LIVINETT PROTOCOL 9

LIVINETT PROTOCOL 9
15


__ADS_3

“Biarkan saja komputer itu menyala,” ucap Marco.


Tinos menuruti perintah Marco. Mereka berdua lalu termenung menatap layar komputer. Layar komputer memancarkan cahaya terang menusuk mata. Kamar Tinos sedikit gelap, jendelanya tidak dibuka. Tampilan layar komputer tetap sama. Marco berpikir sejenak, cara apa yang bisa menghubungkannya dengan masa lalu itu lagi.


Tinos memperhatikan Marco yang tampak berpikir keras. Tinos ikut-ikutan memasang wajah serius, bola matanya menatap tajam ke arah komputer. Tidak ada ide yang muncul, sama saja seperti tadi. Mereka tidak tahu bagaimana menghubungkan dunia ini ke masa lalu.


“Kenapa kau tidak membawa alat yang canggih dari sana, semacam pemicu atau apa pun,” celetuk Tinos.


“Mana mungkin aku memikirkan hal itu, yang kutahu mereka sendiri yang menginginkan kedatanganku. Sesuatu pasti akan terjadi, kita tunggu saja. Orang sinting bernama Nolas Sonits di laboratorium itu pasti sedang melakukan sesuatu untuk membuatku kembali ke sana.”


“Benarkah? Baiklah, kau bisa istirahat lagi sambil menunggu hal ajaib itu muncul.”


“Ya. Ide bagus.”


“Ngomong-ngomong, gelang apa yang kau pakai itu?”


“Entah. Ilmuwan itu yang memasangkannya untukku.”


Marco merebahkan tubuhnya di kasur. Dia menatap langit-langit sambil mengingat kembali petualangan yang telah dia lalui. Ketika pertama kali dia tiba di masa lalu dan dikurung, bertemu dengan Nolas, melakukan latihan bersama Kolonel Grim. Bayangannya buyar dan teralih pada satu sosok yang baru dia jumpai. Sosok wanita bernama Theresia muncul di otaknya. Marco mengingat senyum wanita itu dan suara lembutnya.


Dadanya bergetar sangat cepat. Apa yang sedang dia lakukan, ya? Marco membatin. Theresia memang begitu mempesona, wanita itu memiliki rambut hitam sebahu dengan warna mata abu-abu. Kulitnya begitu mulus, dia sangat cekatan penuh dengan semangat. Selain ahli pengobatan, dia juga pintar memasak. Terlebih, dia juga seorang prajurit misterius yang hebat.


Marco semakin tenggelam dalam lamunannya tentang Theresia. Tanpa dia sadari, bibirnya menyunggingkan senyuman yang sangat lebar. Tinos melihat apa yang sedang terjadi dengan Marco.


“Kau sedang memikirkan apa? Kenapa tersenyum seperti orang gila?” celetuk Tinos.


“Bukan urusanmu,” jawab Marco.

__ADS_1


“Habisnya wajahmu sangat menjijikkan saat kau tersenyum seperti tadi. Lubang hidungmu kembang-kempis kalau kau tahu.”


“Sudah diam saja, jangan pedulikan aku.”


“Ya, ya.”


Mana mungkin Marco tahu kalau wajahnya sangat menjijikkan. Dia hanya tersenyum secara spontan karena suasana hatinya sedang bahagia. Tinos membuat mood Marco rusak. Sedang asik memikirkan wanita cantik, malah diganggu oleh bocah ompong bernama Tinos.


Tiba-tiba hujan turun mengguyur Kota Yiklaz. Marco bangun dari rebahannya lalu meminta Tinos untuk mengambilkan minum. Marco merasa haus karena sejak dia datang ke kamar Tinos belum minum. Tinos kembali ke kamar dengan membawa botol minuman. Marco meneguk habis minumannya.


Waktu sudah berlalu cukup lama, tapi tidak ada perubahan yang muncul di layar komputer. Marco menjatuhkan kembali tubuhnya di kasur, dia limbung lalu menguap. Menunggu adalah sesuatu yang sangat membosankan, apa lagi menunggu hal yang tidak pasti seperti ini.


“Tidak ada perubahan sama sekali di layar. Apakah benar kita bisa ke masa lalu?” tanya Tinos.


“Tunggu saja. Kalau kau tidak percaya, sebaiknya kau jangan ikut.”


“Baiklah, aku tidak keberatan.”


Marco duduk di kasur lalu mulai bercerita. Tinos memasang telinga baik-baik untuk menyimak cerita yang akan disampaikan Marco. Entah kenapa bocah itu sangat antusias untuk mendengar kisah seperti itu. Sudah menjadi kebiasaan buat mereka berdua. Marco sering mengisahkan kisah-kisah yang membuat Tinos takjub. Bocah itu akan sangat betah mendengarkan berbagai macam cerita, tidak peduli berapa lama waktu untuk bercerita.


Terkadang bibir Marco sampai kelu, mulutnya kering kerontang karena terlalu lama bercerita. Meski berhenti sebentar saja, Tinos pasti akan terus memaksanya untuk segera melanjutkan cerita. Ada banyak kisah dari buku fantasi yang pernah dibaca Marco. Tapi ada juga kisah yang menurutnya benar-benar terjadi di dalam sejarah. Meski buku itu bertema fantasi, tapi Marco meyakini kalau kisah itu benar-benar ada. Yaitu buku yang berjudul Peradaban Negeri Lmur dan Yiz.


Entah apa yang membuat Marco tertarik dengan kisah itu. Sepertinya itu hanya kisah fiksi biasa. Cerita itu pernah diceritakan kepada Tinos, namun Tinos tidak mengerti jalan cerita itu. Jadi Marco tidak melanjutkannya.


Sekarang Marco bercerita tentang pengalamannya sewaktu menjadi prajurit Branco dan berada di garda depan untuk melawan Kaum Trovolta. Tinos benar-benar kagum mendengar kisah menegangkan itu. Sampai pada bagian ketika dia kehilangan orang yang lumayan hebat bernama Tink. Pemuda itu tewas karena tidak mendengarkan perintahnya.


Marco juga menceritakan tentang latihan yang dia jalani selama ini. Bagaimana dia harus menguasai senjata panah canggih. Juga pengalaman dilatih oleh orang legendaris bernama Kolonel Grim.

__ADS_1


“Kau tentu pernah melihat replika panah itu di Museum Giora. Panah canggih yang digunakan sewaktu Perang Remains,” ucap Marco.


“Oh. Panah itu, iya aku tahu bentuknya.”


“Kolonel Grim betul-betul hebat, dia bisa membentuk pasukan yang kuat dari Kaum Yazelt yang kebanyakan rakyat sipil biasa.”


“Wah. Jadi kau sudah bertemu dengannya. Lalu apa lagi yang kau temukan di sana?”


“Aku sudah memakai zirah generasi pertama yang dicuri oleh Kaum Trovolta. Zirah itu benar-benar nyaman ditubuh. Kau akan merasakan sensai perang yang tiada duanya. Bukan seperti di dalam sebuah game. Lalu, ada juga prajurit wanita yang kutemui. Dia sangat pemberani, kehebatannya sungguh luar biasa.”


“Benarkah? Wanita itu pasti mengerikan. Setelah aku sampai di sana, biarkan aku ikut berperang juga,” celetuk Tinos.


Marco terdiam mendengar ucapan Tinos. Wajahnya berubah sedikit masam. Dia tahu, bahaya seperti apa yang akan terjadi di sana. Perang itu pasti akan lebih dahsyat dan memakan banyak korban. Tidak mungkin seorang bocah seperti Tinos ikut dalam perang.


“Wanita itu sangat cantik. Kau tidak boleh ikut berperang. Itu terlalu beresiko untuk bocah sepertimu.”


“Aku bukan bocah! Lihat saja nanti, aku bisa diandalkan. Kenalkan wanita itu padaku.” sergah Tinos.


“Kau jangan nekat. Lebih baik kau tidak usah mengikutiku ke masa lalu. Akan lebih aman jika kau di rumah saja.”


“Lalu kau akan bersenang-senang sendiri? Berperang bersama wanita cantik itu?”


“Ah! Terserah apa katamu, dasar!”


Mereka terus berdebat. Tinos mendesak Marco agar mengizinkannya untuk ikut ke masa lalu serta ikut berperang melawan raksasa Trovolta. Namun, Marco sedikit tidak rela. Bagaimana pun juga dia masih terlalu muda jika harus berperang. Tidak hanya merepotkan, tapi juga akan menyebalkan. Bocah itu selalu banyak bicara dan sering melontarkan berbagai pertanyaan yang tidak penting. Kalau dia ikut, bisa-bisa kepala Marco meledak karena mendengar ocehan Tinos setiap saat.


 

__ADS_1


 


__ADS_2