablah dirimu yang menciptakannya.”


Nolas tampak bingung dengan apa yang diucapkan Marco. Kenapa pemuda itu tidak mau menamai penemuannya menggunakan namanya.


“Kenapa begitu? Aku tidak berhak menerima penemuan hebat ini darimu. Karena aku tidak menemukannya sendiri,” kata Nolas.


Marco termenung sejenak. “Baiklah, bagaimana kalau kita beri nama virus ini dengan nama Arx-V?”


“Arx-V?” Nolas memandang Marco lalu tersenyum, “terdengar bagus. Tapi, kalau boleh tahu, apa filosofinya?”


“Arcansas. Aku teringat dengan nama Raja Arcansas, semoga virus ini bisa menyelamatkan kaum kita. Kumohon, seperti yang kukatakan sebelumnya, virus ini adalah ciptaanmu. Jangan pernah menyebutkan namaku sebagai penemunya,” Marco memelas.


“Baiklah. Kenapa kau tidak ingin menggunakan namamu?”


“Kau lupa? Aku ini datang dari masa depan. Lagi pula, aku tidak ingin asal-usulku diketahui oleh orang-orang di zaman ini.”


“Ya. Benar juga apa katamu. Baiklah, kau benar-benar pahlawan,” ucap Nolas sambil menepuk pundak Marco.


Kesuksesan penemuan virus tersebut membawa angin segar bagi Kolonel Grim dan seluruh anggota pasukan. Mereka semakin bersemangat berlatih, tentara yang terluka juga sudah pulih kembali. Kini sudah mendekati enam bulan, rencana telah siap, mereka sangat yakin untuk mengakhiri perang. Si kembar juga menampakkan dirinya kembali dan ikut berinteraksi dengan orang-orang di Yazelt. Si kembar yang dikutuk menjadi hidup lama dan awet muda, bercerita kepada Derpaz dan lainnya. Jika ingin mengakhiri penderitaan, si kembar itu harus berhasil membuat perdamaian. Padahal banyak manusia yang ingin hidup lama. Tapi kenyataanya hidup lama itu tidak enak karena si kembar itu sangat kesusahan menjalaninya.


***


 


 


Papilon, Derpaz serta lainnya merasa sangat kehilangan Garben. Mereka tidak menyangka, ternyata Garben bertindak sebodoh itu. Apa yang ada di dalam otaknya benar-benar membuat semua temannya bertanya-tanya. Kalau memang dia berkhianat, apa penyebabnya? Mungkinkah dia memang berencana untuk balas dendam atas kematian Tink? Tidak ada yang tahu jawabannya sebelum mereka mencari tahu atau menanyakan langsung kepada Garben.


“Hei! Kembar idiot! Biarkan aku yang menyusup dahulu, kalian ikut di belakangku saja,” teriak Tinos.


“Apa kau ingin mati, bocah kribo? Kekuatan kami lebih hebat darimu, jadi kau masuk saja ke dalam zirah saat kami berubah menjadi raksasa,” ucap Fell menyahut teriakan Tinos.


“Jangan seenaknya. Aku tidak mau bekerja sama dengan orang sombong seperti kalian.”


“Bilang apa kau barusan? Kau ingin bertarung?” Fell terlihat marah.


“Hentikan! Kita segera berangkat, jangan ribut terus,” teriak Daz memotong perdebatan antara Tinos dan Fell.


Keributan pun telah reda, akhirnya Tinos mau mengikuti rencana yang telah ditentukan. Seluruh pasukan bersiap menuju ke pelabuhan di tepi Selat Krokalm. Mereka menggunakan kapal selam agar tidak ketahuan oleh orang Trovolta. Yang menggunakan kapal di permukaan air hanyalah si kembar Daz dan Fell.


Singkat cerita, mereka telah sampai di tepi Pelabuhan Loran yang ada di Benua Tsandor. Tim di dalam air masih menunggu komando dari si kembar. Daz Wilson dan Fell Wilson telah melakukan penggabungan diri menjadi raksasa. Mereka masuk ke benua itu dan membawa Tinos. Marco bersama Papilon, Luis, dan lainnya masih menunggu di dalam air. Deart serta Derpaz saling siaga untuk menerima sinyal dari raksasa Wilson.


Hal yang mengejutkan terjadi, bukan kabar untuk melakukan penyerangan yang diterima, melainkan kabar tentang kaburnya Tinos. Bocah kribo itu meloncat dari dalam zirah yang dipakai raksasa Wilson. Derpaz segera menyampaikan berita itu ke seluruh pasukan. Semua terperangah tidak percaya, terutama Marco. Ketika itu juga, Kolonel Grim langsung mendekat ke arah Marco. Raut wajahnya terlihat cemas, kecewa, dan marah.


“Apa yang telah adikmu lakukan? Kenapa dia nekat seperti itu?” tanya sang kolonel.

__ADS_1


“Maafkan saya. Tinos benar-benar susah diatur, saya tidak menyangka kalau dia akan melakukan hal senekat ini.”


“Misi ini berada di tangan Wilson dan adikmu, harusnya dia berpikir dahulu sebelum bertindak.”


Kolonel lalu berbalik meninggalkan Marco, dia menyuruh Derpaz untuk mengabari Wilson. Sang raksasa tentu juga panik karena ulah Tinos. Namun, lagi-lagi hal mengejutkan terjadi. Kali ini justru kabar bagus yang diterima oleh Derpaz melalui radio jarak jauh. Pasukan Corvos sedang bersiap untuk melakukan penyerangan, saat itu juga Tinos berjalan di bawah kaki para raksasa. Tinos menyamar menggunakan kulit kambing yang masih memiliki bulu, dia menyusup tanpa membuat kecuriagaan sedikit pun. Akhirnya suasana menjadi tenang kembali.


“Bocah afro itu benar-benar hebat! Sekarang kita serahkan saja pada Wilson dan Afrocanggih itu,” ucap Derpaz.


Seketika itu juga Marco teringat dengan sejarah yang dia pelajari di masa 200 tahun mendatang. Tentang pahlawan dari Yazelt ketika Perang Ramains terjadi, pahlawan dengan julukan Afrocanggih atau Si Canggih. Rupanya itu adalah Tinos yang juga dari masa depan seperti Marco. Sungguh tidak disangka, ternyata kebenaran inilah yang terjadi. Lalu sebutan pahlawan kembar yang ternyata orang dari era Raja Arcansas, yaitu Daz Wilson dan Fell Wilson.


“Kenapa kau menyebutnya Afrocanggih?” tanya Marco.


“Rambutnya memang afro, bukan? Adikmu ternyata benar-benar punya kemampuan menyusup yang cerdas. Raksasa di Tsandor sampai tidak mengetahui kalau ada orang kerdil menyusup di antara koloni mereka. Gaya bertarungnya juga gesit seperti robot.”


“Ya. Betul juga katamu,” Marco menggaruk-garuk dagunya. Dia kagum serta berpikir sejenak, ternyata ada gunanya Tinos ikut berperang.


Setelah semua berjalan sesuai rencana, akhirnya Tinos berhasil menemukan Garben. Dia sedang duduk di atas paha salah satu titan. Titan tersebut terlihat sedang bersilah dan memakan daging. Tinos menunggu waktu yang tepat untuk menemui Garben. Garben pun beranjak pergi meninggalkan raksasa yang tadi diajaknya bicara. Tinos membututi Garben dengan hati-hati. Sampailah mereka di sebuah tempat yang penuh tumpukan kayu besar. Akhirnya Tinos berani menunjukkan identitasnya di depan Garben.


“Ini aku, bocah dari Yazelt. Aku ke sini untuk menjemputmu,” bisik Tinos.


“Kenapa kau bisa tahu aku ada di sini?” Garben terkejut.


“Ceritanya panjang. Sekarang kau ikutlah bersamaku. Sebentar lagi pasukan dari Yazelt akan menyerbu secara diam-diam.”


“Apa? Mereka telah menuju benua ini?”


“Ya.”


“Sialan. Aku harus segera memberitahukan kepada titan di sini.”


Tinos tidak percaya ketika mendengar apa yang baru saja diucapkan Garben. Ternyata dia memang benar-benar berkhianat.


“Kenapa kau melakukan ini? Apa yang ada di dalam pikiranmu?”


“Bukan urusanmu, bocah tengik!” bentak Garben.


“Apakah kau sadar? Perbuatanmu itu benar-benar kelewatan.”


“Terserah! Jangan halangi aku, jika kau tidak menyingkir, akan kubunuh.”


Mereka berdua pun terlibat pertarungan sengit. Mereka saling pukul, tendang, dan melompat. Bocah kecil bernama Tinos itu sungguh lincah, tapi Garben masih lebih unggul. Pertahanan serta pengalaman bertarungnya lebih tinggi dari Tinos. Akhirnya Tinos tersungkur karena tidak sanggup mengimbangi Garben. Setelah itu, Garben pergi meninggalkan bocah berambut kribo itu. Hal ini diketahui oleh raksasa Wilson yang menemukan Tinos terkapar tak berdaya. Wilson langsung mengabarkan kepada seluruh pasukan yang masih berada di bawah air.


Kolonel pun terperanjat ketika mengetahui kebenaran bahwa Garben memang telah berkhianat. Si Tameng Hitam itu tidak waras, beraninya mengkhianati kaumnya. Marco langsung membuka pintu darurat kapal itu, dia melesat menembus dinginnya air laut. Meski hanya beberapa meter dari permukaan, tapi suhu air di sekitar Benua Tsandor sangat dingin. Marco langsung menuju ke daratan untuk menyelamatkan Tinos. Dia kali ini benar-benar gegabah dan kehilangan kendali. Sampailah dia di daratan yang penuh titan. Marco datang tanpa penyamaran apa pun, dia langsung dikenali oleh seluruh raksasa yang ada di sana. Para titan itu telah siap untuk menyerbu Pegalisch saat Marco tiba. Semua mata tertuju ke arah manusia kerdil bernama Marco.


Kolonel Grim yang ada di dalam kapal langsung memberi perintah darurat untuk segera melakukan perlawanan secara terang-terangan. Mereka harus membantu Marco yang telah tiba di sana. Begitu juga dengan Nolas yang telah siap dengan virus yang ditemukan Marco. Nolas membawa sebuah alat seperti peniup untuk menyebarkan virus itu ke udara.

__ADS_1


 


 


__ADS_2