
Sudah seminggu Marco belum kembali ke Desa Harfil. Kali ini Tinos benar-benar ingin melihat latihan di desa itu. Dia merengek kepada Marco untuk mengantarkannya ke sana. Tapi Marco masih sibuk dengan penelitiannya. Akhirnya Nolas menyalakan robot kembaran Marco. Robot itu tersimpan di peti. Ketika robot kembaran Marco sudah aktif, dia disuruh mengantarkan Tinos ke Harfil.
Tinos pun terkejut melihat Marco ada dua. Mata bocah kribo itu terbalalak menyaksikan fenoma di depan matanya. Dua orang yang benar-benar mirip.
“Jadi ini kembaran yang menculikmu? Kalian seperti bandit Daz dan Fell dari Hutan Lumbor,” ucap Tinos
“Bodoh. Yang mirip diriku itu hanya sebuah robot. Sekarang pergilah bersama robot itu.”
“Baiklah. Aku berangkat.”
“Ya. Jangan buat keributan di sana.”
“Tenanglah,” jawab Tinos sambil menuju lift.
Bocah berambut afro itu meninggalkan laboratorium bersama robot yang mirip Marco. Tinos belum mengingat jalanan menuju Desa Harfil karena dia baru ke luar dari laboratorium sekali. Selama ini dia terus berlatih keras di bawah bimbingan Nolas. Si kribo itu pun sampai di desa, robot kembaran Marco yang memakai penutup wajah lalu memutuskan kembali ke laboratorium. Tinos sudah ingat rute yang harus dilalui untuk kembali ke laboratorium.
Sekarang bocah berambut afro itu berjalan menyusuri perkemahan. Matanya menatap setiap sudut mencari sesuatu. Tampaknya dia mencari bocah kembar bernama Daz dan Fell. Siapa tahu si kembar itu masih ada di Desa Harfil. Ada sesuatu yang ingin Tinos bahas dengan dua bocah kembar tersebut.
Sedangkan di laboratorium, Nolas dan Marco kembali serius melakukan percobaan. Pekerjaan yang mereka lakukan kini terasa berbeda dengan sebelumnya. Suasana hati berubah, rasa canggung sedikit menggelayuti dada mereka. Bekerja bersama dengan orang yang memiliki hubungan darah dari zaman berbeda terasa sangat kikuk. Marco berkali-kali menarik napas panjang untuk menghilangkan kekakuannya. Akhirnya mereka bisa mencairkan suasana dan bekerja seperti sebelumnya
Di Desa Harfil, Tinos duduk di bawah pohon. Dia memandang para prajurit yang serius berlatih. Tinos tidak menemukan si kembar yang menyelamatkan dirinya seminggu lalu. Daz Wilson dan Fell Wilson seakan hilang ditelan bumi. Ketika sedang hanyut dalam lamunannya, dia dikagetkan dengan kemunculan seorang wanita. Rupanya wanita itu adalah Theresia.
“Hai, Nak. Sedang apa di sini? Di mana Marco?”
“Aku sedang beristirahat. Marco? Dia kenalanmu?”
__ADS_1
“Ya. Kami bertemu beberapa waktu lalu, dia juga mengawal tim medis ke Sandzelt. Kau siapanya Marco? Adiknya?”
“Begitu. Ya. Aku adiknya Marco,” jawab Tinos tanpa pikir panjang.
“Sudah kuduga. Minggu lalu aku melihat kalian bersama setelah perang.”
Tinos berpikir kalau Marco tentu akan setuju dengan jawaban yang ia berikan kepada wanita ini. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, berbohong memang menjadi alasan terbaik, meski Tinos bukan adik kandung Marco.
“Ya. Dia membantuku saat aku terluka.”
“Namaku Theresia. Aku tim medis dari Sandzelt.”
“Aku Tinos.”
“Salam kenal, Tinos. Aku ingin minta tolong, kalau kau kembali ke rumahmu, tolong sampaikan pada Marco kalau aku menunggunya di tepi Sungai Oxin dekat tenda utama. Suruhlah dia untuk menemuiku malam ini.”
“Terima kasih.”
Theresia berlalu meninggalkan Tinos sendirian. Tinos penasaran tentang hubungan Marco dengan wanita tadi. Kalau mereka tidak ada hubungan tentu wanita itu tidak akan menanyakan Marco, bahkan sampai titip pesan segala. Tinos mencoba untuk tidak meikirkannya dahulu, yang penting nanti pesannya akan ia sampaikan ke Marco. Tinos kembali melanjutkan lamunannya, dia memandangi aliran sungai dan asap yang mengepul dari dapur umum.
Karena si kembar tidak menampakkan diri. Tinos memutuskan untuk kembali ke laboratorium. Takutnya nanti dia lupa jalan pulang. Ketika dia melangkahkan kakinya dan sampai gerbang desa. Dia melihat seorang laki-laki berjalan mencurigakan. Dia menoleh ke segala arah, matanya seolah memastikan kalau tidak ada yang melihatnya. Lelaki itu seperti mempunyai tujuan jahat, wajahnya tidak asing. Laki-laki itu terus diperhatikan Tinos dari balik tiang. Tinos akhirnya sadar, dia laki-laki yang bersama komplotan Marco. Laki-laki itu bernama Garben, dia juga ikut perang minggu lalu.
Tinos membuntuti Garben dengan sembunyi-sembunyi. Garben berjalan menyusuri jalan setapak menuju suatu arah. Tinos tersadar, ternyata laki-laki yang diikutinya itu menuju ke pelabuhan. Sepuluh menit berlalu, Garben hampir sampai pelabuhan. Dia menoleh ke belakang sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang mengikuti.
Garben tidak menyadari kalau dia diikuti oleh Tinos. Entah apa yang ingin dilakukan oleh Garben, tingkahnya memang benar-benar mencurigakan. Hari mulai senja, setelah sampai pelabuhan, ada sebuah kapal berukuran besar yang bersandar di tepi. Tinos tercengang melihat sosok yang muncul dari kapal itu. Ternyata itu adalah raksasa Trovolta yang berbadan tidak terlalu besar. Dia berada di kapal tersebut dan menyambut kedatangan Garben. Mereka bercakap sebentar, kemudian Marco naik ke kapal lalu pergi meninggalkan pelabuhan. Kapal itu berlayar menuju ke arah Benua Tsandor menyeberangi Selat Krokalm.
__ADS_1
Tinos benar-benar terkejut melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Garben. Kenapa dia justru menjalin hubungan dengan musuh dari Trovolta. Raksasa itu sepertinya tidak membunuh Garben karena terlihat dari sikapnya yang baik kepada Garben. Apakah mungkin Garben berniat untuk mengkhianati kaumnya sendiri. Kapal yang Tinos lihat semakin menjauh meninggalkan pelabuhan. Tanpa pikir panjang, Tinos membalikkan badannya lalu menuju ke laboratorium untuk menemui Marco. Tentu dia berniat menceritakan apa yang dia lihat barusan.
Tinos telah sampai di laboratorium, beruntung dia tidak tersesat. Setelah sampai di dalam, dia langsung menceritakan apa yang dia lihat. Ketika itu Marco masih melakukan penelitiannya, karena Tinos terus memaksa untuk mendengarkan, akhirnya Marco menghentikan pekerjannya. Semua telah diceritakan oleh Tinos, tentu Marco dan Nolas sama-sama terkejut.
“Apa kau baru memberitahu kami saja?” tanya Marco.
“Ya. Hanya kalian.”
“Baguslah. Jangan sebarkan kepada siapa pun dulu.”
“Jika Garben yang kau lihat pergi bersama orang Trovolta, tentu ada sesuatu yang dia sembunyikan. Kemungkinannya dia telah berkhianat,” Nolas menimpali.
“Sepertinya begitu. Kita lanjutkan penelitian ini nanti lagi. Sekarang aku akan menuju ke Harfil untuk menemui kolonel,” ucap Marco.
“Kau mau ke sana sekarang?” sergah Tinos.
“Ya. Sekarang.”
“Tunggu. Tadi ada seorang wanita bernama Theresia, dia memintaku untuk menyampaikan pesan, katanya kau suruh menemuinya di tepi sungai dekat tenda utama.”
“Benarkah? Baiklah nanti kutemui dirinya. Terima kasih atas informasimu.”
Marco melepas jas kuning yang ia pakai. Dia bergegas menuju ke Desa Harfil. Langkahnya sangat cepat. Setelah di atas, dia mengeluarkan zelcar dari garasi tua yang ada di sana. Dia menuju Harfil dengan kecepatan penuh.
__ADS_1