
Angin laut berembus sangat kuat dari Selat Krokalam. Pasir di pelabuhan seperti menangis, beton yang sudah hancur di sana-sini tampak mengerang kesakitan. Tatanan indah pelabuhan benar-benar rusak parah. Kapal-kapal raksasa terombang-ambing di atas air bersama jangkar yang memberatkannya. Ledakan demi ledakan terus terdengar. Teriakan semangat, teriakan orang meregang nyawa serta deru mesin Zelcar terdengar menyakitkan telinga.
Marco masih menganga mulutnya, dia tampak begitu terkesima dengan kehadiran sosok yang baru saja menyelamatkan dirinya. Sosok itu melakukan serangan terakhir, dia melompat ke udara lalu menghunuskan pedangnya yang dapat memanjang untuk memenggal kepala raksasa yang telah ambruk tadi. Darah segar mengucur deras dari leher yang tertebas. Sosok itu lalu mendarat di atas tubuh raksasa yang baru saja dia tebas. Sosok itu membalikkan badannya lalu tersenyum menatap Marco.
Marco semakin terkejut melihat sosok itu. Rupanya dia bocah ingusan bergigi ompong dan berambut kribo. Benar sekali, dia adalah Tinos yang selama ini dikira oleh Marco sedang dikurung.
“Bersyukurlah karena aku datang tepat waktu,” ucap bocah kribo itu sambil mengibaskan pedangnya yang ada noda darah.
“Ka... kau? Kenapa bisa ke sini? Dan... siapa yang...?”
“Aku tahu kau sangat terkejut,” Tinos terkekeh, “rencanaku benar-benar sukses karena aku berhasil membuatmu tercengang.”
“Dasar, otak udang! Kembalilah ke laboratorium! Ini bukan taman bermain, bodoh.”
“Kau ini! Kenapa masih menganggapku anak kecil. Sekarang ini aku sudah lebih hebat. Mana terima kasihmu setelah kuselamatkan?”
“Ya. Terima kasih atas pertolonganmu. Jika kau memaksa ikut perang, jangan menangis kalau para raksasa itu menendang bokongmu.”
__ADS_1
“Kita lihat saja nanti, akan kubereskan semua raksasa itu.”
Tinos melompat dan menyerang kembali musuhnya, Marco mengambil busur panah dari rekannya yang telah tewas. Beruntung ada busur yang masih bagus. Dia melanjutkan membidik raksasa yang semakin gila seperti anjing rabies. Reil dan Deart berhasil menggulingkan 4 raksasa di sebelah timur. Papilon berlari menyusul Sil untuk membantunya.
Sedangkan Garben datang untuk membantu Marco. “Akan kubantu kau, lindungi aku dari belakang,” katanya.
“Serahkan padaku.”
Di sisi tenggara, Luis dan Rifiz telah menyentuh bibir pantai. Mereka sesekali melontarkan anak panah ke arah kapal. Sasaran mereka adalah Anak Suci serta Roz Fruilt. Tapi, anak panah seperti itu dengan mudah dihalau oleh Anak Suci. Orang yang menyebut dirinya Anak Suci ini sangatlah misterius. Dia menggunakan topeng yang menutup mulutnya serta jubah yang sangat rapat. Tato spiral di dahinya membuat wajahnya semakin misterius. Tubuhnya sangat kekar dan lebih tinggi dari raksasa lainnya.
Serangan yang dilontarkan oleh Luis dan Rifiz seolah tidak ada apa-apanya. Mereka berdua nekat menyerang orang terkuat dari Trovolta tersebut. Kaum Trovolta benar-benar seperti iblis. Kolonel Grim bertarung di dekat gedung yang telah roboh, dia dibantu oleh Sir. Hudson. Marco terbelalak matanya ketika melihat bocah kribo bernama Tinos sedang berlari menuju ke tempat Kolonel Grim. Apa yang ingin dia lakukan? Dasar rambut afro goblok, desis Marco.
Marco masih fokus dengan serangannya, dia berhasil merobohkan beberapa raksasa. Pandangan matanya terus tertuju pada Tinos. Bocah kribo itu bertarung seperti robot canggih, tubuhnya melompat tinggi, berputar dengan cepat, seperti menari-nari. Gaya pedangnya sangat tidak biasa. Dia terus menjatuhkan raksasa-raksasa itu, tapi sepertinya kali ini dia kesulitan. Karena ada raksasa yang berbeda dari lainnya. Tubuhnya penuh luka, di wajahnya terdapat luka bakar separuh. Raksasa itu berhasil membuat Tinos kerepotan. Marco masih berusaha untuk mendekati bocah itu, sayang pergerakannya terhambat karena banyak raksasa yang menghadangnya.
Seketika itu juga, Tinos terpental dan menubruk kaki raksasa lain. Dia dihajar habis-habisan oleh raksasa buruk rupa itu. Tinos masih bisa bangun, sayangnya tenaganya mulai terkuras. Keadaan telah berbalik, kini Tinos yang terpojok. Saat situasi semakin genting, Marco justru tidak bisa mendekat. Raksasa jelek itu mengayunkan tinjunya ke arah si kribo. Dia akan hancur jika terkena pukulan itu sekali saja. Saat tinju itu akan mendarat di tubuh Tinos, angin menjadi ribut karena bertiup lebih kencang. Saat itu juga tubuh raksasa jelek tersebut telah ambruk, dadanya belubang cukup besar, kepalanya tertancap anak panah dan meledak.
Tinos berhasil lolos dari maut, kini gantian dia yang diselamatkan oleh dua orang misterius. Kali ini mereka kedatangan orang tidak dikenal lagi. Marco menyaksikan kejadian barusan, dia menjadi tambah heran. Kedua sosok itu terlihat mirip, satunya menggunakan panah, dan satu orang lagi menggunakan dua pistol. Mereka lalu kembali beraksi, serangan mereka lebih gesit dari Tinos. Mereka seperti mesin super cepat. Dalam beberapa detik saja 50 raksasa telah tumbang. Serangan mereka sangat mengesankan, Marco berhasil mencapai tempat Tinos berdiri.
__ADS_1
“Siapa mereka? Apakah temanmu?” tanya Marco.
“Bukan. Aku sama sekali tidak mengenal mereka.”
“Beruntung mereka berada dipihak kita. Tapi, kenapa hari ini banyak sekali orang-orang dengan kemampuan tinggi muncul.”
“Kau memujiku, ya? Terima kasih,” Tinos terkekeh.
“Aku tidak memujimu. Afro jelek bergigi ompong.”
“Kau malu untuk mengakuinya, aku tahu itu. Kehebatanku tidak sebanding denganmu, bukan?”
“Hentikan bualanmu.”
Marco dan Tinos menyaksikan pertarungan yang dilakukan dua orang yang baru datang. Tubuhnya lebih pendek dari Tinos, mungkin saja mereka lebih muda. Sungguh hebat cara bertarung mereka. Dengan busur panah, dia mampu menembakkan 3 buah anak panah sekaligus. Sedangakan satunya, mampu menggunakan dua pistol secara bersamaan tanpa kerepotan. Peluru pistol yang dia gunakan sangat aneh, karena bisa meledak dan membuat lubang di tubuh lawan. Mereka sungguh terlatih dengan baik. Marco tak henti-hentinya tertegun.
Entah mereka berdua berasal dari mana. Kenapa baru sekarang menunjukkan diri. Branco butuh orang berkemampuan hebat seperti mereka. Kekuatan seperti itu akan sangat membantu untuk mengalahkan pasukan Corvos. Dengan begitu, perang bisa berakhir dengan cepat. Kemampuan di atas rata-rata bagi orang kerdil sungguh sesuatu yang membanggakan.
__ADS_1