
Berbagai jenis gelas takaran, meja preparat, serta macam-macam cairan kimia memenuhi meja. Laboratorium terasa seperti gudang yang penuh perkakas tidak karuan. Nolas dan Marco tampak serius, mereka mondar-mandir, mengukur, membagi, mencampur bahan-bahan aneh yang tidak akan bisa dipahami oleh orang awam. Tinos muncul dari kamarnya, dia baru bangun tidur. Dia menguap lalu bertanya tentang apa yang sedang dilakukan oleh Marco dan Nolas. Tapi, Tinos tidak paham dengan yang diucapkan Marco. Akhirnya dia mengabaikan mereka berdua dan menuju kamar mandi. Tinos memutuskan untuk membersihkan badannya.
Kesibukan yang sedang dilakukan oleh Nolas dan Marco adalah meneliti dan berusaha mencipatakan sebuah ramuan. Mungkin, lebih tepat disebut sebagai virus, karena tujuan mereka memang membuat sesuatu yang mampu menghancurkan zirah lawan. Virus itu yang terpikirkan oleh Marco, dengan virus, maka zirah akan menjadi hancur dan rusak. Hal tersebut bisa menjadi senjata untuk mengalahkan para titan pengguna Zirah Keabadian.
“Jika virus berhasil kita temukan, kemenangan akan menjadi milik kita,” ucap Marco.
“Ya. Beruntung aku menculikmu dari masa depan untuk membantuku. Ternyata otakmu memang sangat jenius, meski semua kaum Yazelt memiliki kecerdasan yang bagus, tapi, di masa depan pasti akan ada orang yang lebih cerdas. Karena itulah aku mencarimu melalui komputerku dan mendesain robot yang mampu menyusup secara virtual ke dalam komputermu lalu menjadi nyata.”
“Aku sangat terkejut, pertama aku juga tidak percaya dengan robot yang kau kirim.”
“Pada tahun ini, sudah banyak sekali penemuan yang dikembangkan oleh orang-orang Yazelt. Mereka membuat berbagai alat serta berbagai metode penelitian yang luar biasa. Tapi, semua itu telah hancur semenjak perang berkobar, ilmuwan tidak berani melanjutkan mengasah otak mereka karena takut dibunuh oleh orang dari Trovolta. Sungguh, penduduk Benua Tsandor benar-benar kejam.”
“Baguslah, semoga kelak, ilmu dan keberanian orang cerdas di sini bisa pulih kembali. Berbicara tentang robotmu, bagaimana dia bisa menjadi nyata? Asal kau tahu, dia juga telah membuat kekacauan di dunia masa depan. Dia membajak pesawat milik Gerfant dai Trovolta. Jika orang-orang Trovolta mengetahui hal itu, perang bisa terjadi kembali.”
“Jika di masa depan telah damai, berarti kita bisa memenangkan pertempuran ini. Aku akan sangat yakin, karena ada dirimu di sini. Jangan khawatir, robotku mempunyai kemampuan untuk menghilang, artinya, jika robotku dimusnahkan maka semua kejadian yang pernah dia lakukan akan hilang dari semua ingatan. Begitu juga dirimu, kau tidak akan mengingat kembali kejadian di masa lalu ini.”
“Benarkah? Aku tidak menyangka kau akan melakukan hal seperti itu. Apakah kau akan memusnahkan robot itu?”
“Ya. Agar kejadian di masa depan menjadi normal kembali, dan menghilangnya dirimu selama ini tidak teringat oleh orang-orang masa depan.”
“Baiklah. Aku tidak keberatan asal perang ini bisa berakhir. Jika kita kalah, tentu aku tidak akan ada di masa depan, bisa jadi masa depan tidak ada untukku karena benua ini dikuasai musuh.”
__ADS_1
Mereka melanjutkan pekerjaan untuk menciptakan virus. Sesekali berdebat, tegang, wajahnya putus asa, lalu semangat lagi. Mereka benar-benar berjuang sangat keras. Ada sesuatu yang membuat Marco terkejut, ternyata ada sebuah fakta yang belum diketahuinya. Semua bermula ketika Nolas menyuruhnya mengambil buku biru di kamar Nolas. Marco pun menuruti permintaan itu, dia masuk ke kamar Nolas dan mengambilkan buku tersebut. Saat dia membuka laci yang diberitahu Nolas, dia menemukan buku yang dimaksud. Dia menyempatkan untuk membacanya sebentar, dia tercengang saat melihat bagian akhir buku itu. Ternyata sebagian buku itu adalah sebuah catatan harian, tapi yang membuat Marco terkejut adalah foto yang memperlihatkan Nolas bersama seorang laki-laki muda.
Marco kembali menemui Nolas. “Siapa orang yang ada di foto ini?”
“Foto?” raut wajah Nolas berubah menjadi penasaran. Dia menerima foto yang dibawa Marco dari kamarnya. “Oh. Ini putraku, sekarang dia mengungsi dan menjaga ibunya. Sebenarnya dia juga mempunyai kecerdasan sepertimu, dia bisa meniru apa saja yang kubuat. Tapi, dia sangat lemah, tubuhnya tidak dapat digunakan untuk melakukan hal-hal berat.”
“Apa kau tidak menyadarinya. Anakmu ini memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakekku sewaktu muda. Aku pernah melihat foto kakekku yang masih muda di album milik ayahku. Sekilas, anakmu ini juga terlihat mirip denganku. Perhatikan alisnya serta sorot mata itu.”
“Benar. Dia sekilas mirip denganmu,” Nolas bertambah terkejut. “Sebentar, apakah kau tidak mengetahui marga keluargamu?”
“Ya. Aku tidak tahu, karena ayahku pernah bertengkar dengan kakekku sehingga dia memutuskan untuk pergi dari rumah dan tidak mau memakai nama marganya. Dia tidak pernah mau menyebutkannya padaku, tapi sepertinya dia masih sering menjenguk kakekku sewaktu aku masih kecil.”
“Siapa nama kakek dan ayahmu?”
Seketika itu juga Nolas terperanjat, dia seperti terkena serangan jantung. Nolas mendekatkan dirinya ke Marco. “Dengarlah, anakku yang ada di foto ini bernama Drint Sonits.”
“Hah?” sekarang giliran Marco yang terkejut setengah mati.
“Benar. Dia bernama Drint Sonits,” Nolas mengulangi ucapannya.
“Drint... namanya Drint Sonits? Dan namamu adalah Nolas Sonits. Jadi, kau adalah buyutku?”
__ADS_1
“Tampaknya seperti itu. Mungkin, ketika anakku menikah, aku sudah mati. Karena aku tidak mengetahui nama cucuku. Tentu, cucuku adalah Virpie, dia adalah ayahmu.”
“Apa yang terjadi? Aku tidak tahu permainan takdir ini. Berarti nama marga keluargaku sebenarnya adalah Sonits. Virpie Sonits adalah cucumu, dan aku sendiri? Marco Sonits, namaku Marco Sonits? Aku tidak menyangka dengan semua ini, serasa seperti mimpi.”
“Ah. Aku juga tidak menyangka, ternyata aku bisa bertemu dengan buyut dari masa depan.” Nolas memeluk Marco.
Marco berdebar jantungnya, ternyata selama ini dia bersama leluhur keluarganya. Jika dia masih di sini, tentu dia bisa melihat kakeknya sewaktu muda. Kakek Drint, idiot merangkak yang dulu sering dikunjungi Marco sewaktu kecil. 200 ratus tahun berlalu dengan kejadian yang luar biasa. Hidup Marco seperti sebuah misteri tersendiri yang diciptakan penguasa alam raya.
Nolas melepaskan pelukannya dan duduk di kursi. Mereka berdua meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk saling bercakap. Percakapan takdir dari masa depan dan masa lalu. Sungguh luar biasa, mereka berdua masih sama-sama tidak percaya hal ini.
“Marco, apakah cucuku itu juga pintar sepertimu?”
“Virpie? Ya. Ayahku juga sangat cerdas, dia adalah seorang dokter. Tapi, aku tidak begitu dekat dengannya karena dia selalu sibuk dengan pekerjaannya.”
“Jadi begitu. Aku jadi merindukan anakku, Drint yang sedang mengungsi bersama ibunya. Semoga aku bisa segera bertemu dengannya. Umur orang Yazelt biasanya lama, kami bisa hidup hingga 100 tahun. Tapi mungkin aku akan mati sebelum melihat pernikahan putraku.”
“Jangan bicara menyedihkan seperti itu. Lalu, apakah istrimu masih sehat seperti dirimu?”
“Ya. Dia masih sehat dan cantik.”
__ADS_1