
Awan menyelimuti angkasa seperti kapas dengan warna hitam pekat. Sudah pasti akan terjadi badai, orang awam sekali pun bisa membaca keadaan jika melihat fenoma seperti itu. Angin semakin kuat bertiup, daun-daun kering mulai berguguran. Akan berbahaya jika tidak segera mencari tempat perlindungan. Badai biasanya terjadi diiringi hujan lebat. Theresia sudah paham dengan kondisi seperti itu, karena setiap kali badai, sekeliling hutan seperti memiliki aura tersendiri.
Cahaya seolah semakin memudar tergantikan kegelapan yang mengerikan. Terdengar suara burung-burung yang berterbangan ke luar dari hutan. Ada beberapa rusa yang berlarian dan tupai yang mulai mencari perlindungan. Hewan-hewan lebih peka terhadap kondisi alam. Begitulah kehebatan naluri binatang. Bukan saatnya untuk terbuai dengan kondisi alam yang akan mengamuk. Rombongan itu harus segera berlindung.
Tidak ada pilihan lain, tidak ada sebuah gua untuk berlindung. Selain membuat lubang perlindungan untuk mengamankan barang bawaan dan gerobak, masih ada satu cara lagi, yaitu berlindung di bawah jajaran pohon yang masih kokoh. Akan bahaya jika berada di bawah pohon tua yang bisa tumbang terkena angin kencang.
Semua mata menyusuri sisi hutan mencari tempat yang memungkinkan untuk membuat perkemahan. Jika badai itu datang, maka tidak akan bisa melanjutkan perjalanan lagi. Jika badai lebih parah dari yang diperkirakan, tentu akan disertai angin tornado. Semoga saja badai tidak terlalu ganas sehingga semua bisa beristirahat. Akhirnya Derpaz menemukan deretan pohon yang batangnya masih kokoh. Akarnya tertancap di dalam tanah dengan sangat dalam. Jadi, kemungkinan untuk roboh sangat kecil.
Mereka akhirnya mendirikan tenda di bawah pepohonan yang ditemukan Derpaz. Tenda mereka dikaitkan langsung ke batang pohon dan diperkuat dengan tali ganda agar tidak terlepas jika badai datang. Tenda juga terbuat dari bahan anti air, mereka mendirikan 3 buah tenda untuk 12 orang dan barang. Tidak lupa, mereka juga sudah membuat parit kecil di sekitar tenda. Semua wanita yang berjumlah 5 orang mendapat tenda yang paling bagus. Sedangakan para pria dibagi menjadi 2 kelompok, 4 pria menempati tenda di bawah pohon yang memiliki daun berwarna emas. Sedangakan 3 pria lainnya menempati tenda yang paling besar bersama barang bawaan. Gerobak diletakkan di dekat perapian yang baru saja dibuat Marco dan dua pria lainnya.
Mereka makan malam dengan makanan kaleng dan bekal lain yang masih ada. Tidak mungkin memasak dengan angin yang mulai kencang. Api unggun saja sudah mulai meliuk-liuk menjulurkan lidah apinya karena diterpa angin. Membuat kayu habis terbakar dengan cepat. Malam semakin larut, para wanita memutuskan untuk segera tidur. Angin dingin masih terus berembus dengan cepat. Derpaz dan Marco mulai berjaga di depan tenda menggunakan kain tebal yang membalut tubuh mereka.
“Jika badai mengamuk lebih ganas, apa yang harus kita lakukan?” Marco memulai percakapan.
“Tenanglah. Semoga saja badai ini segera reda.”
“Betul. Kita akan kerepotan karena ada wanita bersama kita jika badai menggila.”
“Ya. Sebenarnya aku belum mengetahui kau berasal dari mana. Aku tidak pernah melihatmu sejak perang dimulai, kau baru ikut perang pertama kali?”
__ADS_1
Pertanyaan yang dilontarkan Derpaz membuat Marco menjadi gugup seketika. Tentu tidak mungkin mengatakan bahwa dia berasal dari masa depan. Datang ke zaman perang dengan komputer melalui situs Protocol 9, Marco harus menjaga rahasianya. Derpaz sudah pasti tidak percaya. Otak Marco berputar keras memikirkan jawaban yang akan dia berikan kepada Derpaz.
“Ah. Iya, aku berasal dari Yazelt juga, tapi aku tinggal di wilayah selatan selama beberapa tahun ini,” jawab Marco seadanya.
“Begitu. Kau tinggal di sini bersama siapa? Apakah keluargamu juga ada di sini.”
“Kau tau orang yang bernama Nolas? Dia kerabatku, aku tinggal bersamanya di Yiklaz.”
“Nolas? Oh, orang jenius itu. Ternyata kau memiliki hubungan dengannya. Pantas saja kau langsung mendapat posisi di depan bersama kami. Orang yang diberi wewenang untuk membawa pasukan di garda depan haruslah orang yang sangat cerdas.”
Marco terkekeh mendengar apa yang baru saja diucapkan Derpaz. “Terima kasih. Semua ini berkat pelatihan yang diberikan oleh Kolonel Grim.”
“Betul. Kolonel sangat berbakat, tapi sayang, kita tidak memiliki senjata yang lebih canggih untuk mengalahkan pasukan Corvos. Terakhir kali, Nolas membuat zirah canggih yang justru dicuri oleh Kaum Trovolta.”
“Ya. Aku lahir di desa yang berada di Kota Uaro. Desaku bernama Guyim, sebelah barat Pegunungan Aranos.”
“Oh. Aku tahu desa itu, bukankah di sana banyak pertambangan emas?”
“Betul. Sayangnya sekarang sedang perang, situasi gawat seperti ini membuat para penambang gelisah dan tidak bersemangat bekerja.”
__ADS_1
“Benar. Sangat disayangkan. Apakah orang tuamu ikut mengungsi?”
“Orang tuaku meninggal saat aku baru lahir.”
“Oh. Maafkan aku.”
“Tidak perlu dipikirkan. Semua sudah menjadi takdirku.” Derpaz tampak bersedih. “Mereka mati dibunuh oleh perampok yang ingin mencuri emas di rumahku,” imbuhnya.
“Aku turut berduka.”
Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam muncul ditengah rimbunan pepohonan. Marco dan Derpaz langsung memasang mata, mereka berdiri penuh siaga. Hujan gerimis mulai turun membasahi tanah. Seharusnya malam ini bulan purnama bersinar terang, namun karena terhalang awan hitam, membuat bulan tersembunyi. Bayangan tadi membuat Derpaz dan Marco tidak bisa tenang. Mereka menyusuri sekitar tenda serta memeriksa atas pohon.
Angin berembus makin cepat, tubuh mereka mulai basah karena terkena gerimis. Jika semakin lama berdiri, maka akan basah kuyup. Bayangan tadi tidak muncul lagi, tapi Derpaz dan Marco masih terjaga. Mereka memutuskan untuk tidak tidur. Tak ada yang tahu jika bayangan tadi muncul lagi. Entah itu musuh atau hanya sekedar bayangan.
Badai yang ditakutkan tidak terjadi, hanya saja hujan semalam cukup deras. Marco serta Derpaz terlelap menjelang subuh. Para wanita sudah terbangun dari tidurnya. Tapi, mereka terkejut karena mendapati gerobaknya hilang. Karena keributan itu, membuat Derpaz dan Marco yang baru tidur sebentar terbangun. Mereka juga terkejut kenapa gerobaknya bisa menghilang. Dari dalam tenda barang juga ada hal yang menggemparkan. Semua persedian makan untuk sarapan juga lenyap beserta beberapa ransel lainnya.
Apakah bayangan semalam itu adalah bandit dari Hutan Lumbor ini. Marco mengepalkan tangannya, dia kecolongan. Rupanya bayangan semalam bukan ilusi. Tapi, bagaimana pencuri itu bisa mengambil gerobak serta tas sebesar itu tanpa ketahuan? Derpaz juga kesal, dia tidak menyangka akan ketiduran.
Akhirnya mereka mencari sarapan dengan cara berburu di hutan. Untuk anggota yang berjumlah 12 orang tentu bukan perkara mudah. Semua harus mendapat jatah sarapan, atau mereka akau jatuh pingsan. Perjalanan masih setengah hari lagi menurut perkiraan. Walau tidak terlalu lama, jalan kaki tentu menguras tenaga. Masalah air minum tidak perlu khawatir, karena mereka masih punya persediaan cukup banyak. Marco berhasil menangkap rusa dan Derpaz mendapatkan beberapa buah-buahan. Semua anggota kemudian bekerja sama untuk membuat sarapan dan harus segera bergegas untuk melanjutkan perjalanan.
__ADS_1